BAB 28 Arsitektur Manipulasi

1030 Kata

Prem menyadari satu hal penting: menghancurkan seseorang secara fisik atau finansial itu mudah, tapi menghancurkan seseorang melalui perasaan adalah sebuah seni yang paling halus. Dendam yang mendidih di hati Prem kini tidak lagi berbentuk amarah meledak-ledak, melainkan sebuah rencana dingin yang sistematis. Ia mulai menerapkan keahliannya sebagai arsitek—bukan untuk membangun rumah, melainkan untuk membangun sebuah ilusi. Ia tahu bahwa Rere, di balik sikap galak dan tubuh suburnya, kemungkinan besar memiliki kekosongan hati yang dalam. Perubahan Strategi Prem berhenti bersikap kaku. Saat Rere mulai memaki di dalam mobil, Prem tidak lagi diam dengan wajah datar. Ia mulai menggunakan nada suara yang rendah, tenang, dan sedikit lebih berat—nada suara yang memberikan kesan "pria yang pen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN