MEMORIES 6.5

1516 Kata
Suara alat makan memenuhi ruangan yang sunyi. Suasana di ruang makan itu terasa canggung dan berat dengan Chiarina yang memakan makanannya dalam diam dengan wajahnya yang di tekuk kaku dan Chiron yang frustasi ingin bertanya dan mendekat pada Chiarina namun tidak bisa karena para pelayan dan pengawal mengawasi mereka. Seperti yang di perintahkan Chiarina sebelumnya, mereka harus terlihat formal di depan orang lain. Selain itu Chiron juga takut jika Chiarina marah karena dia tidak mengikuti perintahnya. Jadi Chiron menahan dirinya meskipun sangat sulit. Setelah keheningan yang membuat Chiron bingung dan frustasi, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri untuk membuka suaranya, "Yang mulia, apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Chiron hati-hati pada Chiarina. Semua pelayan dan pengawal disana segera menatapnya dengan tatapan yang aneh namun Chiron tidak peduli dengan tatapan mereka. Yang ia pedulikan hanya Chiarina, perempuan di hadapannya yang juga sedang menatapnya karena pertanyaannya barusan. "Saya menikmati makanan saya, hanya saja ada suatu hal yang terus menganggu pikiran saya." jawab Chiarina. Chiron sebelumnya telah diajari etiket dasar kaum bangsawan sebelum upacara pengangkatannya. Itu adalah pelajaran yang rumit dan banyak namun Chiron dapat menguasainya dengan mudah hanya dalam waktu satu hari. Bahkan Chiarina yang lahir dan di besarkan di istana membutuhkan waktu 5 tahun dan Etienne 3 setengah tahun. Bukankah itu sudah cukup untuk membuat rumor jika Chiron adalah seorang anak yang jenius? Chiron menatap Chiarina lekat, dia mencoba membaca pikiran perempuan itu dari wajahnya namun ia tidak mendapatkan apapun. "Jika tuan putri ingin membaginya dengan saya, saya akan dengan senang hati mendengar apa yang menganggu tuan putri sampai tuan terus memikirkan hal itu." jawab Chiron. Chiarina melirik para pelayan yang berdiri dengan kepala yang sedikit menunduk dari ujung matanya. Chiarina meletakan alat makannya. Kini ia membalas tatapan Chiron yang terus terarah padanya. Dengan raut wajahnya yang serius, Chiarina berkata, "itu tidak ada kaitannya dengan sir. Istvan . Jadi anda tidak perlu memikirkannya juga." itu yang dikatakan Chiarina. Itu terdengar seperti kebohongan di telinga Chiron. Chiron justru berpikir sebaliknya, itu pasti berkaitan dengan dirinya. Namun Chiron memutuskan untuk mengangguk dan memercayai ucapan Chiarina. Chiron merasa jika belakangan ini Chiarina jadi sedikit berbeda, dia tidak seperti Chiarina yang ia temui pertama kali. Saat ini perempuan itu terlihat lebih pendiam dan seperti memikirkan suatu hal yang berat. Chiron tidak tahu kapan perubahan itu dimulai karena dia terlalu fokus berlatih selama ini dan jarang bertemu dengan Chiarina. "Ah.. Hampir saja saya lupa memberitahu sir. Istvan, saya mengadakan perjamuan teh dengan para nona dan tuan muda bangsawan, saya berpikir untuk mengajak anda bergabung. Sebagai teman saya." Chiron segera mengerti maksud Chiarina. Ia mengulum senyumannya, hatinya berbunga-bunga hanya karena hal kecil seperti itu. 'Benar. Aku adalah teman Chiarina. Satu-satunya temannya.' "Saya akan dengan senang hati menerima undangan anda. Saya tak sabar untuk itu." jawab Chiron. "Terimakasih sir. Istvan. Saya akan memberitahu tanggal acara dan undangan resminya nanti." *** Mata hari terbenam membuat warna indah ke oranye-an di langit. Udara yang berhembus lembut terasa begitu sejuk serta aroma bunga lily yang telah bermekaran tercium sangat wangi memanjakan penciuman. Hari sudah sore menjelang malam. Setelah menyelesaikan pelajarannya yang melelahkan hari ini, Chiarina memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di tamannya. Dia di temani 6 pelayannya berjalan berkeliling taman putri yang di penuhi bunga Lily. Chiarina merasa sangat tenang dan nyaman, rasa lelahnya sedikit berkurang karena aroma bunga itu. Chiarina berpikir untuk kembali berkeliling taman jika dia merasa jenuh dan lelah. Sebelumnya dia sangat jarang mengunjungi taman, bahkan hampir tidak pernah. Dia hanya sering mengunjungi gazebo -tempat ia biasa mengadakan pesta minum teh dengan para nona bangsawan- yang letaknya sangat dekat dengan taman putri. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama karena, sebuah suara dari seseorang yang Chiarina hindari terdengar. "Putri Harriet." suaranya terdengar dekat di belakangnya. Untuk sesaat Chiarina memaku di tempatnya. Chiarina ragu-ragu memutar balik tubuhnya untuk berhadapan dengan orang itu yang tidak lain adalah saudaranya, saudara tiri lebih tepatnya. Chiarina tidak menghindari saudara laki-lakinya tanpa alasan. Tapi karena dia terus merasa gugup di hadapan Etienne, dia takut jika dia melakukan kesalahan yang dilihat langsung oleh Etienne dan membuat pria itu semakin tidak menyukainya. Dia tidak mau Etienne melihat betapa tidak berdaya dirinya lebih dari ini. Bahkan hingga saat ini dia terus berusaha menjadi putri yang dewasa dan sempurna adalah karena Etienne salah satunya. Setelah berbalik menghadap kearah Etienne, Chiarina membungkuk memberi salam kepada Etienne. "Putri Harriet memberi salam kepada yang mulia kerajaan Centurra, semoga anda selalu di berkarkati." Setelah memberi salam Chiarina kembali menegakkan tubuhnya. Matanya tanpa sadar mengamati penampilan Etienne yang begitu tampan dan mempesona dengan pakaian mewahnya dan wajahnya yang sempurna. Chiarina seperti melihat dirinya versi laki-laki saat melihat wajah Etienne. "Apa aku bisa berbicara sebentar denganmu? Ada sesuatu yang ingin ku bahas denganmu." kata Etienne. Chiarina mengangguk samar,"Tentu saja yang mulia. Saya akan menuntun anda ke gazebo di istana saya. Saya biasa mengadakan acara minum teh disana. Selain karena nyaman, saya jadi bisa menikmati udara segar sekaligus dengan wangi bunga yang sedang bermekaran." Sementara Chiarina memandu Etienne menuju gazebo Nya, Chiarina memerintahkan seorang pelayan untuk mempersiapkan teh."siapkan teh untuk ku dan putra mahkota." titah Chiarina pada salah satu pelayan yang langsung di laksanakan oleh pelayan itu. "Saya tidak menduga jika anda akan mendatangi saya. Saya sungguh sangat senang. Pertemuan terakhir kita adalah saat penobatan Chiron. Tapi saya tidak bisa menghadirinya sampai selesai karena saya merasa lelah." Pada dasarnya Chiarina bukanlah tipe gadis yang banyak bicara namun demi Etienne dia belajar bagaimana cara memulai percakapan agar Etienne tidak merasa bosan saat bersama dengannya. Jika boleh jujur, Chiarina mengagumi kakaknya dan sangat ingin berhubungan baik dengannya. Namun sikap Etienne kepadanya membuat harapan itu terasa mustahil. Chiarina percaya tidak ada yang mustahil di dunia ini jadi dia berusaha sekuat yang ia bisa untuk membuat harapannya terwujud suatu hari nanti. Chiarina yakin suatu saat nanti Etienne akan mengakuinya sebagai adiknya, menerimanya dan menyayanginya. "Saya dengar yang mulia sedang memulai bisnis baru dengan adipati agung muda dari keluarga Altair. Saya juga mendengar jika kalian adalah teman dekat." "Tidak ada hal yang istimewa. Itu hanya bisnis biasa." jawab Etienne terdengar cukup dingin. Chiarina mengulum senyum getirnya, selalu seperti ini. Etienne selalu bersikap dingin dan menjaga jarak dengannya seberapa keras dirinya berusaha, dia tidak akan pernah meluluhkan hati Etienne. Chiarina tahu itu tapi dia masih saja ingin berusaha. Mereka telah sampai di gazebo yang Chiarina maksud, tidak lama para pelayan juga datang membawa perlengkapan minum teh. Chiarina membuatkan teh untuk Etienne, "silahkan dinikmati dulu, yang mulia. Mungkin teh buatan saya tidak seenak buatan putri bangsawan lain yang biasa anda coba. Tapi saya sedang belajar agar teh saya terasa lebih nyaman untuk di nikmati." Chiarina memberikan secangkir teh buatannya pada Etienne. Etienne tidak langsung meminum teh itu, dia menatap teh di cangkirnya cukup lama sebelum meminumnya, "Jadi... apa yang ingin yang mulia katakan pada saya?" tanya Chiarina lalu menyesap tehnya. "Tentang bisnis yang kamu katakan sebelumnya. Bisnis ku dengan Athen Everet Altair, aku rasa kami akan memakai istana putri untuk bisnis itu." "Memakai istana putri? Apa itu maksudnya?" "Aku datang menemui mu untuk meminta bantuan mu. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu." kata Etienne. "Tentu saja yang mulia, katakan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu yang mulia." kata Chiarina dengan senyum bahagianya. Ini pertama kalinya Etienne datang meminta bantuan dirinya. Chiarina merasa senang bisa membantu kakaknya. Dia juga berharap dengan ini hubungan mereka bisa sedikit lebih dekat. "Kamu tidak perlu khawatir. Permintaanku tidak sulit. Aku hanya ingin kamu mengizinkan aku menaruh beberapa barang dagangan ku di gudang istanamu." Chiarina mengernyit bingung, "tapi kenapa harus di istana ku, yang mulia? Bukankah istanamu memiliki gudang yang sangat luas?" "Memang ada, tapi gudang itu juga tidak cukup menampung semuanya. Jadi aku hanya ingin meminta izin mu untuk menaruh barang ku disini. Dan mungkin saja beberapa pekerja ku akan sering keluar-masuk istanamu. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu." "Saya tidak keberatan dengan itu yang mulia." kata Chiarina sambil tersenyum tulus. Etienne terdiam sambil menatap wajah tersenyum Chiarina dengan raut wajah yang sulit di baca. Etienne bangun dari duduknya, "kalau begitu aku akan pergi. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu." Chiarina ikut berdiri mengikuti Etienne. Dia memberi hormat kepada Etienne, "senang bisa berbincang dengan, yang mulia." kata Chiarina dengan tubuh dan kepalanya yang menunduk. Etienne menatap Chiarina lagi, meskipun pria itu selalu menampilkan raut wajahnya yang dingin dan tidak terbaca, anehnya raut wajah Etienne sekarang terlihat kesal. Tapi tentu saja Chiarina tidak melihatnya karena kepalanya yang menunduk, "Saudara." Chiarina mengangkat kepalanya segera, "Ya? Yang mulia?" tanya Chiarina bingung. "Kenapa kamu tidak memanggilku 'saudara' ? Kamu biasa memanggilku seperti itu." kata Etienne. Namun Chiarina terlalu tidak peka untuk mengerti maksud ucapan Etienne. Memang benar Chiarina biasa memanggil Etienne dengan sebutan itu. Chiarina pikir Etienne tidak menyukainya jika dia memanggilnya begitu karena hubungan mereka juga tidak dekat. Chiarina hanya tidak ingin Etienne merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Jadi dia berusaha untuk bersikap lebih sopan dan formal kepada Etienne. "Lupakan saja." kata Etienne lagi, tidak menunggu jawaban Chiarina, Etienne bersama dengan Darius -adipati muda yang menjadi ksatria Etienne- Chiarina hanya diam menatap punggung kakaknya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Chiarina menghela napasnya, 'tidak apa Chiarina! Ini sudah bagus!' batinnya menyemangati dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN