Setelah kejadian waktu itu, aku tidak berani menginjakkan kakiku lagi ke café itu. Memang sedikit kekanakan tapi sungguh kejadian itu membuatku malu setengah mati. Terlebih lagi aku melakukan tindakan bodoh itu di hadapannya.
Aku tidak bisa membayangkan akan bertemu dengannya lagi setelah kejadian memalukan itu. Dia pasti merasa ilfeel denganku dan menganggapku orang yang ceroboh. Well, aku tidak menyalahkannya semua orang pasti merasakan hal yang sama saat berhadapan dengan orang aneh. Tapi aku bukan orang aneh, hanya karena merasa canggung saat itu makanya semua terjadi tanpa bisa kucegah.
Saat melakukan janji pertemuan, sebisa mungkin aku menghindari café itu. Meski kebanyakan rekan janjiku itu bertanya keheranan tapi pada akhirnya semua menyetujuinya.
Aku tidak menyalahkan mereka yang menganggap permintaanku sedikit aneh. Selain karena café itu yang memang merupakan café terdekat dari kampus tapi juga karena alasanku yang sedikit tidak masuk akal.
Aku tidak mengatakan yang sebenarnya secara detail, aku hanya mengatakan pada mereka bahwa aku pernah mengalami ketumpahan kopi panas dari salah satu pelayan yang ceroboh dan karena kesal aku memutuskan untuk tidak akan pernah kesana lagi.
Tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa menolak untuk tidak pergi ke sana. Tania berhasil membujukku untuk bertemu di sana. Meski awalnya ajakannya itu kutolak mentah-mentah, tapi pada akhirnya dia memenangkan adu argument yang kami lakukan.
Dia berhasil membujukku dan aku kesal karena tidak pernah bisa mengalahkannya dalam urusan berdebat. Meski kesal dan merasa malu tapi setidaknya aku masih berharap dapat melihat wajahnya lagi. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku merindukannya. Suaranya, tatapannya, senyumnya dan wajahnya yang manis.
Sempat ragu, tapi akhirnya kumantapkan hati untuk melakukannya. Kudorong pintu kaca di hadapanku yang langsung menimbulkan suara gemerincing lonceng yang digantung di atas pintu.
Tidak ada yang tertarik atas kedatanganku, semua sibuk pada kegiatan masing-masing kecuali pelayan yang menghampiri dan menyambutku dengan senyum lebarnya. Aku mengabaikan mereka -sebenarnya tidak benar-benar mengabaikan- hanya tersenyum dan menjawab sekenanya setiap sambutan basa-basinya.
Kulihat meja yang sering kududuki sudah terisi. Mendesah kecewa kuedarkan pandangan kesekitar, mungkin saja masih ada meja kosong yang spotnya sesuai keinginan.
Aku menemukannya. Meja paling ujung yang tepat menghadap jendela. Cukup strategis untuk mengerjakan tugas. Segera kulangkahkan kakiku mendekati meja itu sebelum seseorang merebutnya. Setelah mengistirahatkan tubuhku sejenak sambil menunggu pesananku datang, kuambil ponsel dari saku jasku untuk menghubungi si Nyonya Cerewet yang suka mengulur waktu itu.
Heran. Dia benci menunggu. Tapi hobby-nya adalah membuat orang menunggu. Benar-benar aneh.
“Kau di mana?”
Langsung kutanyakan keberadaannya bahkan sebelum ia mengucapkan ‘Hallo’. Dan seperti dugaanku ia mendecak sebal di sana.
‘Di kampus, masih ada yang harus kuurus. Sebentar lagi aku akan kesana.’
Dan sambungan terputus begitu saja bahkan sebelum aku mengeluarkan u*****n kekesalan atas sikap semena-menanya. Hampir saja ponsel dalam genggamanku berakhir menggenaskan di lantai sebelum aku menyadari bahwa ponsel itu begitu berharga untukku.
“Aku pikir kau tidak akan pernah ke sini lagi.”
Seseorang berseru sambil mendudukkan tubuhnya di kursi di hadapanku. Mataku membelalak melihat sosoknya. Sosok yang kurindukan dan ingin sekali kutemui sejak pertemuan pertama kami dulu.
Aku tersenyum, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan sikap konyol. “Senang melihatmu lagi.”
Ia mengangguk. Memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama denganku. “Aku pikir setelah kejadian waktu itu kau tidak akan pernah mau bertemu denganku lagi.”
Sial! Kenapa dia harus membahas kejadian memalukan itu?
Senyumku terbentuk dengan aneh. “Sangat memalukan, bukan?” Tawaku sumbang, aku tau itu karena itu hasil paksaan.
Ia tersenyum tulus. “Tidak juga. Semua orang pasti melakukan hal yang sama saat gugup, begitu juga denganmu.”
Keningku berkerut. “Kau tahu aku sedang gugup?”
“Tentu saja.” Ia mengangguk antusias membuat surainya bergerak seiring gerakan kepalanya. “Itu tampak jelas di wajahmu. Yang tidak aku tahu, apa yang membuatmu gugup sampai melakukan kecerobohan seperti itu.”
“Sepertinya kau lebih cerewet dari yang aku pikirkan.”
“Memangnya dalam pikiranmu aku orang yang seperti apa?”
Aku bungkam. Pertanyaan menjebak yang sulit untuk kuhindari. Bagaimana aku harus menjawabnya? Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya bahwa selama ini bayang-bayangnya selalu bersarang di kepalaku dan betapa manisnya ia bagiku? Tidak. Aku tidak boleh mengatakannya.
Melihatku yang terdiam ia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Apa kau kesini karena ada janji bertemu dengan seseorang?”
“Ya,” Kepalaku mengangguk tanpa sadar. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Ia menunjuk keluar jendela tepat mengarah pada seseorang yang sangat kukenali sedang melambai sambil membisikkan sesuatu. Aku tidak bisa menangkap maksudnya. Entah aku yang bodoh atau dia yang tidak bisa menyampaikan sebuah pesan dengan baik.
“Kurasa dia mengatakan bahwa ia tidak bisa bertemu denganmu hari ini karena ia harus menyelesaikan suatu hal yang penting dan mendadak.”
Aku mendengus kesal. Aku yakin Tania tidak benar-benar akan menyelesaikan apapun yang ia maksud tugas penting itu. Ini hanya akal-akalannya untuk tidak mengganggu waktu berduaku bersama sosok di hadapanku.
Memang kuakui aku menghargai usahanya itu. Tapi dengan mempertaruhkan tugas penting itu tidak bisa ditoleransi. Kenapa dia bisa menjadi rekan kelompokku? Seharusnya aku mengajak yang lain saja bukan dia.
“Aku harus pergi.”
Tapi ia mencekal lenganku. “Mau kemana? Kenapa terburu-buru?”
Aku tidak tahan untuk menatap matanya, kualihkan pandanganku ke arah lain tapi tak berusaha melepas cekalannya. “Ada yang harus kuurus.”
“Tapi temanmu bilang kau bisa bersantai karena dia yang akan mengurus semuanya.”
“Meski begitu aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja. Aku bukan anak SMA yang dengan gampangnya dapat mengalihkan pekerjaannya pada temannya dengan mudah.”
Genggamannya terlepas, ia tersenyum tipis. “Maaf, aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya…” Ia menggigit bibir sambil menundukkan kepala menghindari tatapanku.
“Aku hanya merasa senang dapat melihatmu kembali. Sejak melihatmu di depan café aku mulai merasakan adanya ketertarikan padamu. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi café ini untuk sekedar melihatmu. Dan aku selalu menemukanmu duduk di meja yang sama. Kau mungkin tidak pernah menyadarinya tapi aku selalu mengambil tempat yang dekat denganmu. Aku begitu gugup saat kau tiba-tiba memandangiku lekat dan aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak menatap balik padamu. Aku ingin menyapamu tapi aku tidak berani. Barulah hari itu aku memberanikan diri mengajakmu bicara dengan mengambil kesempatan café yang penuh untuk dapat duduk di meja yang sama denganmu.”
Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. ”Kau menyambutku dengan baik, dan aku menangkap sikap gugupmu yang mengakibatkanmu melakukan tindakan ceroboh. Saat kau menyodoriku cappuccino milikmu, rasanya ingin sekali aku mengambilnya dan menyesapnya di tempat yang sama denganmu karena itu bisa menjadi ciuman tidak langsung. Tapi aku menahan diri karena tidak ingin terlihat menjijikkan di matamu.”
Ia tertawa pelan. “Tapi setelah hari itu kau menghilang, tidak pernah mengunjungi café ini lagi. Aku kecewa, meski setiap hari datang dan duduk di meja yang sering kau tempati, tapi kau tidak pernah muncul sekalipun. Tapi pada akhirnya kau muncul juga, ‘kan? Aku begitu senang sampai tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak langsung menyapamu. Meski sikapmu sedikit berbeda dan tampak cuek padaku itu tidak mematahkan semangatku untuk mendekatimu. Tapi melihatmu akan pergi dan secara terang-terangan ingin menghindariku membuatku kecewa. Tapi siapalah aku.”
Ia tertawa terpaksa. “Maat telah mengganggu waktumu. Anak SMA sepertiku memang tidak mengerti apa-apa tentang tugas mahasiswa sibuk seperti kalian.”
Ia berjalan melewatiku, tak berbalik sedikitpun melihatku. Bahkan setelah ia mengungkapkan semua perasaannya ia malah pergi dan tak mau menunggu tanggapan yang akan kuberikan. Sungguh aku tekejut dengan pengakuannya. Tidak menyangka dan tidak percaya dengan semua yang ia ucapkan. Semua masih begitu sulit untuk kupercayai. Tapi aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata!
Kulihat ia sudah keluar dari café dan bersiap-siap menahan sebuah taxi. Tak mau melewatkan kesempatan ini kakiku segera melangkah dengan cepat melewati pelayan yang sedang membawa pesanan kami dengan heran. Segera kusisipkan beberapa lembar uang di nampan yang dipegangnya sebelum kembali berlari.
Ia tampak tak menyadari keberadaanku. Kutarik tangannya yang membuatnya tersentak, menatapku penuh tanya. “Bisa-bisanya kau pergi begitu saja setelah mengatakan semuanya. Apa kau sama sekali tidak ingin tahu bagaimana perasaanku?”
Dia tertunduk, menghindari tatapanku. “Aku terlalu takut menerima kenyataan yang tidak sesuai keinginanku.”
“Jadi kau menyerah?”
“Tentu saja tidak!” Sanggahnya. Matanya membelalak menyadari suaranya yang keras mengundang perhatian. Ia kembali tertunduk. Malu.
Aku tersenyum puas, menariknya ke dalam pelukanku. Aku tahu saat ini beberapa pasang mata melirik kami dengan risih. Tapi aku tidak peduli, fokusku hanya untuk membuat sosok di depanku sadar bahwa aku juga memiliki rasa yang sama dengannya.
“Aku mencintaimu.” Ucapku setelah melepaskan pelukan kami.
Awalnya ia terkejut, tapi akhirnya tersenyum. Manis sekali. “Aku juga mencintaimu.”
Aku tersenyum, kembali membawanya kedalam pelukanku yang diterima dengan baik olehnya. Setelah ini aku harus berterima kasih pada Tania yang begitu mengerti dan memberiku kesempatan untuk mendapatkan cintaku.
.
.
END