Episode 8

3083 Kata
Aku ikut liburan bersama dengan Serli dan Brotherhood, dan itu mampu membuatku sedikit meluPakan permasalahanku dengan Chacha. Kini aku bersama Serli dan Brotherhood pergi menuju pantai Sawarna di Banten. Kami pergi menggunakan mobil minibus VW berwarna biru. Aku masih merasa begitu canggung dengan semua orang yang ada di sini. Serli juga terlihat sibuk mengobrol dengan pacarnya. Aku memilih terdiam menatap keluar jendela.           Pikiranku melayang kembali ke kejadian kemarin dimana Chacha menghinaku habis-habisan. Di bilang aku tidak sakit hati, itu bohong besar. Aku sangatlah sakit hati dengan ucapan dan tuduhan Chacha. Apalagi hinaan itu di ucapkan oleh sahabatku yang begitu aku sayangi. Rasanya aku di tusuk oleh tulang di dalam tubuhku sendiri. Aku juga tidak menyangka bahwa aku begitu rendah di mata Chacha, sampai dia sama sekali tidak mempercayaiku. Apa cinta harus sampai membutakan orang seperti ini? “Lita…” Aku menoleh saat merasakan sentuhan di pundakku. Ternyata Serli yang kembali duduk di sampingku. Tadi dia sempat pindah tempat dulu ke tempatnya kak Daniel. “Lu nangis?” tanya Serli membuatku kaget dan aku baru sadar ternyata pipiku sudah basah karena air mata. “Ah ini-“ Aku bergegas menghapus air matanya dan tersenyum ke arahnya. “Lu masih kepikiran ucapan si Chacha kemarin yah?” tebak Serli. “Si Chacha itu memang sangat keterlaluan.” Serli terlihat menghela nafasnya. Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi, rasanya sesak di d**a ini menyumpat kerongkonganku hingga aku tidak any berbicara lagi. Tak terasa kami pun telah sampai di tempat tujuan. Mobil masuk ke area penginapan, dan kami semua turun dari dalam mobil dengan membawa tas kami masing-masing. “Gue pesen 4 kamar,” ucap kak Angga. “Dan semuanya berdampingan.” “Apa boleh gue sekamar sama Irene?” tanya kak Seno. “NO!” ucap semua orang, dan aku hanya any terkekeh melihat ekspresi kesal kak Seno. “Dewi, Elza sama Irene tidur di kamar 201, ini kartu kamar kalian,” ucap kak Dhika menyerahkan kartu kamar ke tangan kak Elza. “Thalita dan Serli di kamar 202, ini kunci kalian.” Dia menyerahkan kartu ke tanganku. “Lalu Seno dan Angga di kamar no 204.” Kak Dhika menyerahkan kartu ke tangan kak Angga. “Gue, Gator dan Daniel di kamar no 203.” Setelah pembagian kartu kamar, kami semua berjalan bersama memasuki lift menuju kamar kami.           Aku dan Serli masuk ke dalam kami. Aku meletakkan tas ransel yang aku gendong di atas meja sudut.           “Gue mandi duluan yah Tha,” seru Serli.           “Iya.”           Serli masuk ke dalam kamar mandi, dan aku memutuskan buka pintu penghubung menuju balkon. Aku berjalan menuju balkon kecil itu, pemandangan di depanku adalah hamparan pasir putih dan lautan luas yang begitu indah. Team Brotherhood memang paling pintar dalam memilih tempat.           Angin terasa begitu menyejukkan menerpa wajahku, menusuk ke kulitku. Aku berpegangan pada pagar pembatas. Posisiku ada di lantai 6, lumayan tinggi.           “Bagus bukan pemandangannya?” ucapan seseorang membuatku menoleh ke sumber suara.           “Kak Dhika?” gumamku saat melihatnya berada di balkon kamarnya yang ada di samping kamarku dengan bersandar ke daun pintu dan tangan yang di lipat di d**a. Sungguh elegant dan mempesona.           “Iya Kak, pemandangannya sangat indah.” Aku hanya tersenyum kecil. Jujur saja aku merasa malu dan canggung berhadapan dengannya. “Hei Lita!” teriak Okta keluar dari balik pintu melambaikan tangannya membuatku tersenyum ke arahnya. “Lita, kenapa lu sendirian? Dimana si Metromini?” tanya Okta. “Metromini?” Aku mengernyit bingung mendengar nama yang di sebutkan oleh Okta. “Itu si Serli.” Serli di panggil Metromini? Ada ada saja. “Oh Serli, dia sedang mandi.” “Lu gak keluar?” tanya Okta dan aku hanya menggelengkan kepala. “Dhik, ajakin keluar kek,” ujar Okta menyenggol lengan kak Dhika. Eh apa sih maksudnya Okta ini… “Gue mau tidur, baru juga sampe.” Kak Dhika tamPak terganggu dan memilih masuk ke kamar. Entah kenapa aku merasa kecewa melihat sikap kak Dhika? Apa aku terlalu berharap? Astaga Lita, kamu harusnya sadar diri. Sore hari kami semua berjalan-jalan di pantai Legon Pari yang sangat indah apalagi di waktu senja seperti ini. Aku berjalan menabrak air ombak, rasanya sejuk sekali kaki ini saat bersentuhan dengan air laut. Memang benar sih pantai itu kadang any membuat kepala lebih adem dan lebih jernih. Aku merasa lebih baik saat sudah berada di sini.           “Tha, ayo kita ke atas batu karang itu,” seru Serli menarik tanganku mengikuti yang lain menuju ke batu karang besar itu. Katanya di sana lebih indah menatap sunset.           Kami sudah sampai di atas batu. Pandangan kami semua tertuju pada langit yang merah kekuningan. “Indah banget.” Aku sangat terpesona melihat keindahan langit yang berubah warna menjadi merah kekuning-kuningan dan matahari yang sedikit demi sedikit turun.           Matahari pun sudah terbenam sempurna dan langit berubah menjadi gelap. Azdan magrib sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. “Gue balik duluan yah.” Seru kak Dhika membuka pembicaraan setelah lama kami semua terdiam membisu. “Bukannya kita mau makan malam?” tanya kak Elza. “Gue solat magrib dulu, ntar gue nyusul deh,” ucap kak Dhika. “Aku juga mau solat dulu.” Akhirnya aku berani bersuara. “Ya sudah bareng aja sama Dhika,” ucap  kak Daniel. “Emang lu gak solat Niel?” tanya kak Dhika terlihat heran. “Bentaran lagi, lu aja sama Lita duluan,” Entah kenapa ekspresi kak Daniel seperti memiliki maksud tertentu. “Iya kalian berdua aja duluan,” kini kak Dewi yang bersuara dan terlihat jelas semuanya memiliki maksud tertentu. Htanya kak Elza dan kak Angga yang terlihat acuh. “Kalau gitu, Lita duluan yah.” Aku berjalan meninggalkan mereka semua, malas berlama-lama. Apalagi melihat kak Dhika yang seperti enggan berjalan bersamaku. Ah, mungkin memang aku yang terlalu percaya diri. “Tunggu sebentar, kamu cepet banget jalannya.” Seruan itu membuatku menoleh ke sampingku, ternyata kak Dhika yang kini berjalan di sampingku. “Waktu magrib sangat terbatas Kak, jadi aku harus cepat,” jawabku dan terus berjalan untuk segera sampai ke kamar penginapan. “Apa aku membuatmu tersinggung?” tanya kak Dhika. “Emm, enggak kok Kak. Kenapa aku harus tersinggung?” aku berusaha memalingkan wajahku untuk tidak menatap ke arahnya. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya dan kami berjalan memasuki pengiapan. “Aku akan solat di mesjid, kamu mau ke kamar?” tanya kak Dhika. “Sepertinya aku-“ “Solat di mesjid saja, jadi nanti setelah solat kita bisa langsung menuju restaurant untuk makan malam bersama.” “Baiklah.” Kamipun berjalan menuju mesjid. Aku menunggu kak Dhika yang masih berdzikir di dalam mesjid. Aku duduk di teras mesjid, banyak orang yang berlalu lalang masuk dan keluar mesjid setelah melaksanakan solat. “Hei,” aku menoleh ke sampingku saat mendengar suara seseorang. Kak Dhika kini duduk di sampingku. Wajahnya terlihat bercahaya, dan semakin tampan saja. Aku segera memalingkan wajahku karena tidak ingin semakin mempesona dan terlihat konyol. “Ayo kita ke restaurant,” serunya yang aku jawab dengan anggukan kepala. Kamipun berjalan berdampingan menuju restaurant. “Awas…!” “Eh…?” Seseorang baru saja menabrak tubuhku, aku di tarik oleh kak Dhika dan sekarang posisi kami begitu intim. Aku berada di dalam pelukannya dan tatapan kami terpaut satu sama lain. Mata coklat tajam itu… Entah kenapa begitu mengintimidasiku dan membuatku merasa terhipnotis. “Kamu tidak apa-apa?” tanya kak Dhika membuatku berpaling dan segera menjauh darinya. “Aku.. aku baik baik saja. Terima kasih Kak.” Aku berjalan terlebih dulu meninggalkannya. Aku merasa jantungku berdebar semakin cepat. *** Aku tengah berdiri di balkon kamar, tak lama Serlipun menyusul keluar dan berdiri di sampingku. “Di sini sangat indah yah,” ucap Serli membuatku mengangguk setuju. “Kalau saja Chacha dan Ratu juga ikut pasti tambah seru.” Aku hanya bisa tersenyum kecil membayangkan itu. “Ck,.. masih aja lu harepin dia,” gerutu Serli terlihat tidak suka. “Memang kenapa, mereka kan sahabat kita.” “Udahlah Tha, Chacha bukan sahabat yang baik buat kita. cuma gara-gara cowok, dia sampai mutusin persahabatan kita,” ucap Serli. “Iya sih, si Gilang memang b******k. Sampe sekarang aja terus ngehubungin gue.” Aku sangat membencinya juga merasa jijik padanya. “Tha,,” “Hmm” “Menurut lu, kak Dhika gimana?” tanya Serli membuatku menoleh ke arahnya. “Iya menurut lu, kak Dhika gimana orangnya?” “Dia baik.” Ya, dia memang baik walau masih sangat misterius, rasanya sulit untuk bisa dekat dengannya. “cuma baik aja?” sewot Serli. Dia kenapa? “Iya, terus gue harus jawab apa dong?” “Au ah gelap!” sewot Serli memanyunkan bibirnya membuatku tertawa. Sungguh lucu... “Dia tampan, lucu dan sangat mempesona.” Aku berbisik di telinga Serli. “Cie cie... jadi?” goda Serli kembali tersenyum menggoda. “Jadi apa? Ya gak jadi apa-apa.” Aku mengedikkan bahu. “Kalau dia nembak lu, lu harus terima dia yah.” Ucap Serli antusias. “Ih apaan sih lu, gue belum kepikiran ke sana. Yang ada gue lagi mikirin tes buat masuk ke Fakukltas Kedokteran entar.” Serli ini ngomong apa sih. Mana mungkin kak Dhika nembak aku. “Yaelah, tanpa belajar dan dipikirin juga, lu pasti lulus kok.” Jawab Serli. “Lu pikir gue manusia super bisa sehebat itu.” “Lu kan alien dari planet Pluto,” ledek Serli nyebelin. “Ih apaan sih lu.” Aku memukul pelan lengannya. “Lagian yah, mana mau kak Dhika sama gue. Gue jauh banget dari levelnya.” “Jangan pesimis gitu dong, lu harus percaya diri. Lagian lu cantik kok Lita Sayang,” ujar Serli seakan menghiburku. “Di mimpi gue aja kali kak Dhika nembak gue.” Mustahil sekali itu sampai jadi kenyataan. “Cie..cie ternyata ada yang kepikiran terus,” goda Serli. Ih makin nyebelin. “Jujur aja kali kalau memang suka, gue dukung 1000% kok,” goda Serli membuatku semakin malu. “Ciee,,, itu pipi udah kayak kepiting rebus aja,” goda Serli sambil tertawa. “Ih apaan sih lu! Awas yah.” Aku menutup wajahnya dengan kedua tanganku karena kesal.  Dia menghindariku sampai aku harus mengejarnya, dan saling tertawa saat aku mendapatkannya dan menggelitiknya. Karena merasa lelah, kamipun merebahkan tubuh kami di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamar. “Ser, lu jadinya mau masuk ke Universitas mana?” tanyaku. “Sama kayak lu, tapi gue mau ambil jurusan Desain Interior,” jawab Serli. “Lu yakin?” Aku menoleh ke arahnya yang ada di sampingku. Serli mengangguk pasti. “Lu tau kan gue hobby menggambar.” “Bagus deh, jadi kita bisa satu kampus lagi meskipun akan beda kelas dan fakultas.” Serli mengangguk setuju. Kemudian Serli mulai menceritakan mengenai dirinya dan Daniel sampai kami sama-sama terlelap. Setelah menikmati sunrise di balkon kamar, aku dan Serli pergi menuju lantai bawah untuk menikmati sarapan kami di resto hotel. Sesampainya di sana, terlihat sudah ada kak Daniel, kak Dhika, Oktavio, kak Angga, kak Dewi juga kak Elza. Kak Seno dan Irene belum terlihat. “Lita, Serli kemari,” panggil kak Dewi. Kami pun berjalan mendekati mereka. Kami mengambil sarapan, Serli mengambil nasi goreng dengan segelas jus jeruk. Sedangkan aku memilih coklat panas dan roti dengan selai strawberry kesukaanku. Setelahnya kami mengambil duduk bersama mereka. Serli langsung duduk di samping kak Daniel dan aku memilih duduk di samping kak Dewi. “Kemana Irene dan kak Seno?” tanya Serli seraya menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. “Lari pagi mungkin,” jawab kak Daniel. “Oh iya Lita, lu berencana masuk ke Universitas mana?” tanya Okta. Em tumben banget dia ntanya aku. “Aku sudah daftar di Universitas xx,” jawabku. “Wah kita berjodoh berarti, gue juga masuk ke Universitas itu. Dan ini senior Brotherhood juga mahasiswa di sana,” jelasnya. Wah.. gak nyangka banget. “Ambil jurusan apa?” aku bertanya padanya. “Gue sih Teknik Informatika. Sebenernya gue agak males kuliah, toh gue gak kuliah juga tetep bakalan jadi pewaris keluarga Mahya,” serunya dengan bangga. “Lu perlu tau yah, gue ini pangeran kedua dari keluarga Mahya. Dan semua harta orangtua gue bakalan di warisin ke gue semua. Gak nyangka pan lu kalau gue seorang Milyader,” ceroscosnya begitu sombong tetapi entah kenapa mendengarnya bukan kesal tetapi malah ingin tertawa. “Yakin lu bakalan di warisin ke lu semua,” seru kak Angga. “Harus lah, kalau nggak gue bangkrutin aja perusahaan Mahya,” kekehnya. “Ucapan lu terlalu tinggi, Gator,” seru kak Dhika. “Ngekhayal dikit gak apa-apa kan,” kekehnya. “Abis ini rencana kemana?” tanya Serli. “Rencana nya sih mau ke gua lalay,” jawab kak Daniel. Wah gua Lalay, aku pernah searching di google tempat wisata ini. Gua Lalay adalah salah satu icon di sini yang begitu menawan dan sangat indah pemandangannya. Aku jadi gak sabar ingin segera ke sana dan melihat pemandangan. Kami bersepuluh pun pergi menuju Gua Lalay dengan menggunakan perahu karet. Kami juga sudah memakai pelampung untuk melindungi diri kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Tak butuh waktu lama, kami pun sampai di Gua Lalay. Perahu karet kami mulai memasuki area gua yang cukup tinggi dan luas. Sekeliling kami adalah dinding gua yang  terdapat batu-batu gamping. Sangat indah dan mempesona, kami begitu menikmati pemandangan panorama dan hawa sejuk di sisi. Aku tak jarang mengambil potret pemandangan indah ini. Saat aku menatap ke arah lain, terlihat kak Dhika tengah menatap lurus ke depan, dengan view di belakangnya begitu indah dan menawan. Tanpa sadar aku mengambil potretnya dari samping. Aku tersenyum saat melihat hasil jepretanku, sungguh menawan dan begitu tampan. “Ini sungguh mempesona, bagaikan seorang wanita dengan wajah cantik, putih bersih dan begitu mulus. Sungguh sosok yang sempurna,” ujar Okta begitu berlebihan menilainya. Dia memang selalu begitu, bukan. “Gator, fotoin gue dong,” teriak Irene. “Males ah, pemandangan gua dan laut ini lebih menarik daripada lu, Kaleng Rombeng,” sahut Okta cuek. “Honey... Gatornya pelit!” rengek Irene ke kak Seno. “Gator, fotoin bentar aja. Lu mau gue umbar rahasia lu ke Oma lu.” Ancam kak Seno sambil tersenyum misterius. “Yailah lu bistanya main ancaman. Ayo cepet Kaleng Rombeng, lu mau di foto gaya apa?” seru Okta. “Gini nih nasib anak bonton yang begitu imut dan menggemaskan.” “Najis,” seru Serli. “Kalau ngefans sama gue bilang aja,” seru Okta tamPak santai. “Idih emohhhh banget,” serunya. “Pura-pura malu lu ah, Metromini. Padahal ngefans sama gue juga.” Aku tanpa sadar terkekeh melihat interaksi mereka. “Kenapa ketawa?” tanya kak Dhika membuatku berhenti tertawa. “Nggak, lucu aja liat Okta,” ucapku. “Lita udah mulai jatuh dalam pesona abang Gator yah,” serunya bergaya sok cool dengan menaik turunkan alisnya membuatku semakin terkekeh. “Makin jadi dia kalau ada yang muji,” kekeh kak Dewi. “Dhik, lu jangan cemburu sama gue yah. Lu harus tau pesona gue lebih menawan daripada lu,” ucapnya membuat kak Dhika mencibir.           Kemudian kami sampai di sebuah pantai yang berada tak jauh dari gua. Kami berfoto bersama-sama di dekat batu karang. “Honey, Gatornya nolak motoin lagi.” Rengek Irene. “Lu kira gue fotograper lu, dasar Kaleng Rombeng!” gerutu Okta. Mereka lucu sekali... “Gator, Paket hitam lu gue kasihin ke Oma yah,” sahut kak Seno. “Dasar Kamvret, main ancem aja. Ayo Irene manis cakep cepetan mau di foto dimana?” tanya Okta memasang senyuman paling manis membuatku kembali terkekeh melihatnya. “Kamu sepertinya suka sama Gator.” Seruan itu membuatku menoleh ke samping dan ternyata kak Dhika berada di sampingku dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana selututnya. “Nggak suka dalam artian punya perasaan. Aku hanya suka melihatnya, dia sangat lucu,” jelasku. Aduh, lagipula kenapa aku harus memperjelas segala maksud dari suka itu. Kak Dhika hanya tersenyum ke arahku. “Baguslah kalau begitu,” serunya kemudian berlalu pergi. Apa maksudnya yang bagus? “Eh Lita, ayo ikut di foto sama Irene.” Serli menarik tangan ku menuju Irene yang sedang di foto oleh Okta. Semuanya berfoto bersama, kebanyakan kami para perempuan yang terus berfoto bersama. Aku dan Serli pun beberapa kali berfoto berdua dan ada yang di fotoin olh kak Daniel. Kelihatannya kak Daniel begitu mencintai Serli, dia terus menuruti keinginan Serli dan begitu melindunginya. Syukurlah Serli sudah mendapatkan seseorang yang tepat untuk dirinya. Aku akan selalu berdoa untuk hubungan mereka, semoga bisa sampai ke jenjang pernikahan. “Yak! Kalian ini benar-benar kejam. Enak-enakan lu pada di foto, nah gue di suruh bidik terus!” amuk Okta tak terima saat kami berfoto bersama. “Yaelah Gator, lu lebih cocok jadi tukang foto daripada ikut di foto. Yang ada hasilnya buram,” celetuk Serli. “Heh Metromini, enak bener lu ngomong. Kalau bukan ceweknya sepupu gue udah gue pites lu jadi perkedel,” sewot Okta membuat yang lain terkekeh. Sepertinya perdebatan di antara mereka bukan hal yang serius sampai yang lain merasa itu hal biasa. “Udah Tor, lu fokus aja ngebidik. Entar gantian deh abis ini gue yang fotoin lu,” ucap kak Dhika. “Baiklah Bos.” Ucap Okta, menurut Serli, Okta memang tidak bisa melawan perintah kak Dhika yang meruPakan sang leader. Sepertinya walau mereka semua saling mengejek satu sama lain, tapi mereka juga saling menghargai. Salut banget sama persahabat mereka.           Kami semua berada di posisi untuk foto bersama. Okta meminta seseorang untuk membidik foto. Dan kini ia sedang sibuk mengatur posisi kami semua. “Lita pindah deh jangan deketan si Metromini, efek muka jeleknya si Metromini mempengaruhi kecantikan kamu,” ujar Okta sekentanya membuatku terkekeh. “Maksud lu Gator gendeng?” sewot Serli. “Coba sepupu gue yang tampan tukeran tempat sama Lita,” seru Okta karena posisinya aku, Serli, kak Daniel. “Apa harus yah?” Aku merasa bingung. “Udahlah Lita, turutin aja apa kata photographer,” ujar kak Daniel beranjak pindah ke tempatku sambil tersenyum penuh arti membuatku bingung. Kini aku berdiri di antara Serli dan kak Dhika. Duh berdekatan dengan kak Dhika begini membuat jantungku berdebar sangat kencang. Apalagi aroma maskulin dari tubuh kak Dhika membuatku semakin grogi. “Nah kalau gini kan oke. Dua pasang di kiri, dua pasang di kanan dan Mamake di tengah sama pria tampan,” ujar Okta terkekeh yang berdiri di dekat kak Elza. “Ayo Bang di bidik,” teriak Okta pada seseorang yang akan mengambil foto kami. Beberapa gaya kami lakukan, tersenyum, unjuk gigi, ekspresi lucu dan loncat bersama sudah di ambil. Sungguh menyenangkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN