Kaki Chia berjalan dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri ketika dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, seperti panggung musik opera yang dia kunjungi, toko aksesoris dan jajanan pasar seperti toko roti. Dia beruntung membawa beberapa koin perak di sakunya, Chia bahkan tidak tahu mengapa koin itu bisa ada di sakunya.
Saat musik dimulai lagi, mereka mulai menari di tengah kota. Bukan tarian yang anggun dan berkelas seperti tarian yang biasa dia lihat di acara-acara keraton, tapi saat mereka menari terlihat menyenangkan dan penuh kehidupan.
Chia terlalu menikmatinya bahkan sampai lupa jika dia sudah terlalu lama berada di luar istana, begitu ia sadar jika hari sudah sangat larut, saat kota mulai sepi. Suara musik yang entah sejak kapan telah hilang dan lampu-lampu kota yang mulai dimatikan.
Dan di sini, dia tersesat di jalan-jalan kecil kota yang tiba-tiba terlihat sangat menakutkan. Chia terus berjalan dengan langkah kaki lamban sambil melihat jalanan dengan takut-takut, di tangannya terdapat satu buah roti berukuran besar yang belum ia makan sebelumnya. Chia ingin mencari seseorang yang bisa membantunya kembali tapi kota benar-benar sudah sangat sepi, walaupun Chia yakin sebelumnya kota benar-benar ramai, dimana mereka semua? kenapa mereka menghilang begitu cepat?
Di seberang jalan Chia melihat beberapa pria dewasa, mereka tidak terlihat baik, pakaian mereka kotor dan di tangan mereka, mereka memegang botol kaca yang Chia yakin itu berisi minuman alkohol. Chia dengan cepat berlari ke arah berlawanan dari orang-orang itu. Tangannya mulai terasa dingin dan gemetar, Chia sangat ketakutan. Dia tidak tahu bahwa kota yang sebelumnya begitu indah dan ramai bisa berubah menjadi sangat menakutkan dalam sekejap.
Tep!Tep!Tep!
Saat telinganya menangkap suara beberapa langkah kaki yang mendekat, tubuh Chia menjadi panas dingin. Entah kenapa instingnya memerintahkan dirinya untuk kabur dan mengumpat, Chia berjalan sepelan mungkin dan bersembunyi di dalam salah satu gang yang gelap yang paling dekat dengan posisinya saat ini. Chia membekap mulutnya dan menahan nafas saat ia mengintip keluar, benar saja, disana pria-pria itu berjalan melewati gang tempatnya bersembunyi. "Ah, sial! sepertinya kita kehilangan jejak gadis itu." salah satu dari mereka mengumpat.
Posisi mereka tidak berada jauh dari posisi Chia saat ini, jantung Chia berdetak sangat kencang sampai dirinya khawatir jika orang-orang itu bisa mendengar suara jantungnya dan menemukannya, "Sayang sekali, padahal aku yakin kita bisa mendapatkan beberapa keping emas jika menangkapnya, gadis itu terlihat seperti seorang putri bangsawan."
Saat bersembunyi di gang, di balik tumpukan kotak besar, Chia merasa jika dia tidak sendirian, dia merasa ada orang lain di belakangnya jadi dia berbalik, begitu berbalik...
"Hmph!" Mulut Chia langsung dibekap.
"Yah, tapi mungkin juga tidak, putri bangsawan mana yang berkeliaran di kota selarut ini tanpa pengawalnya." Chia melirik kearah orang-orang itu yang tampak telah menyerah untuk menangkap dirinya. Lalu dia kembali melihat orang di depannya saat ini yang membekap mulutnya. Wajah orang itu tidak terlihat tapi Chia bisa tahu jika dia adalah seorang anak yang mungkin seumuran dengannya karena ukuran tangan orang itu.
"Ya kau benar, ayo kita kembali."
Chia kembali melihat suara langkah mereka yang mulai menjauh dan akhirnya menghilang. "Haahh!" Chia mengambil nafasnya dengan rakus begitu bekapannya dibuka.
"Siapa kamu?!" tanya Chia, masih dengan nafas yang terengah.
"Sst.."
"Mereka bisa kembali kesini jika kamu sangat berisik." kata orang itu, dari suaranya Chia yakin jika orang berada di sampingnya saat ini adalah seorang anak laki-laki. Mereka berdua kini tengah duduk di tanah yang terasa dingin dan kotor.
"Kamu siapa?" Chia kembali bertanya namun saat ini dengan suara yang sangat pelan.
"Jawaban apa yang kamu harapkan dari seorang anak laki-laki yang duduk di balik tumpukan kardus di dalam gang dingin dan gelap?" jawab anak laki-laki itu.
Chia terdiam, anak laki-laki itu benar. Mungkin pertanyaannya salah. "Siapa namamu?"
"Entahlah aku tidak punya nama, kalau kamu? siapa namamu?" anak laki-laki itu bertanya balik.
"Aku..."Chia terdiam beberapa saat, "namaku Chia. " jawabnya.
"Chia?"
"Ya."
"Namamu benar-benar Chia? hanya Chia?"
"Ya, apa ada yang salah dengan itu?"
"Tidak, tidak ada yang salah. Hanya saja kamu terlihat seperti seorang bangsawan. Dan sepertinya nama Chia terlalu sederhana untuk seorang putri bangsawan."
Chia mengernyit dan tertawa pelan, "Putri bangsawan? kamu berpikir jika aku adalah putri bangsawan?"
"Ya, mungkin. Apa kamu bukan?"
Chia menggeleng, "Putri bangsawan mana yang keluar dengan gaun tidur dan kotor seperti ini?"
"Mungkin karena gelap aku tidak melihat jika gaun yang kamu kenakan kotor, tapi aku yakin, mantel yang kamu kenakan sangat mahal."
Dia ada benarnya, mungkin saja karena mantelnya juga orang-orang tadi mengejarnya. Saat melihat mantel ini di gantungan istananya, mantel ini terlihat benar-benar sederhana, ia tidak tahu jika mantel sederhananya rupanya masih terlalu mencolok.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan disini? apa kamu juga sedang bersembunyi?" tanya Chia, seketika dia merasa iba pada anak laki-laki itu, 'pasti dia ketakutan seperti diriku sebelumnya' pikir Chia.
Anak laki-laki itu tertawa, Chia masih tidak bisa melihat wajah anak itu karena disana benar-benar gelap, tapi entah kenapa Chia yakin jika anak laki-laki itu adalah anak yang menawan dengan mendengar suara tawa anak itu. "Apa kamu benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
Chia mengernyit kesal, 'Apa anak laki-laki itu sedang mengolok-olokku saat ini?'
"Tadi aku sedang tidur disini dan kemudian terbangun karena dirimu yang datang entah darimana dan begitu tiba-tiba. Apa kamu tahu? dengan jarak sedekat ini aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungmu yang menggila sebelumnya, dan itu benar-benar mengangguku."
Chia terdiam lalu wajahnya terasa begitu panas. Chia merasa sangat malu saat ini, 'apa suara jantung ku benar-benar sekeras itu?' ia bertanya dalam hatinya.
"Maaf, aku tidak tahu jika suara detak jantungku menganggumu, lagipula kenapa juga kamu bisa mendengar suara jantungku?"
Pundak anak laki-laki itu bergidik, "Entahlah, aku bahkan bisa mendengar suara orang-orang yang berada di dalam rumah-rumah itu." tangan anak itu menunjuk kearah rumah-rumah penduduk.
Chia mengernyit bingung tapi juga terpesona, "Benarkah? bagaimana kamu melakukannya?"
"Aku tidak tahu."
Setelah itu suasana kembali sangat hening dan itu berlangsung cukup lama, Chia maupun anak laki-laki itu sama sekali tidak ada yang bicara. Chia menatap langit, pemandangannya sangat indah. Banyak bintang yang bertaburan disana dan bulan yang begitu terang.
Growl!
Chia menoleh kearah anak laki-laki itu, kepala anak laki-laki itu menunduk dalam, jika saja gang tidak sangat gelap, mungkin Chia bisa melihat betapa merahnya wajah anak laki-laki itu sampai pada telinganya. "Kamu lapar?"
"Apa kamu menggodaku?" Kata anak laki-laki itu kesal. Untuk apa dia bertanya jika sudah mengetahui jawabannya.
Chia terkekeh, "Ini, makanlah. aku sudah makan sebelumnya." Chia menyerahkan sebungkus roti yang dia pegang sejak tadi.
Anak laki-laki itu kembali mendongakkan kepalanya, tangannya ragu-ragu menerima roti pemberian Chia. "Apa kamu yakin ingin memberikan ku ini? aku sangat kelaparan jadi aku tidak akan menolaknya."
"Ya, ambillah, aku sudah sangat kenyang."
Anak laki-laki itu mengambil roti ditangan Chia dan langsung memakannya dengan lahap. Chia tersenyum melihat anak laki-laki itu makan. Dia terlihat seperti seorang yang belum makan selama bebeapa hari dilihat dari cara makannya. Dari penglihatannya sejauh ini Chia bisa menebak jika anak laki-laki itu adalah seorang anak yang terlantar di jalan dan sangat miskin dan pastinya tidak punya tempat tinggal. Namun satu hal yang Chia tahu dengan pasti, jika anak laki-laki di sampingnya saat ini adalah seorang anak yang memiliki bakat hebat menyimpulkan dari ucapan anak itu sebelumnya dan Chia yakin jika anak itu tidak berbohong.
"Kamu yakin jika kamu bukan putri bangsawan?"
"Kenapa?"
"Kamu memberikanku roti, aku tahu roti ini cukup mahal bagi rakyat biasa untuk diberikan pada orang yang baru kamu temui dengan percuma."
Chia tidak tahu jika roti ini ternyata semahal itu, yah, roti ini memiliki ukuran yang besar karena itu Chia membelinya. Tapi dibandingkan harga roti, mungkin secangkir teh yang biasa ia minum setiap pagi lebih mahal dari itu.
"Karena kamu sudah membantuku, mungkin."
"Aku tidak membantumu."
"Ya, kamu membantuku. tidak secara langsung tapi kamu membiarkan ku bersembunyi di tempatmu, jadi anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih."
Anak laki-laki itu menatap Chia cukup lama dengan pandangan bingung. "Kamu tahu? saat ini aku sedang kabur dari rumah." Chia melirik anak itu yang masih diam menatapnya, sepertinya dia tertarik untuk mendengarkan ceritanya.
Chia menatap langit, kemudian mulai bercerita "Rumahku sangat besar, banyak orang yang keluar masuk disana, tapi aku benar-benar kesepian. Ayahku adalah orang yang sangat sibuk, ibuku tidak pernah benar-benar peduli padaku, dan kakakku entah kenapa dia menghindariku, setidaknya itu yang aku rasakan setiap kali aku bertemu dengannya, aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya dia membenciku."
"Aku memiliki puluhan teman yang akan datang saat aku memanggil mereka, tapi aku merasa jika kami tidak benar-benar berteman. dan hari-hariku disibukkan dengan pembelajaran melelahkan yang tidak ada habis-habisnya. Disana tidak ada orang yang bisa mendengarkan cerita dan keluh kesahku, aku sangat lelah." Chia menoleh kearah anak laki-laki itu, anak laki-laki itu masih menatapnya, Chia tersenyum masam.
"Aku sangat senang bisa keluar dari sana barang sesaat. Meskipun aku tahu aku mungkin akan mendapat masalah setelah ini, tapi aku tidak keberatan. Karena itu setimpal dengan yang aku dapatkan,"
"Akhirnya aku bisa melihat keramaian kota, dan juga dirimu."
"Aku?"
"Ya, terimakasih karena telah mendengarkan ceritaku, terimakasih sudah menjadi teman bicaraku. Kamu tahu? kamu satu-satunya orang yang bicara denganku seperti ini." Chia kembali tersenyum, kini senyumnya terlihat benar-benar tulus dan indah.
'Seperti ini?' anak laki-laki itu tidak mengerti maksud ucapan Chia. Tapi terlepas dari itu dia benar-benar terbawa perasaan dengan ucapan Chia tentang dirinya, anak laki-laki itu menggaruk kepalanya sambil membuang wajahnya, wajahnya benar-benar terasa panas. "Itu bukan apa-apa. Kamu tidak perlu berterimakasih karena hal sepele seperti itu." Katanya.
Suasana berubah menjadi sangat canggung dengan keduanya yang kembali saling diam. Suara binatang malam dan udara yang berhembus terasa semakin dingin. Dalam keterdiamannya, Chia memikirkan rencananya untuk kembali ke istana. Dia tidak mungkin mengambil resiko mencari jalan keluar dan pulang sendiri di malam hari seperti ini, karena mungkin dia akan bertemu dengan orang-orang jahat lagi di tengah jalan.
Lamunan Chia terbuyar saat anak laki-laki itu tiba-tiba memegang tangannya cukup erat, "Ada apa?" bisik Chia.
"Aku mendengar suara banyak orang yang mendekat." Jawab anak laki-laki itu, dia menarik Chia mendekat kepadanya, posisi mereka sangat dekat, hampir saja anak laki-laki itu memeluk Chia dengan jarak yang sedekat itu. Chia bahkan bisa merasakan hembusan nafas anak laki-laki itu, diluar dugaan, Chia kira anak laki-laki itu akan beraroma bau karena dia tinggal di jalanan dan mungkin saja jarang mandi. Tapi ternyata tidak. Tubuh anak laki-laki itu wangi aroma daun teh.
"Apa?" Chia mendongak, dalam jarak ini Chia bisa melihat siluet wajah laki-laki itu cukup jelas. Sesuai perkiraannya, wajah laki-laki itu terlihat tampan meskipun mengenakan pakaian yang kumuh dan terlihat tidak terawat.
Belum sempat anak laki-laki itu menjawab pertanyaan Chia, terdengar suara beberapa langkah kaki yang sangat berisik disusul dengan suara teriakan yang memanggil namanya, "Yang mulia putri Harriet! dimana anda?"
"Tuan putri!"
"Tuan putri Harriet!"
"Yang mulia Harriet!"
Suara para pengawal istana memenuhi kota, puluhan pengawal dikerahkan bahkan mereka sedikit membuat keributan dengan memaksa masuk kedalam rumah-rumah warga dan memeriksanya satu persatu. Chia yang mengintip dan melihat itu hanya terdiam, ia menghela nafasnya.
"Chia," Chia menoleh melihat anak laki-laki itu. Sayang sekali Chia tidak bisa melihat ekspresi wajah anak laki-laki itu saat ini.
"Apa kamu mungkin adalah putri Harriet yang mereka cari?" tanya anak laki-laki itu. terdengar dari suaranya, Chia bisa tahu jika anak laki-laki itu kecewa, suaranya terdengar sangat sedih dan itu membuat Chia merasa bersalah.
Chia tersenyum sendu, "Aku tidak membohongimu, aku hanya tidak mengatakan yang sebenarnya." Chia mengelak, menolak untuk mengakui kesalahannya.
"Aku tidak berbohong, namaku memang Chia. Nama panjangku adalah Harriet Chiarina Lopez. Aku adalah satu-satunya putri kerajaan Centura." kata Chia dan anak laki-laki itu terdiam sambil menatapnya.
Chia memasang wajah memelasnya, "Aku hanya tidak ingin kamu melihatku berbeda hanya karena aku seorang putri. karena kamu adalah temanku."
"Teman?"
"Ya, tentu saja! Kamu sudah mendengarkan cerita-cerita ku, kita sudah saling berbincang, kamu membantuku dan aku membantumu. Jadi kita berteman." Chia tersenyum, ia mengambil tangan anak laki-laki itu dan menggenggamnya, "Jadi aku ingin kamu tetap memanggilku 'Chia' tanpa embel-embel putri atau yang lainnya."
"Karena kita berteman?"
"Iya! karena kita berteman."
Suara-suara terikan para pengawal semakin mendekat dan heboh, tapi Chia mengabaikannya. "Apa sekarang kamu akan pergi?"
"Ya, aku harus pulang."
"Apa aku tidak akan pernah melihatmu lagi? Kita berteman bukan?"
Anak laki-laki itu benar, mereka mungkin saja tidak akan pernah bertemu kembali. Chia bahkan tidak tahu nama anak itu, rupanya atau bahkan tempat tinggalnya. Mungkin jika dia kembali kesini setelah beberapa tahun, anak laki-laki itu sudah tidak ada. Mereka akan segera dewasa dan tidak mungkin anak laki-laki itu akan tetap tinggal di gang kumuh ini.
Chia tidak ingin sendiri lagi, saat ini hanya anak laki-laki itu yang menjadi temannya dan benar-benar mendengarkannya. Chia tidak ingin melepaskan dan melupakan satu-satunya teman yang ia miliki begitu saja. Chia meraih tangan anak laki-laki itu lagi, kini genggamannya lebih kuat dan mantap, mata Chia memperlihatkan tekad yang kuat. "Apa kamu ingin ikut dengan ku?" tanya Chia
To Be Continue