BAB 15 Runtuhnya Menara Pasir

1526 Kata

Pilihan Prem untuk mendahulukan keluarga di Ungaran ternyata menjadi celah bagi badai yang sudah lama mengintai di kantor pusat Garis Nirwana. Di dunia bisnis yang kompetitif, satu langkah mundur sering kali dianggap sebagai undangan bagi lawan untuk menyerang. Selama seminggu Prem mematikan ponselnya untuk fokus pada pemulihan trauma ibunya, kendali perusahaan berada di tangan Mustofa , mitra junior yang selama ini merasa prestasinya tenggelam di bawah bayang-bayang jenius Prem. Saat Prem kembali ke kantor di Semarang dengan perasaan yang lebih tenang, ia tidak disambut oleh sapaan hangat, melainkan oleh suasana tegang yang mencekam. Nia, yang datang lebih awal, sudah menunggunya di lobi dengan wajah cemas. "Prem, kita punya masalah besar," bisik Nia sambil menarik Prem ke ruang rapat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN