Di sebuah kafe berkonsep taman di pinggiran Semarang, udara sore terasa begitu menyejukkan. Prem duduk berhadapan dengan INDAH , seorang guru seni yang dikenalnya melalui perantara Sakura. Indah adalah wanita yang tenang, dengan senyum tulus yang perlahan mulai mengobati kekosongan di hati Prem. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Prem merasa bisa bernapas tanpa beban. Ia sedang mencoba membangun "sketsa" baru dalam hidupnya. "Sakura bercerita kalau dia sangat suka nongkrong denganmu waktu belum menikah di dekat Simpang Lima," ujar Indah lembut, memecah kecanggungan. Prem tersenyum, baru saja hendak menimpali, ketika ponsel di saku kemejanya bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: RSUD Dr. Kariadi. Prem meminta izin pada Indah untu

