BAB 10 PERSIMPANGAN TAKDIR

1537 Kata
Pengerjaan galeri baru di Kota Lama memasuki tahap akhir. Prem menghabiskan lebih banyak waktunya di sana, memastikan setiap sambungan kayu dan sudut pencahayaan sesuai dengan visi yang ia bangun bersama Nia. Galeri itu kini bukan lagi sekadar proyek; itu adalah bukti kolaborasi dua jiwa yang saling memahami tanpa banyak kata. Namun, ketenangan itu terusik oleh sebuah panggilan telepon di suatu Selasa pagi yang berawan. "Prem! Aku dan Sino sedang di Semarang lagi untuk urusan mendadak. Kita makan siang, ya? Di tempat biasa, soto Bangkong!" suara Sakura terdengar penuh semangat di seberang sana. Prem tertegun sejenak. Ia melirik Nia yang sedang sibuk mengatur letak instalasi seni di tengah ruangan. "Sa, aku sedang di proyek. Bagaimana kalau kalian ke galeri saja? Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." Ada jeda singkat di seberang sana sebelum Sakura menjawab, "Seseorang? Wah, Prem-ku punya rahasia ya? Oke, kami meluncur ke sana!" Satu jam kemudian, lonceng di pintu masuk galeri berdenting. Sakura masuk dengan gaun musim panas yang cerah, diikuti Sino yang menggendong Zha. Langkah mereka terhenti saat melihat Prem sedang berdiri di dekat tangga putar bersama seorang wanita. Nia sedang memegang gulungan denah, kacamata hitamnya tersampir di atas kepala. Ia mengenakan celana kain lebar dan kemeja linen yang nyaman—tampak sangat profesional sekaligus artistik. "Sakura, Sino, kenalkan. Ini Nia. Dia kurator utama proyek galeri ini," kata Prem dengan nada suara yang tenang, meski ada sedikit debaran di dadanya. Sakura melangkah maju, matanya menatap Nia dengan rasa ingin tahu yang besar. Untuk beberapa detik, suasana terasa seperti udara sebelum badai—tegang namun tenang. Prem menahan napas. Ia tahu betapa tajamnya insting Sakura. "Halo, Nia. Aku Sakura," ucap Sakura akhirnya sambil mengulurkan tangan. Senyumnya mengembang, tapi kali ini bukan senyum kekanak-kanakan, melainkan senyum seorang wanita yang sedang menilai situasi. "Nia," jawab Nia singkat sambil menjabat tangan Sakura. "Prem banyak bercerita tentang kalian. Senang akhirnya bisa bertemu langsung." Nia tidak terlihat terintimidasi. Ia tetap berdiri tegak dengan ketenangan yang menjadi ciri khasnya. Sementara itu, Sino hanya mengangguk kecil ke arah Prem sambil tersenyum penuh arti—seolah ia sudah menduga bahwa "garis" Prem akhirnya telah menemukan muara baru. Mereka berempat (ditambah Zha yang asyik berlarian) duduk di area kafe galeri yang masih setengah jadi. Kopi disajikan dalam cangkir-cangkir keramik buatan tangan. "Jadi, Nia asli Bandung?" tanya Sakura membuka percakapan. "Iya, tapi Semarang mulai terasa seperti rumah," jawab Nia tenang. Ia menyesap kopi hitam pahitnya. Sakura memperhatikan cara Nia memegang cangkir, cara ia melirik ke arah Prem saat membahas detail bangunan, dan cara Prem meresponsnya. Sebagai wanita yang menghabiskan tujuh tahun sebagai pusat gravitasi Prem, Sakura menyadari sesuatu yang besar. Prem tidak lagi menatap Nia sebagai seorang pendukung atau pelindung. Prem menatap Nia sebagai rekan. Ada kesetaraan di sana. "Galeri ini bagus sekali, Prem," puji Sakura. "Lebih 'berjiwa' daripada sketsa awal yang kamu kirim. Kurasa sentuhan Nia benar-benar melengkapi sudut-sudut kaku buatanmu." "Aku setuju," sahut Sino. "Prem butuh seseorang yang bisa menggambar warna di atas garis-garis betonnya." Suasana yang tadinya kaku perlahan mencair. Mereka bercerita tentang banyak hal, hingga tiba saatnya Sakura harus pergi karena urusan lain. Sebelum keluar dari pintu galeri, Sakura menahan lengan Prem sejenak, membiarkan Sino dan Nia berjalan lebih dulu di depan. "Prem," bisik Sakura. "Ya, Sa?" Sakura menatap mata Prem dalam-dalam. "Dia berbeda denganku. Dan kurasa, itu yang kamu butuhkan. Dia tidak butuh dijaga, dia butuh ditemani. Kamu sudah menemukannya, kan?" Prem terdiam. Ia menatap punggung Nia yang sedang menjelaskan sesuatu pada Sino tentang pencahayaan galeri. Ia melihat kemandirian Nia, ketenangannya, dan bagaimana wanita itu tidak meminta Prem untuk menjadi pahlawannya, melainkan menjadi pasangannya. "Iya, Sa. Kurasa begitu," jawab Prem tulus. Sakura menepuk bahu Prem pelan, sebuah tepukan yang terasa seperti "pelepasan" tugas yang sah. "Aku senang, Prem. Sangat senang." Setelah keluarga kecil itu pergi, galeri kembali sunyi. Nia mendekati Prem yang masih berdiri di dekat pintu. "Dia energi yang luar biasa, ya?" tanya Nia pelan. "Begitulah Sakura. Selalu seperti badai stroberi," jawab Prem terkekeh. Nia menatap Prem, ada sorot kejujuran di balik kacamatanya. "Tadi dia membisikkan sesuatu padamu. Apa itu tentangku?" Prem tidak menghindar. Ia melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Nia. "Dia bilang aku sudah menemukan orang yang tepat untuk berhenti menjadikanku seorang penjaga, dan mulai menjadikanku seorang teman perjalanan." Nia tersenyum. Bukan senyum tipis, tapi senyum lebar yang jarang ia perlihatkan. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu pilar galeri yang dingin. "Lalu, apakah teman perjalananmu ini boleh meminta sesuatu?" "Apa itu?" "Jangan buatkan aku istana, Prem. Buatkan saja aku sebuah rumah dengan jendela yang besar, supaya kita bisa melihat hujan bersama tanpa harus takut basah." Prem tertawa kecil. Ia meraih tangan Nia—tangan yang kokoh, tangan yang juga memiliki noda tinta dan bekas kerja keras—dan menggenggamnya erat. Di tengah bangunan tua yang sedang mereka hidupkan kembali, Prem menyadari bahwa garis hidupnya tidak lagi sejajar dengan bayang-bayang masa lalu. Garis itu kini telah melingkar, mengunci, dan menetap pada sosok wanita di hadapannya. Malam peresmian galeri itu menjadi malam yang paling benderang di kawasan Kota Lama. Gedung tua yang dulunya hanya menjadi saksi bisu bagi debu dan waktu, kini bertransformasi menjadi instalasi cahaya yang hidup. Di bawah papan nama berbahan tembaga yang bertuliskan "TITIK TEMU: Galeri & Ruang Kolaborasi", orang-orang mulai berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Prem berdiri di lobi utama, mengenakan setelan jas berwarna charcoal yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Namun, matanya tidak berhenti mencari satu sosok di tengah kerumunan. Lalu, ia melihatnya. Nia turun dari tangga putar kayu yang menjadi centerpiece galeri. Ia mengenakan terusan tenun berwarna biru gelap dengan potongan asimetris yang elegan. Tanpa kacamata hitam yang biasa ia pakai, wajah Nia tampak bercahaya di bawah lampu gantung kristal yang telah dipugar. "Kamu terlihat... luar biasa," bisik Prem saat Nia sampai di hadapannya. "Dan kamu terlihat seperti arsitek yang akhirnya puas dengan hasil kerjanya sendiri," Nia membalas dengan senyum tipis, menyandarkan lengannya pada lengan Prem. Acara pembukaan berlangsung meriah. Sino memberikan pidato singkat yang emosional tentang bagaimana seni membutuhkan "rumah" yang tepat, sementara Sakura berdiri di sampingnya dengan bangga. Namun, puncak acara malam itu bukanlah pada pidato para tokoh penting, melainkan saat Prem diminta naik ke panggung kecil di tengah galeri untuk menjelaskan filosofi bangunan tersebut. Prem memegang mikrofon, menatap wajah-wajah di hadapannya, lalu matanya terpaku pada Nia yang berdiri di sudut ruangan. "Dulu, saya selalu berpikir bahwa tugas seorang arsitek hanyalah membangun garis dan dinding untuk melindungi orang di dalamnya dari dunia luar," Prem memulai suaranya dengan tenang namun mantap. "Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun benteng, bukan hanya untuk klien saya, tapi juga untuk hati saya sendiri." Ruangan menjadi sangat sunyi. Sakura menatap Prem dengan napas tertahan. "Tapi melalui proyek ini, saya belajar sesuatu yang baru. Galeri ini dinamakan 'Titik Temu' karena ia bukan tentang perlindungan. Ia tentang keterbukaan. Ia tentang momen di mana dua garis yang berbeda—yang mungkin sudah sangat lelah berjalan sendirian—akhirnya memutuskan untuk bersinggungan dan menciptakan sesuatu yang indah." Prem melangkah turun dari panggung, namun ia tidak kembali ke posisinya semula. Ia berjalan lurus ke arah Nia. Seluruh mata mengikuti gerak-geriknya. "Nia," kata Prem setelah sampai di depan wanita itu. Suaranya tidak lagi melalui mikrofon, namun tetap terdengar jelas di tengah keheningan yang magis. "Terima kasih sudah mengajariku bahwa aku tidak perlu membangun istana untuk merasa aman. Terima kasih sudah menjadi teman perjalanan yang membuat kopi pahitku terasa jauh lebih berarti." Prem merogoh saku jasnya. Bukan kotak cincin yang ia keluarkan—karena ia tahu Nia bukan tipe wanita yang menyukai klise yang terburu-buru. Ia mengeluarkan sebuah kunci perak kecil yang terpasang pada gantungan kunci kayu yang baru saja ia buat sendiri. Di kayu itu, tidak tertulis Best Friends Forever. Melainkan koordinat lokasi galeri tersebut dan sebuah kalimat kecil: Home is a Person. "Ini kunci paviliun belakang, 'Titik Temu'. Aku ingin kamu yang memegang kendali penuh atas ruang itu. Bukan hanya sebagai kurator, tapi sebagai pemilik cerita yang ada di dalamnya... bersamaku." Nia menatap kunci itu, lalu menatap mata Prem. Ada air mata kecil yang menggenang di sudut matanya—sebuah pemandangan langka bagi wanita sekuat Nia. Ia menerima kunci itu, jemarinya bersentuhan dengan jemari Prem. "Aku tidak janji garis kita akan selalu lurus, Prem," bisik Nia pelan. "Aku tahu," jawab Prem sambil tersenyum tulus. "Tapi aku janji, jika garis itu mulai berbelok, kita akan menggambarnya bersama-sama." Tepuk tangan riuh pecah di seluruh galeri. Sakura menangis di bahu Sino, merasa lega karena beban emosional yang selama ini ia bawa diam-alih telah benar-benar berpindah ke tangan yang tepat. Malam itu berakhir di balkon atas galeri, jauh dari hiruk pikuk tamu. Prem dan Nia duduk bersisian, memandangi atap-atap bangunan Kota Lama yang disiram cahaya bulan. "Prem," panggil Nia. "Ya?" "Gantungan kunci lamamu... di mana?" Prem tersenyum kecil, ia merogoh kantong jasnya yang lain dan mengeluarkan gantungan kunci BFF yang lama. "Aku menyimpannya di kotak memori di kantor. Ia adalah bagian dari sejarahku, Nia. Aku tidak akan membuangnya, tapi aku sudah tidak perlu membawanya ke mana-mana lagi." Nia mengangguk paham. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Prem. Di bawah langit Semarang yang kini terasa jauh lebih bersahabat, Prem menyadari bahwa ia telah menyelesaikan mahakarya terbesarnya. Bukan sebuah gedung, bukan sebuah monumen, melainkan sebuah masa depan yang akhirnya memiliki nama. Garis-garis cahaya kendaraan di bawah sana masih terus bergerak, namun bagi Prem, ia sudah tidak lagi berlari. Ia telah sampai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN