Nervous

407 Kata
Sudah terhitung 5 kali aku mengunjungi café ini setelah pertemuan tak terdugaku dengannya. Well, sebenarnya itu belum bisa disebut pertemuan karena kami tak pernah benar-benar bertemu. Hanya saling menatap beberapa detik tanpa ucapan. Dan itupun dari jarak yang jauh. Lagipula pertemuan pertama kami tidak berjalan mulus. Ingat saat dia membentakku gara-gara memandang wajahnya di luar café? Aku tengah sibuk mengaduk dan sesekali menyesap cappuccinoku yang masih mengeluarkan kepulan asap panas, saat seseorang menarik kursi di hadapanku dan mendudukinya. Kontan saja kepalaku mendongak untuk menatap siapa yang dengan tidak sopannya duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Café ini memang bukan milikku, kuakui. Tapi setidaknya meja ini sudah terlebih dahulu kuisi, dan jika seseorang ingin menumpang maka mereka harus meminta izin terlebih dahulu. Ungkapan kekesalanku ternyata hanya sampai di tenggorokan saat kutahu siapa yang baru saja bergabung di mejaku. Si gadis berseragam SMA. Dia tersenyum menampilkan sederetan giginya yang putih. “Boleh bergabung, ‘kan?” Tanyanya. ”Meja yang lain sudah penuh.” Lanjutnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling café yang secara impulsif langsung kuikuti. “Kau tidak keberatan, ‘kan?” Sesaat aku langsung tersadar dan mendadak pipiku terasa gatal sehingga tanganku tak tahan untuk menggaruknya. Ia memperhatikan tingkahku dengan ekspresi lucu yang tak dibuat-buat. “Aku tidak keberatan sama sekali.” Balasku. Jujur saja jantungku berdegup kencang saat ini. Tidak pernah aku merasa gugup seperti ini saat berhadapan dengan siapapun, meski itu seniorku yang paling galak sekalipun. "Namaku Anggi." Ucapnya dengan senyuman lebar. Aku berdehem singkat melemaskan tenggorokan yang rasanya begitu kering. "Kavin." Dia kembali tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Membuatku semakin gugup tidak karuan. Biasanya aku bisa mengontrol rasa gugupku, tapi kali ini rasanya itu sulit. Dan semua karena dia. Yeah.. Dia, yang saat ini duduk di hadapanku memperhatikan setiap gerak gerikku dengan tatapan ingin tahunya yang besar. Ingatkan aku bahwa aku tidak bertingkah konyol beberapa saat yang lalu. Tanpa sadar aku menyodorkan gelas cappuccinoku padanya. “Minum?” Tawarku yang langsung ditolak secara halus olehnya. Ia tersenyum canggung. Lucu sekali. “Terima kasih, tapi kurasa sebaiknya aku pesan yang lain saja.” “Oh ya, tentu.” Aku menarik kembali gelasku. Apa yang aku pikirkan? Memberinya gelas yang telah kuminum sebelumnya? Gila! Tentu saja dia tidak mau meminum sisamu. Bodoh! Kudekatkan bibir gelas ke bibirku dan menyesap isinya yang langsung membuatku menyemprotkannya keluar karena lidah dan bibirku terasa terbakar. Aku kelabakan dan tanpa sadar menumpahkan cappuccinoku yang seketika membuat suasana menjadi heboh. Dia berdiri dengan wajah panik. “Apa kau baik-baik saja?” “Ya, aku baik-baik saja. Hanya butuh ke toilet.” Aku tertawa sumbang. Dia ikut tersenyum. “Seharusnya kau berhati-hati.” Aku hanya tersenyum menanggapinya dan segera menuju toilet. Betapa memalukannya tadi. Stupid! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN