Episode 7

2542 Kata
  Setelah kejadian itu, aku mulai akrab dengan yang Brotherhood kecuali Kak Dhika dan Kak Elza. Dan masalahpun mulai bermunculan, Gilang kekasih Chacha sering menghubungiku dengan mentanyakan beberapa hal yang tak penting membuatku merasa tak nyaman. Dan Chacha semakin menjadi, bahkan aku pernah memergokinya merokok bersama kekasihnya itu yang begitu Chacha cintai.  Hingga suatu hari Chacha datang dengan wajah yang cemberut. Dia terlihat tak bersemangat. Semua sahabatnya mentanyakan apa yang terjadi tetapi dia malah menatap tajam padaku. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, hingga Gilang menghubungiku dan mengatakan kalau dia sedang ada masalah dengan Chacha. Gilangpun mengajakku untuk bertemu sepulang sekolah, dia bilang ingin membicarakan sesuatu. Tetapi aku segera menolaknya, karena aku tak ingin ada di antara Chacha dan Gilang. Tetapi sialnya, saat sepulang sekolah, aku melihat Gilang berdiri di dekat gerbang sekolah. Aku jadi was was sendiri, karena Chacha dan Ratu berjalan di belakangku. Aku melihat Serli tengah menghampiri Kak Daniel yang tengah berdiri bersandar ke mobilnya. Aku berlari mengejar Serli untuk menebeng pulang, setidaknya bersama Serli dan Kak Daniel lebih aman. Tetapi Sayangnya, Gilang melihatku dan lebih dulu menangkap pergelangan tanganku. “Lita, kamu mau kemana?” tanya Gilang. “Aku mau pulang, lepaskan!” Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Gilang yang sangat erat mencengkram tanganku. Aku melirik Chacha dan Ratu yang juga melihat ke arah kami. Aku semakin di buat tak nyaman, apalagi tatapan Chacha mengisyaratkan kesedihan juga kebencian. “Lepaskan aku!” Aku terus memberontak. “Ikut denganku dulu,” Pakstanya. “Aku tidak mau!” Sial! Pegangan tangtanya sulit sekali terlepas, dan malah membuat tanganku sakit. “Kau punya telinga kan, lepaskan tangannya!” Aku terpekik saat seseorang menarik Paksa tangan Gilang dari tanganku. Saat aku melihat seseorang itu, ternyata dia Kak Dhika.  Kak Dhika berdiri di depanku, melindungi tubuhku dari Gilang. Dari mana Kak Dhika datang? Apa dia sedang menjemput kekasihnya yang bersekolah di sini juga? Aku tidak begitu mendengar pembicaraan mereka, tetapi Gilang berlalu pergi meninggalkan kami. “Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Kak Dhika, membuatku mengerjapkan mataku berkali-kali, tersadar dari lamunanku. “Aku baik, Kak. Terima kasih.” “Lita, lu gak apa-apa?” tanya Serli yang mendekatiku, membuatku menggelengkan kepalaku. “Ayo Lita naik ke dalam mobil, biar aku antarkan sekalian,” ajak Kak Daniel membuatku menuruti. Ternyata Kak Dhika juga menaiki mobil Kak Daniel dan dia duduk di sampingku di jok belakang. Ya Tuhan,, rasanya sungguh gugup. “Tuh cowok benar-benar s***p yah, padahal udah lu perjelas lewat pesan kalau lu gak mau di ganggu,” ucap Serli. “Lita terlalu cantik sih, maktanya banyak yang ngejar,” ucap Kak Dhika mampu membuatku tersentak kaget. Apa aku salah dengar? Tapi itu sangat jelas, ya Tuhan, pipiku terasa memanas. “Gombalan lu mampu buat Lita merona, Dhik,” ejek Kak Daniel membuatku langsung memegang kedua pipiku memastikan apa benar pipiku terlihat merah. Serli, Kak Daniel dan Kak Dhika tertawa melihat tingkahku, membuatku kesal dan langsung mengembungkan pipiku, kebiasaan kalau sedang kesal. “Kak Dhika tumben ikut ke mobil Daniel?” tanya Serli. “Iya mobil Kakak lagi di service, jadi nebeng deh sampai café,” ucap Kak Dhika dan Serlipun mengangguk paham. “Kak, aku turun di perempatan depan saja,” ucapku. “Lho kenapa?” tanya Kak  Daniel. “Kan mau ke cafenya Kak Dhika, lagipula jalur ke rumahku berbeda dengan ke arah cafenya Kak Dhika.  Jadi biar Kakak tidak bolak balik, biar Lita turun di sini saja,” ucapku karena tidak enak. “Tidak apa-apa Lita, aku anterin sampai rumah yah,” ucap Kak Daniel. “Nggak apa-apa kan, Dhik?” tambah Kak Daniel menatap ke arah Kak Dhika melalui cermin di depan. “Iya nggak apa-apa kok, santai saja Tha,” ujar Kak Dhika tersenyum. Astaga senyumannya, membuat aku meleleh. Ya Tuhan aku bisa mati karena melihatnya terus sedekat ini. Tak lama, mobil Kak Danielpun sudah berhenti di depan rumah Tanteku. Aku segera menuruni mobil setelah mengucapkan terima kasih kepada Kak Daniel, dan mengucapkan selamat tinggal kepada Kak Dhika dan Serli. *** Sore itu aku baru saja keluar dari gramedia, aku celingak celinguk mencari angkutan umum. Hingga sebuah bunga mawar merah berada tepat di hadapanku, membuatku segera menengok pada seseorang yang menyodorkan bunga itu dan betapa kagetnya saat melihat Gilang berdiri di sana dengan senyumannya. Aku baru saja hendak mengeluarkan suaraku, PLAK Seseorang menampar pipiku secara tiba-tiba membuat pipiku terasa ngilu dan panas. Aku segera menengok ke arah seseorang yang sudah menamparku itu. “Chacha!” gumamku, karena Chacha sudah ada di sampingku bersama Serli dan Ratu. “Jadi ini yang lu lakuin dibelakang gue?” teriak Chacha membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat ke arah kami. “lu jahat banget yah Tha, lu coba nusuk gue dari belakang !!” bentak Chacha sambil menangis.”Padahal lu tau kalau gue lagi galau karena di tinggalin Gilang,,hikz..” Chacha terisak membuatku semakin bingung. “Lu salah paham Cha, tadi itu gue nggak tau kalau Gilang nyamperin gue,” ucapku mencoba menjelaskan padanya. “Lu jangan kasar gini Cha, Lita ini sahabat lu,” ujar Gilang sok baik. “Diem kamu Gilang! Kamu jahat sama aku! Dan lu Lita, gue benci sama lu!” teriak Chacha dan berlari pergi meninggalkan semuanya. “Cha tunggu!” teriakku hendak mengejar Chacha, tetapi  si Gilang menahan lenganku. “Lepasin tangan gue!” aku menepis tangannya. “Mau lu apa sih? Lu pengen lihat gue dan Chacha musuhan?” bentakku kesal. “Bukan begitu Tha, tapi gue suka sama lu. Apa gue salah?” tanya Gilang tanpa merasa bersalah, membuat emosiku naik ke ubun-ubun. “Kurang ajar banget sih lu jadi cowok. Nggak pantes lu dapetin temen-temen gue!” bentak Serli. “Pergi lu dari sini!” bentak Ratu. “Dengerin aku dulu Lita, aku tidak bohong. Aku suka sama kamu saat pertama kali kita bertemu,” ujar Gilang membuatku berjalan mundur menjauhi Gilang. “Pergi lu!” usirku dengan sengit, Gilang terlihat ingin kembali berbicara tetapi Ratu langsung mendahuluinya. “Lu mau pergi atau gue kasih bogem?” ujar Ratu mengacungkan kepalan tangannya ke depan wajah Gilang dan akhirnya Gilangpun berlalu pergi. “Apa yang terjadi Tha? Lu beneran gak ada hubungan apa-apa kan sama Gilang?” tanya Ratu penuh selidik. “Ya Allah Ratu, gue berani bersumpah kalau gue nggak tau apa-apa dan gue nggak ada hubungan apapun sama Gilang!” ujarku meyakinkan. “Ya udahlah guys, nggak usah di permasalahin lagi. Mending sekarang kita balik saja. Malu di liati orang-orang,” ucap Serli. “Chacha gimana?” tanyaku merasa sangat bersalah sampai meluPakan rasa sakit dan ngilu di pipiku. Ini pertama kalinya aku mendapat tamparan, apalagi dari sahabatku sendiri. “Mending kita ngomong baik-baik saja besok dengannya. Biarin dia tenangin diri dulu,” ucap Ratu membuatku mengangguk. Aku berjalan sendiri menyusuri jalanan, pikiranku terus melayang memikirkan Chacha. Kesalahpahaman ini malah semakin parah dan rumit. “Awasssss!” teriak seseorang menyadarkanku dari lamunanku. Aku merasa tubuhku di tarik oleh seseorang. Aku  terjatuh tepat di atas tubuh tegap milik seseorang yang terasa begitu hangat. Aku mendongakkan kepalaku dan pandanganku langsung terpaut dengan mata coklat tajam milik seseorang. “Kak Dhika?” “Ka-Kakak tidak apa-apa?” tanyaku gugup karena Kak Dhika hanya menatapku saja tanpa melepas rengkuhan tangannya dari pinggangku. “Nggak kok, nggak apa-apa,” ujar Dhika, aku langsung beranjak saat Kak Dhika melepas rengkuhannya, di ikuti Kak  Dhika. Kami sama-sama menepuk tubuh kami karena kotor. “Tangan Kakak terluka,” ucapku saat melihat tangan Dhika yang terluka. “Tidak apa-apa, hanya luka kecil,” ucap Kak Dhika. “Lain kali hati-hati, jangan melamun saat berjalan,” tambah Kak Dhika. “Terima kasih karena Kakak sudah menolongku,” ucapku tersenyum. “Sama-sama Lita, aku kebetulan lagi di bengkel depan. Mau ambil mobil,” ucapnya. “Aku obatin luka Kakak yah,” ucapku karena merasa tidak enak. “Ini…” Kak Dhika terlihat berpikir. “Baiklah.” Dia akhirnya setuju dan mengajakku untuk duduk di kursi tunggu bengkel. Aku segera mengeluaran kotak  p3k di dalam tasku dan mulai mengobati luka di siku Kak Dhika.. “Kamu suka bawa p3k kemana-mana?” tanya Kak Dhika. “Iya,, aku sering membawa ini kemana-mana. Lagian kan kalau ada kejadian seperti ini jadi sudah siap siaga,” ucapku masih terfokus dengan aktivitasku membersihkan lukanya Kak Dhika. “Pintar.” Kak Dhika membelai kepalaku, membuatku tertegun menatap Kak Dhika. “Ssshhhtttt...” Kak Dhika meringis, membuatku tersadar dari keterPakuanku dan ternyata aku menekan kencang luka Kak Dhika. “Maaf  Kak.” Aku kembali melihat ke arah luka Kak Dhika dan menyelesaikan pengobatannya. “Ssstttt...” Aku meringis saat Kak Dhika memegang sudut bibirku. “Sudut bibir kamu luka Tha?” tanya Kak Dhika. Mungkin karena tadi di tampar Chacha. Aku tersentak kaget saat merasakan sesuatu yang menempel di lukaku. Ternyata Kak Dhika mengobati sudut bibirku dengan telaten. “Kalau tidak di bersihkan nanti infeksi dan mengakibatkan sariawan,” jelas Kak Dhika. Aku menatap wajah Kak Dhika dengan intens hingga saat selesai membersihkan lukaku, Kak Dhika membalas tatapanku. Mata coklat miliknya membuatku merasa nyaman, dan tatapan tajam itu ternyata begitu indah saat di pandang dari dekat membuatku sulit untuk berpaling darinya. “Mobilnya sudah selesai, Pak,” ucap seseorang menyadarkanku dan Kak Dhika. “Ah iya,” ucapnya memalingkan pandangannya ke arah seseorang itu. Seseorang itu menyerahkan kunci mobil ke Kak  Dhika. “Ayo aku antar kamu pulang,” ajak Dhika membuatku mengangguk sambil membereskan semua peralatan p3k. Di dalam mobil, kami berdua hanya terdiam. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan satu sama lain. Aku merasa sangat gugup dan terus menatap keluar jendela. “Ehem...”  Kak Dhika berdehem menyadarkanku. “Kamu habis dari mana, Tha?” tanya Dhika sambil menyetir. “Aku tadi habis dari gramedia membeli beberapa buku pelajaran dan novel,” ucapku. “Kamu suka dengan novel?” tanya Dhika. “Iya, aku senang membaca,” ucapku lalu pandanganku menangkap sebuah buku yang ada di dashbox di hadapanku. “Ini buku ilmu kedokteran?” “Iya, itu buku pelajaranku,” ujar Dhika. “Kakak ambil jurusan kedokteran?” tanyaku pura-pura tak tahu. “Iya,, kenapa?” tanya Dhika. “Tidak apa-apa Kak, aku juga tertarik mengambil bidang study itu,” ucapku. “Oh iya? Wah kebetulan sekali dong. Kamu daftar saja ke Universitas tempat Kakak kuliah,” ujar Dhika terdengar sangat bersemangat membuatku terkekeh. “Iya mudah-mudahan Lita berhasil mendapatkan beasiswanya,” ujarku. “Beasiswa?” Dhika menatap ke arahku dan aku jawab dengan anggukan kepala. “Aku hanya orang dari kalangan biasa, Kak. Tante aku hanya seorang pedagang kue jadi uang darimana aku bisa masuk ke fakultas Kedokteran kalau bukan mendapatkan beasiswa.” Jelasku apa adanya. “Orangtua kamu kemana?” tanya Dhika. “Aku nggak tau Kak, sejak aku lahir aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Kata Tante sih mereka meninggal karena sebuah kecelakaan.” “Maaf,” ucapnya. “Tidak apa-apa Kak.” Aku tersenyum menatap Dhika. “Berarti kamu sangat pintar dong,” puji Dhika mengalihkan pembicaraan. “Mungkin,” kekehku. “Aku hanya berusaha semampuku Kak.” Jelasku membuat Dhika tersenyum menatapku,  jantungku semakin berpacu dengan cepat karena di tatap olehnya. “Sudah sampai,” ucap Kak Dhika menyadarkanku, ternyata kami sudah sampai di depan rumahku. “Makasih Kak, aku masuk yah.” Aku segera menuruni mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa ingin menengok lagi ke belakang.   Aku berlari menuju kelasku karena sudah kesiangan takut Guru pelajaran pertama sudah di mulai. Hingga sampai di pintu, langkahku terhenti saat mendengar ucapan menyakitkan dari sahabatku. “Lita tuh diam diam menghanyutkan. Di depan kita sok alim, sok baik padahal di belakang udah kayak cewek murahan saja,” ujar Chacha membuatku menutup mulutku tak percaya, sahabatku sendiri tega mengatakan ini. “Jaga omongan lu Cha! Lita tuh sahabat kita, tidak pantas lu ngomong seperti itu tentang dia,” ujar Serli tersulut emosi. “Kenyataannya memang begitu Ser, coba saja lu yang ada di posisi gue. Daniel yang di godain sama Lita, apa lu masih mau membelanya?” tanya Chacha membuat Serli terdiam. “Udahlah kalian jangan bahas masalah ini lagi, mending sekarang kita fokus dengan UN,” ujar Ratu menengahi. Aku hanya bisa bersandar di dinding dengan tangisanku, tega sekali Chacha menuduhku sebagai w************n. Padahal sudah sangat jelas kalau aku tidak merebut Gilang darinya.  *** UN telah berakhir dan kini aku tengah duduk di taman sekolah sambil membaca buku. “Hai Tha,,” Serli duduk di sampingku, membuatku menurunkan buku dari hadapanku. “Tha, liburan sekarang kita pergi ke pantai Sawarna di Banten yuk,” ajak Serli. “Sama siapa? Kan lu tau liburan sekarang kita sibuk ngurusin pendaftaran ke Universitas,” ujarku. “Iya, tapi kan kita liburan 2 minggu Tha. Kita sibuk di minggu kedua kita liburan kan,” ujar Serli. “Daniel nyuruh gue buat ngajakin lu.” “Kenapa? Lagian itu kan sahabat dari cowok lu, gue gak begitu mengenal mereka. Lagian gue tidak bisa meninggalkan Tante Ratih sendiri,” ujarku. “Ayo lah Tha ikut, kan ada gue dan Kak Dewi. Lagian juga lu sudah kenal kan sama mereka,” bujuk Serli. “Gimana entar aja, Ser.” “Lita..!!” panggil seseorang membuatku dan Serli menengok. “Ini,, gue udah nggak butuh ini!” Chacha melemparkan gelang persahabatan kami ke hadapanku. “Gue gak mau lagi temenan sama lu yang suka nusuk dari belakang. Gue gak suka temenan sama cewek murahan kayak lu!” ujar Chacha sinis membuatku dan Serli berdiri karena syok. “Jaga ucapan lu, Cha. Tega banget lu ngomong gitu tentang Lita!” bentak Serli. “Apa salah gue, Cha? Kenapa lu ngehina gue kayak gini? Gue udah jelasin kan semuanya dan gue juga udah minta maaf sama lu masalah Gilang,” ucapku. “Apa salah lu? Lu masih belum nyadar salah lu itu apa, hah?” bentak Chacha membuatku mengernyitkan dahiku bingung. “Lu tega sama gue, Lita! Gue mencintai Gilang tapi kenapa lu lakuin ini?” jerit Chacha. “Gue berani bersumpah, gue gak ngelakuin apapun. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Gilang dan gue juga gak merebut dia dari lu!” “Kalau lu tidak menggodanya, tidak mungkin dia terus deketin lu. Kenapa lu lakuin ini sama gue?” bentaknya. “CUKUP !!!!” teriak Serli tersulut emosi. “Kalian jangan bertengkar hanya karena satu cowok b******k!” “Dia tidak b******k Serli. Tapi Litalah yang b******k karena merebut kekasih sahabatnya sendiri!” ucap Chacha dingin, membuat hatiku tertusuk jarum yang sangat tajam, apa sehina itu aku di mata sahabatku. “Apa masih pantes lu di sebut sahabat, hah? Lu nusuk gue dari belakang!” ucap Chacha seraya menunjuk ke depan wajahku. “Cukup Cha, lu jangan keterlaluan nuduh Lita kayak gitu. Lita sudah bersumpah kalau dia tidak mendekati kekasih lu,” ucap Ratu membelaku. “Terus saja kalian berdua belain wanita sialan ini, suatu saat nanti kalian akan sadar sendiri saat cowok kalian di goda olehnya!” ucap Chacha seraya menunjuk wajahku. “Dengarkan baik-baik Lita, mulai sekarang gue sudah bukan sahabat lu lagi. Gue ogah berteman dengan cewek munafik dan suka nusuk dari belakang kayak lu!” ucap Chacha sengit dan berlalu pergi meninggalkanku, Serli dan Ratu. “Astagfirulloh,, kenapa jadi kayak gini sih.” Aku terduduk di kursi dengan tangisku karena jujur saja hatiku begitu sakit mendapat hinaan seperti itu dari bibir sahabatku sendiri.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN