“Apa? Kemarin kau mengingkari janjimu dan sekarang kau menyuruhku menunggu lagi? Yang benar saja.”
‘Maaf, Vin. Kemarin aku benar-benar sibuk. Dan kebetulan hari ini aku free jadi kupikir mungkin lebih baik kita bertemu hari ini.’
Aku memijit pelipis ku pelan. Sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran orang ini. Dengan mudahnya membuat janji, membatalkannya secara tiba-tiba dan sekarang menyuruhku untuk menemuinya lagi. Entah ia tidak tahu diri atau memang tidak punya rasa malu.
"Tidak bisakah kau meminta pada orang lain saja?" Tanyaku malas.
'Tidak bisa, aku ingin kamu yang jadi modelku. Untuk apa aku memiliki adik tampan kalau tidak bisa memamerkan nya.'
Aku bahkan bisa merasakan senyum licik Tania di seberang sana.
Kalau saja dia itu bukan kakakku dan aku menghormatinya sebagai seniorku. Mungkin sudah ku maki-maki dia saat ini.
“Baiklah, jam berapa?”
‘Hmm… Jam 8 pagi aku ada kelas penting. Siangnya aku harus ikut rapat, dan sekitar jam-‘
“Aku tidak menanyakan jadwalmu apa saja, cukup beritahu aku pukul berapa aku harus menemuimu!”
Kudengar kekehan pelan di seberang. ‘Calm down, Temui aku pukul 4 sore di café yang sama. See you soon, my brother.’
Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Meletakkan ponselku di atas kasur dan merebahkan diri di sampingnya. Masih ada banyak waktu sebelum pertemuanku dengannya, jadi kurasa tidur sebentar tidak masalah.
***
Sial! Aku terlambat. Tidak ku sangka acara tidurku akan berlangsung selama itu. Kupikir aku akan bangun sekitar setengah jam ke depannya, tapi nyatanya setelah jam menunjukkan pukul setengah 5 aku baru terbangun.
Ku dorong pintu café pelan yang menimbulkan bunyi gemerincing dari lonceng yang terpasang di atas pintu. Kuedarkan pandanganku menyusuri seluruh ruangan, tapi nyatanya wajah yang sangat kukenali itu tidak ada di antara puluhan pelanggan.
Setidaknya aku bisa bernafas lega. Dia seseorang yang tidak suka menunggu. Jadi kupikir keterlambatannya kali ini bisa menjadi berkah tersendiri untukku. Meja di pojok yang masih kosong dan jauh dari keramaian menarik perhatianku, itu adalah spot yang tepat untuk membicarakan urusan bisnis
tanpa harus khawatir beberapa pasang telinga mencuri dengar.
Belum beberapa menit aku menunggu, seseorang memasuki café. Aku menunggu dengan was-was sosok yang akan muncul di balik pintu, berharap bahwa Tania lah yang muncul dan mengakhiri penantianku. Tapi ternyata harapanku belum terpenuhi. Itu bukan dia, melainkan seorang gadis berseragam SMA.
Aku mendengus kesal sambil membuang muka. Lihat saja kalau dia membatalkan janjinya lagi hari ini, kupastikan ia takkan mendapatkan proyeknya.
“Kau di mana? Aku sudah di café sekarang. Cepatlah datang sebelum aku mati kebosanan menunggu.”
Suaranya terdengar familiar tapi juga sedikit asing di telingaku. Tanpa ragu kulirik sosok berseragam yang duduk tak jauh dari tempatku. Ia mengutak-atik ponselnya sambil sesekali melirik kearah pintu. Sesekali terdengar omelan-omelan kecil meluncur dari bibirnya.
Tidak sadar aku sudah tersenyum melihat tingkahnya. Setidaknya melihat tingkah dan wajahnya yang lucu itu sedikit mampu mengusir kebosananku.
Seakan menyadari keberadaanku ia menoleh, menatapku tanpa sedikitpun merasa ragu. Membuatku merasa tertantang untuk menatapnya tepat di sepasang manik beningnya yang entah sejak kapan membuatku tertarik untuk terus memandangnya.
Ia mengedipkan matanya lucu sebelum memalingkan wajah karena seseorang yang ia tunggu ternyata sudah datang dan mengajaknya bicara. Kecewa, aku ikut mengalihkan perhatian ke depan dan mendapati wajah tak asing yang tersenyum sambil memainkan alisnya.
Hampir saja aku terjengkang ke belakang karena terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba. Tapi untungnya aku bisa mengontrol keterkejutanku dan tak membuat malu diriku sendiri.
“Sejak kapan kau datang?”
Senyumnya semakin lebar. “Sejak kalian saling menatap tanpa berkedip.” Senyum mengerikannya muncul, dan aku tahu apa yang ada dalam pikirannya tanpa harus mempunyai kemampuan membaca pikiran sekalipun.
“Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Sekarang sebaiknya kita bahas soal tugasmu itu sebelum kemalaman.”
Ia tertawa, cukup keras sehingga mampu mengundang beberapa pasang mata memandang aneh ke arahnya, lebih tepatnya ke arah kami. Aku hanya tersenyum canggung dan mulai membekap mulut cantik sosok di depanku. Ekor mataku sempat menangkap wajah’nya’ yang tersenyum tipis sebelum kembali mengobrol dengan temannya.
“Akui saja kalau kau menyukainya.” Tania mendekatkan wajahnya, berbisik “Sebelum dia diambil orang.” Dan kembali tawanya meledak melihat wajahku yang memerah karena kesal.
“Aku tidak menyukainya.” Desisku. ‘Kami bahkan tidak kenal, hanya bertemu secara kebetulan di café ini’.
“Cinta tidak mengenal kata asing, Kavin. Yang ia tahu hanya menyerang siapa saja yang menurutnya pantas untuk merasakannya.” Lanjut Tania seperti mengetahui isi pikiranku.
*****