Informasi Gianna yang Bocor

1083 Kata
"Selamat malam, Master Leo. Apa ada yang bisa kami sediakan untuk Anda?" sambut Roberto Malvis dengan keramah tamahan pura-pura. Jantungnya berdegup kencang karena harus melindungi keberadaan keponakannya yang buron dari mafia bengis penguasa kota New York tersebut. Alis tebal Leonardo Caprini terangkat sebelah kiri. "Mister Roberto, tolong beri tahukan kepadaku di mana Gianna, keponakanmu yang cantik itu berada!" ucapnya serius. "Ohh ... ada apa dengan Gia? Apa Anda mengenal keponakanku secara personal? Sebenarnya dia gadis yang pemalu!" kelit Roberto dengan sandiwara yang rapi. Dia bagaikan sedang meniti tali tipis di atas jurang. "Jangan bermain-main denganku, Tuan. Kau akan tahu akibatnya kalau aku sudah marah. Night club kecilmu ini bisa kuratakan dengan tanah dalam sekali perintah saja!" ancam Leonardo dengan sorot mata keji. Sylvia Torens yang mendengar ancaman mengerikan dari Leonardo pun menyikut keras perut suaminya. "Rob, apa kau sudah kehilangan otakmu? Jangan lindungi Gianna lagi, itu tak sepadan dengan kerugian yang bisa kau tanggung!" bisiknya kasar. "Nyonya Malvis, Anda mungkin tahu di mana keponakan tersayang kalian. Ayolah katakan saja, tak usah ragu-ragu!" desak Leonardo kepada istri muda Roberto Malvis itu. Namun, tatapan mata suaminya mengisyaratkan larangan keras. Maka Sylvia pun tersenyum manis penuh kepalsuan. "Ahh ... Master Leo, sudah beberapa hari ini Gia tidak ke club. Dia bilang sedang sibuk menjelang kelulusan kuliahnya. Kami pun tidak memaksa Gia bekerja di sini pastinya!" kelit Sylvia yang justru menimbulkan persoalan baru karena mulut besarnya itu. "Ohh ... Gianna berkuliah? Di mana kampusnya kalau begitu?" kejar Leonardo tak mau menyerah. Roberto melempar tatapan membunuh ke istri keduanya itu. Dia kesal karena mafia bengis itu pasti bisa menemukan Gianna di kampus dengan mudah. "Kampusnya di Manhantanville, Sir. Columbia Business School!" jawab Sylvia dengan sengaja tanpa mengindahkan ketidak setujuan suaminya. Dia membenci Gianna dan kemalangan gadis itu akan menjadi kesenangan baginya. "Great! Terima kasih infonya, Madam. Saya sangat menghargai kebaikan Anda!" Leonardo menjentikkan jari memberi kode kepada Carlos untuk memberikan segepok uang dolar kepada Sylvia yang matanya langsung hijau. Roberto Malvis rasanya ingin mencekik saja perempuan matre yang dia nikahi itu. 'Kasihan Gia, kuharap dia bisa bertindak cerdik dan terlepas dari jeratan Leonardo Caprini!' batinnya prihatin. Setelah mendapatkan informasi yang berharga mengenai Gianna, rombongan klan Caprini pun meninggalkan Excel VVIP Night Club. Di dalam limousine hitam yang melaju menuju hunian Leonardo, big boss mafia itu bertitah kepada Carlos Guilermo, "Tempatkan anak buah kita dalam mode penyamaran seperti warga sipil di sekitar kampus Gianna. Aku ingin gadis itu diringkus dengan cara apa pun secepatnya, Carlos. Urusan kami belum selesai!" "Baik, Master Leo. Saya segera laksanakan pembagian tugas tersebut. Mungkin ada baiknya Anda fokus dengan kasus Crazy Fred yang lebih genting saat ini!" jawab Carlos. Dia kurang setuju Leonardo terpecah perhatiannya ke perempuan penari erotis itu. "Hmm ... kau benar. Kuserahkan urusan Gianna Malvis ke tanganmu, Carlos. Kutunggu kabar baiknya segera!" balas Leonardo. Dia pun tenggelam dalam pikirannya sendiri sepanjang sisa perjalanan pulang. New York dengan segala gemerlap dunia malam membuat para penghuninya terlena. Namun, bagi orang-orang tertentu yang malang seperti Gianna justru tak dapat beristirahat dengan tenang. Malam ini setelah meminjam uang ke pamannya, Gianna segera berbelanja makanan siap saji dan barang kebutuhan pribadi secukupnya. Dia tidak pulang ke apartemen tempat tinggalnya yang biasa melainkan menginap di losmen seharga 25 dolar semalam yang berada di area dekat kampusnya. Hari-hari menjelang wisuda sungguh menegangkan bagi Gianna. Tadinya dia sangat lega karena berhasil menamatkan kuliah di Columbia Business School dengan bantuan beasiswa. Namun, pertemuan tak terduga bersama Leonardo mengacaukan segalanya. Di dalam kamar losmen kecil itu Gianna berbicara sendirian sambil menikmati sekaleng soda dingin. Rambut panjang warna cokelatnya dicepol di puncak kepalanya dengan karet pengikat warna putih. "Aku sudah mengatasi efek samping pemerkosaan mafia busuk itu dengan obat pencegah kehamilan. Perasaan terluka karena keperawananku direngut paksa juga telah kuabaikan. Entah kenapa rasa kosong itu masih saja menggelanyuti hatiku?" ucap Gianna lirih sembari memeluk kakinya yang tertekuk. Memori tentang malam penuh derita yang dialaminya bersama Leonardo Caprini membuat Gianna bergidik spontan. Dia merasakan detak jantungnya berpacu karena teringat akan ciuman-ciuman panas pria mafia itu di sekujur tubuhnya. "Huhh ... aku benci pria kasar itu. Jangan sampai kami bertemu lagi!" kesal Gianna. Dia pun menghela napas lalu pindah dari samping jendela kamar losmen sederhana itu ke tempat tidur berukuran queen size di tengah ruangan. Gianna berbaring menatap langit-langit kamar berpencahayaan remang-remang itu. Perlahan-lahan kelopak matanya menjadi berat hingga terkatup rapat. Sebuah malam yang tenang dengan istirahat panjang bagi gadis yatim piatu itu sampai keesokan pagi tiba. Hari ini waktunya pengambilan seragam wisuda bagi para mahasiswa Columbia Business School di kantor tata usaha kampus. Gianna harus datang mengambil pakaian hitam beserta toga itu. Dengan jaket, topi kupluk putih, kacamata hitam, dan masker penutup wajah dia berangkat ke kampus. Sahabatnya Jordin Wesley, gadis asal Nevada itu menunggunya di taman kampus untuk mengambil seragam wisuda bersama-sama. Gianna pun naik bus ke kampus dan turun di halte depan tempat kuliahnya. Dia berusaha bersikap normal serta membaur dengan mahasiswa lain yang berjalan memasuki halaman kampus. Dari balik kacamata hitamnya Gianna tetap memasang mata waspada kalau-kalau ada pria mencurigakan yang berniat jahat seperti sebelumnya. Jordin melambaikan tangan ke arah Gianna dari bangku kayu panjang di taman kampus, dia mengenali sosok sahabatnya meskipun penampilan Gianna tak seperti biasa. "Hey, Girl. Ada apa denganmu hari ini? Apa kau sedang terserang flu?" sapanya dengan tatapan penasaran. "Iya, sedikit flu. Ayo kita langsung ke kantor tata usaha saja, Jordin!" jawab Gianna berbohong. Dia tak boleh terlalu lama berada di tempat umum. Bisa jadi kaki tangan mafia b******k itu sedang mengintainya dari sudut tersembunyi. Gadis itu celingukan waspada sembari cepat-cepat mengayunkan langkahnya di sebelah Jordin Wesley. Mereka berdua dilayani dengan cepat oleh petugas yang mengurusi seragam wisuda. Setelah menanda tangani daftar wisudawan/wisudawati yang telah meminjam toga, kedua gadis itu pun meninggalkan kantor tata usaha kampus. "Bagaimana kalau kita brunch di MacDonnals seberang kampus, Gia? Aku belum sempat sarapan tadi!" ajak Jordin yang segera disetujui oleh Gianna. Losmen murah yang dia sewa hanya menyediakan tempat tidur saja tanpa fasilitas lain seperti sarapan atau room service. Gianna berencana pindah dari situ seusai acara wisuda. Lagipula dia ingin langsung mencari pekerjaan setelah ijazah sarjana bidang bisnis dari kampusnya dirilis. Tanpa disadari oleh Gianna, beberapa pria berpakaian sipil yang membaur dengan mahasiswa maupun warga sekitar sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mereka juga ikut masuk ke gerai fast food yang dipilih oleh kedua gadis tersebut. "Kami menemukan gadis itu, Carlos. Big boss akan senang!" lapor salah satu pria yang menguntit Gianna melalui ear phone wireless di telinganya. Carlos pun menyeringai puas. "Good job. Pastikan kalian meringkusnya tanpa menimbulkan huru hara!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN