MEMORIES 1

1434 Kata
Setelah makan siang selesai, Chiarina di ingatkan jika dia memiliki jadwal minum teh bersama para putri bangsawan. Jadi dengan semangat Chia kembali ke istana putri, mengganti gaun nya yang lebih sederhana agar nyaman saat dipakai nanti. Chia selalu senang menghabiskan waktu dengan para putri bangsawan yang sudah ia anggap sebagai temannya, Chia ingin bertemu mereka setiap hari dan mengadakan pesta teh, tapi hal itu tidak mungkin, Chia tidak bisa mengadakan pesta teh setiap hari dan bermain dengan putri bangsawan. Selain itu jadwal belajarnya mulai saat ini juga akan ditambah oleh ratu.  Saat Chia datang ke taman belakang istana putri, disana para putri bangsawan sudah berkumpul dan menunggu kedatangan Chia. Chia mengulum senyuman. Dengan langkah yang pelan dan anggun dia berjalan ke tempat dimana para putri bangsawan telah berkumpul. Melihat Chia yang berjalan kearah mereka, para putri bangsawan bangun dari tempat duduk mereka dan membungkuk untuk menyapa Chiarina.  Chiarin tersenyum tipis lalu duduk di kursi kosong yang disediakan untuknya. "Astaga, yang mulia, anda semakin cantik saja." Pujian spontan keluar dari salah satu mulut nona disana.  Chia tersenyum, "Terima kasih, begitu juga dengan anda nona Oxley."  Mereka menatap Chia dengan tatapan kagum yang tidak bisa mereka sembunyikan, melihat betapa kerennya cara bicara Chia, gaya berpakaian Chia, bahkan posisi duduknya terlihat sangat elegan dan berkelas. Chia adalah idola dan panutan para putri bangsawan. Namun mereka tidak tahu jika Chia juga sangat menahan diri agar terlihat seperti yang mereka lihat sekarang. Rasanya Chia ingin memeluk teman-teman putri bangsawannya, Chia ingin bicara banyak bersama mereka dan menceritakan hal-hal yang tidak penting, tapi dia menahannya.  "Saya senang, nona-nona bersedia datang. Saya harap kalian tidak pernah bosan menerima undangan saya."  "Ya ampun putri, bagaimana bisa kami merasa bosan? Istana anda sangat indah, sama seperti yang mulia." balas nona berambut coklat, dia adalah putri viscount Allen bernama Shirley. Chia tersenyum hambar mendengar ucapan Shirley. Istana yang Shirley sebut dengan indah yang mirip seperti dirinya, memang benar. Tapi Chia tidak suka. Chia melihat kearahnya dengan wajah masam tanpa sadar. Seorang putri bangsawan dengan gaun biru muda, berambut merah muda menimpali ucapan Shirley, "Beraninya, bagaimana bisa anda menyamakan kecantikan tuan putri dengan istana putri yang dingin? Nona Allen benar-benar kasar!" gadis itu bernama Cassia putri Count dari keluarga Hall.  "Sa-saya.. tidak bermaksud seperti itu putri, saya tidak berani.."  Chia tersenyum, "Tidak apa, aku memang kurang menyukai ucapanmu. Tapi bukan masalah besar."  "Kemurahan hati anda tidak ada batasnya, yang mulia putri." ucap Shirley.  Chia tersenyum lalu mengangguk pelan. Chia tidak terlalu mempermasalahkan kesalahan Shirley karena Shirley adalah temannya dan mereka masih berusia 10 tahun. Mungkin  berbeda cerita jika Shirley mengatakan hal kurang mengenakan seperti itu pada Etienne atau raja dan ratu. Hukum 'lese-majeste' berlaku.  Setelah kejadian penghinaan Chiarina oleh Shirley Allen selesai dan mendapat maaf dari putri Chia, tapi hal itu tidak membuat para putri bangsawan lainnya tidak menyebarkan gosip tentang putri Viscount Allen yang berbicara kasar pada sang putri. Setelah pesta teh selesai, gosip menyebar dengan sangat cepat, bahkan hanya dalam sehari, semua orang di ibu kota tahu betapa kasarnya mulut nona muda keluarga Allen. Mereka menutup mata jika Shirley Allen baru berusia 10 tahun saat ini. Karena kesalahan tetaplah kesalahan, seorang putri bangsawan harus berpikir ratusan kali sebelum bicara dan mengontrol ucapannya, meski bangsawan itu baru berumur 10 tahun. Maka dari itu mereka memiliki pembelajaran tata krama sejak dini.  *** Chia baru saja selesai mandi sebelum tidur, saat ini Chia sudah menggunakan gaun tidurnya dan sebuah yang menutupi seluruh tubuh bagian belakangnya bahkan sampai terseret sambil berjalan di lorong bersama dua orang pelayan. Saat malam hari lorong sangat gelap karena minimnya pencahayaan. Lorong istana putri hanya diterangi oleh lilin yang tertempel di dinding, sangat berbeda dengan istana utama yang tidak pernah gelap karena menggunakan lampu. Begitu sampai di depan pintu kamar, pelayan membukakan pintu untuk Chia. "Selamat beristirahat, tuan putri." ucap pelayan itu, Chia pun masuk kedalam kamar dan pintu kamar kembali ditutup.  Chia menatapi ruangan besar yang menjadi tempatnya beristirahat. pencahayaan di ruang kamarnya redup. Samar-samar ia bisa melihat siluet tempat tidurnya dan beberapa barang disekitar. "Sepertinya istana putra mahkota lebih baik dibanding istana putri, pencahayaan disini sangat buruk di malam hari." Gumam Chia seraya berjalan perlahan keatas kasurnya.  Memang benar, istana putra mahkota lebih baik daripada istana putri tempat tinggalnya. Setidaknya di istana mahkota terdapat lampu di lorong dan disetiap ruangan lainnya, apalagi ditambah dengan lampu dari lilin. Chia naik keatas kasur nya, memasukkan tubuhnya kedalam selimut dan berbaring, "Disini sangat dingin, aku sangat ingin pergi ke tempat yang hangat."  Chia menatap langit-langit kamarnya yang tidak terlihat karena hitam, perlahan Chia memejamkan matanya berusaha untuk tidur. 1 menit, 5 menit, 10 menit, 20 menit. Chia membuka matanya kembali dengan mata yang terbuka lebar tanpa rasa kantuk sedikitpun. "Aku tidak bisa tidur, aku sangat ingin pergi ke tempat hangat!" dengus Chia. Chia duduk bersandar di kepala ranjangnya. Setelah hanya diam sambil berpikir, Chia menyibak selimut dari tubuhnya.  "Istana itu dingin, jika aku keluar istana, apa disana akan hangat?" Chia menerka-nerka. Sampai ia berada di keputusannya. Mata Chia berbinar penuh tekad, tangannya terkepal erat dengan keyakinan. "Aku akan pergi ke tempat yang hangat!"seru Chia.  Chia turun dari atas kasurnya dengan berjinjit, merasakan lantai dingin yang menyentuh kulit telapak kakinya. Chia mengambil sebuah mantelnya yang tergantung di gantungan sudut ruangan. Dengan langkah setengah berjinjit dan sangat pelan, Chia menuju pintu kamar dan membukanya. Mata Chia menyelidik sekitar, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali sampai suara hela nafas lega terdengar dari mulut Chia. Seperti yang ia duga, para pelayan dan penjaga istana putri benar-benar malas dan memakan gaji buta, tidak ada satupun dari mereka terlihat berjaga di sekitar istana. Sedikit rasa kesal  muncul di hati Chia.  Tapi kemudian Chia merasa beruntung, jika tahu kalau tidak ada penjaga di malam hari, di akanmelakukan hal ini sejak dulu, pergi keluar istana. Berkat tidak ada satupun penjaga Chia bisa dengan mulus pergi keluar melewati semak-semak di taman. Chia merangkak keluar, pakaiannya mengenai tanah dan tangannya kotor dengan sedikit rasa perih karena tangan lembutnya menyentuh permukaan kasar.  "Aku berhasil!!" Teriak Chia tertahan, senyum berkembang di bibirnya. Chia membersihkan kotoran di gaun tidurnya dengan menepuk-nepuknya dengan telapak tangan.  Chia melihat kedepan, jalan yang sepi, gelap, dan panjang. Chia menelan ludahnya susah, tiba-tiba dia menjadi ragu. Suara binatang malam terdengar memenuhi pendengaran Chia, itu menyeramkan dan menguji nyalinya. Chia mengepalkan tangannya, membulatkan tekad, ia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya. "Tidak, aku tidak bisa mundur. Kesempatan ini mungkin tidak datang 2 kali."  Mata Chia tajam menatap sebuah cahaya di ujung jalan panjang yang sepi yang menarik matanya untuk segera kesana. Chia yakin itu adalah kehangatan, kehangatan yang selama ini ingin ia rasakan, kehangatan yang selama ini ingin ia lihat namun tidak memiliki kesempatan. Dengan hati penuh semangat yang membara, Chia merasa dirinya terbakar. Tanpa sadar kakinya mulai berlari menuju cahaya itu, semakin lama semakin cepat. Nafas Chia terengah, kakinya terasa lelah dan ingin patah karena terus berlari tanpa istirahat tapi ia tidak ingin berhenti, ia tidak ingin mengulur waktu untuk berada di cahaya itu. Chia bisa merasakan keringat yang menetes dari pelipis nya dan juga dari punggung. Saat Chia semakin dekat pada cahaya, telinga Chia mulai mendengar suara ramai dari percakapan orang-orang, suara tawa dan petasan.  Tubuh Chia meluruh, kakinya lemas. Mata Chia bergetar melihat pemandangan di hadapannya, setetes air mata mulai jatuh dari kelopaknya yang sudah memerah dan berair. Tangan Chia bergetar menutup mulutnya yang terperangah. Ini kehangatan yang ia cari. Lampu-lampu yang bersinar terang, suara nyanyian opera yang memikat hati. Terlihat hidup, menyenangkan dan berharga. Suasana ini, pemandangan ini, kehangatan ini adalah hal yang sudah ia idamkan sejak lama.  Hiiks! Hiiks! Chia berulang kali mengusap air matanya yang tidak berhenti keluar, Chia merasa hatinya ingin meledak dengan perasaan yang menggembirakan. Tidak ada penyesalan. "Aku.. aku akhirnya disini. Akhirnya aku berada di tempat hangat."  "Hei nak, apa kamu baik-baik saja?" Chia mendongak saat melihat sepasang kaki berdiri di depannya, seorang wanita paruh baya sedang memandangnya dengan khawatir. Chia tersenyum kemudian menggelang.  "Aku baik-baik saja nyonya." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk membantu Chia berdiri. "Apa kamu terluka?" tanya wanita paruh baya itu lagi. Chia menerima uluran tangan wanita paruh baya, saat tangannya menyentuh kulit wanita paruh baya itu yang sedikit kasar namun ia bisa merasakan kehangatan dan ketulusan yang tidak dibuat-buat, "Tidak, terima kasih nyonya." jawab Chia seraya tersenyum. "Baiklah, aku akan pergi." setelah itu wanita paru baya itu benar-benar pergi. Sambil menatap punggung wanita paruh baya itu, Chia termenung. Dia sudah melanggar banyak peraturan kerajaan, ia kabur dari istana, ia duduk di tanah bahkan merangkak di tempat kotor, bahkan mengizinkan rakyat biasa menyentuhnya.  Chia menghela nafasnya, kakinya mulai berjalan masuk kedalam kerumunan. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN