BAB 11 Rahasia di Balik Sketsa

1424 Kata
Satu tahun adalah waktu yang singkat bagi sebuah bangunan, namun merupakan waktu yang cukup bagi sebuah hati untuk benar-benar menetap. Pagi di Semarang kali ini tidak diawali dengan kegelisahan. Di sebuah rumah tua yang telah direnovasi di daerah Ngaliyan—daerah perbukitan yang udara paginya masih menyisakan sisa-sisa embun—Prem berdiri di dapur yang didominasi unsur kayu dan baja hitam. Ia tidak lagi terburu-buru. Ia tidak lagi mengejar garis tenggat waktu yang mencekik hanya untuk melupakan sepi. Suara gemericik air dari mesin kopi manual mengisi ruangan. Prem menyesap kopi hitamnya. Masih pahit, masih pekat, namun kini ada jejak rasa manis yang samar dari sisa cokelat yang mereka nikmati semalam. "Prem, kamu melihat buku sketsaku? Aku yakin meletakkannya di dekat jendela kemarin," suara Nia terdengar dari arah ruang tengah. Nia muncul dengan kaos longgar dan rambut yang masih sedikit berantakan. Ia tidak lagi tampak seperti kurator yang kaku; ia tampak seperti seseorang yang telah menemukan tempat di mana ia bisa menjadi dirinya yang paling rapuh. Prem tersenyum, menunjuk ke arah meja kecil di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah lembah kota Semarang. "Di sana. Di samping pot sukulen yang lupa kamu siram." Nia menghampiri meja itu, lalu duduk dan memandangi pemandangan di luar. Jendela besar itu adalah permintaan khusus Nia saat mereka merenovasi rumah ini setahun lalu. Sebuah jendela tanpa sekat, yang membiarkan cahaya masuk sepenuhnya. "Semarang hari ini cerah sekali," gumam Nia. Prem berjalan mendekat, berdiri di belakang Nia dan meletakkan tangannya di bahu wanita itu. "Sama seperti harimu?" Nia menoleh, menarik tangan Prem untuk diciumnya sekilas. "Lebih baik. Kamu tahu, kemarin Sakura mengirimkan foto Zha yang mulai belajar melukis di dinding rumah mereka di Jogja. Dia bilang, Zha butuh paman arsiteknya untuk memperbaiki tembok itu." Mereka berdua tertawa. Hubungan dengan Sakura dan Sino kini telah bertransformasi menjadi persaudaraan yang tenang. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi kecemburuan yang tersisa. Prem telah benar-benar merelakan masa lalu sebagai fondasi, bukan sebagai beban. Sore harinya, mereka berada di galeri "Titik Temu". Galeri itu kini telah menjadi ikon baru di Semarang. Di paviliun belakang, Prem dan Nia sedang duduk berdua setelah jam operasional berakhir. Nia sedang sibuk mengkurasi beberapa karya baru dari seniman muda lokal, sementara Prem asyik dengan tablet grafisnya, merancang sebuah taman kota yang akan menjadi proyek sosial mereka selanjutnya. "Prem," panggil Nia tiba-tiba. "Ya?" "Aku baru sadar sesuatu. Semua desainmu setahun terakhir ini... tidak ada lagi tembok yang terlalu tinggi. Semuanya terbuka, banyak jendela, banyak ruang untuk cahaya." Prem meletakkan penanya. Ia menatap struktur paviliun yang mereka tempati. "Mungkin karena aku sudah tidak perlu bersembunyi lagi, Nia. Dulu aku membangun dinding karena aku takut kehilangan. Sekarang aku membangun jendela karena aku ingin melihat segala sesuatu yang datang, entah itu hujan atau matahari." Nia tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Prem. "Aku suka jendela ini. Ia membuatku merasa bahwa dunia tidak sesempit rak buku di toko tua itu." Prem merangkul Nia erat. Di luar sana, lampu-lampu Kota Lama mulai menyala satu per satu, membentuk garis-garis cahaya yang indah. Prem teringat pada filosofi yang dulu selalu ia pegang: bahwa garis sejajar tidak akan pernah bertemu. Namun kini ia tahu, ia salah. Garis hidup manusia bukanlah garis matematika yang kaku. Manusia adalah garis-garis yang organik, yang bisa melengkung, berputar, dan akhirnya menemukan titik temu di tempat yang paling tidak terduga. Ia tidak lagi menjadi "Penjaga Garis". Ia adalah "Pelukis Garis". Dan garis yang ia gambar sekarang adalah garis yang melingkar—melindungi, namun tidak memenjarakan. "Terima kasih sudah menjadi jendelaku, Nia," bisik Prem. Nia tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengeratkan genggaman tangannya. Di bawah langit Semarang yang kini menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka, Prem menyadari bahwa novel hidupnya telah menyelesaikan satu babak yang panjang, hanya untuk memulai babak-babak baru yang lebih benderang. Cahaya di balik jendela itu tidak akan pernah padam, karena ia tidak lagi bergantung pada orang lain untuk menyalakannya. Cahaya itu kini bersumber dari dalam rumah yang mereka bangun bersama. Stabilitas yang dibangun Prem selama satu tahun terakhir mendadak terasa sedikit bergetar, bukan karena pondasinya yang rapuh, melainkan karena ada bagian dari bangunan hidup Nia yang selama ini sengaja disimpan di ruang bawah tanah—terkunci rapat, bukan untuk berbohong, tapi untuk melindungi. Sore itu, sebuah mobil travel antarkota berhenti di depan Galeri Titik Temu. Seorang wanita paruh baya turun, menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun. Anak itu mengenakan gaun kuning cerah dengan rambut dikuncir dua, memegang sebuah boneka kelinci yang telinganya sudah agak koyak. Nia, yang saat itu sedang memeriksa laporan stok buku di kafe galeri, mendadak menjatuhkan pulpennya. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi pucat, lalu seketika memerah karena haru. "Cinta?" bisik Nia. Anak perempuan itu mendongak, matanya yang besar dan jernih—persis mata Nia—berbinar. "Mama!" Prem, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan gulungan denah di tangan, mematung di ambang pintu. Kalimat "Mama" itu menghantamnya lebih keras daripada runtuhnya dinding beton. Ia menatap Nia, lalu menatap anak kecil bernama Cinta itu, dan terakhir menatap wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu Nia dari Bandung. Malam harinya, paviliun "Titik Temu" menjadi saksi bagi pengakuan yang selama ini tertunda. Cinta sudah tertidur lelap di sofa panjang setelah kelelahan bermain di sekitar galeri. Ibu Nia sedang beristirahat di penginapan terdekat. Nia duduk di depan Prem, tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah mendingin. Suasana sunyi, hanya suara jangkrik dari taman belakang yang mengisi jeda di antara mereka. "Kenapa, Nia?" tanya Prem lembut. Tidak ada amarah dalam suaranya, hanya rasa ingin tahu yang besar. "Kenapa kamu tidak pernah co mengatakannya?" Nia menunduk, bahunya sedikit bergetar. "Karena aku takut, Prem. Aku melarikan diri dari Bandung bukan hanya karena patah hati, tapi karena aku lelah dihakimi. Di sana, aku adalah 'Nia si janda muda'. Orang-orang tidak melihat karyaku, mereka hanya melihat statusku." Nia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. "Mantan suamiku pergi saat Cinta masih bayi. Sejak itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membangun hidup baru di mana identitasku sebagai kurator tidak dicampuradukkan dengan status pribadiku. Aku ingin kamu mengenalku sebagai Nia, bukan sebagai seorang ibu yang membawa beban masa lalu." Prem terdiam. Ia teringat bagaimana selama ini ia mengagumi kemandirian Nia. Ternyata, kemandirian itu lahir dari kebutuhan untuk menjadi perisai bagi nyawa lain. "Dia cantik sekali. Matanya persis matamu," kata Prem akhirnya, memecah keheningan. Nia mendongak, terkejut karena Prem tidak menunjukkan tanda-tanda kecewa. "Kamu... kamu tidak marah? Kamu tidak merasa tertipu?" Prem tersenyum kecil, ia bergeser duduk lebih dekat dan menggenggam tangan Nia. "Nia, aku adalah seorang arsitek. Aku tahu bahwa bangunan paling indah sering kali memiliki sejarah yang rumit di bawah tanahnya. Statusmu tidak mengubah siapa kamu di mataku. Justru, mengetahui bahwa kamu berjuang sendirian selama ini membuatku semakin mengagumimu." Prem menatap ke arah Cinta yang tertidur pulas. "Dulu aku gagal menjaga Sakura karena aku terlalu takut pada status 'sahabat'. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama denganmu hanya karena status 'janda'. Bagiku, Cinta bukan beban. Dia adalah bagian dari garis hidupmu yang kini bersinggungan denganku." Air mata Nia tumpah juga. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena beban seberat gunung yang selama ini ia pikul sendiri akhirnya terbagi. Minggu-minggu berikutnya menjadi babak baru yang penuh warna di hidup Prem. Jika dulu ia hanya belajar memahami satu garis (Nia), kini ia harus belajar memahami garis kecil yang sangat dinamis bernama Cinta. Cinta adalah anak yang cerdas dan penuh imajinasi. Ia sering menghabiskan waktu di meja gambar Prem, mencoret-coret kertas kalkir sisa dengan krayon warna-warni. "Paman Prem, kenapa rumah ini tidak punya perosotan?" tanya Cinta suatu sore saat Prem sedang mengerjakan desain panti asuhan. Prem tertawa, ia mengambil pensil warna merah dan menggambar sebuah garis melengkung dari lantai dua ke taman. "Begini?" "Iya! Dan harus ada jendela rahasia untuk melihat peri!" seru Cinta riang. Nia memperhatikan mereka dari kejauhan dengan perasaan yang tak terlukiskan. Ia melihat Prem—pria yang dulu ia kira sangat kaku dan terobsesi pada presisi—ternyata bisa menjadi begitu lembut dan konyol di depan seorang anak kecil. Kehadiran Cinta justru melengkapi "Titik Temu" yang mereka bangun. Galeri itu kini bukan lagi sekadar ruang seni yang sunyi, tapi mulai dipenuhi suara tawa anak-anak. Prem menyadari bahwa arsitektur hidupnya kini tidak lagi hanya tentang "rumah untuk dua orang", melainkan sebuah ruang keluarga yang utuh. Garis hidup Prem tidak lagi hanya melingkar melindungi Nia. Garis itu kini melebar, merangkul sebuah jiwa kecil yang memanggilnya dengan sebutan "Paman" namun menatapnya dengan rasa percaya yang tulus. Di bawah langit Semarang, Prem akhirnya mengerti: Masa lalu mungkin memberi kita luka, tapi masa depan selalu punya cara untuk menyembuhkannya melalui kehadiran orang-orang yang tidak pernah kita duga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN