Bab 4-Ke Bogor

1102 Kata
Hembusan angin menerpa lembut rambutku yang terurai. Malam ini Mas Reza mengajakku dinner. Sudah cukup lama dia disibukkan dengan pekerjaan, dia sengaja libur untuk mengajakku jalan. Sekarang, Mas Reza bukan hanya seorang waiter, tapi dia dipercaya bosnya menjadi Assistant Head Waiter sehingga pekerjaan dan tanggung jawabnya semakin banyak. Ketika libur seperti ini, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk jalan denganku. Aku tidak mungkin tega menolaknya. Ting!! Sebuah notifikasi di ponselku berbunyi saat aku sedang makan malam dengan Mas Reza. Aku melirik sebentar ponsel di atas meja, pesan dari Aldo. [Temui aku sekarang di tempat biasa.] Aku mengernyitkan dahi. Bagaimana ini, aku sekarang sedang bersama Mas Reza. Kami juga sudah jarang jalan berdua. [Besok saja Al, aku lagi jalan sama Mas Reza.] Aku mengetikkan pesan balasan yang langsung berubah dua centang biru. Aldo mengetik pesan balasan. [Kok, aku berasa kayak cowok simpanan, ya! Aku gak peduli, pokoknya harus sekarang. Kalau tidak, kamu bakal nyesel!] Aldo, bikin darah tinggi cowok ini, dasar tukang maksa! Aku mengalihkan pandangan pada Mas Reza yang melihatku dengan tatapan penuh tanya. "Pesan dari siapa, Sayang?" tanya Mas Reza lembut. Cowok satu ini, meski dicuekin tetep saja perhatian dan sayangnya padaku tak berkurang. Entah terbuat dari apa hatinya. Apa mungkin karena dia begitu tulus mencintaiku? Kadang aku merasa sangat jahat padanya. Perlahan aku mulai sayang pada Mas Reza, meskipun cintaku tidak untuknya. "Mas, tiba-tiba aku ada meeting mendadak. Gimana, ya?" tanyaku pura-pura bingung. Aku tahu Aldo pasti mau bicara tentang video klip terbaru yang dia janjikan. Dia akan menjadikan aku pemeran utamanya. Kalau aku tidak menemuinya sekarang, pasti dia ngambek dan mengancam memberikan peran itu pada orang lain. Beberapa bulan bersama Aldo, aku sudah hafal dengan sifatnya. [Oke Al, tunggu! Aku cari alasan dulu sama Mas Reza.] Segera aku ketikkan pesan itu sebelum Aldo ngambek. Ini Video klip pertamaku, aku harus mendapatkannya dan menunjukkan kemampuanku. "Oh, enggak apa-apa, Sayang. Kita bisa jalan lagi lain waktu," balas Mas Reza seraya tersenyum, meski kulihat guratan kecewa di wajahnya. "Makasih ya Mas, kamu bener-bener ngertiin aku." Dengan mata berbinar aku meremas tangan lelaki itu. "Mau Mas antar?" tawarnya sembari kami berjalan ke luar. "Gak usah, Mas! Kamu istirahat saja, pasti capek. Besok harus masuk pagi, bukan? Aku naik taksi online saja," tolakku halus, agar dia tidak tersinggung. "Baiklah ... hati-hati, ya! Jangan pulang terlalu malam." "Iya, Mas." Mas Reza mencium keningku kemudian pamitan pulang. Aku segera memesan taksi online lalu meluncur menemui Aldo di tempat biasa, di restoran langganan kami. "Akhirnya kamu datang juga, As." Aldo menyambut kedatanganku dengan pelukan dan ciuman. "Kamu selalu punya cara buat maksa aku," sungutku kesal sambil menghempaskan tubuh di kursi. "Jadi, kamu lebih suka jalan dengan Reza daripada sama aku?" tanya Aldo dengan nada tinggi. Wajahnya mulai memerah karena menahan marah. "Ya, enggak, gitu Al. Aku kasihan sama Mas Reza. Aku gak tega sebenernya sering bohongin dia," jawabku mencoba meredam emosi Aldo. "Jangan-jangan kamu beneran sudah jatuh cinta pada Reza!" tuduh Aldo sambil menatapku tajam. "Ya bukan gitu, Al. Aku cuma kasian sama dia. Dia itu cowok yang baik, tapi aku selalu mempermainkan perasaannya," sanggahku membela diri. "Kalau gitu, putuskan dia! Lebih baik dia sakit hati sekarang daripada dia tau kamu sudah menduakannya." Aldo membuang pandangannya dariku, dia terlihat marah dan cemburu. "Aku gak bisa semudah itu mutusin Mas Reza, Al. Ibuku taruhannya. Dia akan marah dan membenciku." Aku mencoba meminta pengertian Aldo. "Aaargghhh ... terserah kamu, mau sampai kapan aku jadi cowok simpananmu." Aldo berdiri dari duduknya dan berjalan ke tepi kolam yang berada di samping restoran. "Sabar ya Al, aku akan menyampaikan pada ibuku pelan-pelan." Aku mengikuti Aldo dan memeluknya dari belakang. Aku ingin meredakan emosinya. Ternyata aku berhasil, dia sudah tidak terlihat marah. "Oiya bagaimana video klipnya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Beres semua, Sayang. Kamu dapatkan perannya, minggu depan kita ke Bogor buat shooting." Aldo membalikkan tubuhnya menghadap padaku dengan senyum mengembang. "Alhamdulillah ...." Aku pun tersenyum puas. Aldo sudah tidak marah dan aku juga dapat peran utamanya. "Ingat, As. Ini kontrak pertama untukmu. Kamu harus tampil sebaik mungkin, supaya job-job selanjutnya bisa kamu dapatkan," ucap Aldo seraya membelai rambutku. "Iya Al, aku pasti bisa. Aku tidak akan mengecewakanmu," jawabku percaya diri. Akhirnya mimpiku akan menjadi kenyataan. Tak pernah aku bayangkan bisa menjadi seorang model semudah ini. *** "Bu ... minggu depan Asti mau ke Bogor, kira-kira tiga hari. Ada shooting video klip," ucapku saat sarapan pagi. Ibu menghentikan aktivitas makannya sejenak, beliau memandangku dengan tatapan berat. "Ibu kok khawatir ya, Nduk. Apa kamu hanya berdua dengan bosmu itu?" tanya Ibu. "Ya enggak lah, Bu! Asti berangkat bersama semua kru. Kalau tidak salah ada sepuluh orang," jawabku sambil tersenyum. Aku mengerti kekhawatiran Ibu. Aku anak satu-satunya dan selama ini kami belum pernah berpisah. "Kenapa Ibu merasa berat kamu tinggal ya, Nduk." Ibu menundukkan kepala, makanannya yang masih separo tak lagi disentuh, sepertinya selera makan Ibu sudah hilang. "Bu, Asti pergi untuk kerja, mencapai cita-cita yang selama ini Asti inginkan. Tolong doakan Asti, Bu!" Aku berdiri dan mendekati Ibu, kemudian memeluk wanita yang paling aku sayang itu. "Iya, Nduk. Maafkan Ibu yang terlalu mengkhawatirkanmu. Jaga dirimu baik-baik! Jika ada sesuatu, segera hubungi Ibu atau Reza." Ibu berpesan setelah aku melepaskan pelukan. "Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di rumah, jaga kesehatan ibu." Aku kembali memeluk Ibu. "Iya, Nduk. Pandai-pandailah menjaga dirimu. Jangan lupa beritahu Reza biar dia gak cemas." Ibu mengacak rambutku kemudian tersenyum. "Iya, Bu. Nanti Asti telepon Mas Reza." Aduh, Ibu. Semua yang aku kerjakan harus laporan Mas Reza, seperti dia udah benar-benar jadi suamiku saja. Namun, aku tidak membantah. Aku menelepon Mas Reza untuk memberitahunya tentang kepergianku ke Bogor minggu depan, sekalian minta tolong dia untuk menjaga Ibu selama aku tinggal. *** Seminggu kemudian aku dan Aldo serta kru yang lain berangkat ke Bogor. Tak lupa aku pamitan pada Mas Reza dan Lala sahabatku. Mas Reza mengantarku sampai ke kantor. Aku tidak mungkin menolak, karena itu permintaan Ibu. Sesampainya di kantor, para kru yang akan berangkat ke Bogor sudah bersiap. Ketika akan pulang, Mas Reza memeluk dan mencium keningku. Tidak lupa dia berpesan agar aku menghubunginya sesampainya di Bogor. Melihat perlakuan Mas Reza, Aldo tampak cemburu. Setelah Mas Reza pulang, Aldo menarik tanganku dan mengajakku ke ruangannya. "Kamu harus segera putuskan Reza, aku tak tahan lagi. Aku cemburu!" ucap Aldo setelah kami sampai di ruangannya. "Iya Al, beri aku waktu. Aku akan putuskan Mas Reza. Sabar, ya!" Aku mencoba menenangkan Aldo. Cup ... cup ... dia menghadiahiku dua ciuman di pipi kanan dan kiri, membuatku semakin merona. "Pak Aldo, bisa kita berangkat sekarang?" Andra, juru kamera Aldo tiba-tiba masuk ke ruangan mengejutkan kami. "Oke, kita berangkat sekarang." Aldo memberi isyarat, kemudian kami berangkat ke Bogor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN