Bab 5-Ternoda

1065 Kata
Perjalanan ke Bogor sungguh menyenangkan. Kami menaiki minibus milik kantor. Aku, Aldo, dan delapan kru lain, bercanda ria selama dalam perjalanan. Mereka yang ikut bersama kami adalah enam laki-laki dan dua lagi perempuan. Salah satu perempuan itu adalah sekretaris Aldo, Jessica sedangkan yang lain adalah sepupu Aldo, Tania. Aku memang tipe cewek yang mudah bergaul. Aku cepat akrab dengan semua kru dan mereka semua cukup menyenangkan diajak ngobrol, kecuali Tania. Sepupu Aldo itu tampaknya tidak suka padaku. Entah kenapa dia selalu sinis padaku, padahal aku sudah berusaha baik padanya. Aku ceritakan pada Aldo tentang sikap sepupunya yang jutek itu. Namun, Aldo bilang, tidak usah terlalu menganggap serius sikap Tania. Dia hanya iri padaku, karena Aldo memperlakukan aku istimewa. Tentu, karena aku gadis yang istimewa di hati Aldo. Menurut Aldo, Tania memang menyukainya sejak masih SMP, bahkan dia mendekati mamanya Aldo, agar bisa dekat dengan lelaki pujaan hatinya itu. Namun, Aldo tidak pernah merespons perasaan Tania. Bagi Aldo, Tania sudah seperti adiknya. Sesampainya di Bogor, aku dan Aldo jalan-jalan keliling menikmati pemandangan kota hujan itu. Cuaca dingin lebih mendominasi kota ini, berbanding terbalik dengan Jakarta yang panas. Sejenak kami memanjakan diri dengan kesejukan Bogor. Para kru yang lain juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka memanfaatkan waktu yang diberikan Aldo untuk sekadar refreshing keliling kota. Kami baru akan mulai shooting nanti malam, jadi seharian ini kami punya waktu free untuk jalan-jalan. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikap jutek Tania. Namun, aku juga kesal dengan gadis itu. Dia selalu mengekor kemanapun aku dan Aldo pergi. Berasa kayak punya bodyguard cewek. Aku pun tidak sungkan menunjukkan kemesraan dengan Aldo di depan si jutek itu, dia tampak kesal. Berkali-kali dia membuang muka saat Aldo menciumku. Rasain! Siapa suruh buntutin orang pacaran. Proses shooting vidio klip berjalan lancar, mereka para kru merasa puas dengan aktingku. Mereka bilang aku punya bakat terpendam yang perlu dikembangkan. Aku merasa sangat bahagia, akhirnya impianku menjadi model bisa terwujud. Tiga hari berlalu tiba saatnya besok kami kembali ke Jakarta. Malam itu Aldo mengajakku makan malam berdua, sedangkan kru yang lain jalan-jalan menikmati malam terakhir di kota Bogor. Tania yang biasanya mengikuti ke manapun aku dan Aldo pergi, malam ini tidak tampak batang hidungnya. Entah ke mana cewek jutek itu, mungkin dia sudah lelah mengejar Aldo. Setelah makan malam, Aldo mengantarku ke kamar. Aku pun merebahkan tubuh yang penat ini di atas ranjang. Namun, aku terkejut saat melihat Aldo masuk ke kamar. Kenapa dia ikut ke sini? Bukannya bermaksud apa-apa, hanya saja tidak enak jika seorang pria dan wanita hanya berdua di dalam kamar. Aku segera duduk dan merapikan baju. "Ngapain ikut masuk?" tanyaku kaget. "Cuma pingin liat-liat aja, gak boleh?" jawabnya santai. "Ehm, boleh. Ya udah, masuk aja!" ucapku kemudian. Aldo berdiri di balkon menikmati embusan angin malam kota Bogor yang dingin. "Sebaiknya kamu cepat kembali ke kamar, Al. Besok kita harus kembali ke Jakarta, biar tidak ngantuk," kataku sambil berjalan ke balkon mendekati Aldo. "Aku masih kangen sama kamu, As," ucapnya dengan senyum nakal. "Ish, udah seharian bersama masih kangen aja. Dasar gombal!" Aku mendorong tubuh Aldo yang mulai mendekat. Dia hanya nyengir kuda. Dreettt-dreettt! Ponselku berbunyi, panggilan dari Mas Reza. Aku segera menjauh dari Aldo dan memberikan isyarat padanya agar tidak berisik. "Cowok bodoh itu?" tanya Aldo sinis. "Ssssttttt, diam bentar napa?" Aku menempelkan jari telunjuk di mulut, sebagai isyarat agar Aldo diam. Lalu menggeser tombol hijau dan menerima telepon dari Mas Reza. Mas Reza menanyakan kabarku, sudah makan belum, jaga kesehatan, terus dia tanya besok jadi pulang apa tidak dan bla bla bla .... Setelah aku jawab semua, kuakhiri telepon tersebut dengan mengucapkan salam. Tiba-tiba Aldo memelukku dari belakang, dia menciumi leher belakangku hingga aku merasa geli dan gemetaran. Aldo membalikkan tubuhku dan mulai mencium bibirku, dia melumat bibir ini bagaikan singa kelaparan. Aku mulai berdebar debar, apa yang terjadi pada Aldo? Ciumannya mulai turun ke leher jenjangku dan turun lagi ke d**a. Aku berusaha menolak karena teringat pesan Ibu. Aku mendorong tubuh Aldo, tapi dia kembali mendekapku dan menjatuhkan tubuh mungil ini ke atas ranjang. Dia menindih tubuhku dan terus memciumiku. Hatiku berontak, tapi tidak dengan tubuhku. Tubuhku merasakan kenikmatan karena sentuhan-sentuhan Aldo. Aku mendesah lirih dan itu membuat Aldo semakin semangat melancarkan serangannya. Tangan nakalnya mulai membuka satu per satu kancing bajuku hingga tanpa sehelai benangpun menghalangi tubuh kami. Akhirnya kami berdua lupa diri, setan telah berhasil menghasut kami. Malam itu, Aldo telah mengambil sesuatu yang berharga dariku. Mahkota kehormatanku .... Aku rasa, segerombolan setan di depanku, sedang berpesta pora merayakan keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat dua insan melakukan hubungan terlarang. Sebuah dosa besar yang akan aku sesali seumur hidupku. Aku menangis, menatap bercak merah di atas sprei ranjang tempat kami bertarung. Aldo telah merenggut kesucianku. Mengapa begitu rapuh keimananku? Aku tidak bisa menjaga diri dan kehormatanku. Aldo telah merusak masa depanku. Ibu ... maafkan anak gadismu ini. Aku sudah mengecewakanmu, Bu. Aku sudah mencoreng mukamu. Aku melihat Aldo sudah terkapar karena pergelutan kami. Dia tertidur pulas, sementara aku? Aku merutuki nasibku. Aku bodoh, aku hina, bagaimana jika ibu dan Mas Reza tau? Aaargghhh .... Keesokan harinya aku masih enggan beranjak dari tempat tidur. Setelah kupunguti baju-bajuku yang berserakan dan memakainya kembali, aku membenamkan wajahku dalam selimut. Selimut yang menjadi saksi perbuatan terlarangku bersama Aldo. Kemudian Aldo menggeliat, dia terbangun dan mendapati aku masih menangis dengan kedua mataku yang sudah mulai bengkak. "Asti," panggilnya lirih. "Kamu jahat Al! Kamu jahaat!!" Aku berteriak sambil melempar bantal dan guling ke wajah Aldo. "Maafkan aku, As. Aku khilaf. Aku ... aku, terlalu mencintaimu." Aldo mendekatiku, tapi langsung kudorong tubuhnya. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau ambil kehormatanku. Kau hancurkan masa depanku. Kamu jahat Al!!" Aku memukulkan tanganku berkali-kali ke d**a Aldo, tapi dia malah memelukku erat. "Maaf, aku terlalu cemburu pada Reza. Aku khilaf, As. Aku pasti bertanggung jawab. Jika kamu mau aku menikahimu, aku pasti menikahimu, As!" Aldo semakin erat memelukku. Namun, entah kenapa aku jadi muak. Ibu, Mas Reza, maafkan aku! "Keluar dari kamarku, Al! Aku mau sendiri," usirku. "As, aku--" "Keluar!" Aldo pun mengalah, dia keluar kamar setelah memakai kembali baju-bajunya. Ketika Aldo keluar, ternyata sudah ada Tania berdiri di depan kamar. Dia menatap Aldo dengan tatapan curiga. Setelah Aldo pergi, Tania mendekati aku dan menyunggingkan senyum mengejek. "Jadi, untuk mendapatkan peran utama itu, kamu rela tidur dengan Aldo? Dasar w************n!" Setelah berkata demikian, Tania berlalu meninggalkanku. Dia benar, Tania benar, aku w************n. Aku sudah kotor dan tidak berharga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN