"Bagaimana dengan ini? Apa yang kamu suka?" Chiarina menunjuk ke jubah merah, terlihat sangat mewah dengan perpaduan warna hitam, sama seperti penampilan Chiron, mata merah pria itu dan rambut hitamnya.
Sekarang mereka berada di ruang tamu istana putri bersama Countess Archer yang merupakan pemilik butik yang sejak dulu melayani kerajaan. Tugasnya adalah menyediakan semua pakaian anggota kerajaan, tentu saja itu adalah tugas yang tak mudah, tetapi jumlah pembayaran yang diberikan oleh kerajaan juga tidaklah kecil.
"Itu adalah pilihan yang bagus tuan putri, itu adalah salah satu jubah terbaik yang saya buat dalam tahun ini." puji Countess pada pilihan Chiarina.
Chiarina menoleh kearah Chiron yang berdiri tidak jauh darinya, berbeda dengan ekspresi wajah Countess yang tersenyum cerah, Chiron terlihat memaksakan senyumannya.
"Kamu tidak menyukainya?" Chiarina bertanya lagi.
"Aku... Tidak kok, aku menyukainya. Aku suka dengan semua pilihan putri Harriet." kata Chiron masih dengan senyumnya yang di dipaksakan.
Sebelumnya mereka telah sepakat jika Chiron akan memanggil Chiarina dengan sebutan 'putri Harriet' sama seperti orang lain memanggil Chiarina jika ada orang lain di sekitar mereka, walaupun awalnya Chiron enggan, tapi Chiarina bersikeras, karena itu juga demi Chiron.
Chiarina menghela nafasnya, "Kamu tidak menyukainya. Jadi jubah seperti apa yang kamu inginkan?" Mau dilihat dari manapun, terlihat jelas jika laki-laki itu tidak menyukai pilihan Chiarina dan Chiarina tahu itu.
Chiron buru-buru mengoreksi, "tidak, itu tidak benar! Aku memang menyukai semua pilihan tuan putri. Aku suka dengan jubah yang tuan putri pilihkan untukku, itu terlihat sangat mewah. Aku tahu aku sangat bodoh dan lancang. Tapi aku lebih menyukai jubah biru di samping jubah merah pilihan putri. Jubah itu mengingatkanku pada tuan putri. Jadi..."
Chiarina melirik kearah jubah biru yang di maksud oleh Chiron. Jubah itu tidak terlihat semewah jubah pilihan Chiarina yang dihiasi permata ruby. Itu adalah jubah sederhana berwarna biru dipadu dengan sedikit warna emas yang berasal dari benang emas membentuk lambang kerajaan Centurra di belakangnya.
"Jubah ini terlihat seperti jubah biasa, kamu akan memakainya selama menjadi ksatria kerajaan, kamu yakin dengan pilihanmu?"
"Iya saya yakin. Saya sangat suka dengan warnanya, warna birunya seperti warna mata tuan putri dan warna emasnya seperti rambut tuan putri, mereka terlihat sangat indah. Saya ingin saat saya memakainya, saya akan selalu mengingat tuan putri yang merupakan alasan saya untuk bertarung dan satu-satunya orang yang harus saya lindungi. Ta-tapi... Saya tidak masalah dengan jubah merah pilihan putri jika tuan putri tidak mengizinkannya."
Bukannya Chiarina tidak mengizinkannya, dia hanya merasa heran mengapa Chiron sebegitu nya memikirkan dirinya hanya untuk sebuah jubah. Apalagi jubah itu akan sangat penting untuknya, bukan hanya untuk dimasa sekarang.
"Bukan berarti itu tidak boleh, kamu tentu saja bebas memilih yang kamu suka. Aku hanya bertanya takut kamu akan menyesali keputusanmu. Bisa kamu lihat, tidak ada yang istimewa dan mewah dari jubah biru itu."
"Tentu saja tuan putri, saya tidak akan menyesali keputusan saya." Chiron menjawab dengan yakin.
Chiarina menghela napasnya, Chiron terlihat sangat yakin dengan keputusannya yang sudah bulat. Tidak ada yang bisa Chiarina lakukan tentang itu. Sejujurnya Chiarina juga tidak terlalu mempermasalahkan jubah apa yang dipilih oleh Chiron. Hanya saja dia merasa sedikit bersalah jika Chiron mendapatkan jubah yang tidak istimewa. Bagaimanapun juga setidaknya dia harus memberikan jubah yang mewah dan indah sebagai hadiah pertamanya menjadi ksatria resmi kerajaan. Chiarina merasa memiliki kewajiban untuk itu.
"Jika itu mau mu maka aku tidak bisa melarang mu." kata Chiarina yang mendapat senyuman cerah dari Chiron. Chiarina tertawa pelan melihatnya, ia kembali beralih ke countess Archer. "Kami akan mengambil yang ini," kata Chiarina pada Countess.
Countess memasang senyum bisnisnya, "tentu saja tuan putri, jubah ini juga sangat bagus seperti yang dikatakan oleh sir. Istvan, jubah ini sangat indah seperti tuan putri, meskipun terlihat sederhana namun tampak elegan. Saya memuji pilihan sir. Istvan." Chiarina tidak tahu apa Countess benar-benar memuji atau hanya berkata manis, tapi Chiarina tidak peduli akan hal itu. "Saya akan menyiapkan kalau begitu." lanjutnya.
Sementara menunggu countess menyiapkan jubah untuk Chiron, Chiarina menghampiri Chiron. Hari ini Chiron mengenakan pakaian formal berwarna hijau dan hitam, tidak seperti sebelumnya, Chiron hanya mengenakan pakaian sederhana dari kain yang kurang berkualitas. Kini dan seterusnya Chiarina resmi mensponsori segala kebutuhan Chiron.
"Apa kamu gugup?" tanya Chiarina, dia melirik kearah Chiron dan menggodanya.
"Sedikit. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan mempermalukan mu." jawab Chiron.
Chiarina mendengus, "kamu tahu bukan itu maksud ucapan ku!"
Chiron menyengir lebar, "tentu saja aku tahu. Aku hanya ingin mengatakannya."
Chiarina terdiam, raut wajahnya mendadak murung, hal itu juga membuat Chiron terdiam dan khawarir. "ada apa?" tanya chiron.
Chiarina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Meskipun begitu, Chiron tidak yakin dengan jawaban Chiarina. Dia ingin bertanya lagi namun kedatangan countess menghentikannya.
"Mari tuan Istvan, para pelayan akan membantu anda untuk bersiap. Dan anda juga bisa bersiap sekarang tuan putri, s" kata Countess yang di setujui oleh Chiarina.
"Kalau begitu saya serahkan semuanya pada anda, countess Archer."
Setelah mengatakan itu Chiarina diikuti para pelayannya pergi meninggalkan Chiron yang dibawa oleh pelayan countess ke kamar di samping tepat di samping ruang tamu untuk berganti pakaian.
Chiarina kembali ke kamarnya, begitu sampai para pelayan langsung sibuk mendandani Chiarina. Chiarina memilih gaun yang cukup simpel, gaun panjang yang terlihat sangat elegan yang tidak mengembang berwarna coklat s**u. Bersamaan dengan gaun, Chiarina juga mengenakan kalung dan anting. Dia mengenakan kalung dengan sebuah liontin berlian berbentuk kacang almond yang berukuran satu ibu jemarinya. Tentu saja itu kecil, dia adalah anak berusia 10 tahun. Lalu anting emas putih yang dihiasi berlian kecil-kecil.
'Putri terlihat lebih dewasa dari umurnya.' bisikan pelayan seperti itu sudah biasa Chiarina dengar. Chiarina tidak tersinggung, dia justru menganggap itu sebagai pujian. Bukankah bagus menjadi wanita yang dewasa? Chiarina tidak pernah menganggap dirinya masih anak kecil setelah ia di pindahkan dari istana utama.
Rambut Chiarina di gerai, rambutnya yang berwarna emas terlihat bersinar di bawah cahaya matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Dengan mahkota kecil yang di kenakan di kepalanya, Chiarina benar-benar terlihat seperti seorang dewi. Kecantikannya sudah sangat mencolok sejak dia dilahirkan dan semakin bertambah setiap harinya.
"Yang mulia, apa yang anda ingin kenakan untuk riasan anda?" tanya seorang pelayan padanya.
Chiarina tidak biasanya berias, dia sudah cantik alami. Bibirnya sudah berwarna merah muda tanpa memakai apapun, kulit wajahnya pun terlihat sangat mulus dan halus dengan rona merah muda di pipinya. Bulu matanya lentik dan tebal pada dasarnya. Chiarina tidak pernah memerlukan riasan apapun di wajahnya.
Namun karena ini adalah acara resmi, para pelayan bertanya untuk berjaga-jaga jika Chiarina ingin dirias.
"itu tidak perlu. Aku tidak akan memakai riasan apapun sampai hari debut ku nanti." jawab Chiarina.
Para pelayan mengangguk mengerti lalu kembali menata rambut Chiarina. Chiarina menatap pantulan wajahnya di cermin. 'Aku tidak tahu kenapa aku begitu percaya diri. Tapi karena aku anak ibu dan ibu adalah wanita yang sangat cantik. Aku yakin dengan wajahku.' pikir Chiarina dalam hatinya.
****
"Yang mulia putri Chiarina memasuki ruangan." teriak seorang penjaga pintu mengumumkan kedatangan Chiarina.
Pintu di buka dan semua orang yang menoleh melihat pintu yang dibuka. Tak lama Chiarina masuk ke dalam ruangan dengan tatapan semua orang yang tak lepas darinya.
Chiarina menggigit bibir bagian dalamnya, dia tidak ingin seorang pun menyadari ke gugupannya. Tatapan para bangsawan yang melihat kearahnya dengan lekat, pendeta, anggota kerajaan dan para ksatria membuat Chiarina hampir saja memaku di tempatnya. Namun ia tahu jika dia tenggelam dalam ketakutan dan kegugupannya dia malah hanya akan memalukan keluarganya, keluarga kerajaan dan juga Chiron. Dia tidak ingin menghancurkan acara pertama Chiron hanya karena dirinya yang pengecut.
Chiarina menatap lurus ke depan dimana disana sudah ada Chiron yang sedang berlutut membelakanginya menghadap kepada raja dan pendeta. Yang berdiri di bawah singgasana raja.
Ruangan yang berwarna serba putih itu membuat suasana terasa semakin suci dan spesial, sementara para bangsawan hanya diam dan menyaksikan.
Chiarina berjalan sampai berada sejajar dengan Chiron. Chiarina membungkuk memberi hormat kepada sang raja. "putri Harriet Chiarina Lopez memberi salam pada yang mulia raja dan ratu. matahari kerajaan. semua berkah untukmu." kata Chiarina masih dengan tubuhnya yang menunduk.
Raja mengangkat tangannya, "aku menerima salam mu, putri ku." kata Raja membalas salam Chiarina. Sedangkan ratu yang duduk di samping raja hanya mengangguk samar. Di samping singgasana raja, Etienne berdiri, matanya tak lepas menatap Chiarina, Chiarina bahkan bisa merasakan tatapan intens itu tanpa melihatnya.
Chiarina kembali berdiri tegak dan merubah posisinya dari menghadap kearah raja menjadi melihat kearah Chiron.
Raja bangkir dari tempat singgasananya, berjalan mendekati Chiron yang masih bertekuk lutut dengan wajah yang menunduk dalam. Ia mengambil pedang yang berasal dari komandan pasukan yang berdiri bersebrangan dengan pendeta.
Upacara pun dimulai saat raja meletakan pedangnya di atas kepala Chiron. "Chiron Istvan, ucapkanlah janji setia mu kepada kerajaan Centurra dan bersumpah akan melindungi putri Harriet bahkan meskipun itu mengorbankan nyawamu. Bersumpah lah jika kamu bersedia melayani tuan mu dan kerajaan Centurra tanpa keraguan atau pertanyaan."
"Saya Chiron Istvan besumpah setia pada kerajaan Centurra, saya Chiron istvan bersumpah akan melindungi tuan putri----"
*
*
*
*
Chiarina melepaskan gaunnya sendiri dan menyisakan gaun dalamannya. Ia membiarkan gaunnya tergelatak begitu saja di lantai. Lalu dengan terburu-buru ia melepaskan semua perhiasannya dan menaruhnya ke atas meja.
Chiarlna melemparkan dirinya ke atas ranjang. Pikirannya kembali mengingat upacara pengangkatan Chiron menjadi ksatria dan bangsawan secara resmi di kerajaan Centurra.
'--- saya bersumpah akan melindungi putri Harriet Chiarina Lopez dengan nyawa saya. Saya, Chiron Istvan bersumpah akan melayani tuan saya dengan mata dan telinga tertutup, tanpa keraguan maupun pertanyaan.'
Kata-kata sumpah Chiron terdengar sedikit aneh dan berbeda namun Chiarina tidak tahu dimana letak keanehannya.
Chiarina menghela napasnya, setelah upacara itu dia tidak bisa berbicara dengan Chiron karena para ksatria dan bangsawan lain mengkerumuni Chiron. Chiarina hanya menerima sapaan para bangsawan dan menyelinap keluar acara. Toh, Chiarina juga tidak merasa di perlukan lagi disana. Apalagi dia terus saja di tatap oleh saudaranya, Etiennne yang membuatnya bertambah tidak nyaman.
"Aku tidak ingin mengacaukan acara perkenalan Chiron dengan para bangsawan dan teman ksatrinya. Lebih baik aku pergi agar Chiron lebih bisa fokus menyapa mereka tanpa memikirkan ku." gumam Chiarina sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal.
To Be Continued