'You don't have to hurt, you don't have to hurt anymore
With a little time, take a look and find what you're searching for'
-Broken (Isak Danielson)-
____________
Pagi hari Chiarina terbangun dengan matanya yang sangat sembab, bahkan hanya untuk sekedar membuka mata rasanya sakit. Para pelayan yang melihat itu langsung membawakan air dingin untuk mengompres mata Chiarina.
Untung saja hari ini Chiarina tidak memiliki jamuan apapun dan pembelajarannya sedang libur. Jadi dia tidak akan menemui siapapun hari ini. Hari ini dia hanya akan membaca beberapa buku dan mengerjakan tugasnya di kamar.
Suasana hatinya tidak membaik bahkan setelah menangis kemarin. Saat ini Chiarina merasa sangat tidak bersemangat.
Baru saja sehari tapi Chiarina sudah sangat merindukan Chiron. Dia telah terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu, dan dia merasa aneh jika laki-laki itu tidak ada di dekatnya.
Setelah mandi dan berhias biasanya Chiarina akan sarapan bersama Chiron, bahkan jika laki-laki itu tidak sarapan atau telah sarapan lebih dulu di tempat kerjanya. Chiarina pasti akan menghampirinya sambil membawa makanan ringan untuk di makan bersama.
Chiarina menatap pantulan dirinya di depan cermin. Pelayan sedang mengatur rambutnya setelah ia memakai pakaian sehabis mandi. Biasanya Chiarina sangat peduli dengan hiasan rambutnya, namun sekarang dia sama sekali tidak peduli, bahkan jika rambutnya terlihat aneh sekalipun.
"Apa anda ingin teh sebelum waktu makan siang anda?" tanya salah satu pelayan.
Terkadang Chiarina meminta di siapkan teh sebelum makan siang, Chiarina suka menghabiskan waktu bersama Chiron sebelum mereka makan siang. Dengan meminum teh maka waktu mereka bersama akan lebih lama. Chiron adalah satu-satunya temannya, karena dia tidak bisa bermain permainan seperti anak bangsawan lain, karena masalah etika kerjaan, Chiarina memiliki cara lain untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama.
"Tidak perlu, aku juga tidak akan sarapan hari ini. Tidak perlu menyiapkan apapun untuk ku." kata Chiarina membuat para pelayan saling melemparkan pandangannya dalam diam.
"Maaf tuan putri. Tapi anda bisa sakit jika tidak sarapan. Yang mulia ratu akan ..."
"Kalau begitu jangan katakan apapun pada ratu. Aku tidak bertanggung jawab jika kalian di pecat karena mulut kalian sendiri. Ratu tidak akan tahu jika tidak ada yang melapor." kata Chiarina memotong ucapan pelayan.
5 tahun yang lalu mereka bahkan tidak peduli jika Chiarina tidak makan seharian. Setelah Chiron mendapatkan jabatan penting dan Chiarina yang sebentar lagi akan mendapatkan kuasanya sebagai putri kerajaan Centurra dengan benar, mereka langsung kocar-kacir mengubah perilaku mereka agar tidak di pecat. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi. Chiarina akan memastikan semua pelayan dan pekerja di istananya di ganti setelah ia resmi mendapat kuasa untuk melakukan itu.
Chiarina segera berdiri setelah rambutnya selesai di tata. Saat ini rambutnya di kepang setengah dengan rambut bagian belakangnya di biarkan tergerai.
Dia memakai jepitan rambut berwarna silver bermotif daun mutiara di rambutnya. Sama dengan warna jepitan rambutnya, hari ini Chiarina memakai gaun sederhana berwarna silver.
"Kalian boleh pergi, aku ingin sendiri hari ini." kata Chiarina bermaksud mengusir para pelayannya.
Para pelayan pergi dari kamar Chiarina setelah itu, menyisakan Chiarina sendiri di kamarnya.
Chiarina melihat kearah tumpukan buku di atas mejanya yang siap ia baca dan pelajari. Chiarina berjalan kearah meja itu, duduk di kursi di depan meja dan mulai membuka bukunya.
*
*
*
Chiarina larut membaca buku sampai ia tidak sadar jika hari sudah siang. Sebentar lagi waktu makan siangnya, tapi Chiarina masih belum lapar padahal dia juga tidak memakan sarapannya. Chiarina menutup bukunya kembali. Matanya tertuju pada sepucuk surat yang Chiron tulis untuknya kemarin.
Setiap melihat surat itu Chiarina kembali merasa sedih dan kesal. Dia bahkan tidak tahu dia marah pada Chiron atau dirinya sendiri.
Chiarina mengambil surat itu dan membacanya kembali lalu terhenti pada nama-nama nona bangsawan yang Chiron sarankan untuk ia pekerjakan.
Kemarin ia terlalu emosional untuk peduli dengan nama-nama itu. Nama pertama yang tertera disana adalah putri Marquess dari kediaman keluarga Oxley yang bernama Anne.
Chia kenal siapa itu Lady Anne, dia pernah mengundang gadis itu ke perjamuan minum tehnya. Chia tahu jika pilihan Chiron yang memilih lady Anne untuk bekerja di sisinya adalah pilihan yang tepat.
Selanjutnya tertera nama putri Count dari kediaman keluarga Hall yang bernama Casia. Meskipun Chia sudah jarang mengadakan perjamuan teh, tapi dia masih mengingat jika Lady Casia dari keluarga Hall pernah beberapa kali menghadiri perjamuannya.
Setelahnya hanyalah nama-nama pekerja khusus seperti koki, kepala pelayan, dan pengurus rumah tangga. Beberapa dari mereka bangsawan sekelas baron dan yang lain hanyalah rakyat biasa yang mungkin berbakat dan dapat di percaya. Karena Chiarina yakin Chiron pasti telah memikirkan semuanya dengan matang sebelum menulis nama-nama di dalam suratnya dan memberikannya pada Chiarina.
Lagi pula Chiarina juga tidak memiliki kandidat lain selain yang Chiron pilihkan, tentu saja dia akan mengikuti apa yang telah Chiron putuskan untuknya.
Tok! Tok! Tok!
Chiarina menoleh kearah pintu yang di ketuk. Ia dengan cepat menyembunyikan surat Chiron di balik bukunya tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu. Tidak lama pintu di buka menampakan beberapa pelayan yang telah berbaris disana. "Ada apa?" tanya Chiarina sambil menatap penampilan mereka yang seperti tengah terburu-buru.
"Maaf atas sikap tidak sopan kami, tuan putri. Tapi yang mulia putra mahkota datang mengunjungi tuan putri. Kami akan membantu merias anda sebelum itu." kata salah satu pelayan itu.
Chiarina mengernyit, mau dipikir bagaimana pun, sikap mereka saat ini benar-benar tidak sopan dan lancang. Mereka bahkan tidak bertanya apa dirinya ingin menemui putra mahkota atau tidak. Meskipun dirinya memang tidak pernah menolak kunjungan putra mahkota, bukan berarti dia selamanya akan senang dengan itu.
Misalnya sekarang, dia sama sekali tidak memiliki niat untuk bertemu siapapun saat ini. "Apa kamu mengatakan pada putra mahkota jika aku akan menerima kunjungannya?"
Pelayan itu terdiam, terlihat bingung dengan respon Chiarina yang terlihat berbeda dari biasanya, "apa?" katanya membeo.
Seorang pelayan mengatakan kata 'apa?' pada seorang bangsawan saja sudah dihitung sebagai penghinaan. "Bukan 'apa?', tapi 'maaf?'." kata Chiarina mengoreksi, mungkin karena suasana hatinya yang sedang buruk, dia jadi lebih emosi dari biasanya. Chiarina biasanya tidak terlalu memikirkan kesalahan-kesalahan mereka yang seperti ini karena berpikir akan mengganti mereka juga nantinya. Tapi dia mendadak sangat kesal dan terganggu dengan sikap mereka.
"Apa maksud anda tuan putri?"
"Aku membenarkan ucapan mu. Menurut mu kamu sedang bicara pada siapa hingga begitu tidak sopan seperti ini? Apa kalian semua memandang rendah diriku? Aku? Yang satu-satunya putri kerajaan Centurra? Betapa beraninya."
Mereka menundukkan kepala mereka sambil diam-diam melirik satu sama lain, Chiarina mencemooh melihat kelakuan mereka yang berpura-pura di hadapannya. "Maaf atas kelancangan kami, tuan putri. Kami pantas mati!"
Chiarina mengacuhkan mereka dan kembali berbalik untuk membaca bukunya. Hal itu membuat para pelayan bertambah bingung. Untuk beberapa saat mereka hanya bisa melihat Chiarina dengan mulut mereka yang tergagap tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Tu-tuan putri..."
"Tuan putri... Apa yang anda lakukan? Yang mulia putra mahkota...."
"Yang mulia mahkota telah menunggu untuk bertemu dengan anda, tuan putri."
Chiarina memejamkan matanya, ia menghela nafasnya pelan. Dulu dia memang sangat mengidolakan kakaknya, dulu dia memang sangat mengejar-ngejar perhatian kakak satu-satunya itu, kakak yang selalu mengacuhkannya dan bersikap dingin padanya meskipun ia telah mencoba segalanya untuk membuatnya melihat kearahnya dan menganggapnya sebagai adik.
Sekarang pun ia masih seperti itu, dia masih berharap jika Etienne menganggapnya sebagai adik. Tapi dia tahu jika hal itu tidaklah mungkin. Kakaknya sangat membencinya meskipun Chiarina tidak tahu apa kesalahannya.
Banyak yang berkata jika Etienne telah berubah sejak ibunya, mendiang ratu Isabella meninggal. Mereka bilang jika Etienne awalnya adalah anak laki-laki yang periang dan penyayang. Tapi Chiarina tidak bisa membayangkan hal itu. Karena sosok yang di bicarakan mereka terlihat sangat berbeda dengan sosok yang ia rasakan dari Etienne sekarang. Bahkan sejak awal ia mengenal Etienne, Etienne tidak pernah sekalipun menunjukan sikap itu padanya.
Setiap Etienne mengunjunginya, pria itu pasti menginginkan sesuatu atau mengatakan hal-hal yang akan menyakiti hatinya. Makanya saat ini Chiarina tidak ingin menemui Etienne. Karena suasana hatinya sedang buruk hari ini. Tubuh dan pikirannya juga sedang lelah, Chiarina sedang tidak ingin mendengar ucapan Etienne yang ia tahu hanya akan menyakitinya. Chiarina tidak ingin membenci Etienne, kakaknya.
"Aku tidak pernah mengatakan jika aku setuju atau akan menemui putra mahkota. Kalian yang mengatakannya tanpa bertanya padaku."
Mata merek membulat, terlihat sangat terkejut dan tidak menduga respon Chiarina yang sedikit lebih berani pada mereka daripada biasanya. "Apa?"
"Maksud saya... Maaf? Saya tidak mengerti maksud tuan putri? Bukankah biasanya tuan putri selalu menerima kunjungan putra mahkota, jadi kami..."
"Ya kalian benar, aku selalu menerima kunjungan kakak ku. Tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya memutuskan sendiri tanpa bertanya padaku lebih dulu. Aku sudah berkata jika aku ingin sendiri hari ini."
Mereka saling memandang, wajah mereka sudah terlihat pucat pasi dengan tangan yang terlihat gemetar dan terasa dingin. "Ta-tapi tuan putri... Ya-yang mulia putra mahkota akan marah pada kami jika tuan putri tidak menemuinya. Yang mulia su-sudah menunggu tuan putri."
"Aku tidak peduli. Sekarang kalian pergi dari kamar ku. Aku ingin kembali membaca buku."
"Tuan putri...! Maafkan kami... Kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan kami. Tolong untuk sekali ini saja, maafkan kesalahan kami. Putra mahkota akan menghukum kami jika kami tidak membawa tuan putri bersama kami." mereka memohon sambil menangis bahkan bersujud.
Tapi Chiarina tidak merasa harus peduli pada mereka. Setelah tinggal bersama mereka cukup lama, Chiarina tahu jika mereka biasa melakukan hal seperti ini. Memohon, menangis, meminta belas kasihan, namun di belakang pasti mereka sedang mengumpat dan mencaci makinya.
Chiarina sering mendengar para pelayan yang bergosip tentang mereka yang mengejek temannya, nona bangsawan bahkan dirinya.
Lalu setelah tertangkap basah, mereka meminta maaf namun mengulanginya lagi, bahkan setelah itu mereka bergosip lebih parah daripada sebelumnya.
Chiarina tidak ingin dianggap sebagai putri bodoh yang naif lagi, jadi dia tidak akan memaafkan mereka kali ini. Dia sudah sering mengabaikan kesalahan mereka. Setelah Chiron pergi, Chiarina merasa jika dia harus mulai belajar mengurus semuanya sendiri. Termasuk mengurus perilaku para pelayan padanya.
"Jika kalian benar-benar menghormati ku, kalian tidak akan berkata tanpa tahu malu seperti ini. Sekarang aku ingin sendiri, kalian bisa pergi."
"Tu-tuan putri.... Kami..." pelayan itu tidak melanjutkan ucapannya, "Baiklah, sepertinya meminta ampun pada tuan putri juga percuma. Anda tidak akan peduli." kata salah satu dari mereka sebelum akhirnya mereka keluar dari kamar dengan pintu yang di tutup dengan di banting.
Chiarina terhentak karena terkejut, ia menoleh kearah pintu dengan tidak percaya. "Astaga... benar-benar tidak sopan." gumam Chiarina.
"Aku merasa sangat di remehkan. Sebelumnya mereka tidak pernah terang-terangan tidak menyukai ku seperti ini. Apa karena sekadang Chiron sedang pergi?" Chiarina tertawa. Dia mengasihani dirinya sendiri. Bahkan para pelayan lebih takut dan menghormati Chiron daripada dirinya yang seorang putri.
Mungkin karena Chiron telah memiliki kekuasaan yang jelas di tangannya sedangkan dirinya yang hanya merupakan seorang putri tanpa kekuatan ataupun kekuasaan.
"Tapi tetap saja... Aku adalah satu-satunya putri kerajaan Centurra, aku teman seorang komandan pasukan pertama, dan juga tunangan putra mahkota kerajaan Ecryphia. Tapi mereka... " Chiarina menghela nafasnya.
"Aku merindukanmu, Chiron... Aku harap kamu cepat kembali."
"Istana tanpa mu, rasanya seperti penjara bagiku."
To Be Continued