Elfira sudah rapi siap untuk ke kantor. Setelah semalam menangis tiada henti hingga entah pukul berapa dia dapat tertidur. Kini, Elfira kembali akan memulai aktivitasnya karena kemarin dia mengambil cuti sehari untuk menghilangkan rasa stres dan pening di kepalanya. Bukannya bisa menghilangkan malah semakin stres saja, bahkan dia drop. Elfira berjalan ke luar kamar seraya membawa tas, ponsel serta kunci mobilnya. Dia berjalan perlahan menuruni anak tangga. Sepertinya, pagi ini dia tidak akan ikut bergabung sarapan bersama kedua orang tuanya. Dia tak ingin merasa pusing mendengar pembahasan ayahnya tentang perjodohan tersebut. Maka dari itu, dia pun segera menuju garasi. “El, kamu sudah akan berangkat kantor, ya, Nak?” Baru saja dia akan ke luar ke garasi. Suara bundanya menghentikan la

