BAB 12 Garis-Garis yang Bersemi

2350 Kata
Membawa Nia ke dalam hidupnya adalah sebuah keputusan besar, namun membawa Cinta ke hadapan masa lalunya adalah sebuah keberanian yang berbeda. Prem tahu bahwa kejutan ini tidak bisa disembunyikan selamanya, terutama dari Sakura—wanita yang selama ini menganggap dirinya sebagai "belahan jiwa" platonis Prem. Pagi itu, Prem mengundang Sakura dan Sino untuk sarapan di paviliun galeri. Ia tidak memberi tahu mereka tentang kedatangan Cinta. Ia ingin momen ini terjadi secara organik, tanpa prasangka. Saat Sakura dan Sino masuk dengan gaya ceria mereka yang biasa, langkah mereka terhenti di ambang pintu kafe galeri. Di sana, di atas meja jati panjang tempat Prem biasa memeriksa cetak biru, seorang anak kecil sedang sibuk mewarnai gambar gedung dengan krayon merah jambu. "Mama, lihat! Paman Prem bilang gedung ini harus punya jendela pelangi!" seru Cinta tanpa menoleh, suaranya cempreng dan penuh semangat. Sakura mematung. Ia menatap anak itu, lalu menatap Nia yang keluar dari dapur membawa nampan berisi roti bakar, dan terakhir menatap Prem yang sedang membantu Cinta meruncingkan krayonnya. "Prem... ini?" Sakura bertanya, suaranya mengecil, penuh tanda tanya yang bergelayut. Nia meletakkan nampan itu dengan tenang. Ia menatap Sakura dengan pandangan yang tidak lagi defensif. "Sakura, kenalkan. Ini Cinta. Putriku." Keheningan sempat menyelimuti ruangan selama beberapa detik—sebuah jeda yang terasa seperti berjam-jam bagi Prem. Ia bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan sulit, atau mungkin keraguan yang akan muncul di wajah Sakura. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Sakura tiba-tiba berlutut di samping kursi Cinta. Matanya berbinar, bukan karena kaget, tapi karena kekaguman yang murni. "Cinta? Nama yang bagus sekali. Hai, aku Tante Sakura. Teman lamanya Paman Prem yang paling cerewet." Cinta mendongak, menatap Sakura dengan rasa ingin tahu. "Tante punya bunga di namanya?" Sakura tertawa lebar, tawa stroberinya kembali memenuhi ruangan. "Iya! Dan Tante suka sekali menggambar bunga di tembok. Kamu mau bantu Tante mewarnai jendela pelangi itu?" Dalam sekejap, kecanggungan itu lebur. Sakura dan Cinta langsung tenggelam dalam dunia imajinasi mereka sendiri. Sino menghampiri Prem, menepuk bahunya dengan keras sambil tersenyum lebar. "Lo emang penuh kejutan, Prem. Gue pikir lo cuma jago bangun gedung, ternyata lo juga jago bangun keluarga secara instan." "Ini bukan kejutan yang aku rencanakan, Sin. Tapi ini kejutan terbaik yang pernah aku terima," jawab Prem tulus. Sore harinya, setelah Sakura dan Sino pulang, Prem membawa Nia dan Cinta ke sebuah bukit di daerah Ungaran, tempat orang tua Prem tinggal di sebuah rumah sederhana dengan kebun cengkeh yang luas. Ibu Prem adalah wanita desa yang sangat menjunjung tinggi tradisi. Prem sempat khawatir status Nia sebagai janda satu anak akan menjadi tembok besar bagi restu mereka. Di teras rumah yang asri, Ibu Prem memperhatikan Nia yang sedang sabar menyuapi Cinta buah sawo dari kebun. "Prem," panggil ibunya pelan saat Nia sedang menemani Cinta ke kamar mandi. "Wanita itu... dia sudah pernah menikah, kan?" Prem mengangguk mantap. "Iya, Bu. Dan dia membesarkan Cinta sendirian selama tujuh tahun dengan sangat baik. Dia hebat." Ibunya terdiam sejenak, memandangi pohon cengkeh yang bergoyang ditiup angin. "Dulu Ibu ingin kamu menikah dengan Sakura karena Ibu pikir hanya dia yang bisa membuatmu tersenyum. Tapi melihatmu hari ini... melihatmu menggendong anak kecil itu dengan penuh kasih... Ibu sadar satu hal." "Apa itu, Bu?" "Kamu tidak lagi hanya mencari cinta untuk dirimu sendiri, tapi kamu sedang belajar menjadi pelindung untuk orang lain. Nia tidak datang sebagai beban, Prem. Dia datang untuk menggenapi sisi dirimu yang selama ini kosong." "Bawa anak itu ke sini besok pagi. Ibu mau ajari dia cara membuat kue yang benar." Prem merasakan kelegaan yang luar biasa. Tembok yang ia takuti ternyata hanyalah bayangan yang ia ciptakan sendiri. Malam itu, di bawah langit Ungaran yang dingin, Prem menyadari bahwa garis-garis hidupnya telah meluas melampaui batas-batas yang pernah ia gambar. Ia tidak hanya memiliki Nia. Ia memiliki Cinta. Ia memiliki restu keluarganya. Dan ia tetap memiliki persahabatan Sakura. Garis hidupnya kini bukan lagi sebuah sketsa sederhana, melainkan sebuah peta besar yang penuh dengan persimpangan indah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Prem tidak lagi takut tersesat. Ketenangan di Galeri Titik Temu mendadak terusik pada suatu sore yang mendung. Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Seorang pria berjas rapi, dengan rahang tegas dan tatapan yang memancarkan d******i, turun dari mobil. Namanya Maspur. Pria yang tujuh tahun lalu meninggalkan Nia dan bayi mereka demi ambisi karier di luar negeri, kini berdiri di sana dengan angkuh. Prem yang sedang membantu Cinta memasang maket kecil di lobi, merasakan perubahan suhu udara saat Nia keluar dari ruang kurator. Wajah Nia memucat, tangannya gemetar hebat hingga menjatuhkan tumpukan brosur yang ia bawa. "Nia," suara Maspur berat dan penuh percaya diri. "Aku tidak menyangka akan menemukanmu di tempat seperti ini. Semarang... agak terlalu lambat untuk seleramu, bukan?" Nia tidak menjawab. Ia segera menarik Cinta ke belakang punggungnya. Cinta, yang memiliki insting tajam, mencengkeram rok ibunya dengan erat, matanya yang besar menatap asing ke arah pria itu. "Siapa om itu, Ma?" bisik Cinta ketakutan. Prem melangkah maju, berdiri di samping Nia. Bahunya yang lebar menjadi pembatas antara Maspur dan keluarga kecil itu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Galeri sudah tutup untuk kunjungan umum." Maspur menatap Prem dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Saya bukan pengunjung. Saya ayah dari anak itu. Dan saya ke sini untuk mengambil apa yang menjadi hak saya." Konfrontasi berpindah ke ruang kerja Prem yang tertutup. Nia duduk di sofa dengan napas memburu, sementara Cinta dijaga oleh salah satu staf galeri di ruang bermain. "Hak?" Nia akhirnya bersuara, nadanya tajam dan penuh luka yang kembali menganga. "Hak apa yang kamu bicarakan, Maspur? Kamu pergi tanpa meninggalkan nama di akta kelahirannya. Kamu pergi saat aku bahkan tidak punya uang untuk membeli susunya!" Maspur menyandarkan punggungnya dengan tenang, mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Aku sudah sukses sekarang, Nia. Aku punya firma hukum di Jakarta dan koneksi yang luas. Aku bisa memberikan Cinta pendidikan terbaik, kehidupan mewah, dan masa depan yang tidak bisa diberikan oleh galeri kecil di kota tua ini." Ia melirik ke arah Prem. "Dan aku ragu pria ini siap menjadi ayah bagi anakku. Berapa penghasilan seorang arsitek daerah? Aku bisa menuntut hak asuh ini ke pengadilan, Nia. Dan dengan kekuasaanku, aku akan menang." Prem, yang sedari tadi diam mendengarkan, merasakan amarah yang dingin menjalar di nadinya. Namun, ia tidak meledak. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen yang baru saja ia selesaikan minggu lalu. "Pak Maspur," suara Prem tenang, namun penuh otoritas. "Dalam arsitektur, sebuah bangunan dinilai bukan dari seberapa mewah catnya, tapi seberapa kuat fondasinya. Selama tujuh tahun, Nia adalah fondasi tunggal bagi Cinta. Anda hanyalah renovasi kosmetik yang datang terlambat." Prem meletakkan dokumen itu di depan Maspur. "Ini adalah dokumen legalitas Galeri Titik Temu dan kontrak kerja sama jangka panjang dengan pemerintah provinsi. Saya juga sudah mengonsultasikan status Cinta dengan pengacara keluarga saya sejak Nia bercerita. Secara hukum, tanpa nama di akta dan tanpa nafkah selama tujuh tahun, posisi Anda sangat lemah." Maspur tertawa sinis. "Kamu ingin bermain hukum denganku?" "Saya tidak bermain," balas Prem, matanya menatap tajam ke dalam mata Maspur. "Saya melindungi. Dan jika Anda mencoba menyentuh ketenangan mereka, saya akan menggunakan setiap sen dan setiap koneksi yang saya miliki untuk memastikan Anda tidak akan pernah bisa mendekat lagi." Ketegangan itu berakhir saat suara ketukan pintu terdengar. Cinta berlari masuk, mengabaikan larangan staf. Ia tidak menuju ke arah Maspur. Ia berlari lurus ke arah Prem dan memeluk kakinya. "Paman Prem... Cinta takut. Om itu mau bawa Cinta?" Prem berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Cinta, mengabaikan kehadiran Maspur sepenuhnya. Ia mengusap kepala Cinta dengan lembut. "Tidak ada yang akan membawamu, Cinta. Paman janji. Rumahmu ada di sini, bersama Mama... dan bersama Paman." Maspur melihat pemandangan itu. Ia melihat bagaimana Cinta menatap Prem dengan rasa percaya yang tidak pernah ia miliki. Ia melihat Nia yang berdiri tegak di samping Prem, tidak lagi gemetar, karena ia tahu ia tidak lagi sendirian. Maspur menyambar amplopnya dan berdiri. "Ini belum selesai," ancamnya, namun langkah kakinya terasa ragu saat ia berjalan menuju pintu. Setelah Maspur pergi, ruangan kembali sunyi. Nia jatuh terduduk di kursi, air matanya tumpah karena lega. Prem memeluk mereka berdua—Nia di satu lengan dan Cinta di lengan lainnya. "Terima kasih, Prem," bisik Nia di antara isaknya. "Terima kasih sudah menjadi benteng kami." Prem mencium kening Nia, lalu mencium puncak kepala Cinta. "Aku tidak hanya membangun gedung, Nia. Aku membangun perlindungan untuk kalian. Dan tidak ada badai manapun yang bisa merobohkan apa yang sudah kita bangun dengan hati." Malam itu, Prem menyadari bahwa ujian terberat bagi seorang pria bukanlah saat ia mendapatkan apa yang ia cintai, melainkan saat ia harus mempertahankan apa yang ia cintai dari masa lalu yang mencoba merampasnya. Dan Prem, sang arsitek garis, telah membuktikan bahwa garis perlindungannya tidak akan pernah bisa ditembus. Setelah Maspur pergi dengan langkah kaki yang ragu dan penuh amarah yang tertahan, paviliun belakang menjadi saksi bagi pengakuan yang selama ini tertunda. Cinta sudah tertidur lelap di sofa panjang setelah kelelahan bermain. "Terima kasih, Prem," bisik Nia di antara isaknya. "Aku tidak menyangka Maspur akan berani muncul lagi setelah sekian lama." Prem memegang kedua bahu Nia. "Dia tidak akan bisa menyakiti kalian lagi, Nia. Aku sudah menggambar garis batas yang tidak bisa dia lewati." Pagi harinya, Prem memutuskan untuk memberikan kepastian yang lebih dari sekadar perlindungan hukum. Di tengah galeri yang masih sepi, Prem berlutut di depan Nia, disaksikan oleh Cinta yang memegang kotak cincin perak. "Nia, maukah kamu menjadi bagian permanen dari sketsaku? Maukah kamu membangun rumah denganku, di mana jendelanya selalu terbuka untuk masa depan kita?" Nia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras. "Iya, Prem. Aku mau." Saat Prem menyematkan cincin itu di jari Nia, sebuah suara kecil menginterupsi. "Berarti sekarang Cinta boleh panggil Paman... Ayah?" Suasana mendadak hening. Prem menatap Cinta yang berdiri dengan mata penuh harap. Jantung Prem terasa seperti meledak oleh kehangatan. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini, Nak," kata Prem parau. "Mulai sekarang, panggil Ayah." Cinta menghambur ke pelukan Prem. "Ayah Prem..." Nia ikut memeluk mereka berdua. Di sana, di tengah galeri yang mereka bangun dari mimpi dan kerja keras, tiga garis hidup yang berbeda akhirnya resmi bersatu menjadi sebuah lingkaran yang utuh. Masalalu pahit bersama Maspur kini hanyalah debu di bawah fondasi kuat yang baru saja mereka bangun. Pagi itu, Kota Lama Semarang bersolek dengan cara yang paling bersahaja namun berkelas. Jalanan berpaving di depan Galeri Titik Temu telah ditutup untuk kendaraan. Rangkaian bunga sedap malam dan melati putih melilit tiang-tiang lampu antik, menebarkan aroma harum yang menenangkan ke seluruh penjuru gang. Prem berdiri di depan cermin besar di dalam paviliun. Ia mengenakan beskap modern berwarna abu-abu mutiara dengan detail perak di kerahnya. Tidak ada lagi ketegangan di wajahnya. Hanya ada sebuah ketenangan yang dalam—ketenangan seorang pria yang telah menyelesaikan konstruksi paling sulit dalam hidupnya: kepercayaan. "Masih belum percaya kalau arsitek kaku ini akhirnya laku juga?" Suara itu berasal dari ambang pintu. Sakura berdiri di sana, mengenakan kebaya seragam berwarna salem yang senada dengan Sino yang berdiri di belakangnya. Sakura tampak berkaca-kaca, namun senyumnya lebar. Prem tertawa kecil. "Aku juga hampir tidak percaya, Sa. Terima kasih sudah datang lebih awal." Sakura mendekat, merapikan letak keris di pinggang Prem. "Prem... aku senang sekali. Akhirnya kamu menemukan orang yang benar-benar bisa melihat garis-garis di hatimu, bukan cuma garis di kertas gambar." "Semua ini juga karenamu, Sa," bisik Prem tulus. "Karena kamu melepaskanku, aku jadi punya ruang untuk Nia." Upacara pernikahan dilakukan secara outdoor di halaman tengah galeri. Langit Semarang biru bersih, seolah ikut merestui. Saat musik gamelan lembut mulai mengalun, pintu galeri terbuka. Nia melangkah keluar. Ia tampak memukau dengan kebaya putih klasik bermotif bunga seruni. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati yang menjuntai. Namun, yang membuat seluruh tamu menahan napas adalah sosok yang berjalan di sampingnya. Cinta, mengenakan kebaya kecil yang identik dengan ibunya, berjalan dengan anggun sambil membawa keranjang kecil berisi kelopak bunga mawar. Ia memegang tangan Nia dengan mantap, sesekali menoleh ke arah Prem yang menunggunya di depan meja akad dengan binar mata yang penuh haru. Akad nikah berlangsung khidmat. Suara Prem terdengar mantap saat mengucapkan ijab kabul dalam satu napas. "Sah!" seru para saksi. Tepuk tangan riuh pecah. Di deretan kursi depan, Ibu Prem menghapus air mata bahagianya. Sakura merangkul Sino dengan erat, menyaksikan sahabatnya kini telah resmi memiliki dunianya sendiri. Resepsi malam harinya berlangsung hangat. Namun, di tengah keriuhan, sebuah kejutan kecil terjadi. Di gerbang galeri, tampak seorang pria berdiri dengan ragu. Itu Maspur. Maspur tidak lagi memakai setelan jas mewahnya. Ia mengenakan kemeja biasa dan tampak jauh lebih kusam dibanding saat ia datang dengan angkuh beberapa minggu lalu. Ia tidak masuk ke dalam, ia hanya berdiri di batas pagar. Prem melihatnya. Ia membisikkan sesuatu pada Nia, lalu berjalan menghampiri Maspur sendirian. "Pak Maspur," panggil Prem tenang. Maspur menoleh, ada gurat kekalahan di matanya. "Aku tidak bermaksud mengacau. Aku... aku hanya ingin melihat Cinta sebentar. Pengacaraku bilang, posisi hukumku memang nol besar." Prem terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Cinta yang sedang tertawa bahagia makan es krim bersama Zha, anak Sakura. "Dia bahagia, Maspur," kata Prem pelan. "Dan kebahagiaannya bukan berasal dari uang atau nama besar. Kebahagiaannya berasal dari rasa aman. Sesuatu yang tujuh tahun lalu Anda buang." Maspur mengangguk lemah. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil. "Tolong berikan ini padanya saat dia dewasa nanti. Itu bukan uang. Itu... itu permintaan maaf dariku yang aku tulis di atas kertas asuransi atas namanya. Aku tidak akan mengganggunya lagi." Maspur berbalik dan berjalan pergi, menghilang di kegelapan malam Kota Lama. Prem tidak mengejarnya. Ia membiarkan pria itu pergi, membawa sisa-sisa masa lalunya. Prem kembali ke pelaminan. Nia menatapnya dengan penuh tanya. "Siapa tadi, Prem?" "Hanya seseorang yang akhirnya sadar kalau dia sudah kehilangan permata paling berharga," jawab Prem sambil menggenggam tangan Nia. Malam itu ditutup dengan tarian kecil di bawah lampu-lampu gantung galeri. Prem menggendong Cinta di satu tangan dan merangkul Nia di tangan lainnya. Di sekeliling mereka, Sakura, Sino, dan orang-orang tersayang lainnya berputar dalam kegembiraan. Prem menatap ke arah langit malam Semarang. Garis-garis hidupnya kini sudah tidak lagi berantakan. Ia telah menggambar sebuah lingkaran yang sempurna—sebuah lingkaran yang ia sebut sebagai rumah. Garis itu tidak lagi tak terlihat. Garis itu sangat nyata, hangat, dan berdetak di dalam pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN