Bab 4: TakdirNya

1138 Kata
"Kebahagiaan yang sesungguhnya akan menghampiri mu bila engkau terima ketetapan dan takdir Allah **** “Abi tidak terima!" "Aku juga tidak terima Bi." Hafna menarik nafas dalam. Ia sudah tahu reaksi dua pria di hadapannya akan seperti ini. Mereka tentu tidak akan setuju jika Hafna bersedia di madu, tidak akan! Namun Hafna tetap pada pendirian. Ia sudah memikirkannya masak-masak. Dan kepetusan Hafna sudah bulat. "Ini sudah menjadi keputusan Nana, Bi. Nana akan tetap sama mas Gufran. InsyaAllah Nana ikhlas." "Tapi Aa' tidak ikhlas. Kamu udah gila Na? Bagaimana bisa kamu iklas membagi suamimu dengan perempuan lain?" "Kamu dengar itu Na, baik abi maupun Razzan tidak akan membiarkan kamu kembali kepada pria itu. Surat perceraian akan segera... " "Abi." Bukan Hafna yang menyela, tapi Umi. Wanita paruh baya itu baru saja muncul dari balik dinding dapur. Beliau membawa nampan berisi dua gelas teh di atas nya. Dengan tergesa Umi meletakan nampan itu di atas meja, dan menghadap sang suami. "Hargai keputusan Nana, Bi." "Abi hanya ingin yang terbaik untuk anak kita. Abi hanya ingin melihat Nana bahagia, Mi. Dan bersama pria itu Nana hanya akan." "Nana bisa bahagia dengan Mas Gufran." "Dengan adanya orang ketiga diantara kalian?" Razzan berdecak kesal. Bagaimana Hafna bisa berpikir akan bahagia dengan berbagi suami. "Nana akan bahagia, A'. Karna Nana yakin ini ketetapan Allah. Allah ingin Nana menjadi wanita yang mulia. Nana akan memanen ladang pahala karena ke ikhlasan ini, A'." Razzan bungkam, Abi juga tidak lagi menyela. Wajah paruh baya abi yang semula tegang melunak, meski masih terlihat jelas raut tak suka disana. berbeda dengan Umi yang tersenyum haru. Umi bangga memiliki anak yang seperti Nana. Betapa baiknya Allah karena telah menganugrahkan dirinya seorang putri yang soleha lagi bijaksana. Nana kecilnya kini telah tumbuh dewasa. "Nana benar, Bi. Ini adalah takdir dan ketetapan Allah. Hati kita akan terasa lapang dan bahagia jika kita menerima nya dengan ikhlas juga lapang d**a. Gufran menikah lagi pasti ada alasannya. Apapun itu, Umi masih percaya pada Gufram. Jadi Umi mohon, biar kan Hafna tetap bersama Gufran ya Bi?" pinta Umi. Wanita paruh baya itu kemudian larut dalam kesedihan dan air mata. Hafna yang melihat kesedihan sang ibu juga ikut menangis padahal sedari tadi ia sudah berusaha untuk tetap kuat. Hafna bangga pada Umi yang selalu mendukungnya. Allah, terima kasih telah menjadikan ku terlahir dari rahim wanita hebat seperti beliau. Syukur Hafna seraya menatap lekat sang Umi. Abi menunduk, butuh beberapa saat bagi pria itu untuk mencerna ucapan sang istri. Dan pada akhirnya, meski dengan hati yang berat abi merelakan. "Umi benar. Maaf kan Abi, Na. Kamu boleh kembali pada Gufran." Hafna mengusap airmatanya dan tersenyum pada abi. Namun senyuman itu tak bertahan lama manakala melihat Razzan bangkit dari sofa tanpa mengatakan sepatah kata. Wajah pria itu keruh menandakan bahwa dirinya tidak akan pernah menganggap Gufran sebagai adik iparnya lagi. Ia juga tak habis pikir dengan kedua orang tuanya. Bagaimana mereka bisa melepaskan Hafna lagi pada pria b******k itu? "Aa'... " "Biarkan saja Na. Biar nanti Umi yang memeberikan pengertian pada Aa' mu." Hafna mengangguk lemah. Ia berharap semoga saja Razzan lekas menerima keputusan nya. Bagaimanpun juga Hafna tak ingin hubungannya dengan sang abang menjadi buruk. **** "b******k!" Bertubi-tubi pukulan mendarat mulus di wajah Gufran. Ia tergeletak tak berdaya di atas tanah dengan darah segar mengalir di sudut bibir, pelipis dan juga hidungnya. Gufran hanya pasrah. Ia pantas mendapat pukulan ini. Atau mungkin lebih? Bajingan! Berani sekali kamu menyakiti adik ku!" Teriak pria yang tak lain adalah Razzan. Mata pria jakung itu memerah. Tangan nya mengepal kuat hingga buku buku jari nya memutih. "Maafin aku A’" “Maaf? Cuih.” Razzan meludah tepat disamping Gufran. "Aku tidak akan membiarkan Hafna kembali kepada mu, b******n. Ceraikan aku atau aku akan membunuh mu detik ini juga." "Bunuh aku!" Razzan tertawa sumbang. Ia salut melihat keberanian Gufran. Sedang tak berdayapun pria itu masih dengan berani menentang dirinya. "Benarkah?" "Ya, aku lebih baik mati dari pada menceraikan Hafna." "Meski dia tak akan menerima mu?" Gufran berusaha bangkit dengan menahan rasa ngilu di seluruh wajahnya. Dengan pandangan sayu ia tatap sang abang ipar. "Jika dia meminta aku pergi maka akan aku lakukan. Tapi jika tidak, aku tidak akan pernah menceraikan Hafna." "Dan sayang nya Hafna ingin bercerai dari mu." Bohong Razzan. Mendengar hal itu Gufran tak sanggup lagi mengangkat wajah.Ia menahan kepedihan yang kini menjalar di hatinya. Seluruh rasa ngilu yang ia rasakan di wajah tergantikan dengan rasa sakit di hati. Dan rasanya jauh lebi sakit. "Pergi lah segera dari kehidupan Hafna. Pria tidak bertanggung jawab seperti mu tidak pantas untuk adik ku. Bahkan kamu sama sekali tidak datang kerumah meminta maaf pada ku, pada Abi dan Umi." Lanjut Razzan lagi. Setelah itu ia berlalu, meninggalkan Gufran yang kembali terhuyung ke tanah. Gufran semakin tak berdaya. Sekedar mengangkat wajah saja rasanya ia tak sanggup. Ucapan Razan tidak salah sama sekali. Ia tidak bertanggung jawab. Ia b******k. Ia b******n. Seharusnya Razan membunuhnya saja agar Hafna bisa hidup bahagia tanpanya. Allah, apa boleh aku menyesal karena menikahi Syafa? Racau Gufrandi dalam hati. Apa benar ia menyesal? Apa benar ia telah mengambil keputusan yang salah? Tidak Gufran, engkau telah melakukan yang terbaik. Niat mu baik, dan insya Allah engkau akan mendapatkan balasan yang baik pula. Ini hanya ujian kecil dari Allah, bersabarlah. Namun bisikan lain dihatinya mampu menepis segala keraguan dan sesal yang sempat terlintas. Mungkin benar, hati nurani Gufran benar. ini hanya ujian kecil dari Allah untuk mengangkat derajatnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar. Semua akan baik-baik saja. **** Gufran berjalan dengan tertatih menuju teras rumah nya. Sekuat tenaga ia mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terasa menusuk-nusuk hingga ke tulang. Beruntung ia masih bisa sampai ke rumah dengan selamat. Tidak sepunuhnya selamat, karena memang faktanya ia tak baik-baik saja. "Assalamualaikum." Gufran mengucap salam seraya mendorong pintu utama. Tidak dikunci. Padahal kemarin-kemarin Syafa akan selalu mengunci puntu apalagi saat menjelang magrib seperti ini. "Waailaikumsalam. Mas Gufran!" Gufran terperanjat kala mendengar suara itu. Ia mengangakat wajahnya yang tertunduk lesu. Disana, di ruang keluarga, ia dapat melihat wajah seseorang yang sangat ia rindukan dua hari ini, Hafna. Wanita itu tampak terkejut melihat kondisi Gufran, begitupun dengan Syafa yang juga ikut berdiri dan berjalan mengekori Hafna. "Mas apa yang terjadi? Kenapa wajah mu seperti ini." Gufran bergeming. Ia tak berniat membalas pertanyaan Hafna. Dirinya terlalu fokus dengan wajah cantik sang istri di hadapannya ini. Ia sangat ingin memeluk Hafna dan membisikan beribu kata maaf, walau faktanya sebanyak apapun ia mengucapkan kata itu, apa yang telah ia lakukan tidak akan mampu menyembuhkan luka dihati sang istri. "Mas, Jawab!" "Semoga ini nyata. Mas tak ingin kehilangan kamu Na. Mas ingin selalu bersama kamu Na. Tolong maafin Mas. " Bukk Tubuh lemah Gufran tiba-tiba tumbang. Pria itu terjatuh di lantai, tak sadar kan diri. "Syafa, cepat telpon ambulance!" "Iya, mbak." Dengan langkah cepat Syafa melakukan apa yang diperintahkan Hafna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN