Suasana hening, pencahayaan ruangan yang terang dengan banyak celah udara yang juga merupakan jalur masuknya sinar matahari.
Chiarina berdiri di antara susunan rak-rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku tebal berusia puluhan tahun.
Chiarina melihat-lihat judul buku yang menarik perhatiannya. Hari ini adalah hari senggangnya. Dia tidak ingin menganggu Chiron yang sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan perangnya dan melatih para kesatria.
Chiarina sudah merasa bersalah karena menyita waktu Chiron seharian kemarin karena sikap kekanakannya.
Chiarina membawa buku-buku yang ia pilih keatas meja dan mulai membacanya. Awalnya dia antusias membaca buku-buku itu namun lama kelamaan dia menjadi mengantuk sampai akhirnya tertidur diatas lembar buku yang terbuka.
*
*
*
"Komandan, semua persiapan dan bahan makanan telah selesai." ucap salah satu anak buah Chiron.
Chiron mengangguk, "kumpulkan semua komandan divisi, kita akan mengadakan rapat soal strategi perang."
"Baik komandan!"
*
*
*
*
"Tuan Altair, sebaiknya anda beristirahat lebih dulu. Saya akan mengerjakan selebihnya, anda belum tidur setelah rapat tadi malam." ucap Andrew Kahil.
Athen menghela napasnya, sebenarnya dia juga sangat mengantuk. Dia belum tidur selama 2 hari karena pesanan barang yang tiba-tiba membeludak.
"Ya, sepertinya aku akan beristirahat disini sebentar." ucap Athen.
"Ide bagus, tuan. Saya mohon beristirahatlah... Saya akan mengurus urusan disini."
Athen mengangguk, tanpa basa-basi dia pergi dari gudang istana putri. Dia ingin pergi ke istana pangeran untuk meminjam kamar namun dia berubah pikiran saat mengingat apa yang telah pangeran tidak tahu diri itu lakukan padanya.
Athen menghela napasnya frustasi. Ini soal harga dirinya. Saat melewati perpustakaan, Athen langsung berniat untuk tidur disana. Perpustakaan adalah tempat yang sunyi dan tenang, tempat kedua yang cocok untuk tidur selain kamar tidur.
Seperti yang Athen duga, perpustakaan sangat sepi dan sunyi. Athen pun masuk dan mencari tempat yang kira-kira nyaman untuknya tidur selama satu atau dua jam.
Athen menyelusuri perpustakaan putri yang kelihatannya tidak lebih besar dari perpustakaan miliknya di kediamannya.
"Hah?"
Athen tidak mempercayai matanya saat dia melihat sosok putri Chiarina yang tidur di atas meja perpustakaan. Athen mengusap-usap matanya namun sosok itu masih berada di depannya.
Dia tersenyum miring, lalu duduk di samping putri dan ikut tertidur.
*
*
*
Chiron melihat ke matahari yang mulai terbenam. Semua pekerjaannya hari ini sudah selesai.
Setelah pekerjaannya selesai satu-satunya yang Chiron ingat adalah Chiarina. Seharian ini dia sama sekali belum melihat keberadaan Chiarina.
Chiron bertanya-tanya apa yang gadis itu lakukan seharian ini. Tidak biasanya Chiarina tidak menghampirinya atau sekedar menunjukan batang hidungnya. Hal itu membuat Chiron khawatir.
Chiron pun langsung mencari-cari keberadaan Chiarina. Mulai dari tempat belajar, kamat, taman, gazebo sampai ke tempat pemandian. Tapi dia tidak menemukan gadis itu.
Chiron sudah kalang kabut, jantungnya berdetak dengan keras dan tangannya berkeringat. Rasa geli yang tidak nyaman menjalar di dadanya. Rasanya Chiron ingin menghancurkan istana putri untuk mengetahui dimana Chiarina berada.
"Perpustakaan..." gumam Chiron teringat jika dia belum memeriksa tempat itu.
Chiron dengan cepat pergi ke perpustakaan, sebelum membuka pintu perpustakaan Chiron berusaha untuk menenangkan dirinya lebih dulu. Tentu saja dia tidak ingin melihat Chiarina melihatnya panik seperti ini.
Ruang perpustakaan sudah agak gelap karena pencahayaan matahari yang mulai menghilang, sunyi dan dingin. mata Chiron segera menyelusuri tempat itu. Walaupun sudah agak gelap, Chiron sama sekali tidak kesulitan.
Saat matanya menangkap sosok Chiarina, Chiron buru-buru menghampirinya. Chiron terdiam ketika melihat Chiarina yang sedang tertidur dengan tenang, namun saat ia melihat kesamping nya. Dia kembali panas dan emosi. Dia kenal siapa pria yang tidur di samping Chiarina. Itu adalah adipati agung muda keluarga Altair, Athen.
Chiron tahu jika pria itu pasti sengaja tidur di samping Chiarina nya. Dia kesal dan ingin sekali memukul wajah adipati agung muda itu. Tapi dia tidak ingin membuat Chiarina menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan pria itu.
Chiron melepaskan jubahnya lalu menaruhnya di bahu Chiarina. Dengan perlahan laki-laki itu menggendong tubuh Chiarina.
"Hmmmm..." Chiarina bergumam dalam tidurnya.
"Shh... Tidur lagi." bisik Chiron pelan. Seperti sebuah sihir, Chiarina pun kembali tertidur.
Dengan langkah pelan dan hati-hati Chiron membawa Chiarina keluar dari perpustakaan menuju kamar gadis itu.
Sementara itu, Athen membuka matanya saat merasa jika Chiron dan Chiarina telah keluar dari perpustakaan. Ternyata sejak awal Athen sudah terbangun, alasannya berpura-pura tidur adalah karena dia menunggu Chiarina bangun lebih dahulu, dia ingin Chiarina terkejut dan salah tingkah saat melihat dirinya yang tertidur di sebelahnya saat gadis itu terbangun namun di luar dugaan ternyata gadis itu tidur sangat lama.
Athen bahkan rela menunggu berjam-jam tanpa melakukan apapun demi gadis itu. Dia ingin membuat Etienne kesal dengan dirinya yang menggoda adiknya namum sepertinya rencananya gagal.
Meski begitu, dia tidak menyesal karena dia baru saja melihat sesuatu hal yang jauh lebih menarik, sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memanas-manasi pangeran yang telah membuatnya kesal.
Athen tersenyum. "Kena kau, Etienne bodoh."
***
"Chiron?"
"Ya, Chia? Ada apa? Aku disini."
"Chiron benar akan pergi?"
Chiron tidak menjawab.
"Jika Chiron pergi siapa yang akan menjagaku?"
"Chiron... Jangan pergi..."
Chiarina terbangun dari tidurnya, dia memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing karena terlalu banyak tidur.
"Ah, barusan aku bermimpi aneh dan sangat kekanakan." gumam Chiarina, dia bahkan merasa malu pada dirinya meskipun itu hanya mimpi.
Karena sudah lama di manjakan dan di turuti oleh Chiron kadang Chiarina lupa jika dia juga tidak boleh egois. Dia terlalu nyaman dengan Chiron sehingga lupa jika beberapa tahun yang lalu dia terbiasa sendiri. Dia lupa jika dia adalah seorang putri yang terhormat yang diikuti oleh para nona muda di kalangan bangsawan.
Chiarina menghela napasnya, seperti biasa pagi Chiarina dimulai dengan ketukan pintu oleh para pelayan dan bersiap.
Hari ini dia mengadakan pesta teh. Kali ini bukan hanya untuk para nona namun dia juga mengundang para tuan muda untuk bergabung.
Chiarina memilih gaun cantik yang belum pernah ia kenakan untuk pesta tehnya.
Semua gaun Chiarina tentu saja cantik, gaun-gaun itu adalah pilihan langsung dari ratu. Ratu sangat peduli dengan penampilan putri yang akan berpengaruh secara tidak langsung pada reputasinya.
Pada dasarnya ratu adalah wanita yang boros. Namun meskipun boros, ratu sangat pintar dan mengerti dunia fashion.
Sebelum menjadi ratu, Victoria di sebut-sebut sebagai ratu sosialita. Itu lah alasannya juga mengapa Victoria bisa menjadi kekasih raja yang saat itu sudah memiliki ratu dan anak.
Selain karena pintar berpakaian dan bersosialisasi, itu juga karena wajah Victoria yang sangat cantik dan menawan mampu membuat siapapun yang melihatnya terpesona.
"Apa Chiron akan datang?" chia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin dia akan datang, apa kamu lupa betapa sibuknya dia? Dasar Chia bodoh!" gumam Chia pada dirinya sendiri.
"Anda sudah siap, tuan putri." kata pelayan-pelayan setelah selesai merias Chiarina.
Chiarina menatap dirinya di pantulan cermin. Tidak perlu di ragukan lagi kecantikannya namun entah kenapa Chiarina merasa gugup.
"Apa karena ini pertama kalinya aku mengadakan jamuam campuran, aku merasa agak gugup." gumam Chiarina.
Chiarina menggelengkan kepalanya. "Kamu bisa Chia!" katanya menyemangati dirinya sendiri.
To Be Continued