Keheningan melanda. Atmosfer disana terasa begitu berat ditambah lagi dengan kecanggungan yang diakibatkan oleh Chiarina sendiri.
Tak ada satupun dari mereka yang ingin membuka suara, suara dentingan cangkir yang di taruh ke meja menciptakan suara berisik.
Chiarina benar-benar tidak terbiasa dengan ini. Ini adalah pertama kali baginya bertemu dengan para tuan muda bangsawan selain Athen dan Chiron.
Chiarina berusaha untuk terlihat natural dan tidak canggung namun itu sangat sulit. Pada akhirnya Chiarina hanya diam selama di acara perjamuan. Untung saja beberapa nona bangsawan yang menyadari itu langsung membawa topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Selama di pesta teh Chiarina juga merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan - tatapan para tuan muda bangsawan yang menunjukan ketertarikannya secara gamblang pada Chia.
Chia menghela napasnya. Meskipun lelah dan merasa kesulitan bernapas selama perjamuan berlangsung tapi akhirnya Chiarina bisa melewatinya dengan baik.
Chiarina sedikit bangga pada dirinya akan hal itu. Seperti dugaannya, Chiron tidak bisa menghadiri perjamuan karena besok akan pergi.
Chiarina melepas sanggulan kepalanya yang berat, membiarkan rambutnya terurai dengan bebas.
Chia melemparkan dirinya ke atas kasur yang empuk. Saat dia kembali memikirkan Chiron, dia melihat secarik kertas di atas mejanya. Chia bangun untuk melihat isi kertas itu.
Untuk temanku yang berharga Chiarina.
Aku tahu kamu akan kesal dengan ku setelah membaca surat ini. Tapi aku harap kamu akan baik-baik saja selama aku pergi. Aku akan senang jika kamu bisa hidup dengan senang seperti biasanya. Aku akan sering mengirimi surat. Jadi balas lah surat ku saat kamu telah membacanya... Itu saja cukup untuk ku.
Aku sudah menuliskan nama-nama nona muda yang bisa kamu percaya. Dan maaf karena aku pergi tanpa pamit denganmu. Sesuatu terjadi tiba-tiba, aku tidak bisa menganggu perjamuan mu jadi aku putuskan untuk menuliskan surat ini untuk mu.
Sekali lagi maafkan aku Chia... Aku menyayangi mu
-Teman mu Chiron
Setelah membaca surat itu rasanya jantung Chia berhenti berdetak untuk sesaat, "Chiron..."
"Chiron!" Chiarina berteriak, tanpa memperdulikan penampilannya, Chia keluar dari kamarnya dan bergegas pergi ke tempat pelatihan. Namum tidak ada siapapun disana. Dia juga pergi ke kantor Chiron dan tidak melihat keberadaan seseorang yan ia cari disana.
Rasanya Chia ingin gila. Dia kesal, marah, sedih dan juga kecewa.
Chiarina berlari ke pintu gerbang istana putri yang sudah kembali di tutup. Di tanahnya terdapat banyak bekas jejak kaki yang yang Chiarina bisa tebak adalah jejak kaki para kesatria yang pergi bersama Chiron tadi.
Chia sedih. Dia bahkan belum sempat mengucapkan sampai jumpanya. Dia menyesal, menyesal kenapa kemarin dia tidak berlari saja dan menemui laki-laki itu tidak peduli jika itu akan mengganggunya atau tidak.
Kini Chiron pergi dan dia akan mulai merindukan laki-laki itu. 1 atau 2 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Chia untuk berpisah dengan seseorang.
Apalagi ini pertama kalinya Chiron meninggalkannya setelah 5 tahun terus bersama dan untuk waktu yang lama.
Saat itu juga air mata Chia mulai turun, Chiarina menangis dengan sesenggukan.
Hujan mulai turun dengan begitu deras, bersamaan dengan air mata yang jatuh, membasahi pakaian dan tanah yang saat ini sedang ia pijak. Para pelayan yang melihat itu langsung menghampiri Chiarina dengan payung dan mantel di tangan mereka.
"Ya ampun yang mulia, anda bisa sakit jika kehujanan seperti ini." kata pelayan itu heboh memayungi Chia.
Dalam hati Chia mencibir mereka, padahal dia sudah berdiri dan kehujanan dari 30 menit yang lalu tapi mereka baru datang seakan benar-benar peduli pada dirinya.
Chiarina yakin jika itu Chiron, laki-laki itu pasti akan memberinya mantel sebelum hujan turun.
Para pelayan membawa Chiarina masuk kembali ke dalam istana. Begitu masuk, Chiarina langsung di mandikan dengan air hangat dan dibuatkan teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
Tapi tetap saja, Chiarina sudah merasakan pusing akibat kehujanan karena tubuhnya yang lemah. Bukan hanya kepalanya yang terasa pusing. Matanya juga terasa sakit dan sedikit bengkak karena menangis.
Meskipun matanya terasa sakit dan bengkak, itu tidak menghentikan Chia yang terus ingin menangis.
Sekarang Chiarina merasa jika dia sudah tidak memiliki siapapun lagi di sisinya. Karema selama ini hanya Chiron lah yang selalu bersamanya dan mendukungnya. Dia bingung harus berbuat apa dan melakukan apa jika Chiron tidak ada di sampingnya. 5 tahun bersama sudan membuat Chiarina terbiasa dengan keberadaan Chiron dan bergantung kepada laki-laki itu.
Meskipun Chiron telah menuliskan apa yang harus ia lakukan, tapi tetap saja, rasanya Chiarina tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.
Chiarina kembali menangis dengan kepalanya yang tenggelam di atas bantal.
One or two Princess went into the forest, there is monsters and wolves.
Oh who knows, oh who knows.
Dark night, don't be afraid because mom is here. My daughter don't cry because mom is here.
Then sleep, mother will take care of you
Oh my love, one or two princesses and a magic fairy.
My daughter don't let you envy, everything you have, you are perfect.
Don't let hatred make you blind, because fairies will not grant your wish.
Like a fairy tale, you are cinderella.
Fairy dreams will come, when you close your eyes, all your wishes will come true
So go to sleep, dont limit your dream.
Chiarina menyanyikan lagu 'Magic Fairy' itu adalah lagu yang biasa ibunya nyanyikan saat dia masih berumur 2 tahun untuk menidurkannya, karena saat ini Chia sangat ingin tertidur, jadi Chia pikir jika dia akan tertidur setelah bernyanyi.
***
Hujan belum reda di luar, Di dalam ruangan yang sunyi hanya terdengar suara gemercik air hujan. Etienne melamun, sejak melihat Chiarina yang menangis di depan gerbang istana putri saat dirinya kebetulan lewat membuatnya terus kepikiran.
Itu adalah pertama kalinya Etienne melihat Chiarina menangis begitu kencangnya seperti itu.
Etienne merasa sedih namun juga kesal. Dia kesal karena adiknya menangisi seorang pria yang menurutnya tidak pantas untuk adiknya tangisi.
Etienne mengepalkan tangannya, "bahkan saat aku mengatakan hal kasar padamu, kamu tidak menangis seperti itu. Kenapa... Kenapa kamu menangis hanya karena laki-laki seperti itu?" gumam Etienne.
"Laki-laki itu, apa bagusnya dia? Dia hanya seorang anak jalanan tidak jelas yang beruntung bertemu denganmu. Tidak seharusnya orang seperti itu membuatmu menangis."
"Adik ku..."
Etienne menghela napasnya frustasi.
Darius yang sejak tadi mendengar gumaman Etienne sebisa mungkin mengunci mulutnya. Kali ini dia tidak akan terpancing oleh omongan Etienne dan kembali memuji-muji Chiron yang berakhir dengan Etienne yang melampiaskan amarahnya kepada dirinya.
Etienne berdecak dengan kesal, "kenapa kamu sejak tadi diam saja? Jawab! Kenapa adik ku sampai menangis hanya karena laki-laki seperti itu pergi. Bahkan laki-laki itu bukannya pergi untuk selamanya. Tapi gadis itu bersikap seakan-akan tidak akan pernah melihat laki-laki itu lagi."
Darius memejamkan matanya, "anda yakin jika saya menjawab, anda tidak akan marah pada saya?"
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus marah padamu? Memangnya aku ini tuan yang seperti itu di mata mu!" balas Etienne sengit.
"Baiklah. Itu karena tuan Chiron sangat perh--"
"Sudah, sudah tidak jadi! Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Lebih baik aku tidak mendengarnya." kata Etienne memotong ucapan Darius.
Darius memejamkan matanya, menghembuskan nafas perlahan berharap dia bisa menahan emosinya yang ingin meledak. Mau bagaimanapun Etienne adalah putra mahkota dan dia tidak boleh menyakiti putra mahkota, dia bisa di hukum mati. Darius mengingat hal itu berulang kali untuk meredakan emosinya.
"Besok aku akan mengunjungi adik ku." ucap Etienne.
Darius mengangguk, "itu adalah ide yang bagus yang mulia. Putri mungkin merasa senang jika anda mengunjunginya. Bagaimanapun putri sangat menyayangi anda."
"Tentu saja, Chiarina lebih menyayangiku dari pada laki-laki tidak jelas seperti itu." kata Etienne dengan percaya dirinya membuat Darius yang awalnya mendukung Etienne terdiam.
"Yang mulia... sepertinya tidak seperti itu." kata Darius ragu.
"Diam Darius, aku sedang memikirkan hadiah apa yang akan ku berikan kepada adik ku." kata Etienne.
Darius menghela napasnya pasrah, "baik yang mulia." sepertinya dia tidak bisa lagi lebih lama menjaga putra mahkota karena semakin lama sepertinya pria itu semakin tidak waras.
To Be Continued