Ciuman Mematikan

1468 Kata
Bersamamu aku mengerti bahwa jatuh cinta tak sesakit yang dulu kurasakan. Dan olehmu aku tahu bagaimana diperjuangkan oleh orang yang tak pernah kupandang. Mungkin ini yang dinamakan karma. "Ayo..." ajak Elva sembari menutup pintu.         Di belakangnya Dimas hanya bisa membuka kedua matanya lebar-lebar. Air liur di mulutnya menetes dengan kurang ajar. Dia tahu ini salah, tapi mulutnya seolah terkunci begitu saja. Hari ini mereka berdua akan pergi ke rumah Elva. Bukan hanya untuk menemui kedua orang tua gadis itu, tapi niat Dimas ingin mengembalikan Elva kepada orang tuanya. Tadi yang Dimas dengar dari cerita Elva, perempuan itu sudah lama sekali tidak bertemu dengan keluarganya. Dan Dimas tidak suka semua itu. Cukup dia yang merasa sakit tidak memiliki keluarga, jangan sampai Elva juga merasakan. "Apa?" tanya Elva aneh. "Lo yakin mau pulang ke rumah begini?" ringis Dimas.         Elva tersenyum bangga, dia tahu Dimas sedang menahan napsunya sebagai seorang laki-laki dan sepertinya dia berhasil melakukannya dengan baik. "Kenapa? Ada yang salah," "Salah, Va. Gue laki-laki juga tahu mana kasur spring bed mana tiker, malu juga nggak lo pamerin begitu." Sadiiiisss... Kalimat yang Dimas ucapkan menusuk dalam ke hati Elva. Gadis itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Sepertinya Elva salah menebak. Laki-laki semua sama saja. Suka dengan yang seksi-seksi. Termasuk laki-laki masa lalunya. "Lo sama aja ternyata," gerutu Elva sembari membuka pintu kamar hotelnya kembali. "Sama apa sih, Va? Lo gitu banget. Udah gue dijadiin pelarian, disamain pula sama cowok yang buat lo sakit hati. Emangnya gue pernah buat sakit hati lo? Nggak kan, tapi mulut lo itu..." "CUKUP!!!" Bentak Elva memotong perkataan Dimas. "Lo cowok tapi mulutnya kayak cewek. Ngeluh terus," bantai Elva. Pintu kamar itu tertutup kencang meninggalkan Dimas yang menahan kesalnya begitu kuat. Perempuan itu, Elva, benar-benar di luar dugaannya. *** Selama perjalanan menuju rumah orang tuanya, Elva terus saja tersenyum. Mengingat-ingat bagaimana reaksi semua keluarganya saat mereka berkumpul kembali.         Dulu mungkin dia tidak banyak berekspresi kepada Ayah Ibunya. Atau kepada semua adik-adiknya. Namun kini, setelah melihat bagaimana OKB begitu menggemaskan ketika mereka melakukan panggilan video, Elva seakan tidak sabar memandang kelucuan adik-adiknya. "Lo bahagia?" tegur Dimas sambil meliriknya. "Cuma di rumah gue merasa di cintai. Setelah kepergian Ibu gue, dan kedatangan perempuan sebaik Mama Ora, gue tahu apa yang namanya cinta. Tak cukup memberi dan menerima. Tapi harus berjuang untuk membuat bahagia," "Wow, sangat menarik." "Lo pasti bisa akrab sama Mama Ora. Gue yakin," gumam Elva. "Tapi gue nggak jamin lo bisa bebas dari amukan Daddy," "Udah biasa. Cewek cantik biasanya Ayahnya galak," balas Dimas sambil membelokkan mobilnya ke dalam komplek perumahan besar. "Dulu di sana gue sering main sama Ucca," tunjuk Elva pada lapangan yang baru saja mereka lewati. "Ucca?" "Iya, dia kakak gue yang udah kayak sahabat, kayak musuh, dan sering dibilang cinta pertama gue setelah Daddy." kekeh Elva. "Senang dong punya kakak," "Iya. Walau kami nggak satu Ibu," "Jadi bokap lo poligami?" sembur Dimas buru-buru. Elva membalas kekagetan Dimas dengan sebuah senyuman manis. "Bukan. Tapi bokap gue DUREN SAWIT, duda keren sarang duit." tutup Elva tepat saat mobil Dimas berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang begitu luas. "Ayo, gue kenalin seperti apa keluarga tempat gue berasal." Keduanya turun dari mobil bersamaan. Satpam yang bertugas menjaga pintu depan nampak kaget melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Walau sudah cukup lama, tapi dia yakin itu Elva. Anak perempuan dari sang majikan. "Non Elva," "Iya Pak," "Oh alah. Masuk Non." Elva tersenyum kepada satpam itu. Walau sedikit ragu dia kembali melangkah masuk. Hatinya cukup bahagia karena bisa kembali lagi. Tapi tetap saja ada ketakutan di sana. "Ingat kata-kata gue. Kalau lo mau lari, silahkan. Tapi jangan lupa ajak gue." ucap Dimas sambil menggenggam tangan Elva. Tepat pintu utama yang besar itu dibuka, segerombolan anak yang besarnya sama nampak berlari menghampiri Elva dan Dimas. "Kak ELVAAAAAA...." teriak mereka kompak. "Aduh, bang Niel. Tungguin Keo." "Wuu.. Lelet kayak keong," seru bocah laki-laki lainnya yang wajahnya serupa. Sedangkan dua kembar perempuan yang sama sekali tidak ada mirip-miripnya bukan langsung memeluk Elva. Melainkan langsung menggandeng kedua tangan Dimas di sisi kiri dan kanannya. "Kok bisa datang sama kakak Elva sih?" Entah mirip siapa Jaala dan Zala. Keduanya sama sekali tidak bisa melihat laki-laki tampan sedikitpun. "Kakak ganteng. Pasti Dy sebel deh nanti," seru Jaala. Padahal bocah kembar itu baru berusia hampir 6 tahun. Namun kelakuannya sudah seperti orang dewasa. "Ayo Kakak," Dimas hanya bisa meringis melihat ke arah Elva saat tubuhnya ditarik paksa. "Selamat menikmati," ucap Elva tanpa suara. Walau sudah terpisah cukup lama namun dia masih bisa tahu bagaimana karakter adik-adiknya. Apalagi adik nakalnya, Sheen. Di mana dia sekarang? Tahukah Sheen jika Elva merindukannya. *** "YA TUHAN.. YA TUHAN... DADDY... DADDY.. JENTIKMU KEMBALI," Teriak Ora saat melihat siapa yang datang ke rumahnya hari ini. Wajah bahagia dicampur haru bisa Elva lihat. Perempuan yang dinikahi Ayahnya kurang lebih 7 tahun lalu tak berubah. Cantik paras Ora masih sama. Perasaan yang dia tunjukkan pada Elva tak pernah ada yang berubah. "Mama.." panggil Elva. Keduanya saling berpelukan dengan perasaan penuh haru. Bahkan mereka tidak peduli jika ada dua laki-laki yang saling pandang. Yang satu penuh ringisan ketakutan dan yang satunya lagi dengan kemarahan yang menggebu-gebu. "Bisa kembali juga kamu," celetuk Kara kasar. Elva tak menggubrisnya. Melepaskan pelukan Ora, kemudian memeluk Kara erat. Mencium harum tubuh Ayahnya yang tak sekekar dulu. Wajah sang Ayah masih sama, tetapi beberapa garis halus di bawah kedua matanya tidak bisa membohongi usianya. Ayahnya sudah tak sehebat dulu. "Daddy, Elva balik." "Nyasar karena cinta, boleh. Tapi jangan nyasar pulang ke rumah untuk keluarga," balas Kara sembari memeluk Elva erat. Kedua matanya menutup, merasakan bahagia bisa berkumpul kembali dengan putrinya. "Daddy kangen kamu," Selepas keduanya berpelukan, Elva tahu apa yang menjadi fokus Ayahnya itu. Kedua mata Kara masih terus menatap tajam pada sosok Dimas yang berhasil menghipnotis para bidadarinya. Termasuk pada Ora. "Jangan digerayangin dong Kakaknya, biar dia duduk Kakak O," "Ih, bukan Oniel," protes Oneil, anak laki-laki kembar tiga miliki Kara Ora. "Eh, salah Mama. Maksudya Kakak ala-ala tante itu," gerutu Ora sambil gemas melihat tingkah dua putri kembarnya. "Jaza.. Nggak mau sama Daddy?" "Nggak mau, maunya sama Kakak ganteng." "Daddy kan juga ganteng," "Tapi gantengan Kakak ini. Makannya Mama balikin Kakak Ucca, Kakak ganteng kami," Dimas hanya bisa meringis bingung ke arah Elva saat tahu tingkah ajaib keluarganya. Ternyata beginilah hasil keputusan yang diambil tanpa dipikirkan lebih dulu. Dia bersedia menikahi Elva. Dan bersedia menjadi pelarian gadis itu. Tapi dia tidak bersedia menerima keluarga aneh ini. *** "Gimana? Masih mau nikahin gue?" tanya Elva saat Dimas mengikutinya ke kamar. Laki-laki itu risih sendiri jika ditinggalkan dengan kelima adik nakal Elva itu. Dan rasanya Dimas belum siap jika memiliki satu yang seperti mereka. "Lo pikir gue nyerah? Hei, gue bukan lagi berjuang dengan alasan cinta." balas Dimas begitu menusuk hingga membuat Elva sadar. Bila sejatinya Dimas meminta untuk menikahinya bukan karena cinta. Hanya untuk saling membantu. Tanpa Dimas sadari, Elva terus menatapnya. Mencoba mengenali apa yang akan dia lakukan benar atau tidak. "Lo nggak boleh tidur di kasur gue," sembur Elva. Dimas membalasnya dengan satu alis terangkat. "Gue kan tidurin kasur lo, bukan tubuh lo. Kok lo sama kasur aja cemburu," "Ish," "Jadi di sini kamar calon istri gue, hahaha.. Nyaman tapi dingin. Sedingin sikap lo," ungkap Dimas sembari melirik Elva yang salah tingkah. "Gue nggak minta komentar lo, Mas." "Tapi apapun yang ada di dalam hidup ini tidak luput dari komentar. Bahkan orang yang sudah mati pun masih sering dikomentari, entah itu hal baik atau buruknya." Balas Dimas. Tubuhnya duduk di atas ranjang, memandang Elva yang bertolak pinggang tak jauh darinya. "Tapi gue yakin, komentar gue nggak seburuk orang-orang di luar sana. Yang punya jantung tapi nggak punya hati. Kayak pohon pisang," kekeh Dimas. "Eh, mau ke mana lo?" "Mau ke toilet," bisik Dimas saat tubuh mereka berdekatan. "Sama-sama buang di dalam kan, bedanya ini di dalam toilet. Bukan di dalam lo," Sepeninggal Dimas, Elva masih memasang wajah bingung. Kalimat terakhir Dimas membuat tanda tanya besar. Maksud dan artinya sungguh agak sedikit sulit Elva pahami. Menjurus ke hal yang tidak wajar sampai Elva sangat penasaran. "Mas, buka. Maksud lo apa sih?" "Lo mau ke toilet juga?" Seru Dimas dari dalam. "Buka dulu, gue nggak bisa lihat." "Emang apa yang mau dilihat? Nanti lo napsu sama gue?" "Muka lo!!! Gue nggak suka ngomong sama orang dibalik pintu begini," "Tunggu, sabar. Gue lagi boker!!!" "Mas, buka." "Buka aja yang lebar, lo bisa buka kok." Tepat kalimat terakhir Dimas, terdengar suara pintu yang terdorong kuat. Bukan. Bukan pintu kamar mandi yang terbuka, melainkan pintu kamar Elva dengan Kara yang berdiri di depannya. "Apa-apaan kamu? Main buka-buka aja. Nanti kalau ada ular kepala merah yang keluar gimana? Mau bentol selama 9 bulan?" makinya cukup kencang. Namun saat melihat situasinya, Kara meringis merasa bersalah. "Daddy yang apa-apaan? Elva udah nggak mempan sama kebohongan itu. Bilangnya ular kepala merah, apa nggak bisa pakai bahasa lebih wajar!!!!" amuknya kesal. Dimas yang baru keluar dari toilet kebingungan melihat Elva marah-marah dengan Ayahnya. Apalagi perempuan itu menyebut-nyebut ular kepala merah? "Keluarga lo ekstrim ya, peliharaannya ular. Kok gue jadi takut," "Lo penakut banget sih, Mas. Lo kan cowok tapi kelakuan kayak cewek!!! Apa jangan-jangan lo..." "Diem kan lo," ucap Dimas selepas ciuman di bibir Elva terlepas. Kara yang melihatnya ingin sekali membunuh Dimas dengan kedua tangannya sendiri. Bisa-bisanya Dimas mencium putrinya sendiri di depan dirinya!!! "Cuma itu satu-satunya cara buat lo bungkam," **** Continue. Jangan lupa taplovenya. Kita suksesin cerita ini sama-sama Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN