Bab 3-TEMAN TAPI MESRA

1039 Kata
Suatu sore, aku dikejutkan dengan kedatangan Lala, sahabatku yang tinggal di kampung sebelah. Sudah lama aku dan Lala memang berteman dekat. Kami sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Terkadang kalau pas lagi kumat badungnya, kami juga pernah bolos berdua. Jalan-jalan ke Ancol atau kemana saja. Namun, akhir-akhir ini, Lala sibuk dan jarang main ke rumah. Aku juga jarang mengunjungi dia, karena takut mengganggu waktu istirahatnya. Semenjak kerja di sebuah restoran sebagai kasir, kami jadi jarang nongkrong bareng. Tentu saja karena dia pekerja keras dan aku hanya pengangguran. "Asti, bener kamu jadian sama Mas Reza?" tanya Lala, saat pulang kerja. Dia langsung mampir ke rumahku sebelum pulang. "Kok kamu bisa tahu, La? Aku kan belum cerita sama kamu." Mataku melebar menatap cewek yang sudah menjadi sahabatku semenjak SMP itu. "Mas Reza sendiri yang bilang. Eh, tapi beneran kamu suka sama dia? Jangan-jangan kamu cuma mempermainkan dia." Lala mencibir, menunjukkan rasa tidak suka. Lala memang tahu betul kalau aku tidak benar-benar suka pada Mas Reza. Selain itu, aku juga tahu, kalau sebenernya Lala sudah lama naksir lelaki itu. Hanya saja, Mas Reza tak pernah merespons perasaannya, padahal mereka rekan kerja. Lala bekerja sebagai kasir di restoran yang sama dengan Mas Reza. "Aku kan pingin bikin Ibu senang. Kamu tahu sendiri kan, kalau Ibu ngebet banget punya mantu Mas Reza. Jadi, apa salahnya aku terima dia jadi pacar, toh dia sendiri yang ngebet sama aku," jawabku santai sambil memakan camilan yang disediakan ibu di atas meja. Kedua mata Lala semakin melebar mendengar jawabanku. "Ya Allah Asti, kuharap kamu bener-bener sayang sama Mas Reza, ya! Jangan sampai kamu mempermainkan cowok sebaik dia." Lala menatap tajam kedua mataku, seolah ingin mencongkel isinya. Sepertinya dia gak terima dengan keputusanku menerima Mas Reza sebagai pacar. "Ih, kok kamu jadi kayak emaknya sih, La?" Aku menepuk lengan Lala membuat gadis itu mendengkus kesal. Wajahnya tampak memerah persis seperti Ibu kalau sedang marah. "Bodo amat, pokoknya jangan sampai kamu nyakiti Mas Reza. Ingat itu, As!" ancam Lala. "Huh! Bilang saja kamu suka sama dia, kamu pikir aku tidak tahu." Sayangnya kalimat itu hanya bisa aku ucapkan dalam hati. Tak tega juga bila aku ucapkan, walau bagaimana juga, Lala adalah sahabatku. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Nanti kalau sudah mendapatkan Aldo, pasti dengan suka rela aku akan berikan Mas Reza untukmu, La. Itu pun kalau Mas Reza mau. Hahaha .... Semoga saja, ya! *** Malam itu Aldo mengajakku makan di sebuah restoran mewah sepulang dari kantor. Makan malam yang romantis dengan cahaya lampu yang remang-remang. Aldo memang cowok yang romantis dan tahu bagaimana memperlakukan wanita. Aku merasa bagaikan ratu saat jalan dengan pria tampan ini. Dadaku berdesir menahan gemuruh ketika tangan Aldo menggenggam erat jemariku. Aldo mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Dia memberikanku hadiah sebuah kalung emas yang cantik. Aku ternganga tak percaya melihat barang mahal itu terpasang indah di leherku. Tentunya aku tak bisa menolak hadiah ini, sayang sekali, kan? "Hadiah dalam rangka apa ini, Al? Aku gak lagi ulang tahun," tanyaku basa-basi, walaupun sebenarnya aku sangat senang mendapat hadiah indah ini darinya. "Tidak dalam rangka apa-apa, As. Aku cuma ingin kamu jadi pacarku. Kamu mau, kan?" tanya Aldo setelah memasangkan kalung indah itu di leherku. Hatiku semakin berdebar kencang, Aldo nembak aku. Haduh! Bagaimana ini? Aku kan sudah pacaran dengan Mas Reza. Meskipun cuma buat nyenengin Ibu, tapi sayang juga kalau tidak menerima Aldo, karena pada kenyataannya aku telah jatuh hati pada cowok ini. "Gimana, As?" Aldo membuyarkan lamunanku. Bibirnya tertarik membentuk seutas senyuman yang manis. Ah, Aldo! Kenapa pesonamu semakin memikatku? "Tapi, Al. Aku sudah punya pacar. Ya, meskipun aku tidak mencintainya," jawabku jujur membuat Aldo terkejut. "Kalau kamu gak cinta kenapa mau jadi pacarnya?" tanya Aldo kesal. Di menatapku dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Karena aku ingin menyenangkan Ibu, Al," jawabku spontan. Entah kenapa Aldo terlihat sangat kecewa. "Aaargghhh ...." Aldo menyunggar kasar rambutnya. "Maaf ya, Al! Sebenarnya aku juga suka sama kamu. Bagaimana kalau kita berteman saja," tawarku sambil menggenggam tangan Aldo. "Berteman? Teman tapi mesra, ya!" katanya sambil tersenyum nakal. Aku pun mengangguk, kemudian Aldo mencium pipi dan memelukku. Hari-hari berlalu, hubunganku dengan Aldo semakin dekat. Tidak hanya dalam hal pekerjaan tapi juga dalam hal pribadi. Setiap hari Aldo mengajakku jalan sepulang kerja, walaupun cuma untuk makan bersama, sehingga hampir tiap hari aku pulang malam. Aku terpaksa harus berbohong pada Ibu dengan alasan lembur. Sementara Mas Reza? Dia jarang sekali ke rumah, lagi sibuk promosi jabatan katanya. Bodo amatlah, bagiku dia mau ke rumah ataupun tidak, sama saja. Suatu malam, ketika Aldo mengajakku makan, aku bertemu Mas Reza. Aduh sial! Aku tidak tahu kalau Mas Reza bekerja di restoran ini. Aku mulai memutar otak untuk mencari alasan pada Mas Reza. "Siapa dia, As?" tanya Mas Reza yang tiba-tiba datang mengejutkan aku dan Aldo. Untung saja kami cuma bercerita sambil ketawa-ketawa bersama dan tidak ada adegan hot. "Eh Mas Reza, kenalkan ini Aldo, atasanku di kantor," jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku pada Aldo. Aldo pun segera tanggap dan mengulurkan tangannya pada Mas Reza. Alhamdulillah, Mas Reza tidak curiga. Kalau ketahuan bisa gawat, nanti dia mengadu ke Ibu, terus bisa marah wanita yang paling cakep seantero jagat itu. "Jadi, dia itu pacar kamu, As?" tanya Aldo di mobil saat perjalanan pulang. Kedua tangannya di balik kemudi sementara matanya tetap fokus ke depan melihat jalan raya yang macet. "Iya, Al, emang kenapa?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya. "Cakep sih, tapi kayaknya bodoh." Aldo tertawa kecil. "Maksudmu?" tanyaku masih tidak mengerti. "Bagaimana bisa dia dengan mudah percaya kalau hubungan kita hanya sebatas bos dan karyawan." Aldo masih tertawa. "Dia tuh cowok lugu, Al. Aku jadi merasa sangat berdosa telah membohongi dia," jawabku sambil menundukkan kepala. "Jadi, kamu nyesel punya hubungan spesial denganku?" tanyanya sambil memelankan laju mobil. "Ya, gak juga sih," jawabku lirih. Cup! Aldo mencuri ciuman pipi dariku. Wajahku merona dengan perlakuan Aldo. "Ih Aldo, yang fokus nyetirnya!" ucapku sambil mendorong lengan kirinya dan kami pun tertawa bersama. Jadi, ini rasanya punya teman. Teman tapi mesra. Ada sensasi tersendiri daripada benar-benar harus pacaran resmi. Ada rasa deg-deg, takut ketahuan tapi ujungnya bisa ngeles dengan alasan-alasan yang spontan didapat. Bener-bener deh si Aldo, udah bikin aku mabuk kepayang. Walau terkadang aku merasa berdosa pada Ibu dan Mas Reza. Salahkah aku, bila punya pilihan sendiri untuk cintaku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN