MEMORIES 5

1757 Kata
Mata Chiarina terbelalak, bahkan dia hampir saja mempermalukan dirinya sendiri karena untuk sesaat membuka lebar mulutnya walau dia buru-buru kembali menutupnya, dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Bagaimana bisa..." gumam Chiarina. Sedangkan sang raja dia tengah tersenyum miring penuh arti melihat kearah anak laki-laki itu. Dari pedang yang anak laki-laki itu gunakan mengeluarkan aura berwarna merah yang sangat pekat, hampir seperti mana sihir tapi Chiarina yakin itu bukan sihir. Dan ledakan itu berasal dari pedang yang anak laki-laki itu pegang saat beradu dengan komandan pasukan yang bahkan sangat kuat, pria itu sampai terpental jauh. "Brilian!" seru raja, Chiarina refleks mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki itu ke yang mulia raja. Bukan hanya Chiarina, namun mereka semua -para kesatria- juga langsung menoleh kearah raja yang baru mereka sadari keberadaanya, dengan langkah yang terburu-buru mereka menghampiri raja dan Chiarina lalu memberi salam kepada mereka. Mereka semua menghampiri raja dan putri Chiarina kecuali dua orang, yaitu Anak laki-laki itu dan komando pasukan yang masih kesakitan di tempatnya, ditambah lagi rasa malu karena kalah dengan anak yang bahkan belum melewati masa pubernya. "Memberi salam pada yang mulia raja Centurra dan yang mulia tuan putri Harriet. Semoga tuhan selalu memberkati anda." kata mereka serentak memberi salam kepada raja dan putri Chiarina dengan tubuh mereka yang membungkuk dan tangan kanan menyilang di d**a. Chiarina dan raja menerima salam mereka dengan anggukan kepala yang samar. Senyum di wajah raja Valens masih belum juga hilang, matanya masih menatap anak laki-laki itu dengan penuh ketertarikan. Chiarina sedikit khawatir melihat raut wajah raja Valens, Chiarina takut jika raja melakukan sesuatu yang buruk pada anak laki-laki itu, Chiarina tidak ingin hal itu terjadi karena anak laki-laki itu adalah temannya. Ya, teman. "Yang mulia..." gumam Chiarina, wajah nya sudah memucat karena terlalu tegang. Mata Chiarina yang memandang ayahnya penuh dengan ketakutan. Raja Valens mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki itu kepada Chiarina. Mendapat tatapan tiba-tiba dari raja Valens, Chiarina sedikit tersentak, "kenapa kamu memasang wajah ketakutan seperti itu putri ku? Apa kamu khawatir aku akan melakukan sesuatu pada teman baru mu itu?" Tepat. Chiarina menurunkan tatapannya dan perlahan menggeleng, "mana mungkin saya berpikir seperti itu terhadap anda, anda adalah orang yang paling bijak dan mulia di negara ini." kata Chiarina, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya, raja Valens. Raja Valens terlihat puas dengan pujian dari putri Chiarina, dia tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Tuk! Mata Chiarina melebar saat merasakan telapak tangan raja Valens yang menepuk kepalanya pelan. "Kerja bagus, kamu benar dia adalah berlian di dalam lumpur." kata raja Valens. Chiarina diam, dia masih tidak mengerti apa yang ingin raja Valens katakan padanya jadi dia menunggu ucapan raja Valens selanjutnya. "Lupakan hukuman mu, yang mulia putri telah di ampuni dan bebaskan dari hukumannya. Sedangkan anak laki-laki disana, persiapkan upacara resmi pengangkatan ksatria kerajaan untuk anak itu." Setelah mendengar kalimat penuh dari raja Valens, mata Chiarina berbinar, dia terkejut sekaligus senang sampai hampir tidak bisa menahan dirinya jika dia tidak menggigit bibir bagian dalamnya untuk mencegah dirinya untuk tersenyum dan memekik kegirangan di depan raja. Chiarina mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, mungkin saja telapak tangannya akan terluka terkena ujung kuku-kukunya. Tapi Chiarina tidak peduli. Para ksatria yang ada disana membungkuk hormat, "baik, kami akan menyiapkannya yang mulia." jawab mereka. Raja Valens melirik anak laki-laki itu sekilas, anak laki-laki itu juga sedang melihat kearah mereka, lebih tepatnya Chiarina sedangkan di tangannya dia masih menggenggam pedang yang masih mengeluarkan aura, walau itu aura yang samar dan tidak sekuat sebelumnya. Raja Valens kembali melihat kearah putrinya, "untuk pengangkatan ini, apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya? Setidaknya dia harus memiliki nama bukan? Setelah diangkat menjadi ksatria, dia termasuk seorang bangsawan nantinya." Chiarina mengangkat kepalanya, tersenyum dan mengangguk sekilas menjawab ucapan raja, "Tentu saja, yang mulia, kemurahan hati anda tiada batasnya. Terimakasih yang mulia." Raja Valens tertawa, "aku akan kembali ke istana sekarang, semuanya akan ku serahkan kepada putri Harriet Chiarina Lopez." kata raja Valens sebelum pergi dari sana. Semuanya memberi hormat kepada raja Valens yang pergi diikuti oleh ksatrianya. Setelah keberadaan raja Valens telah menghilang dari pandangan, Chiarina menoleh kearah anak laki-laki itu yang berdiri cukup jauh darinya. Mata Chiarina berbinar dan hampir meneteskan air mata saat melihat anak laki-laki itu, Chiarina tersenyum padanya. Chiarina tidak bisa melihat jelas raut wajah anak laki-laki itu karena jarak mereka, tapi sejak tadi anak laki-laki itu hanya terlihat hanya diam sambil menatap Chiarina. ___________________________ "Kami mohon undur diri lebih dahulu, tuan putri. Selamat malam." Suara pintu tertutup terdengar tidak lama setelah para pelayan pamit undur diri. Ruang kamarnya seperti biasa terasa sangat hening dan sangat luas, seperti biasa juga dia merasa kesepian di dalam kamarnya sendiri. Chiarina melemparkan tubuhnya ke kasur dan membenamkan kepalanya ke dalam bantal. "Nama..." guman Chiarina. "Aquila?" Chiarina menggelengkan kepalanya, "tidak, nama itu tidak cocok dengan penampilannya." Mata merah yang tajam dengan tatapan yang dingin, dan rambut hitam sekelam langit malam. "Alexander?" Chiarina menghela napasnya, ia muak dengan nama-nama yang panjang. "Ignasius..." Nama itu bagus, tapi bukankah itu terdengar sangat dominan? Chiarina tidak ingin anak laki-laki itu, satu-satunya teman laki-lakinya akan menjadi pria kuat yang menakutkan dan mendominasi. Chiarina sedang memikirkan nama yang lebih imut dan juga memiliki arti yang bagus, tidak seperti nama ignasius yang memiliki arti 'kobaran api.' "Hmm... Bagaimana kalau... Chiron (Kheiron) dia akan menjadi laki-laki yang bijaksana dan penuh kasih sayang.." gumam Chiarina pada dirinya sendiri. Dia terus memikirkan nama untuk anak laki-laki itu sampai sebuah suara ketukan pintu terdengar. Chiarina bangun dari tempat tidurnya, 'tidak biasanya pelayan kembali lagi setelah selesai membantuku mandi.' pikir Chiarina. Perlahan Chiarina berjalan menuju pintu lalu membukanya. Brukk!! Chiarina kaget namun ia tetap membalas pelukan itu, orang itu tidak lain adalah anak laki-laki yang sejak tadi dia pikirkan. Meskipun tindakan anak laki-laki itu terbilang tidak sopan kepada dirinya yang merupakan seorang putri, tapi Chiarina membiarkannya, dia tahu anak laki-laki itu belum belajar pembelajaran etiket dan tata krama, dan juga karena anak laki-laki itu sedang merasa senang. "Chiarina... Aku masih boleh memanggilmu dengan sebutan itu kan?" tanya anak laki-laki itu sambil menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Chiarina seraya memeluknya erat-erat. "Tentu saja, kamu adalah temanku, kamu bisa memanggilku senyaman mu." Chiarina tersenyum menjawab pertanyaan anak laki-laki itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang manja pada kakaknya dengan posisi dan sikapnya kepada Chiarina saat ini. "Aku akan selalu disisi mu, aku berjanji. Bahkan jika kamu memintaku untuk pergi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melindungi mu. Karena aku adalah ksatria dan temanmu. Aku akan terus berusaha agar pantas bersamamu." Menurut Chiarina ucapan anak laki-laki terlalu berlebihan, bahkan Chiarina tidak memikirkan laki-laki itu sebanyak itu saat memutuskan untuk membawanya ke istana dan menjadikannya temannya. Itu tidak lebih karena keegoisannya sendiri. "Kamu tidak perlu sampai seperti itu, membawamu kesini adalah keegoisanku. Aku memang harus bertanggung jawab dengan itu." Anak laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya, kepalanya menggeleng samar. "Aku kan sudah bilang, aku tahu. Aku tahu jika Chiarina hanya memanfaatkan ku, aku tidak masalah dengan itu. Mau itu keegoisan Chia atau perasaan tulus Chia aku tidak peduli. Aku yang ingin terus bersama Chiarina juga merupakan keegoisanku. Jadi jangan pernah mendorongku atau menyuruhku pergi." "Chiarina sudah membawaku kesini, jadi Chiarina harus bertanggung jawab. Jangan pernah meninggalkan ku." Saat itu Chiarina hanya menganggap ucapan anak laki-laki hanyalah ucapan anak kecil yang takut di tinggalkan dan kesepian. Jadi Chiarina dengan mudahnya mengangguk dan berjanji pada anak laki-laki itu tanpa tahu apa akibat dari janji kecilnya di masa depan. "Aku berjanji, jadi sekarang kamu bisa tenang kan? Kamu pasti sangat senang, sebentar lagi kamu akan menjadi ksatria kerajaan yang resmi, kamu pun akan memiliki nama dan status yang jelas." ucap Chiarina. Chiarina melepaskan pelukan anak laki-laki itu kemudian menariknya masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu. Chiarina khawatir jika pelayan atau pengawal melihat anak laki-laki itu berada di depan pintu kamarnya. Begitu masuk kedalam kamar dan melepas pelukan anak laki-laki itu, Chiarina baru bisa melihat wajah dan tubuh anak laki-laki itu dengan jelas. Betapa terkejutnya Chiarina saat melihat luka-luka lebam memenuhi wajah anak laki-laki itu bahkan sampai tangan dan lehernya, Chiarina yakin luka lebam itu juga ada di tubuhnnya. Chiarina tidak tahu harus berapa kali lagi dia di kejutkan hari ini. 'Apa ini alasan mengapa dia tidak ingin menemui ku sebelumnya?' Chiarina bertanya-tanya dalam hatinya saat mengingat kejadian pagi tadi. "Kamu terluka." Chiarina merasa sangat bersalah melihat luka-luka di tubuh anak laki-laki itu yang terlihat sangat menyakitkan. "Ini bukan apa-apa. Tidak sakit sama sekali." 'Dia pasti mengatakan itu hanya untuk menghibur ku.' batin Chiarina. "Tetap saja, kamu terluka. Biarkan aku mengobati mu." Anak laki-laki itu menahan tangan Chiarina yang hendak pergi mengambil kotak obat, "aku benar-benar tidak apa-apa. Jangan khawatir." anak laki-laki itu menatap Chiarina dengan tatapan yang lembut. 'Sejak kapan dia menatapku dengan tatapan seperti itu?' Chiarina sangat ingat jika anak laki-laki itu selalu menatapnya dengan matanya yang tajam dan dingin, dia menatap semua orang seperti itu. Sejak kapan itu berubah? Chiarina tidak ingin memikirkan hal itu. Bukankah hal itu adalah hal yang bagus, nama 'Chiron' akan sangat cocok dengannya. "Nama." "Apa?" "Kamu akan memberikanku sebuah nama bukan?" ia bertanya dengan senyum lembut di bibirnya, cengkraman anak laki-laki itu sebelumnya telah mengendur bersamaan dengan Chia yang mengurungkan niatnya untuk mengambil kotak obat. "Ya... Aku tidak tahu kamu akan menyukainya atau tidak, tapi aku sudah memikirkan sebuah nama yang kuharap akan cocok untukmu." kata Chiarina ragu-ragu. "Aku ingin mendengarnya, namaku dari mulut mu." kata anak laki-laki itu. Chiarina menggigit bibirnya gelisah, dia ragu-ragu menyebutkan nama yang sebelumnya sudah ia pikirkan dan pilih. "Katakan Chia." kata anak laki-laki itu memaksa. "Chi... Chiron." cicit Chia, gadis itu menatap wajah anak laki-laki itu untuk melihat reaksi dari anak laki-laki itu. "Chiron?" tanya anak laki-laki itu dan chiarina mengangguk. 'Ya, Chiron Istvan. Apa kamu tidak menyukainya?" Anak laki-laki itu tersenyum, "mana mungkin aku tidak menyukainya, nama itu adalah pemberian dari Chiarina. Selain itu nama itu juga sangat bagus, aku sangat menyukainya, terimakasih Chia." "Benarkah?" "Ya." jawab anak laki-laki itu. Chiarina terus menatap wajah anak laki-laki itu dengan lekat, mencari kebohongan dari sana namun ia tidak kunjung menemukannya, jadi Chiarina memutuskan untuk mempercayai ucapan anak laki-laki itu. Setelah dipikir-pikir lagi, Chiarina merasa jika anak laki-laki itu sedikit berbeda, sikap anak itu menjadi sedikit lebih.... Memangnya mungkin jika seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan hari? "Jadi Chia, mulai sekarang kamu bisa memanggilku dengan namaku." kata anak laki-laki itu tiba-tiba. Chia memasang raut wajah bingung, dan anak laki-laki itu memaksa. "Aku ingin mendengar kamu memanggil namaku, Chia." "Sir... Istvan?" kata Chia. Seketika raut wajah anak laki-laki itu menjadi muram, "apa itu? Aku tidak menyukainya." "Chiron. Panggil aku Chiron. Bukankah itu nama yang kamu berikan padaku?" To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN