Bab 1. INFORMASI
Karakter Utama :
1. Marco Bie : Pengusaha sukses sekelas Alibaba di Shanghai, dia berada di puncak karier saat berumur 27 Tahun. Walaupun terkesan dingin dan Arrogant, pria ini memiliki hati yang sangat lembut. Dia adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga besar Bie Joseph. Keadaan yang membuat Marco Bie tak bisa mengungkapkan perasaannya, dia terlahir dengan seribu topeng agar musuh tak bisa membaca dirinya. Marco Bie terbiasa hidup sendiri, dia mengalami gangguan kecemasan tingkat tinggi, dan mengisolasi dirinya dari kedekatan antar manusia.
2. Bianca Alexandria : Anak Bungsu dari 4 bersaudara, semua kakaknya laki-laki. Mereka bermukim di Singapura, keluarganya adalah bagian dari Sembilan Naga yang menguasai bisnis di Asia. Bianca pandai dan mudah bergaul, dia memutuskan untuk menentang keinginan kakak-kakaknya dan berakhir bekerja di perusahaan milik Marco Bie yang merupakan Mitra perusahaan yang di pimpin sang kakak. Tak ada yang tahu siapa Bianca, dia di sana bekerja seperti karyawan biasa.
3. Alen Lim : Dia adalah anak dari keluarga kaya raya di Shanghai. Alen kini bekerja di perusahaan milik Marco Bie sebagai karyawan, namun tugas utamanya adalah sebagai mata-mata. Dia di minta oleh sang Ayah untuk mencari tahu semua yang terjadi di pusat perusahaan tersebut dan melaporkannya. Sayang Alen Lim yang berumur 25 Tahun malah jatuh hati pada Bianca sejak pandangan pertama.
.
Hari ini Bianca sangat lelah, dia pikir penderitaan ini sudah selesai. Tapi yang dia pikirkan berbanding terbalik dengan kenyataan, penyiksaan yang langsung dirinya dapat dari Presdir sangat gila-gilaan. Bianca tak habis pikir kenapa sang Presdir yang terlihat sangat berkarisma malah menyiksa pegawainya karena perkara kopi semata.
Dia mengumpat dalam hati, matanya tak bisa berbohong. Bianca kesal dan marah besar karena merasa di permainkan, karena hal ini dia pun berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah menyiksa karyawannya jika suatu saat duduk di bangku tertinggi.
Sedang asyik memikirkan kekesalannya, Bianca yang masih termenung tak sadar jika Noni sang sekretaris perusahaan memanggil dirinya. “Bianca, kamu di panggil Tuan Marco Bie. Sepertinya ada hal penting yang harus di bicarakan, bergegaslah kami tidak ingin kena imbas atas perbuatanmu.” ujarnya dengan nada mengintimidasi.
Nyonya Erein yang mendengar itu merasa sedikit aneh karena atasannya tidak pernah memanggil bawahan secara langsung. “Kamu yakin Noni? Presdir tidak pernah berurusan dengan karyawan secara langsung. Bahkan jika ingin memecat karyawan dia tidak perlu melihat wajahnya, apa mungkin kau salah dengar?!”
Dia menggeleng, “aku di minta bagian informasi untuk menyampaikan pada Bianca. Aku juga heran karena Presdir tidak perah memanggil karyawan dengan panggilan telepon seperti ini, sepertinya ada hal besar yang membuat Bianca di permainkan Presdir.” dia melirik dengan tajam, “bagaimana menurutmu Bianca? Apa kau tak sengaja naik ke atas ranjangnya bagaikan cerita Novel? Coba katakan padaku, aku ingin mendengar cerita yang sebenarnya.”
Nyonya Erein menatap bingung, “kau ada masalah Bianca? Aku melihat beberapa hari ini tindakmu sedikit mencurigakan. Apa kau kekasih Presdir yang sedang menyamar?” Nyonya Erein mendekat dan duduk di samping Bianca, “coba katakan padaku dengan jelas, sejak awal kau masuk perusahaan aku sudah curiga! Bagaimana bisa kau masuk tanpa seleksi sama sekali.” Dia memicingkan mata seolah curiga padahal hanya ingin menggoda Bianca. “Ehm, kau tidak bisa menjawabku Bianca?!”
Dia gugup, lalu berusaha untuk mengelak. “Tidak seperti itu Nyonya, hanya urusan pribadi saja. Anda jangan menggoda saya, please…” pintanya.
Dia mengangkat alisnya lalu tersenyum. “Uh, mencurigakan sekali, tapi jika kau benar-benar kekasih Presdir maka jangan lupa untuk menaikkan jabatanku, aku banyak membantu dirimu Bianca.” Nyonya Erein kembali ke temapt duduknya sembari terkekeh, “aduh sekali tepuk dua lalat, aku hanya menggoda Bianca saja Noni… kau juga Alen, aku hanya bicara sembarangan saja.”
Jujur saja Bianca merasa sangat frustasi, dia tidak tahu darimana Marco Bie mendapatkan nomor ponselnya. Pria itu terus menghubungi dan meminta Bianca mengerjakan sesuatu yang sepele. Dia harus bolak-balik naik dan turun ke lantai 3 dan 11 karena ulah atasannya.
Pria dingin itu selalu menghubungi dirinya melalui pesan singkat, karena kesal Bianca pun mematikan ponselnya. Tapi bukannya mendapatkan ketenangan, dia malah lebih tertekan akibat menjadi bahan pembicaraan teman sekantor.
Alen yang melihat wajah Bianca sedih mulai penasaran dengan apa yang terjadi, dia mulai menyeret kursi. “Katakan padaku apa yang terjadi?!” dia memutar kursi Bianca karena meja mereka berdampingan. “Kau adalah masalah pada Presdir kita? Menurut berita dia sangat dingin dan tak pandai bicara, jangan sampai kita malah menjadi tumpuan kekesalannya. Jika kau tak senang dengan perlakuan yang dia berikan segera laporkan pada komisi perlindungan karyawan.” Alen Lim mencoba untuk terus bicara pada Bianca.
Dia menghela, dia tidak menyangka hidupnya akan berantakan. Semua berawal dari dirinya yang memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Shanghai. Di hari ke 100 bekerja Bianca malah mendapat masalah dari sang Bos besar yang terkenal dengan sikap Arrogant, dia bernama Marco Bie.
Selain sikapnya yang dingin, Marco Bie sangat suka melakukan semuanya sendiri. Dia adalah salah satu manusia Perfectsionis yang ada di Bumi. Bianca sangat kewalahan karena pria itu membuat hari-harinya menjadi kelam dan penuh dengan tekanan. “Alen Lim, please untuk tidak banyak bertanya padaku! Saat ini otakku kacau dan sangat kusut, pertanyaanmu membuat aku harus berpikir keras. Padahal sudah aku katakan dengan jelas jika kami sedang memiliki masalah yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.” Bianca mulai kesal dan akhirnya meluapkan pada Alen.
“Maafkan aku Bianca, tak usah marah!”
Noni yang masih ada di sana memukul meja, “heh… aku harus menunggu berapa lama lagi sampai kau beranjak dari tempat dudukmu dan menghadap Presdir. Kalian berdua seperti sedang bermain telenovela, benar-benar mengabaikan aku yang sejak tadi di sini. Jujur saja Bianca aku tak berani kembali tanpamu, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi gadis picik sepertimu biasanya tidak akan bisa bertahan lama.”
Nyonya Erein yang masih ada di sana melemparkan sampah kertas yang sudah bergulung pada Noni. “Hey, apa yang kau bicarakan, hah? Keluar dari ruangan ini, jangan sampai Jenifer yang sedang fokus malah menelan dirimu bulat-bulat.”
Dia menghentakkan kaki, “terserah pada kalian saja, aku tidak ingin kena imbasnya. Jika kau masih ingin terus di sini silahkan saja Bianca, dan siap-siap untuk di pecat!” Noni pergi setelah mengatakan itu, dan tentu saja mebmuat Bianca bertambah stres.
“Bianca jika kau tak memiliki salah apapun kenapa harus takut? Presdir atau siapapun tidak berhak mengaturmu hidupmu!” Nyonya Erein mencoba menenangkan, “tenang saja, ibarat pribahasa begitu banyak ikan di laut, dan itu sama artinya dengan kau tidak perlu terburu-buru karena banyak perusahaan yang sudah jelas akan menantikan dan membuka lebar-lebar dirimu.”
“Nyonya!” Bianca semakin lemas setelah di ceramahi seperti ini. “Jangan membuat saya semakin takut,” tambahnya. “Saya akan segera ke sana, hanya saja jantung ini masih berdebar sangat kencang.”
Alen Lim yang mendengar itu semakin tidak tega. “Bianca, biar aku yang menggantikan dirimu.”
Wajah gadis ini semakin lemas, “please Alen, kau mengetahui situasinya tidak semudah itu. Aku rasa Presdir memiliki dendam padaku, entah kenapa bulu kuduk ini jadi merinding setiap membahasnya. Aku akan menghadapi ini, jadi tenang saja dan tidak peru khawatir.”
Nyonya Erein yang sejak tadi diam kini turut bicara. “Sudahlah, ini sudah masuk jam makan siang. Kau datang saja ke sana setelah makan siang, mudah-mudahan Tuan Marco Bie bisa mengerti karena karyawan juga butuh tenaga.”
“Oh Tuhan, kenapa aku harus menumpahkan secangkir kopi padanya. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, bagaimana bisa aku pulang dengan bendera putih di tangan.” Bianca mengeluh.
Marco Bie adalah orang yang tak mengenal toleransi, biasanya dia akan memecat langsung karyawan yang tidak kompeten. Tapi alih-alih memecat Bianca, dia malah membuat gadis itu berada di sisinya dan membuat Bianca bekerja bagaikan kuda. Tidak ada yang tahu kejadian hari itu, hanya Marco Bie dan Bianca sehingga semua orang di perusahaan bersikap biasa saja.
“Alen, apa kau bisa membantuku mencari rumah yang berada di dekat perusahaan?!”
Pria yang merupakan teman satu ruangan Bianca itu mencoba untuk berpikir. “Hanya perumahan mewah yang ada di sini dan harganya pasti sangat mahal, tapi jika kau ingin tinggal bersamaku itu tidak masalah.”
“Tidak Alen, berikan saja aku kontaknya.”
Dia melihat ponselnya, “aku akan beritahu pemilik gedung agar kau berada tepat di samping Apartemenku.”
“Jangan bercanda Alen, ini tidak lucu sama sekali.”
Dia memutar kursinya sembari bergumam, “kau akan tinggal tepat di sebelah Apartemenku Bianca, tak ada Apartemen kosong lainnya.”
Bianca yang mendengar samar-samar kalimat Alen kembali bertanya. “Apa?!” dia menggeleng, Alen tersenyum seolah menyiratkan sesuatu. “Kau sedang menggodaku, Alen? Hari-hariku cukup melelahkan, jadi jangan banyak bercanda.”
Bianca yang masih terus merutuki dirinya kini kembali berbicara di dalam hati, dia kesal dan marah pada Tuan Marco Bie yang semena-mena pada dirinya. Seolah sedang menabuh genderang perang kini dia sama sekali tak bergerak dari kursi tersebut. Dia enggan menghampiri sang Tuan karena sudah terlalu lelah, pekerjaan wajib yang harus di laksanakan malah terbengkalai berhari-hari.
“Bianca…”
Dia sambil malas memutar kursinya, “Presdir.” ucapnya sedikit berteriak. “Sa-saya.” dia gugup sekali.
Alen yang melihat itu mulai merasa tak nyaman, dialah yang pertama kali menyukai Bianca. Dia merasa tak ada orang lain yang pantas memilikinya. Entah kenapa hari Alen menjadi sangat kesal. “Presdir, Nona Bianca sedang mengerjakan banyak tugas. Jika begitu penting saya akan membantu Nona Bianca untuk melakukan tugas yang anda berikan.”
“Tidak perlu, Bianca mulai hari ini kau menjadi sekretaris pribadi saya.”
Semua orang di ruangan tersebut menatap ke arah Bianca yang terbelalak. “Saya?!”
Marco Bie tidak menjawab, dia berlalu pergi seolah tak mengatakan apapun. Sedangkan Bianca sendiri kini terpaku di tempatnya, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Jika kau tidak ingin biar aku saja!”
Secantik Jenifer kini memainkan matanya menggoda Bianca. “Katakan saja pada Presdir, jika dia setuju maka aku akan sangat berterimaksih.”
Bianca terpaku, dia berdiri seperti orang bodoh saat pria yang ada di hadapan dirinya menatap dengan wajah datar. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, dia bingung harus memulai pembicaraan atau tetap diam seperti batu seperti saat ini. Saat ini detak jam dinding bahkan bisa terdengar sangat jelas, walaupun Bianca masih bersikap normal, tetap saja perasaan hatinya kacau. Apalagi saat dirinya mendengar seseorang akan masuk di saat dirinya belum mendapatkan perintah apapun.
“Waw!” Bianca membulatkan matanya, dia tahu siapa pemilik suara ini. “Apa aku mengganggu anda Tuan Marco Bie?!”
Dia berdiri, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum, dan itu membuat Bianca merasakan sisi yang berbeda dari sang Presiden Direktur. “Dia tampan sekali ketika tersenyum,” gumam wanita ini di dalam hatinya.
“Silahkan duduk Tuan Nickwa, anda pasti lelah.”
Dengan mata berwarna Hazel pria ini melirik sang adik yang kini tertunduk malu, “aku pikir kau sedang sibuk, jika begitu kita lebih baik bertemu nanti malam saja.”
Marco Bie menggeleng, “ayo ikut keruanganku saja!”
Dia melihat jam, “silahkan kalau begitu.” Marco Bie dan Kimxa berlalu meninggalkan Bianca tanpa sepatah katapun. “Anda tidak menyapanya Tuan?!”
Nickwa tersenyum tipis, “ini yang dia inginkan, aku akan mendukung apapun keinginan Bianca.”
“Terkutuklah!”
Bianca yang melihat Nickwa dan Marco Bie berjalan masuk ke dalam lift tanpa menanyakan dirinya kini murka dalam hati. Dia tahu Nickwa sedang menghukum dirinya, tapi apa cara ini benar? Mereka sangat menyebalkan bagi Bianca saat ini.
“Bianca…” Alen yang sejak tadi memang menunggu kesempatan datang menemui orang yang diam-diam dia sukai. “Ayo kita makan siang, aku sudah lapar.”
“Hah Alen, hari ini hanya kau yang menganggap aku manusia.” keluhnya, “mau mengajak aku makan di mana? Hari ini jangan makanan setengah masak lagi, aku tidak tahan.”
Alen memainkan pipi gadis ini. “Oh baiklah Bianca yang imut. Ayo kita cari makanan sekarang.”
Memang hari yang tak menyenangkan, ternyata Alen memilih Kafe yang sama dengan Nickwa dan Marco Bie. Walaupun mereka tidak saling sapa, tetap saja Bianca merasa kesal dengan sikap sang kakak yang selama ini menyayangi dirinya. Dan tak pernah membantah apapun yang dia katakan. Rasanya d**a gadis itu sesak sekali, dia ingin berteriak dan marah pada siapapun yang kini berada di hadapannya. “Alen, aku rasa makanan di sini tidak enak. Bagaimana kalau kita mencari tempat makan lain.”
“Padahal makanan manis di sini semuanya enak.”
“Tidak, aku sedang ingin makanan pedas.”
Dia langsung berdiri tanpa menoleh siapapun, Alen yang ada di sana baru sadar bahwa Presdir mereka berada di tempat yang sama. Alen pikir semua ini karena ada pria tersebut.