Selama makan siang Bianca tak bicara sama sekali karena Alen bingung dia ingin bertanya secara jelas pada Bianca. “Apa kau ingin pindah saja? Ada perusahaan besar yang bisa menerima dirimu. Kau elegan san cekatan, tak ada yang salah. Untuk apa bekerja jika sudah tidak nyaman? Aku mengatakan ini karena sangat peduli padamu. Perusahaan Lim sangat menghargai karyawannya.”
Dengan polos dia menjawab, “kenapa tak kau saja yang pergi bekerja di sana, hah? Ada-ada saja kamu, Alen.” umpatnya kesal, “jangan bahas masalah ini lagi, aku sedang tidak suka mendengar tentang Presdir perusahaan kita.”
“Ya, ya, aku ikuti apa yang kamu inginkan, Bianca. Asalkan jangan ribut denganku,” dia terkekeh geli.
Selama makan, mereka berdua tak sadar jika Nickwa dan Marco Bie. “Sepertinya dia sudah memiliki favorite lain,” Nickwa menepuk bahu Marco Bie, “ayo kita jalan.” Mereka meninggalkan Bianca dan Alen berdua, Nickwa tidak tahu apa yang ada di hati Marco Bie saat ini.
Wajahnya sangat datar, di sini Nickwa merasa cemas, jangan-jangan Marco Bie tidak memiliki perasaan pada Bianca. Kalimat itu berputar dan mempengaruhi pikiran Nickwa.
“Saya akan kembali ke Perusahaan, kita berpisah di sini. Saya akan segera memeriksa perjanjian perusahaan dan bahan baku.”
Nickwa mengangguk, dia akan mengatur rencana baru agar Bianca bisa dekat dengan Marco Bie. “Apa sebaiknya aku mencari kandidat baru?! kacau sekali jika tak ada pria yang menginginkan Bianca.”
Setelah selesai makan siang Bianca yang kembali perusahaan melihat Marco Bie sudah sibuk dengan sekretaris perusahaan. “Bianca, kamu darimana saja?!” si iblis wanita Noni sedang memanaskan suasana. “Tuan Marco Bie sibuk mengerjakan perjanjian perusahaan.”
“M-maaf Bos, saya terlalu lama di luar makan siang. Saya menghambat pekerjaan anda.”
Marco Bie tidak memiliki reaksi, sedangkan Noni langsung menjawab tanpa berpikir. “Jelas saja kamu harus minta maaf, karena ulah kamu file yang di harusnya di kirim jam 13.30, tapi malah sampai sekarang belum juga selesai.”
Bianca semakin tak enak hati, “sekali lagi saya minta maaf Bos.”
Marco Bie langsung berdiri, dia berjalan melewati Bianca sembari berkata. “Ikuti saya.” Noni yang melihat itu merasa sangat kesal karena Bianca sudah mengganti posisinya. “Bianca, cepat!”
Langkahnya tak beraturan, Bianca bingung. “Bos, kita akan pergi kemana?!” Marco Bie tidak menjawab, dia masuk ke mobil. “Bos, apa yang perlu saya bawa?!” dia tetap tidak menjawab.
Karena Bianca sudah lelah, dia pun mengikuti langkah kaki Marco Bie hingga masuk ke dalam mobil. Hampir 2 jam perjalanan mereka sampai di Villa yang berhadapan dengan pantai. Bianca yang tertidur di bangunkan oleh sopir, dia menatap keluar dan refleks berteriak. Gadis ini lupa jika dia sekarang seorang asisten yang tidak boleh menikmati kehidupan sesuka hati.
“Nona, Tuan Marco Bie memanggil anda.”
Dia menoleh kebelakang, “Bos… maafkan saya!” Bianca menunduk berulang kali karena merasa tidak enak hati. “Saya tidak bermaksud tak menghiraukan anda, Tuan.”
Dia mengangguk, wajahnya masih sama. Samar-samar Bianca mendengar pembicaraan Marco Bie dan Kepala Pelayan yang kini menatap ke arah dirinya. “Nona, silahkan ikuti saya.” dia mengangguk. Selama di perjalanan Kepala Pelayan bicara pada Bianca, dia menjelaskan setiap sudut Villa mewah ini. “Nanti malam akan diadakan pesta dansa, di sini keluarga akan berkumpul dan Nona sebagai asisten Tuan harus siap sedia memperkenalkan diri dan mengambil kebutuhan Tuan Marco Bie. Karena walaupun pertemuan keluarga, malam ini mereka akan membahas tentang ekspor-impor bahkan baku.”
Bianca yang sebenarnya belum paham mengangguk berulang kali, “Dimana kamar saya? Hm… saya juga tidak membawa pakaian.”
“Semua sudah di siapkan Nona, jadi anda tidak perlu khawatir. Ini adalah kamar anda, semoga anda berkenan.”
“Bagus sekali…” dia memuji tatanan kamar yang elegan tersebut, “terimakasih, saya sangat suka.”
Kepala pelayan mengangguk, “Kalau begitu saya permisi Nona, anda bisa mencari saya jika memerlukan sesuatu.”
Bianca tersenyum membalas kalimatnya, dia berjalan ke arah jendela. Dari sana terlihat jelas pantai dengan ombak yang bergerak begitu beraturan. Berulang kali Bianca tersenyum manis karena pantai adalah tempat penuh kenangan dengan keluarga. “Aku sangat merindukan mereka, entah bagaimana jadinya jika ketiga pria itu tidak menghabiskan seluruh hidupnya untukku.”
Tok, tok… bunyi ketukan pintu kamar membuat Bianca terkejut. “Bisa Aku bicara denganmu?!” matanya membulat saat mendengar suara Marco Bie di luar pintu kamar dan memanggil namanya. ‘Bianca, bisa kita bicara?!”
Dia berjalan pelan, membuka pintu kamar hanya sedikit. “Bos, apa yang ingin anda bicarakan?!” pintu kamar tersebut hanya di bukan sedikit olehnya. “Katakan saja Bos,” Marco Bie tidak bereksi, dia mendorong pintu sampai Bianca mundur perlahan. “Hah, dia kuat juga ya…”
“Aku ingin bertanya, mungkin kau akan merasa tidak nyaman.”
Dia sedikit terbata karena gugup melihat Marco Bie untuk pertama kali tanpa mengenakan pakaian kantor Resminya. “Bos, ada apa?!”
Marco Bie memegang gagang pintu kamar, dia tak ingin masuk karena takut Bianca tidak nyaman. “Hubunganmu dengan Alen, mulai sekarang jika ada yang berpacaran di kantor maka salah satunya akan di pecat. Peraturan ini akan di umumkan besok.”
Bianca sudah terbiasa dengan pesta dansa yang sering di selenggarakan oleh keluarganya. Gadis ini sangat senang, hanya sedikit gugup atas sikap Marco Bie yang sedikit aneh. Bianca tidak tahu harus mulai dari manakah membicarakan keanehannya. Setelah Bianca pikirkan lagi keanehan itu bermula dari kalimat sang Bos yang mengatakan perusahaan akan membuat peraturan baru. Tak ada yang boleh berpacaran di kantor, alasannya simpel sekali, yang pertama bisa menggangu konsentrasi pekerjaan.
"Nona, kenapa anda masih di sini? Ayo kita keluar, Tuan Marco sudah menunggu anda sejak tadi."
Bianca baru sadar kalau ini bukanlah pesta yang kakaknya buat, pesta ini bukan miliknya melainkan milik Tuan Marco Bie. Hugh, Karen buru-buru tanpa sengaja di menumbur tubuh tegap sang Bos. "Maafkan saya Tuan."
Dia tak menjawab, tapi memberikan kode agar Bianca menggandeng tangannya. Mereka pun turun dari lantai dua, semua keluarga bertepuk tangan. Seolah sedang memberikan selamat.
"Calon istri anda sangat menawan Tuan Marco Bie." Bianca terbelalak mendengarnya. "Nona kecil terlihat sangat dewasa sekarang."
"HM, anda mengenal saya?!" Bianca memukul bibirnya sendiri karena bicara tidak sopan, seharusnya kalimat tersebut tak keluar dari bibirnya. "Maafkan saya, Tuan."
"Tidak apa-apa Nona, dan tentu saja saya mengenali anda. Bagaimana bisa kami tak tahu calon istri Tuan besar kita Marco Bie."
Bianca terbelalak, dia terkejut saat mendengar kalimat tersebut. Tapi tak ada kesempatan baginya untuk mengelak, karena semua orang kini mulai mengerubungi dirinya dan Marco Bie. Karena tidak bisa menghindar akhirnya Bianca mendiamkan kejadian ini, dia mengikuti alur yang sudah terjadi dan akan bertanya kepada Tuan besar tersebut setelah semua pesta berjalan dengan lancar.
"Nona muda, anda cantik sekali." Ucap seorang wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikan dirinya, dengan make up tebal dan aksesoris yang luar biasa, dia tidak terdengar sedang memuji. "Saya senang sekali saat mendengar kabar bahwa keponakan kami satu-satunya akan menikah dalam waktu dekat."
Bianca tersenyum, "terima kasih karena sudah turut berbahagia, karena anda adalah Bibi kekasih saya, maka hal itu sangat wajar. Anda pasti mencintai Marco Bie seperti anak sendiri."
"Tentu saja, semua orang di sini sangat mencintai Marco Bie. Dia sudah terlalu lama hidup sendirian, jadi kami sangat senang karena dia akan memiliki pendamping. Kira-kira kapan pesta besar itu akan dilaksanakan?! Aku akan menyiapkan banyak hadiah untukmu sayang."
Marco Bie yang sejak tadi memperhatikan Bianca berbicara dengan bibinya tersenyum simpul, entah apa arti dari senyum tersebut. "Tuan, apa anda ingin saya menuangkan minuman?!"
Marco Bie tidak menjawab, dia memilih pergi menuju Bianca yang sepertinya membutuhkan bantuan. "Bibi, apa kabar?! Semakin tua malah terlihat lebih cantik, Anda sangat mempesona Bibi."
"Benarkah?!" Matanya terbelalak karena Marco Bie tidak pernah memuji seseorang. "Kau sangat pandai memuji, aku senang sekali karena kamu akan menikah Marco Bie. Hadiah pernikahan kalian adalah 5% saham di perusahaan kecantikan Bibi."
Marco Bie membungkuk, "terimakasih Bi, hadiah ini akan sangat berarti untuk Bianca. Dia juga suka estetika."
Mereka bertiga akhirnya berbincang cukup lama, beberapa mata melirik ke arah mereka, dan Bianca bisa merasakannya."
Acara telah selesai, kini tinggal lelah yang tersisa. Bianca yang berdansa sepanjang malam menggunakan sepatu hak tinggi tidak bisa menolak permintaan dari tamu undangan. Mereka hanya ingin berdansa dengan dirinya sebagai calon pengantin.
Tok,tok, suara ketukan pintu membuat Bianca terperanjat. Dia menatap ke arahnya namun enggan untuk berjalan karena lelah. Tok, tok, pintu kembali di ketuk, dia dengan langkah gontai terpaksa berjalan tanpa nafsu. Wajahnya kesal sekali, Bianca ingin mengumpat karena kakinya sakit. Sepatu hak tinggi yang di sediakan Marco samaBie sekali tidak nyaman. Dia menggigit bagian belakang kaki Bianca karena ukarannya yang tidak pas.
Pintu terbuka, Bianca kembali terkejut karena melihat Bos Besar kini datang dengan baskom sedang bersama dua handuk kecil di pundaknya. Dia tak berkata apapun, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar hingga Bianca terdorong, pintu kamar yang awalnya terbuka kecil, kini sudah terbuka lebar.
"Masukkan kakimu ke dalam air ini, aku sudah memasukkan anti septic ke dalamnya." Bianca tak menjawab, bibirnya bergerak tapi tidak ada suara. "HM, saya bisa melakukannya sendiri. Kamu ingin mengatakan itu, bukan?!" Dia melirik ke arah Bianca yang akhirnya mengikuti yang Marco Bie inginkan. "Istirahat kalau sakit, jangan di paksakan." Tambah Marco Bie setelah kaki Bianca terendam.
"Tidak enak hati, saya tidak ingin mengecewakan orang lain. Apalagi rata-rata yang datang adalah orang tua. Hanya 30 persen anak muda yang hadir tadi malam, apa mereka semua sibuk, maksudnya para pemuda dan pemudi!!"
Marco mengangguk, "sebagian dari mereka mungkin tak ada di tempat."
Bianca bisa mengerti karena Marco Bie adalah kelurga pembisnis. "Istirahatkan diri anda Tuan, saya juga lelah." Bianca seperti tak bisa menahan kantuknya. "Maaf, saya sempat terpejam."
Marco Bie tak menjawab, dia tersenyum simpul lagi, dan Bianca kembali terpejam.
Wajah Marco Bie terlihat datar, tapi pipinya merona merah, bibirnya terbuka seolah sedang takjub melihat sesuatu yang kini ada di hadapan dirinya.
Jari telunjuk Marco Bie menyentuh bibir Bianca yang terbuka saat tidur, bahkan mata gadis itu tidak tertutup sepenuhnya. "Cih," Marco menutup tawa kecilnya dengan kepalan tinju. "Baiklah Bianca, selamat tidur!" Marco Bie mengusap wajah Bianca dengan sangat lembut dengan tangan kanannya.
Marco Bie tahu Bianca sangat nyenyak. Pria tersebut perlahan melangkahkan kakinya karena tidak ingin mengganggu tidurnya, pria ini juga sangat hati-hati menutup pintu kamar itu.
"Tuan,"
Marco Bie langsung terperanjat karena terkejut dengan suara yang menyapa dirinya. "Astaga Kepala Pelayan, apa anda ingin saya mati karena terkejut?!"
"Maafkan saya, Tuan Besar."
Pria ini mengibaskan tangannya, "sudahlah tak perlu di bahas lagi! Jadi ada apa mencariku sampai kemari?!"
Kepala pelayan mengikuti langkah kaki Marco Bie. "Saya di minta menyampaikan sebuah surat kepada anda, pada awalnya saya tidak ingin ikut campur! Tapi Nona Muda Cleo memaksa."
Marco Bie langsung mengambil surat itu, "padahal zaman sudah begitu canggih, dia masih menggunakan secarik kertas jika ingin bicara denganku." Marco Bie mengoceh, tapi matanya membaca dengan perlahan isi kertas tersebut. "Apa dia datang dengan emosional?!"
Kepala pelayan menggeleng, "tidak Tuan, seperti biasa Nona Cleo sangat enggan untuk bicara. Tampaknya beliau sedang menahan kesal karena gosip terbaru tentang anda, Ya... Nona Cleo belum move on dari kenyataan, Tuan."
Marco Bie tak menjawab lagi, dia malas jika sudah membahas tentang Cleo, tapi dirinya tak bisa menghindari gadis ini.
Marco Bie terpaksa menemui Cleo, dia tidak ingin gadis itu terus berharap pada dirinya. Walaupun dia dan Cleo memiliki hubungan keluarga dan jika menikah dengan dirinya akan mendapatkan dukungan semua orang, tetap saja pria itu enggan. Dia menganggap Cleo seperti adiknya sendiri. Entah kapan Cleo bisa Move dari keadaan ini. “Apa kau baik-baik saja?!” pertanyaan itu muncul dari bibir Marco Bie sesaat dia melihat Cleo yang memegang dadanya. “Untuk apa kemari jika kesehatanmu memburuk.” karena tidak tega dia mendekati Cleo dan memeluknya.
“Aku ingin melihatmu, kak! Aku dengar di pesta dansa ada calon kakak ipar yang ikut datang berpesta. Apa itu benar? Kenapa tidak mengatakannya padaku? Bukankah kakak bilang semua yang akan terjadi tidak akan jauh dari pengetahuanku?!” Dia memasang wajah sendu, di sini Marco Bie merasa tidak enak hati karena kalimat yang Cleo katakan memang keluar dari mulutnya dan itu sulit di pungkiri. “Kakak kenapa? Apa wanita itu memaksa untuk menikah? Apa kakak di jebak? Aku belum pernah mendengar apapun tentang kakak di media bisnis.”