Sedang Ingin Bercinta

1474 Kata
Lebih baik menjaga apa yang ada di tangan kita. Dari pada mengejar apa yang ada di tangan orang lain. Dalam kamar yang minim cahaya, jari telunjuk kanan Elva bergerak dari sudut kiri bibirnya ke kanan. Kejadian itu terus saja berulang begitu saja. Tatapan kedua matanya kosong ke arah depan. Pikiran gadis itu entah berada di mana. Yang jelas ini hal pertama yang langsung membuatnya gila. Beberapa tahun lalu, saat moment pertamanya jatuh cinta, Elva pikir kejadian itu sudah begitu sangat membuatnya gila. Tetapi ternyata, dalam sekejab dia baru saja merasakan hal yang jauh-jauh lebih gila. Gila akibat ciuman singkat Dimas yang terasa begitu manis. Jujur saja sepanjang usianya yang hampir menginjak angka 25 tahun, baru satu kali ini dia mengalami hal gila ini. Pertemuan bibirnya yang mungil dengan bibir bawah Dimas yang tebal benar-benar memabukkan. Padahal hanya sekejab mata, tetapi sulit sekali Elva lupakan. Sampai waktu tengah malam pun rasa itu masih tertinggal di bibirnya. Ya, anggap saja Elva gila. Mungkin jika disejajarkan dengan anak muda jaman sekarang, Elva sangat tertinggal jauh. Sangat langka perempuan seusianya baru merasakan ciuman pertama. Elva benar-benar hidup dalam didikan dan perlindungan tentang seks yang luar biasa. "Dimas, kenapa gue jadi kepikiran lo terus?" gumam Elva sembari menarik selimutnya menutupi wajah. Keributan setelah ciuman singkat itu terjadi, begitu saja muncul kembali dalam pikiran Elva. Dia menjerit geli mengingat bagaimana Ayahnya mengamuk, menyemburkan hawa panas atas tindakan yang Dimas lakukan. Namun anehnya, Dimas tidak begitu penting menanggapi kemarahan Ayahnya itu. Elva tahu, Dimas terbiasa tumbuh dalam lingkungan gaya hidup yang bebas. Maka baginya ciuman singkat itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi berbeda dengan yang Elva rasakan. Debaran jantungnya begitu kencang seperti suara kereta api ketika mau melewati pintu pembatas jalan. Walau terdengar kencang, namun sering kali diabaikan oleh orang lain. Sehingga masih ada saja korban akibat tertabrak kereta. Sama dengan suara debaran jantung Elva. Terdengar kencang pun percuma, Dimas mau menikahinya bukan karena cinta. Untuk itu lebih baik Elva menjaga perasaannya agar tidak terjadi kesalahan yang sama kembali. Perlahan-lahan sebelah tangannya mengusap area di mana terasa jantungnya berdebar kencang. Logikanya terus berteriak jika semua ini adalah kesalahan. Bagaimana bisa jantungnya ini berdebar pada sosok laki-laki yang baru saja Elva kenal? Bagaimana bisa hatinya kembali percaya untuk membuka jalan bagi penghuni baru tersebut? Semua memang diluar akal sehat. Tetapi Elva sendiri tidak bisa mengatasi jika rasa itu datang begitu saja. Tanpa diduga-duga kepada siapa perasaan tersebut hadir. Dari sini Elva mengakui beberapa pendapat orang yang pernah dia dengar. Mereka berkata cinta tidak pernah mengenal logika. Dan cinta bisa membuatmu gila. Seperti yang Elva alami sekarang. Dia bersedia menikah dengan Dimas yang nama panjangnya saja Elva tidak tahu. Dia mau menerima Dimas dalam hidupnya, padahal Elva tidak mengenal keluarganya. Mungkin jika sampai Kara dan Ora tahu bahwa Elva menikah hanya karena pelarian, pastinya SIM Elva tidak akan diberikan. Pernikahan itu adalah ikatan yang sakral. Bukan sekedar ijab lalu dalam sekejab hilang. Tidak. Pernikahan tidak seperti itu. Butuh waktu yang lama untuk mengerti bagaimana menjalani pernikahan yang baik. Dan satu-satunya jalan mengetahuinya adalah mencobanya. "Kadang kehidupan baru dimulai ketika sesuatu yang gila lo pilih sebagai langkah awalnya," Kalimat yang pernah Dimas ucapkan kepadanya hadir kembali. Laki-laki itu benar, jika dalam hidup hanya memilih jalan yang aman kau tidak akan tahu bagaimana rasanya berada dalam situasi berputar. Karena kehidupan tidak hanya selalu hal baik yang terjadi. Banyak hal buruk yang terjadi tetapi bisa memberikan pelajaran baik. Itulah yang Elva pelajari dari sosok Dimas. Dia yakin Dimas akan menemaninya merasakan semua itu. "Udah tidur?" Sebuah notif chat muncul di layar depan ponsel Elva. Gadis itu langsung saja tersenyum saat melihat siapa pengirimnya. "Belum mas," "Video call mau?"         Tubuh Elva langsung terduduk tiba-tiba. Pikiran gadis itu tak tentu arah. Bagaimana kalau Dimas tidak suka dengan bentuk piyamanya. Dengan langkah terburu-buru, Elva bergerak ke lemari pakaiannya. Mencari dan terus mencari baju tidur apa yang bagus untuk dipakai, tanpa memperdulikan jika ponselnya sudah berbunyi beberapa kali. "Ini, jelek." "Ini kuno," "Ini.. Ya Tuhan, piyama waktu SMP kenapa masih ada?" gumamnya dengan tampang seram. Bagaimana bisa Ayahnya menyimpan piyama bergambar kartun di lemari Elva. "Ini pas kayaknya," ucap Elva bermonolog. Tanpa pikir panjang, Elva langsung melepaskan piyamanya dan berganti dengan pakaian yang Elva rasa pas untuk dipamerkan pada Dimas. Maklum saja, Dimas adalah laki-laki pertama yang menghubungi Elva melalui video call. Di luar keluarga Elva tentunya. Dan rasa-rasanya hal wajar jika Elva menjadi bersikap aneh. Perempuan-perempuan di luaran sana saja yang begitu paham mengenai laki-laki pasti akan setuju atas apa yang Elva lakukan. Biasanya orang yang sedang jatuh cinta, ingin tampil memikat di depan pasangannya. Inilah yang sedang Elva lakukan. Mencoba memberikan sinyal kepada Dimas kalau rasa itu mulai tumbuh. "Ya Tuhan..." sembur Dimas saat panggilannya diterima Elva. Keadaan ruangan kamar yang minim cahaya itu sudah berganti menjadi terang menderang. Namun hal pertama yang menjadi perhatian Dimas bukanlah wajah Elva, melainkan hal lain yang tak sengaja mencuri perhatiannya. Kecil tapi ngangenin... "Kenapa?" tanya gadis itu aneh. "Lo nggak kasihan sama d**a lo?" "d**a gue?" ulang Elva sambil meliriknya. "Kenapa? Seksi kan gue?"         "Seksi dari mana? Gue miris lihatnya. Udah tepos kayak tiker harus ketiban sama badan lo lagi. Kasian banget nasib suami lo nanti," keluh Dimas. "What? Maksud lo?" "Nanti gue bantu tiup deh kalau kita udah nikah. Biar gedean dikit," kekeh Dimas geli. Tetapi dalam detik itu juga sambungan video tersebut diputus Elva dengan kejam. Emosi gadis itu berkumpul di kepalanya. Kurang ajar laki-laki seperti Dimas ini. Kadang sering kali perempuan bahagia atas ucapannya. Namun lebih sering setelahnya Dimas akan menjatuhkan. "Mulut lo kayak banci banget. Nggak bisa dijaga," maki Elva kencang pada ponselnya itu. Dia sadar diri bahwa tubuhnya memang tidak sebagus perempuan lainnya. Tapi apakah Dimas harus menggoda Elva atas kekurangannya itu. Sungguh sekarang Elva merasa menyesal. Bisa-bisanya dia memakai pakaian seksi untuk Dimas seorang. Sosok laki-laki yang akan menikahinya tanpa cinta. Dunia memang sudah gila, batin Elva. Namun tak lama berselang, sebuah chat masuk ke dalam ponselnya. Awalnya Elva ragu untuk membuka. Tetapi rasa penasaran tinggi bisa mengalahkan segalanya. Karena itu dengan satu jarinya, dia membuka pesan tersebut. Dan di sanalah sosok Dimas mengucapkan sesuatu yang membuat dirinya tersentuh dalam. "Di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Tetapi saat cinta menyapa, semua kekurangan itu akan terlihat sempurna." "Sorry kalau bercanda gue keterlaluan. Tapi gue serius, suka sama sikap lo yang apa adanya. Terbuka atas semua kekurangan dan kelebihan yang lo punya. Karena bagi gue, semua yang dimulai dari kejujuran dan keterbukaan perasaan, akan lebih baik dari pada yang terlihat sempurna namun hanya di mata saja," Tanpa bisa berkata-kata, Elva memilih membiarkan chat dari Dimas berlalu begitu saja. Hatinya kembali berdebar kencang hingga terdengar dari dalam dirinya bahwa hanya satu nama yang hatinya panggil saat ini. "Gue yakin lo berbeda, Mas." *** Sarapan pagi hari ini sedikit berbeda. Member lama yang dulu pernah tergabung bersama, akhirnya kembali lagi. Dia adalah Elva. Gadis itu dengan tenang mengoles roti tawar yang sudah tersedia di atas meja. Kedua matanya mencuri pandang ke semua tempat di rumahnya. Kenapa sepi sekali? Di mana para pengasuh serta pembantu rumah tangga yang dulu banyaknya hampir satu RT. "Kenapa, Va?" tegur Ora. "Nggak, sepi aja." cicit Elva. Ora hanya mampu tersenyum. Dia selesai mengoleskan selembar roti tawar lalu di letakkan pada piring makan Kara yang masih sibuk membaca sesuatu dari gadgetnya. "Kamu nggak merasa kehilangan adikmu kan?" tanya Ora kembali. Elva menaikkan sebelah alisnya tinggi. Selembar roti tawar terselip di giginya. Dia mulai menghitung adik-adiknya. Memang ada yang kurang sejak dia sampai kemarin, dua orang tak terlihat di matanya. "Idni sama Sheen ke mana?" "Kalau Idni lagi di rumah Nesya," "Di rumah Nesya?" ulang Elva tak percaya. "Nesya udah berubah, Va." tegur Kara sambil meletakkan gadgetnya. "Berubah?" ulang Elva sambil meyakini hatinya. "Iya, berubah. Jadi jangan salah ngebayangin lagi," jawab Ora sambil tersenyum ke arah Kara. "AJAIB," "Bukan Nesya yang ajaib, tapi Sheen. Dia..." "Sheen kenapa?" tanya Elva penasaran. Di atas meja kedua tangan Kara terkepal. Wajahnya tidak sesantai di awal tadi. Awan kemarahan mulai muncul kembali. Seperti kemarin sewaktu Dimas mencium Elva di depan Kara begitu saja. "Ma, Sheen kenapa?" "Minta Daddy kasih tahu," kedip Ora genit. "Lihat sendiri," ucap Kara sambil menyodorkan ponselnya. "Ini apa?" tanya Elva setelah melihat apa yang Kara sodorkan. "Itu Sheen," "Sheen? Maksudnya?" ulang Elva menatap foto di ponsel Kara. "ITU PAHA SHEEN, VA. DADDY BISA GILA LAMA-LAMA LIHAT TINGKAH DIA!!!" Amuk Kara pada dirinya sendiri. "Serius, Elva nggak paham. Memangnya kenapa sama paha Sheen?" Ora di tempatnya tersenyum penuh kemenangan. Dia bergerak menuju tempat Elva, kemudian menunjukkan sesuatu hingga mulut Elva terbuka lebar. "Baru beberapa bulan ini Sheen masuk sekolah di Jakarta. Awalnya Mama sama Daddy nggak setuju Sheen pergi jauh dari kita. Tapi Mama dan Daddy nggak bisa selamanya mengikat dia. Sheen juga butuh kebebasan sebagai anak. Karena itu kami ijinkan. Tapi sebagai syarat dia harus tinggal bersama Ucca dan Ami di Jakarta. Tetapi lihat coba, begini kelakuan dia di sana." "OH MY GOD!!! INI SHEEN," "Iya, dan laki-laki di sampingnya yang buat Daddy mau seret dia pulang." "Jangan bilang itu..." Ora kontan tertawa saat menangkap apa yang Elva pikirkan. "Bukan. Itu bukan Kenji. Tapi itu..." "Salah satu anak dari musuh besar Daddy," Elva tidak bisa berkomentar apapun lagi terhadap kelakuan adik perempuannya itu. Sejak dulu, hanya Sheen yang paling bisa membuat umur Kara semakin singkat. Akan tetapi Elva cukup bersyukur melihat Sheen bisa dekat dengan laki-laki. Setidaknya kesialan dia tidak menurun pada Sheen. *** Continue.. Masih setia baca cerita ini...??? Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN