Tertangkap Basah

1059 Kata
"BigMac satu, kentang goreng size large dengan diet soda, Bro!" pesan Gianna seperti biasanya. Kemudian Jordin juga memesan paket double cheese burger favoritnya. Kedua gadis itu duduk di meja dekat kaca dinding sisi barat gerai fastfood berlogo M besar warna kuning itu. Mereka menikmati burger sembari mengobrol santai. Kali ini terpaksa Gianna membuka masker penutup wajahnya karena harus makan. Namun, kaca mata hitam masih bertengger di atas hidung mancung mungilnya. "Btw, Gia apa kau sudah mendapatkan tempat kerja setelah wisuda kelulusan sarjana?" tanya Jordin. Sahabatnya mengendikkan bahu, Gianna pun menjawab, "Aku mengirim beberapa lamaran pekerjaan yang menerima fresh graduate. Gajinya tidak terlalu tinggi karena memang sebagian besar statusnya magang. Mungkin hari-hari ke depan akan ada feed back via email, Jordin. Bagaimana denganmu?" "Ohh ... langkah yang bagus, Gia. Aku masih belum mencoba satu pun, tetapi bibiku sempat menawarkan pekerjaan asisten akuntan di kantornya. Mungkin akan kuterima sebagai pengalaman kerja!" sahut Jordin sembari mengunyah double cheeseburger. Tiba-tiba dua pria bertubuh kekar dengan jaket kulit dan celana jins menghampiri meja mereka. "Hey, Ladies. Jangan panik, aku ingin bicara sebentar dengan Nona Gianna!" ucapnya yang justru membuat alarm di kepala Gianna sontak meraung panik. "Damn it! Please, tidak lagi—" gumam Gianna lemas. Dia yakin dua pria itu kaki tangan Leonardo Caprini. Apa yang kemarin belum puas juga merengut kesuciannya? pikir Gianna. Jordin yang tak tahu apa-apa sontak menatap sahabatnya dan bertanya, "Siapa mereka, Gia? Apa kau berutang sesuatu?" "Ohh ... tidak, Jordin. Hmm ... aku akan bicara di luar sebentar. Kau tetaplah di sini ya, jangan menyusulku!" tegas Gianna. Dia hanya tak ingin menyeret sahabatnya dalam perkara pelik yang dihadapinya sekarang. Setelah Gianna dikawal dua pria tadi menuju ke depan gerai MacD. Pria berkumis tipis berkacamata hitam itu mulai berbicara, "Ikut kami tanpa membuat keributan. Kau tak ingin ada yang terluka karena peluru nyasar 'kan?" Gianna bersedekap menatap tajam pria itu. "Ckk ... aku tak mau. Apa urusanku kalau kalian menembaki warga sipil?!" tantangnya berani. "Hell, dasar jalang kecil!" umpat Rico. Dia memberi kode kepada rekannya untuk menggandeng paksa Gianna di sisi kanan kiri gadis itu. "Hey ... hey, turunkan aku. Kalian pikir aku ini apa?!" teriak Gianna meronta-ronta agar dilepaskan dari himpitan dua pria kekar tersebut. Jordin yang melihat dari balik dinding kaca gerai fastfood itu menggaruk-garuk kepala kebingungan. Dia bimbang harus mengejar dan membantu Gianna atau tidak. Tadi sahabatnya telah berpesan untuk tidak keluar menyusul Gianna. "Apa yang terjadi dengan Gia?" ucap Jordin serba salah. Sementara itu Gianna dijejalkan ke dalam mobil minivan. Gerry berseru kepada rekannya di balik kemudi, "Jalankan mobilnya cepat!" Pintu minivan bergeser menutup seiring roda mobil bergulir cepat. Kelompok yang diperintahkan oleh Carlos Guilermo untuk meringkus Gianna sukses besar. Wanita itu berhasil mereka tangkap dan dibawa ke kediaman big boss. Leonardo Caprini yang telah merindukan sosok penari erotis itu sejak dia kabur dari penthouse pun kembali ceria. Dia berkata kepada anak buah kepercayaannya, "Aku tak ingin diganggu hingga besok pagi. Tangani urusan pekerjaanku sementara, aku percaya kepadamu, Carlos!" Dia meninggalkan kantor pusat klan Caprini di Seventh Avenue lalu naik limousine untuk pulang. Bahkan, membayangkan akan bersama lagi dengan Gianna Malvis sudah membuat celana Leonardo mendadak sempit. Pria itu pun menyulut sebatang cerutu dari kotak penyimpanan dalam mobil untuk meredakan ketegangan sarafnya. "Aku tak menyangka anak buahku bergerak cepat menemukan Gia. Awas saja kali ini, tak akan kubiarkan dia melarikan diri dari penthouse yang dijaga ketat pengawal profesional!" ujar Leonardo sendirian di dalam mobil yang melaju kencang di jalanan kota New York menjelang tengah hari. Setibanya di tower hunian exclusive tempat tinggalnya yaitu Royal Huntington Place, Leonardo bergegas melintasi lobi menuju lift. Dia menekan tombol lantai 30. Saat pintu lift terbuka, belum ada tanda-tanda wanita yang ditunggunya tiba. "Di mana rekan-rekan kalian yang menjemput Gianna?" tanya Leonardo ke para pengawal yang berjaga di depan pintu penthouse. "Sedang berada di jalan menuju ke mari, Master Leo!" jawab Ted Loboski mewakili teman-temannya yang takut salah memberi jawaban. Leonardo pun mengangguk paham. Dia membuka pintu penthouse dengan kode angka acak pribadinya. "Bawa dia masuk kalau sudah sampai!" titah Leo singkat sebelum masuk ke dalam. "Baik, Sir!" jawab gerombolan pengawal yang berjumlah enam orang itu. Tak berselang lama pintu lift terbuka kembali disertai teriakan protes Gianna yang diseret oleh dua pria kekar kaki tangan Leonardo. "Big boss di dalam, bawa masuk saja!" tukas Ted Loboski sesuai perintah Leonardo. Jantung Gianna mencelos ketika dia harus kembali ke tempat yang menyisakan kenangan buruk beberapa hari lalu. Dia benci pria mafia bengis itu. Pemaksa dan mèsum! Ketika pintu berayun terbuka sosok Leonardo yang telah mengenakan kimono sutra hitam berhias sulaman benang emas figur singa jantan seperti arti namanya Leo sedang berdiri memegang gelas berisi minuman berwarna oranye keemasan. Senyuman puas terkembang di bibirnya. "Gia ... Gia ... Gianna, aku kecewa mengetahui kau tidak menungguku pulang dengan patuh kemarin. Sulit sekali menaklukkan kekeras kepalaanmu itu, Darling!" ujar Leonardo seraya memberi kode dengan lambaian tangannya agar anak buahnya meninggalkan mereka berdua saja. "Aku tak suka denganmu, apa hakmu menyekapku di sini? Kau penculik dan pemerkosa. Lelaki busuk!" sembur Gianna sarat akan amarah. "Hahaha. Seburuk itukah aku di matamu, Cantik? Padahal aku memiliki banyak kelebihan juga, misalnya ... aku sanggup membuatmu menjerit puas berkali-kali seperti malam itu ... all night long, Gia Darling!" goda Leonardo. Dia tak pernah merasa setertarik ini kepada seorang perempuan. Padahal Gianna hanya seorang penari erotis di sebuah kelab malam kota New York, tak ada yang membuatnya lebih berharga selain tubuh sexy berlekuk wanita itu. "Please, lepaskan aku. Besok adalah hari penting untukku, aku akan diwisuda sarjana di kampus. Mungkin lain kali, Tuan. Aku ... aku mohon berbaik hatilah!" Gianna mengemis belas kasihan dari mafia bengis itu. Dia tahu akan sangat sulit baginya melarikan diri lagi. Leonardo menyerahkan gelas kaca beralas lebar di tangannya ke Gianna. "Kenapa harus begitu cepat pergi, Gia? Temani aku minum sebentar, ini masih siang, bukan? Kau boleh mengikuti wisuda besok pagi. Sopirku akan mengantarkanmu ke kampus!" jawabnya santai. Terpaksa Gianna meminum vodka pemberian Leonardo. "Kau janji ya?" ucapnya dengan sorot mata cemas. "Well, I promised!" Leonardo mengajak Gianna duduk di sofa dengan merangkul bahu wanita itu. Yang tidak Gianna ketahui adalah batang berurat pria mafia tersebut telah menegang tak tertahankan di balik kimono sutra hitamnya. Dia duduk bersebelahan di sofa dan membiarkan rambut panjangnya dibelai serta dihirup aroma wangi shampo tertinggal di sana yang manis samar-samar. Suara Leonardo parau menahan gairahnya, "Gia ... aku menginginkanmu sekarang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN