Semarang telah banyak berubah, namun aromanya tetap sama. Bau tanah basah setelah hujan sore hari di kawasan Kota Lama masih membawa rasa nostalgia yang kental bagi Prem. Pria itu kini berusia 32 tahun. Guratan di wajahnya sedikit lebih tegas, mencerminkan jam terbangnya sebagai arsitek yang kini disegani karena keberhasilannya merevitalisasi bangunan-bangunan kolonial menjadi ruang publik yang hidup.
Prem berdiri di balkon kantornya yang baru—sebuah gedung tua yang ia restorasi dengan memadukan unsur kaca modern dan bata ekspos asli. Di meja kerjanya, tidak ada lagi kertas kalkir yang berantakan. Semuanya kini tertata rapi, mencerminkan jiwanya yang telah menemukan kedamaian.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Sakura: "Prem, aku sudah di Semarang! Kami sedang di Galeri yang kamu desain. Sumpah, ini jauh lebih keren dari maket yang kamu kirim dulu! Cepat ke sini!"
Prem tersenyum. Senyum yang kini tak lagi membawa beban. Ia menyambar jasnya dan berjalan menuju Galeri "Meta-Morphosis", galeri yang akhirnya ia wujudkan untuk Sino dan Sakura.
Saat Prem melangkah masuk ke galeri, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Sakura berdiri di tengah ruangan, masih dengan keceriaan yang sama, namun kini ada keanggunan seorang ibu dalam gerak-geriknya. Di sampingnya, seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun sedang sibuk menunjuk-nunjuk lukisan abstrak di dinding.
"Paman Prem!" seru Sakura saat melihatnya.
Anak kecil itu, yang diberi nama Zha —nama yang berarti bercahaya, pemberian Prem—berlari kecil menghampiri Prem. Prem berlutut dan menggendongnya.
"Gimana, Zha ? Lukisan Ayah bagus?" tanya Prem.
"Bagus! Tapi Zha mau bikin gedung kayak Paman," celoteh si kecil.
Sino muncul dari ruang kurator, berjalan tanpa tongkat meski langkahnya masih sedikit hati-hati. Ia menjabat tangan Prem dengan erat. "Gue nggak pernah salah pilih arsitek, Prem. Galeri ini punya 'nyawa'."
Mereka menghabiskan sore itu dengan berbincang. Sakura bercerita tentang kehidupannya di Jogja, tentang buku keduanya yang akan segera terbit, dan tentang betapa ia merindukan soto Bangkong. Prem mendengarkan dengan tulus. Ia melihat bagaimana Sakura dan Sino saling melengkapi. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah kehilangan Sakura; ia hanya mendapatkan keluarga baru.
Malam harinya, setelah berpamitan dengan keluarga kecil itu, Prem memutuskan untuk mampir ke sebuah toko buku tua di daerah pengapon sebelum pulang. Ia sedang mencari referensi buku arsitektur kuno.
Toko buku itu sunyi, hanya ada suara rintik hujan di luar dan aroma kertas tua. Di sudut rak bagian seni, ia melihat seorang wanita sedang berjongkok, mencoba meraih sebuah buku di rak paling atas.
Prem melangkah maju dan membantu
mengambilkan buku itu. "Ini?"
Wanita itu menoleh. Rambutnya pendek sebahu, mengenakan kacamata dengan bingkai tipis, dan membawa aroma kopi yang pekat. Ia menerima buku itu dengan senyum tipis yang misterius.
"Terima kasih," katanya. Ia melirik buku yang dipegang Prem. "Arsitektur Kolonial di Jawa Tengah? Referensi yang berat untuk malam minggu."
Prem terkekeh. "Hanya sedikit riset. Kamu penyuka seni?"
"Saya kurator baru di galeri seberang jalan. Nama saya Nia."
Mereka berjalan menuju kasir bersamaan. Di meja kasir, Nia memesan sesuatu dari kedai kopi kecil yang menyatu dengan toko buku itu.
"Kopi hitam. Pahit. Tanpa gula," ucap Nia pada pelayan.
Prem tertegun. Ia menoleh ke arah Nia. "Pilihan yang tidak biasa untuk wanita."
Nia mengangkat bahu. "Hidup sudah cukup manis untuk ditambah gula lagi, bukan?"
Prem tertawa—sebuah tawa yang benar-benar lepas, sesuatu yang jarang ia rasakan dalam lima tahun terakhir. "Saya Prem. Dan saya pesan hal yang sama."
Mereka duduk di kursi kayu kecil di depan toko buku, menunggu hujan reda sambil menyesap kopi pahit mereka. Di bawah lampu jalan yang berpendar di aspal basah, Prem menyadari satu hal.
Garis hidupnya bersama Sakura memang sudah berakhir sebagai sahabat. Garis itu sudah menjadi rumah yang kokoh. Namun, di sini, di bawah rintik hujan Semarang yang selalu magis, sebuah garis baru sedang ditarik. Sebuah garis yang tidak ia duga, yang tidak ia rencanakan dengan presisi arsitektur, namun terasa sangat pas.
Prem menatap jalanan Simpang Lima di kejauhan. Garis-garis cahaya kendaraan masih melesat indah. Dunia tidak berhenti berputar saat satu orang pergi; dunia justru menyiapkan panggung baru bagi mereka yang berani melepaskan.
"Ada garis yang harus kita hapus, agar kita punya ruang untuk menggambar garis yang baru," bisik Prem dalam hati.
Ia menyesap kopinya, menoleh ke arah Nia yang sedang asyik bercerita tentang kurasi lukisan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Prem tidak merasa sebagai penjaga garis orang lain. Ia merasa sedang menggambar dunianya sendiri.
Semarang di bawah pimpinan Nia terasa sedikit berbeda bagi Prem. Jika bersama Sakura dunianya penuh dengan ledakan warna stroberi dan tawa yang membelah sunyi, bersama Nia, dunianya terasa seperti musik ambient; tenang, dalam, dan penuh makna yang tersirat di antara jeda percakapan.
Dua minggu setelah pertemuan di toko buku, mereka bertemu kembali di depan proyek restorasi sebuah gedung tua di daerah Kepodang. Nia, dengan buku sketsa di tangan dan kamera analog yang mengalung di leher, tampak serius mengamati detail ornamen art deco pada ventilasi bangunan.
"Kamu tahu, Prem," Nia memulai tanpa mengalihkan pandangan dari objeknya. "Bangunan ini punya trauma. Lihat retakan di sudut itu? Itu bukan sekadar faktor usia, tapi beban yang dipaksakan."
Prem mendekat, berdiri di sampingnya. Ia mencium aroma cat minyak dan kopi yang selalu menempel pada pakaian wanita itu. "Kamu melihat bangunan seperti melihat pasien, Nia."
Nia tersenyum tipis, lalu menoleh. "Dan kamu melihatnya sebagai teka-teki matematika. Tapi arsitektur tanpa rasa hanyalah tumpukan semen. Aku ingin galeri yang kita kerjakan nanti tidak hanya memajang karya, tapi juga menjadi tempat di mana orang merasa 'didengarkan'."
Prem terdiam. Kata-kata Nia seringkali menyentuh bagian dari dirinya yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Selama bertahun-tahun, Prem membangun "benteng" untuk melindungi dirinya dari rasa sakit kehilangan Sakura. Tapi di depan Nia, benteng itu tidak diruntuhkan dengan paksa; Nia hanya berjalan masuk melalui pintu yang tidak sengaja Prem biarkan terbuka.
Sore itu, mereka memutuskan untuk mencari inspirasi ke kawasan waduk Jatibarang. Prem memacu mobilnya mendaki tanjakan yang berkelok. Di sampingnya, Nia sibuk menggambar sketsa cepat dari balik jendela.
"Prem, boleh aku tanya sesuatu yang lancang?" Nia meletakkan pensilnya.
"Tanya saja."
"Gantungan kunci di mobilmu. Itu sudah sangat lama, kan?" Nia menunjuk ke arah akrilik Best Friends Forever yang tergantung di kunci kontak. "Foto itu... dia adalah alasan kenapa kamu menyukai kopi pahit?"
Prem menarik napas panjang. Ia tidak merasa terganggu. Ada nada empati dalam suara Nia, bukan rasa ingin tahu yang menghakimi.
"Dia adalah sahabat terbaikku. Dan ya, dia adalah alasan kenapa aku belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita rencanakan," jawab Prem jujur. "Tapi kopi pahit bukan lagi tentang dia sekarang. Itu tentang caraku menikmati kenyataan."
Nia mengangguk pelan. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Aku juga punya 'kopi pahit'-ku sendiri di Bandung. Seseorang yang membuatku melarikan diri ke Semarang untuk mencari udara baru. Jadi, kurasa kita sedang berada di perahu yang sama, mencoba mendayung menjauh dari dermaga yang lama."
Prem menoleh sejenak ke arah Nia. Cahaya matahari senja (golden hour) menyentuh wajah wanita itu, memberikan garis keemasan di bingkai kacamata hitamnya. Untuk pertama kalinya, Prem merasa tidak perlu menjadi "penjaga" bagi seseorang. Ia merasa memiliki kawan perjalanan yang sama-sama paham akan luka, namun tetap memilih untuk terus berjalan.
Mereka sampai di tepi waduk saat matahari mulai tenggelam di balik perbukitan. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon jati. Mereka duduk di atas kap mobil, memandangi air waduk yang tenang.
"Nia," panggil Prem.
"Ya?"
"Aku sedang merancang sebuah paviliun kecil di taman belakang galeri nanti. Aku ingin menamainya 'Titik Temu'. Menurutmu, apakah terlalu klise?"
Nia menoleh, matanya berbinar kecil. "Tergantung. Titik temu untuk apa? Untuk dua garis yang akhirnya bersilangan, atau untuk satu garis yang akhirnya berhenti berlari?"
Prem menatap Nia dalam-dalam. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa sentimeter. Bau hujan yang akan datang mulai tercium di udara—aroma petrichor yang selalu ia sukai.
"Mungkin untuk keduanya," bisik Prem.
Nia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas tangan Prem yang bertumpu pada kap mobil. Sentuhannya hangat dan tenang. Tidak ada kembang api yang meledak seperti di film-film romantis, tapi ada rasa nyaman yang merayap masuk ke dalam d**a Prem—sebuah rasa yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
Malam itu, Prem menyadari bahwa jalannya bersama Nia tidak akan sama seperti jalannya bersama Sakura. Jalannya bersama Nia adalah jalan yang dibangun di atas pemahaman tentang kerapuhan masing-masing.
Garis hidup Prem tidak lagi hanya sejajar dengan masa lalu. Ia mulai berbelok, membentuk lengkungan baru yang perlahan-lahan mengarah pada sosok wanita di sampingnya.
"Ayo pulang, Prem. Hujan akan turun," kata Nia lembut.
"Iya. Tapi kali ini, aku tidak keberatan jika kita sedikit basah," jawab Prem sambil tersenyum tulus.
Mereka kembali ke dalam mobil. Di sepanjang jalan pulang menuju pusat kota Semarang, Prem tidak lagi memikirkan tentang "garis yang tak terlihat". Ia mulai fokus pada garis-garis yang sedang ia gambar bersama Nia—sebuah sketsa baru yang, meskipun belum selesai, menjanjikan sebuah keindahan yang berbeda.