MEMORIES 4.5

1887 Kata
Chiarina bangun pagi-pagi, lebih pagi dari pada biasanya. Dia sengaja untuk bangun subuh sebelum para pelayannya datang dan mempersiapkan harinya hanya untuk menyelinap dan menemui anak laki-laki itu. Sebenarnya Chiarina tidak enak selalu memanggil anak tanpa nama itu dengan sebutan 'anak laki-laki itu', tapi dia tidak memiliki pilihan lain, anak itu benar-benar tidak memiliki siapapun dan mungkin bahkan tidak terdaftar sebagai warga kerajaan. Dia bisa saja memberinya nama secara tidak resmi, hanya untuk memanggil anak laki-laki itu. Tapi Chiarina tidak merasa ingin melakukannya. Dia ingin memberi anak laki-laki itu nama saat anak itu sudah diakui oleh raja dan telah terdaftar secara sah sebagai warga, atau ksatrianya. Maka nama yang ia berikan akan lebih berarti. Chiarina dengan kaki telanjang keluar dari kamarnya. Chiarina sengaja tidak memakai sepatu atau pun alas kaki lainnya karena dengan mengenakan itu maka langkah kakinya akan terdengar lebih berisik apalagi di lorong-lorong istana putri yang sangat sunyi. Chiarina berlari namun juga dengan langkahnya yang ringan, dia sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi. Chiarina sendiri tidak menyangka jika dirinya akan bertindak sejauh ini. Mungkin jika ada seorang putri bangsawan yang melihatnya, mereka akan berpikir lagi menjadikan dirinya sebagai contoh dan panutan mereka seperti yang telah mereka lakukan selama ini. Chiarina juga tidak tahu mengapa dirinya melakukan ini, tapi sejak keluar dari istana dan bertemu dengan anak laki-laki itu, dirinya menjadi kacau. Rasa ingin memberontak dan bebas sangat meluap-luap dari dalam dadanya. Perasaan yang bahkan tidak pernah Chiarina rasakan sebelumnya. Chiarina mengatur napasnya yang terengah-engah begitu sampai di depan sebuah pintu yang ia tuju. Tangannya bersandar pada pintu dengan satu tangan lainnya menyentuh dadanya yang terasa sedikit sesak karena kehabisan napas. Dia tidak pernah baik dalam hal berlari ataupun olahraga. Sepertinya tubuhnya sangat tidak cocok untuk itu. Chiarina mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali dengan ketukan yang pelan. Setelahnya Chiarina mundur satu langkah dan menunggu anak laki-laki itu membuka pintunya. Dengan harapan jika anak laki-laki sudah bangun atau terbangun karena ketukannya yang pelan. Tidak lama pintu itu benar-benar terbuka seperti yang diharapkan Chiarina. Sebuah tangan mengintip dari balik pintu. Tangan itu kecil namun terlihat kasar dengan bagian telapak tangannya yang kapalan dan kukunya yang rusak. Itu terlihat sangat jelas walaupun tanpa penerangan yang baik. Chiarina berpikir dan membayangkan apa yang anak laki-laki itu lakukan beberapa hari ini sampai tangannya terlihat seperti itu. Chiarina tahu bahwa para prajurit, ksatria kerajaan bahkan yang mulia raja dan putra mahkota tidak menyukai kehadiran anak laki-laki itu dan pastinya akan membuat anak laki-laki sengsara dengan latihan yang berat. Tapi Chiarina tidak tahu tepatnya latihan apa yang di berikan mereka pada anak itu. "Umm... Hey, dengar." membayangkan hal-hal yang telah anak laki-laki itu lalui karena ulah keegoisannya, Chiarina merasa bersalah bahkan dia sampai segan untuk berbicara pada anak itu. Dia masih memiliki rasa malu untuk tidak berbicara dan bersikap seakan tidak tahu apapun dan tidak merasa bersalah. Dia pasti membenciku. Itu pikir Chiarina saat melihat anak laki-laki itu yang tidak membiarkannya masuk kedalam kamarnya ataupun membiarkan dirinya bertatap muka dengannya. "Kamu... Apa kamu baik-baik saja?" Ada banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada anak itu, tapi saat ini kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. "Ya, aku baik-baik saja. Kamu pasti juga lelah karena belajar seharian, beristirahatlah Chia. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku." Setelah itu suasana menjadi sangat hening. Chiarina menghela napasnya, "kamu kesal denganku? Kamu pasti kesal denganku. Kamu bahkan tidak membiarkan diriku menemui mu." Ada jeda yang cukup lama sebelum anak laki-laki itu menjawab. "Aku tidak marah padamu Chia. Aku tidak akan pernah bisa. Aku hanya merasa lelah sekarang, bisakah kamu kembali? Aku ingin beristirahat sebentar lagi sebelum kembali latihan." Ucapan anak laki-laki itu bisa dikatakan tidak sopan karena secara tidak langsung mengusir Chia yang statusnya seorang putri. Tapi Chiarina tidak mempermasalahkannya, dia justru semakin merasa bersalah mendengar ucapan anak laki-laki itu. "Ah.. Apa aku menganggu waktu istirahatmu?" "Maafkan aku. Aku akan pergi sekarang, namun aku akan kembali lagi nanti. Selamat beristirahat,"kata Chia. Tidak lama setelah itu, pintu itu kembali tertutup. Chiarina masih melihat pintu yang tertutup itu dengan lekat. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya, rasanya sesak dan tidak nyaman. Chiarina mengepalkan kedua tangannya. Dengan langkah lemas dan pelan, dia mulai berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Kepalanya menunduk dalam, melihat ke marmer putih di bawah kakinya, marmer itu terasa dingin di telapak kakinya. Seperti semangatnya yang sebelumnya membara di padamkan seketika. Meskipun Chiarina tidak berharap anak laki-laki itu akan menyambut kunjungannya dengan senyuman. Tapi Chiarina juga tidak menyangka jika dia akan mendapatkan perlakuan yang begitu dingin. Chiarina menghela napasnya pelan. Ia tidak sadar tiba-tiba dia sudah berada di depan pintu kamarnya. Dia sibuk termenung sepanjang perjalanan. Dia membuka pintu kamarnya, melepaskan mantel yang ia kenakan di gantungan dekat pintu, lalu berjalan kearah kasur dan meleparkan dirinya keatas kasur empuk itu. Chiarina menarik satu bantalnya dan menenggelamkan wajahnya pada bantal itu. Lagi-lagi dia menghela napasnya, hari bahkan belum di mulai tapi dia sudah merasa malas dan lemas. Rasanya dia hanya ingin berada di atas kasurnya seharian, walaupun ia tahu itu tidaklah mungkin. Bagaimanapun juga dia adalah seorang putri. Putri satu-satunya kerajaan Centurra, cepat atau lambat jadwalnya akan lebih padat daripada sekarang. Dan di masa depan dia pun akan menghadiri banyak pesta dan jamuan sampai dia akan merasa muak dengan itu semua. Membayangkannya saja sudah membuatnya tambah hilang semangat. Dia hanya ingin memiliki teman, dia tidak menginginkan teman yang begitu banyak. Hanya beberapa teman dimana mereka bisa saling mempercayai dan membantu satu sama lain. Maka dari itu Chiarina sangat bersemangat mencari teman di usianya saat ini, sebelum urusan politik ikut campur dalam pertemanan mereka. Chiarina ingin melihat siapa yang tulus dan yang tidak. Suara ketukan pintu membuyarkan dirinya dari lamunan, Chiarina melirik kearah pintu kamarnya yang diketuk. Tidak lama setelah itu pintu terbuka dan menampilkan para pelayan dengan persiapan mereka untuk mendandani Chiarina. Seperti biasanya. *** Di dalam ruangan yang sangat besar, Chiarina sedang menulis di sebuah meja yang terletak di depan jendela besar yang tertutup oleh kaca. Di samping mejanya telah berdiri viscountess, seseorang yang ditunjuk menjadi guru pembimbingnya. Lalu juga terdapat beberapa pelayan yang berdiri di ujung pintu, memperhatikan mereka. "Bagaimana menurut tuan putri?" Tangan Chiarina berhenti menulis. Dia menoleh kearah viscountess Allen dengan wajah tanpa ekspresinya, yang terkesan dingin. Chiarina terlihat seperti boneka yang sangat cantik. Mata birunya yang besar seperti permata. Bibirnya yang merah muda alami yang tipis dan rambutnya yang pirang seperti emas. "Putriku seumuran dengan yang mulia, namanya Shirley. Dia adalah anak yang manis. Tuan putri akan senang bermain dengannya." Shirley Allen. Chiarina merasa dia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lalu ingatan tentang pesta teh muncul. 'Ah, perempuan yang waktu itu.' pikir Chiarina. Chiarina langsung bisa menebak semua niat dan motif Viscountess Allen yang menawarkan putrinya pada dirinya. 'Anak itu pasti melewati masa yang buruk karena gosip menyinggung putri waktu itu.' pikir Chiarina. Dia merasa sedikit kasihan, tapi dia juga tidak ingin seseorang seperti putri Viscountess Allen berada di sisinya, apalagi setelah mengetahui niat terselebung viscountess. 'Dia pasti ingin memperbaiki reputasi anak dan keluarga sebagai 'teman satu-satunya putri.'' Chiarina masih menatap viscountess dalam diam sambil berpikir di dalam kepalanya, 'ah.. Mungkin karena itu juga viscountess sengaja memberiku pelajaran dan tugas yang sangat banyak. Sepertinya dia sedang melampiaskan rasa kesalnya padaku atas kejadian yang menimpa anaknya waktu itu.' Jika itu benar, Chiarina bahkan bisa memberikan hukuman pada Viscountess atas sikap tidak menyenangkannya. Tapi Chiarina sama sekali tidak berniat melakukan itu. Dia tidak tertarik. Saat ini dia ingin fokus terhadap anak laki-laki yang ia bawa itu dan menyelesaikan pelajaran secepatnya. Dia juga ingin melunakkan hati ratu. Bahkan pesta teh yang selalui ia tunggu-tunggu, Chiarina tidak sempat hanya untuk sekedar memikirkannya. Lagi pula hukumannya juga belum berakhir. "Maaf nyonya Viscountess Allen, tapi saat ini saya sudah memiliki satu. Anak laki-laki yang saya bawa, dan saya sudah merasa cukup dengan itu." Wajah Viscountess yang sejak tadi tersenyum berubah tidak enak. "Tapi tetap saja, yang mulia pasti membutuhkan seorang teman perempuan yang bisa mengerti anda dan beberapa hal yang hanya di mengerti oleh seorang perempuan. Anak saya sangat cerdas dan juga sangat mudah mengakrabkan diri. Yang mulia tidak akan merasa canggung berteman dengannya." "Bukankah itu lebih baik dari pada berteman dengan seorang anak laki-laki yang tidak memiliki asal-usul yang jelad. bahkan nama pun tidak punya." Viscountess terus berbicara, menjelekkan anak laki-laki itu dan membandingkannya dengan putrinya yang sangat ia banggakan. Jelas mereka berbeda. Tapi bukan berarti anak laki-laki itu lebih buruk daripada putri viscountess yang selalu di manjakan. "Viscountess, saya sudah menyelesaikan tugas saya. Bisakah saya beristirahat sekarang?" kata Chiarina membuat bualan viscountess tentang putrinya terhenti. Viscountess Allen melirik kearah kertas tugas Chiarina dengan pandangan tidak enak. Lalu menjawab, "Tentu saja, tuan putri. Pelajaran hari ini telah selesai. Anda bisa beristirahat sekarang." ucap Viscountess terdengar tidak rela. Chiarina mengulum senyumannya, dia mengangguk pelan dan berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu, saya pamit undur diri." Chiarina mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Pelayan-pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat pintu mengikutinya di belakang. Segera setelah keluar dari ruang belajarnya, tempat yang ingin Chiarina tuju adalah tempat dimana anak laki-laki itu berlatih. Chiarina akan tambah merasa bersalah jika dia tidak mengunjungi anak laki-laki itu sedangkan anak itu sedang menderita karena dirinya. Suara gesekan pedang terdengar nyaring saat Chiarina sudah dekat dengan tempat pelatihan. Mata Chiarina berbinar saat matanya menangkap punggung sosok anak laki-laki yang ia cari. Chiarina mempercepat langkah kakinya namun sebuah suara yang amat ia kenal menghentikannya. "Putri Harriet." Tubuh Chiarina terpaku di tempat, dengan perlahan dia membalikan tubuhnya. Begitu melihat siapa pemilik suara tersebut, Chiarina segera menundukkan tubuhnya, memberi hormat. "Memberi salam pada yang mulia raja, semoga berkat tuhan selalu menyertai anda." katq Chiarina. 'Kenapa ayah bisa berada di tempat pelatihan istana putri?' Chiarina bertanya-tanya di dalam hatinya. "Apa anda memerlukan sesuatu, yang mulia?" tanya Chiarina. Tatapan raja yang semula menatap Chiarina beralih ke sosok anak laki-laki yang berada jauh disana. "Aku mendengar beberapa rumor, jadi aku datang untuk memastikannya sendiri." "Maaf, rumor?" Chiarina yang tinggal di istana putri bahkan tidak tahu rumor apa yang di maksud raja. "Ya, sepertinya putri belum mendengar tentang rumor itu." Chiarina gugup saat raja kembali melihat kearahnya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat berharap bisa mengurangi rasa gugupnya. "Maafkan saya, beberapa hari ini saya terlalu sibuk dengan pembelajaran saya." jawab Chiarina, berusaha sekuat mungkin agar suaranya tidak terdengar gemetar. Ayahnya, raja tidak pernah bersikap kasar atau jahat padanya. Tapi Chiarina merasa sangat takut dan gugup hanya dengan melihat sosoknya saja. Dia memiliki aura yang dingin di sekitarnya. Dia juga terlihat sangat bermartabat, terlihat tidak tersentuh. Auranya hampir sama seperti Etienne. "Itu memang diperlukan. Putri harus banyak belajar agar bisa menjadi ratu yang baik." kata raja. Chiarina diam-diam menggigit bibir dalamnya. Dia ingin sekali berkata pada ayahnya jika dia tidak ingin di jodohkan, tapi dia tidak memiliki keberanian itu. Dia tidak merasa seperti seorang anak, dia dibesarkan oleh para pelayan dan tinggal terpisah di istana putri. Lalu setelah dia sudah beranjak dewasa dia akan dikirim ketempat yang sangat asing untuknya bersama dengan orang yang tidak ia kenal. Chiarina tidak mau itu. Chiarina tidak ingin hidup seperti itu. Makanya walaupun hanya hal kecil, dia ingin memberontak, dia juga ingin memiliki teman yang tulus padanya. Apa enaknya menjadi putri? Itu hanya sebuah gelar dan kekayaan yang tidak bermakna. "Yang mulia sa--" DUARRRR!!!! Suara ledakan menghentikan kalimat Chiarina. Chiarina maupun raja sama-sama menoleh kearah sumber suara itu dengan wajah mereka yang penuh dengan keterkejutan. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN