Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian dimana Etienne mengunjungi istana putri atau lebih tepatnya Chiarina. Sedangkan raja-ayah Chiarina-masih menolak keberadaan anak laki-laki yang Chiarina bawa, raja mungkin tidak terlalu menunjukkannya tapi Chiarina tahu jika ayahnya itu keberatan dengan kehadiran anak laki-laki itu di istana putri. Beliau dengan sengaja membuat anak laki-laki itu jauh dari Chiarina dengan meminta salah seorang pelatih untuk mengerjai anak laki-laki itu dengan latihan seharian penuh yang bahkan tidak di lakukan oleh prajurit kerajaan sekalipun. Latihan itu tentu saja terlalu berat bahkan untuk prajurit kerajaan yang biasa berlatih setiap hari.
Chiarina ingin sekali melihat keadaan anak laki-laki itu, tapi sejak pertemuan mereka yang terakhir yaitu tiga hari yang lalu. Dia sangat sibuk dengan pelajaran tambahan yang diberikan ratu. Apalagi saat ratu-ibu Chiarina-mendengar jika Chiarina menolak menyambut raja dan ratu Ecryphia dengan alasan hukumannya. Sehingga membuat ratu kesal dan semakin menambah jadwal Chiarina yang bahkan sudah sangat padat meskipun tanpa hukuman ratu.
Chiarina menatap langit-langit dari jendela di ruang belajarnya. Dia sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh madam Junette yang merupakan seorang viscount dari keluarga Allen. Gurunya yang satu itu sungguh tidak kira-kira saat memberikan tugas ataupun mengajarinya materi. Madam Junette adalah salah satu alasan mengapa dia tidak memiliki waktu luang untuk beristirahat selain malam hari, waktu tidurnya.
Ruangan belajarnya sangat sepi, ruangan itu berukuran cukup besar, ruangan yang di penuhi oleh rak-rak buku dan buku-buku yang jumlahnya sangat banyak. Jika Chiarina membaca satu buku perhari mungkin dia baru akan menyelesaikan buku-buku itu selama 2 tahun, atau mungkin lebih mengingat ketebalan buku itu yang beragam.
Chiarina menghela napasnya, langit sudah berubah warna menjadi oranye, mulai menggelap. Dan tugasnya akan selesai sedikit lagi. Chiarina bingung, dia tidak tahu harus bagaimana agar bisa mengunjungi anak laki-laki itu. "apa aku harus menyelinap pada malam hari?" Gumam Chiarina. Sepertinya itu bukan ide yang buruk, mengingat jika para pelayan dan prajurit istana putri terlalu malas untuk berjaga pada malam hari. Dia mungkin saja bisa menyelinap dengan mudah.
Satu-satunya hal yang membuat Chiarina ragu adalah dia takut mengganggu waktu istirahat anak laki-laki itu. Karena Chiarina tahu jika laki-laki itu juga mengalami hari yang berat karena dirinya.
Saat Chiarina akhirnya telah menyelesaikan tugasnya, seorang pelayan datang untuk membantunya membersihkan diri untuk istirahat. Disana hanya terdapat 3 orang pelayan yang datang untuk membantunya. Jika di ingat lagi, Chiarina yakin jika dia memiliki 20 orang pelayan yang diberikan ratu untuk membantunya, 50 pelayan dan 100 prajurit lainnya untuk mengurus istana putri. Tapi dia tidak pernah melihat mereka lagi-ratusan pekerjanya-selain hari pertama mereka datang, yaitu 3 tahun yang lalu, tepat saat pertama kali Chiarina dipindahkan dari istana utama ke istana putri.
Jumlah mereka sejak hari pertama itu terus berkurang, Chiarina bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka semua lakukan. Bahkan saat malam dimana dirinya melarikan diri, Chiarina mengira-ngira mungkin hanya setengah dari jumlah awalnya yang datang untuk menyambutnya kembali.
Chiarina menghela napasnya pelan, tapi mau bagaimana lagi? Saat ini dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk membuktikan ataupun menghukum pelayan-pelayan dan prajuritnya. Apalagi saat ini usianya baru 10 tahun.
'Apa aku harus meminta bantuan pada Etienne?' Chiarina menggeleng keras saat ide itu muncul di benaknya. Etienne membencinya. Chiarina sangat sadar akan hal itu. Meminta bantuan Etienne adalah ide yang buruk, Etienne mungkin saja tidak membantunya justru membuat semuanya menjadi memburuk mengingat bagaimana karakter laki-laki itu.
Di umur Etienne saat ini -15 tahun- Etienne sudah memiliki wewenang dan kekuasaan yang cukup tinggi. Dia bahkan sudah memiliki kekuatan untuk mengatur istana pangeran, pelatihan prajurit dan ksatria kerajaan. Sebagai putra mahkota kerajaan Centurra, Etienne memang cukup berbakat dan bertanggung jawab dengan tugasnya, raja sangat percaya pada Etienne dengan memberikan kekuasaan itu padanya.
Sama seperti Chiarina, Etienne juga merupakan satu-satunya pangeran kerajaan Centurra. Di banding Chiarina, semua orang lebih memperhatikan Etienne. Mungkin karena Etienne adalah laki-laki dan seorang pewaris. Tapi meskipun Etienne lebih di perhatikan oleh semuanya, Chiarina sama sekali tidak merasa keberatan atau iri, dia tahu jika hal seperti itu memang wajar. Dibanding dengan Etienne, Chiarina merasa jika dirinya bukanlah apa-apa, dia bahkan bukan anak yang jenius seperti Etienne ataupun anak yang pintar bicara. Tidak ada yang bagus dari dirinya selain wajahnya yang sangat cantik.
Chiarina berjalan menuju ruang pemandian bersama dengan para pelayannya. Setelah sampai disana, seperti biasa dia dilayani. Chiarina tidak menghabiskan banyak waktu di tempat pemandiannya, dia sangat lelah hari ini. Sepertinya dia tidak bisa mengunjungi anak laki-laki itu hari ini karena badannya yang terasa sangat pegal setelah duduk terlalu lama dan juga berdiri terlalu lama. Dia berdiri hampir 5 jam tanpa duduk sekalipun saat madam Junette mengajarinya berdansa dan berjalan yang benar.
Chiarina menatap kelopak-kelopak bunga yang bertebaran di air kolam mandinya. Hari ini dia mandi dengan kelopak bunga mawar dan melati. Dibanding kedua itu, sejujurnya Chiarina lebih menyukai bunga Gardenia, tapi bunga itu sangat sulit di dapatkan.
Chiarina menghabiskan waktu 30 menit untuk berendam di kolam sampai akhirnya dia naik dan kembali berpakaian. Chiarina memakai baju tidurnya, sebuah gaun panjang berwarna putih polos yang memiliki hiasan renda sederhana di daerah kerah gaun dan pinggang. Pelayan masih mengikuti dirinya sampai memastikan Chiarina masuk kedalam kamarnya.
Baru saja masuk kedalam kamarnya, Chiarina bisa merasakan hembusan dan udara yang dingin di kamarnya. Ia mengadah, melihat ke langit-langit, tepat diatas jendela kamarnya terdapat celah udara yang menurutnya berukuran terlalu besar untuk ukuran ventilasi udara.
Melepaskan mantel yang ia kenakan yang menutupi gaun tidurnya, Chiarina menaruh mantel itu ke tempat gantungan yang berada di dekat pintu tidak jauh dari tempatnya saat ini berdiri.
Chiarina menghela napasnya lelah. Tidak seperti niat awalnya yang ingin mengunjungi anak laki-laki itu. Chiarina berjalan kearah ranjangnya dan menjatuhkan diri keatas kasurnya yang empuk.
"Mungkin besok aku akan menyelinap untuk melihat laki-laki itu. Saat ini aku terlalu lelah untuk itu." Gumam Chiarina dengan matanya yang terpejam sebelum akhirnya terlelap.
****
Udara malam ini berhembus lebih kencang dan dingin dari biasanya, Etienne bahkan masih bisa merasakan udara dingin itu walaupun sudah mengenakan dua lapis pakaian hangat, mantel dan jubah istananya yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.
Suasana saat ini benar-benar hening sampai rasanya dia bisa mendengar suara air mancur yang berada cukup jauh dari posisinya saat ini. Bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar. Namun suasana yang sangat hening itu bukan karena tidak ada seorang pun pelayan atau pengawal yang berjaga. Namun Etienne memang memerintahkan mereka untuk tidak berjaga atau mengosongkan taman halaman belakang istana pangeran setelah jam tertentu dan hanya untuk beberapa jam saja, setelahnya mereka akan kembali berjaga.
Etienne tahu permintaan nya memang agak membahayakan untuk keselamatan dirinya, berhubungan dia adalah pewaris tahta kerajaan Centurra. Tapi Etienne cukup percaya diri dengan kemampuan bela dirinya dan juga kemampuan Darius-kstaria pribadi Etienne- selain itu, karena saat ini Etienne akan bertemu dengan temannya yang tidak lain adalah Athen Everet Altair, seorang Adipati agung muda dari keluarga Altair yang ia hubungi. Mereka berteman baik dan Athen selalu membantu Atienne. Secara singkat, mereka bersekutu.
Athen membantu Etienne untuk mendapatkan kekuatan dan membangun kerjasama dengan para bangsawan, dengan balasan, Etienne akan memberikan beberapa kekayaan kerajaan pada keluarga Altair dan melindungi keluarga Altair setelah dia berhasil menduduki tahta.
Itu yang mereka sepakati, namun sebenarnya yang paling diuntungkan adalah Etienne. Karena dengan bekerjasama dengan Athen-adipati agung muda- yang sangat dihormati dan di segani oleh para bangsawan, Etienne menjadi sangat mudah mendapat dukungan dari keluarga bangsawan lainnya yang mengikuti keluarga Altair.
Sedangkan Athen yang merupakan pewaris keluarga Altair pada dasarnya tidak membutuhkan itu semua, kekayaan dan perlindungan kerajaan yang Etienne janjikan. Keluarga Altair sudah memiliki itu semua. Keluarga Altair adalah keluarga yang sangat kaya bahkan hampir menyaingi kerajaan Centurra sendiri. Bahkan jika ingin, mereka bisa membuat sebuah kerajaan mereka sendiri dengan pengikut mereka yang sudah sangat banyak. Sedangkan perlindungan, tidak ada orang yang cukup bodoh untuk mencari masalah dengan keluarga Altair yang memiliki kekayaan dan reputasi yang begitu luar biasa seperti itu.
Saat Etienne mendengar suara langkah kaki yang mendekat, ia segera menoleh kearah tempat itu berasal. Ia tidak perlu bertanya lagi siapa orang itu. Tentu saja itu adalah Athen.
Athen di temani oleh seorang pengawal di sampingnya berjalan kehadapan Etienne. Dengan matanya yang bewarna ungu yang seakan bersinar dibawah sinar rembulan dan rambutnya yang berwarna coklat terlihat sangat halus saat dihembus oleh angin. Dia adalah Athen, di umurnya yang 15 tahun, Athen memiliki tubuh yang tinggi, dia lebih tinggi daripada Etienne bahkan Darius yang berbeda 1 tahun darinya. Tubuh Athen terlihat seperti anak laki-laki berumur 18 tahun yang sudah mengalami proses pendewasaannya. Dengan tubuh yang tinggi, bahu yang lebar dan Bahu yang lebar dan tubuh yang kekar. Tapi tidak begitu berlebihan, semuanya terlihat pas. Dengan tubuh dan wajahnya yang tampan, tentu saja Athen menarik perhatian banyak orang khususnya wanita. Banyak yang ingin menjadi tunangan atau hanya sekedar berteman dengan pewaris keluarga Altair satu ini namun nampaknya Athen belum tertarik dengan semua itu. Meskipun kedua orang tuanya sibuk mencarikan pasangan untuknya.
"Tidak ada yang membuatku berdebar dan tertarik," itu kata Athen saat menolak para perempuan yang menjadi calon tunangannya setelah pertemuan pertama pada kedua orang tuanya.
Adipati agung Altair dan istrinya tidak bisa berbuat apapun selain menerima alasan anaknya mereka dan mencarikan perempuan lain untuk Athen.
Kembali pada Athen dan Etienne. Athen telah berdiri di hadapan Etienne dengan pakaiannya yang tak kalah mewahnya, berbeda dengan mantel dan jubah milik Etienne yang memiliki warna merah dengan lambang dan lencana keluarga kerajaan 'mawar emas'. Athen mengenakan jubah dan mantel berwarna ungu, dengan lambang dan lencana 'perisai dengan pedang di dalamnya'.
"Selamat malam, yang mulia putra mahkota. Semoga tuhan memberkati dirimu." Athen memberi salam pada Etienne dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk, pengawal yang ikut bersama dengan Athen pun ikut membungkuk mengikuti Athen.