'Do you need, do you need someone?
Are you scared of what's to come?
If you leave then who will the next one be?'
-Broken (Isak Danielson)-
______________________
Chiarina terbangun di tengah malam dengan perutnya yang keroncongan dan sakit. Kamarnya sangat gelap hari ini karena bulan tertutupi oleh awan, cuaca sedang berangin dan sangat dingin seperti akan turun hujan.
Chiarina ingin membiarkan sakit perutnya sampai pagi dan sarapan saat itu. Tapi rasanya benar-benar sakit, dia juga merasa mual.
"Ukhh!!"
Chiarina turun dari kasurnya sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan. "Lapar sekali..."
Karena gelap, Chiarina berjalan hati-hati takut menabrak sesuatu. Ia meraba-raba pintu dan membukanya. Seperti biasa, tidak ada satu orang pun yang berjaga di depan kamarnya. "Sepertinya aku harus langsung ke dapur." gumam Chiarina.
Istana putri benar-benar sangat gelap dan sepi, di tambah dengan angin yang kencang, membuat perut Chiarina bertambah sakit dan kedinginan.
Chiarina masih berjalan pelan menuju dapur karena perutnya. Sesekali dia menoleh kekanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin saja sedang kebetulan lewat. Tapi dia sama sekali tidak menemukan siapapun sampai ia berada di dapur.
"Sebenarnya mereka semua kemana sih?" gumam Chia kesal.
Jelas-jelas di dalam anggaran putri terdapat tagihan upah pekerja yang menjaga istana putri, sebanyak 3 kali lipat, yang berarti terdapat 3 shift. Dan upah lembur para pelayan, tapi benar-benar tidak ada satu orang pun disini.
Mengesampingkan hal itu, Chiarina mencari makanan yang bisa ia makan di dapur. Dia telah mencari kesana kemari namun dia hanya menemukan sebuah roti di sana. "Kemana semua persediaan makanan bulanan?" dia tidak masalah hanya memakan roti saat ini. Chiarina mengakui jika ini adalah salahnya yang menolak makan.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang."ah.. Aku benar-benar kesal, aku tidak menduga akan separah ini." gumam Chiarina sambil memakan rotinya di atas meja dapur.
Setelah menghabiskan rotinya, Chiarina meminum air dan kembali ke kamar. Sakit perutnya tidak langsung hilang, namun terasa lebih baik dari sebelumnya, setidaknya cukup ia tahan untuk tidur.
###
-Flashback-
Etienne berdiri di ruang tamu istana putri, semalaman dia sudah memikirkan kata-kata yang ingin ia ucapkan pada Chiarina.
Jadi setelah sarapan, Etienne langsung buru-buru pergi ke istana putri untuk menemui adiknya karena takut jika dia lupa dengan apa yang telah ia persiapkan tadi malam.
Dia sadar jika dia selalu mengatakan kata-kata yang pedas dan cukup kasar pada Chiarina. Tapi itu bukan karena dia sengaja melakukan itu, Dia tidak bisa mengendalikan ucapannya saat dia merasa kesal atau ingin menutupi perasaannya.
Dia sadar jika dia menyayangi adiknya, namun Etienne tidak berniat untuk memperlihatkan itu. Egonya sangat besar saat ini.
Dia bersikap dingin pada Chiarina bukan karena dia membenci gadis itu, namun karena dia membenci ibu dari gadis itu. Ia tahu Chiarina tidak memiliki hubungan dengan kesalahan ibunya, namun tetap saja, Etienne tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya pada Chiarina karena ibunya itu.
Ibu Chiarina, ratu Victoria yang telah merebut posisi ibunya, mendiang ratu sebelumnya, Isabella.
Dia sangat benci pada Victoria yang membuat ibunya meninggal, ibunya meninggal karena sakit hati oleh raja yang memiliki selir baru yaitu Victoria. Dan wanita itu sukses merebut posisi ibunya setelah ibunya meninggal.
Sejak awal Etienne tahu jika wanita itu, Victoria adalah wanita yang serakah dan hanya tergila-gila pada harta dan tahta.
Wanita itu tidak benar-benar mencintai raja, ayahnya.
Dan Etienne masih tidak percaya, wanita licik itu melahirkan seorang putri yang sangat polos dan cantik bagaikan malaikat.
Etienne refleks menoleh kearah pintu yang belum di buka saat mendengar banyak suara langkah kaki yang mendekat. Dia di temani oleh Darius yang sejak tadi hanya diam berdiri di sisi ruangan sambil memejamkan matanya karena tidak ingin melihat Etienne yang bersikap seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu gilirannya untuk tampil berpidato di depan. Dia tampak sangat gelisah namun juga semangat pada waktu yang bersamaan.
Pintu di buka, Etienne segera menampakan raut wajah dinginnya, sementara matanya mencari-cari keberadaan Chiarina.
Semua pelayan menundukkan kepalanya dalam, keringat dingin mengucur di kening mereka.
"Dimana putri Harriet?" Tanya Etienne, suara nya terdengar sangat dingin. Ia menatap tajam para pelayan yang tengah bergetar ketakutan. Dia tampak sangat berbeda dari dirinya beberapa menit yang lalu.
"Ya-yang mu-mulia..."
*
*
*
Hari ini Chiarina memutuskan untuk keluar dari kamarnya setelah kemarin mengurung diri seharian. Chiarina merasa dia tidak akan maju jika terus sedih dan mengurung diri. Kemarin malam dia telah mendapat motivasi dan semangat untuk kembali beraktifitas seperti biasanya.
Hari ini Chiarina memakai gaun berwarna biru motif bunga-bunga yang indah dengan sebuah kalung dan anting berbentuk bunga berwarna buru seiras dengan warna matanya. Anting dan kalung yang ia kenakan hari ini adalah pemberian Chiron. Pria itu sering memberikannya hadiah secara mendadak tanpa sebab.
Chiarina berjalan di koridor bersama 2 orang pelayannya, dia sedang melihat-melihat taman bunganya untuk menjernihkan pikirannya. Dia sangat menikmati aroma wangi dari bunga-bunga berbeda yang dia hirup.
"Tuan putri Chiarina,"
Chiarina menoleh kebelakang, kearah suara itu berasal. Dia tahu suara siapa itu. Yang tidak lain adalah adipati agung muda dari keluarga Altair, Athen Everet Altair.
"Saya memberi salam kepada satu-satunya putri Centurra." kata Athen memberi salam, kemudian mencium punggung tangan Chiarina.
"Ada apa Adipati agung muda Altair?"
Athen tersenyum tipis, "saya dengar teman putri sedang pergi berperang."
"Ah, maksud anda teman ku tuan Chiron Istvan? Kalau begitu, iya. Dia sedang berperang saat ini. Dia adalah komandan pasukan pertama dan anak yang jenius. Jadi itu tidak bisa dihindari, Centurra sedang membutuhkannya." kata Chiarina. Dia sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang ia katakan. Yang jelas tidak ada satupun kata-kata yang ia ucapkan benar. Dia hanya tidak ingin adipati agung muda itu tahu jika dia adalah putri yang kekanakan. Dia ingin terlihat bijaksana.
Athen tersenyum tipis, "Saya senang tuan putri sangat mengerti hal itu. Saya kira tuan putri akan sedih karena satu-satunya teman tuan putri pergi. Jadi saya disini bermaksud menghibur anda. Tapi saya rasa kehadiran saya tidak di perlukan lagi."
Chiarina tertawa pelan, "saya tidak masalah jika tuan ingin menghibur saya. Saya penasaran apa yang bisa tuan lakukan untuk membuat saya terhibur."
"Wah, apa tuan putri sedang menantang saya?" ucap Athen dengan ekspresi wajah kesal yang dibuat-buat.
Chiarina terkekeh, "sepertinya begitu."
"Kalau begitu, apa anda ingin menemani saya ke perpustakaan?"
"Perpustakaan? Kenapa perpustakaan?" Chiarina memang sangat menyukai buku, tapi apa dia terlalu terlihat seperti itu? Sampai Adipati agung muda pun menawarinya mengunjungi perpustakaan sebagai hiburan.
"Apa anda tidak suka dengan perpustakaan?"
"Bukan begitu..."
"Jadi anda suka?"
"Saya suka, tapi kemarin saya sudah menghabiskan waktu banyak untuk membaca buku. Saat ini saya pikir saya tidak tidak akan pergi kesana."
Athen tersenyum dengan percaya diri, "kali ini anda tidak perlu membacanya."
"Huh?"
Chiarina berpikir apa maksud ucapan Athen, dia telah menebak di pikirannya. Tapi dia tidak tahu apa tebakannya benar atau tidak.
"Apa itu berkaitan dengan sihir?" Tanya Chiarina yang hanya mendapat respon sebuah senyuman dari Athen. Dan itu justru membuat Chiarina semakin penasaran.
To Be Continued