Episode 5

2120 Kata
Lita kembali ke rumah sakit, setelah menghadiri pemakaman Rahma. Lita baru keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya, tetapi saat melewat ruangan Rival tidak sengaja Thalita mendengar pembicaraan mereka. Dimana Dokter Rival tengah kebingungan karena asisten utama tim operasinya mengalami kecelakaan dan cedera cukup parah, membuatnya tidak akan bekerja sampai keadaannya stabil. Dokter Rival akan melakukan operasi yang cukup serius dan tidak mungkin melakukan operasi tanpa asisten utama tim. Mendengar itu, entah dorongan dari mana Thalita begitu saja masuk ke dalam ruangan Rival. “Permisi,” serunya mengetuk pintu ruangan yang terbuka membuat kedua orang berjas Dokter itu menoleh ke arahnya. "Dokter Lita?" Rival dan seorang pria berjas Dokter juga, kaget melihat kedatangan Lita. "Maaf, apa saya menganggu?" tanya Lita. "Tidak, Dokter Lita. Ada apa?" tanya Rival menatap serius ke arah Lita. "Tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Apa yang terjadi dengan asisten utama kalian?" tanya Lita. "Dokter Marisa mengalami kecelakaan saat perjalanan kemari. Luktanya cukup parah, membuatnya tidak bisa bekerja untuk waktu yang cukup lama," ucap pria yang berada di hadapan Rival. "Kebetulan aku masih baru menempati posisi ketua tim operasi. Aku belum bisa melakukan operasi sendiri tanpa bantuan asisten utama," keluh Rival. "Operasi apa yang akan kalian lakukan nanti sore?" tanya Lita. "Operasi Tranplantasi Jantung," ujar pria di hadapan Rival. "Baiklah, saya akan bantu kalian. Saya akan menjadi asisten utama kalian selama asisten utama kalian sakit," ujar Lita. "Tapi Dokter, apa Dokter Dhika tidak apa-apa?" tanya Dokter pria itu kaget mendengar ucapan Lita. "Saya akan berbicara dengannya. Saya yakin Dokter Dhika sudah sangat handal dan tidak akan masalah kalau tanpa ada asisten utama di timnya," ujar Lita dengan santai. "Kamu serius?" tanya Rival berbinar membuat Lita mengangguk pasti. "Dokter Lita menyelamatkan kita, Dokter Rival." ujar pria itu membuat Rival mengangguk. "Terima kasih," ucap Rival membuat Lita tersenyum. "Jam berapa kira-kira operasinya berlangsung?" tanya Lita. "Pukul 4 sore kita akan melakukan operasi," ujar Rival. "Baiklah, kalau begitu saya permisi." Lita berpamitan dan beranjak keluar ruangan. Setelah pembicaraannya dengan Dokter Rival, Thalita kembali berjalan dengan anggun dan angkuh menuju ruangannya, tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang, membuat Thalita dan orang itu terhuyung tetapi tak sampai jatuh. “Maafkan saya, Dokter.” ucap seseorang itu meminta maaf karena merasa bersalah. “Saya sangat terburu-buru sampai tak melihat anda, maaf-“ Ucapan seseorang berjas Dokter itu terhenti saat melihat wajah cantik Thalita. Bahkan Dokter berambut pirang itu melotot sempurna saat melihat sosok Thalita. "Li-Lita?" ucapnya tertahan dengan ekspresi yang sangat syok, seperti baru saja melihat hantu. Kedua matanya melotot sempurna, bahkan tangannya terangkat menutup mulutnya sendiri. Ekspresi Thalitapun tak kalah syoknya. Keduanya saling berpandangan tanpa berkata apapun, hingga akhirnya Lita memalingkan pandangannya. "Ka- kamu be-neran Lita? Tha-Thalita Putri Casandra?" "Iya, Clarisa Abshari Pratista," jawab Thalita dengan nada dingin. "Ja-jadi kamu masih hidup?" ucapnya masih tidak mempercayai penglihatannya. "Kenapa? kamu mengharapkanku sudah meninggal?" tanya Thalita dengan angkuh. "Nggak, bukan begitu. Aku-" ucap Clarisa tertahan, rasanya sangat sulit mengeluarkan suartanya sendiri, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. "Sudahlah," ucap Thalita malas. "Saya permisi dulu Dokter Clarisa." Thalita melirik ke arah jas Dokter yang Clarisa Pakai, nama Clarisa terpangpang jelas di sana dengan profesinya sebagai Dokter kandungan. Lita kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Clarissa yang masih mematung di tempatnya. Lita memasuki ruangannya dan mengunci pintu ruangan dari dalam. Ia mampu bersikap angkuh di hadapan orang-orang di masalalunya, tetapi kenyataannya rasa sakit itu masih ada dan terus menggerogoti hatinya.  'Kenapa harus bertemu dengannya? Kenapa luka itu masih saja menyayat hatiku? Melihatnya kembali, membuat luka yang aku kubur dalam-dalam kini kembali mencuat,' batin Lita, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.   Flashback On   "Inget yah guys, apapun yang terjadi persahabatan kita akan tetap abadi sampai kita tua,' ujar gadis yang berkulit coklat. "Iya, gue setuju. Persahabatan kita tidak akan pernah berubah, akan tetap terjaga seperti ini," ujar gadis lain dengan rambut hitam pekatnya. "Dan inget yah guys dengan prinsip kita, kalau persahabatan kita adalah number one. Dan gak akan pernah terpisahkan oleh apapun sekalipun itu seorang lelaki. Pokoknya cinta dan Sayang itu adalah sahabat...." ujar gadis berparas cantik keturunan Turki. "Persahabatan kita akan tetap utuh sampai kapanpun juga, dan tidak akan terpisahkan oleh apapun. Jarakpun tidak akan merubah segaltanya," ujar Thalita saat masih duduk di bangku Junior High School. "Kita selamtanyaaaa !!!" Teriak ke empat gadis berSeragam putih biru itu sambil bertos ria. Di pergelangan tangan kanan mereka tersampir gelang yang sama.   Flashback Off   Lita sudah duduk di kursi kebesarannya, tatapannya kosong menatap keluar jendela. Ingatan 10 tahun yang lalu kembali berputar di kepalanya seperti potongan film. Kejadian yang membuatnya harus pergi sejauh mungkin.   10 Tahun Yang Lalu Pagi itu aku keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap memakai Seragam Sekolah Menengah Atas yang cukup terkenal di kota Bandung. Aku Thalita Putri Casandra dan teman-temanku biasa memanggilku Lita, umurku 18 tahun. Aku orangnya sangat pendiam, tidak banyak bicara. Bahkan ketiga sahabatku selalu mengataiku si kutu buku, karena aku sangat gemar membaca buku. Termasuk membaca komix dan novel, aku sangat menyukainya. Saat ini aku tengah berjalan mendekati meja makan, dimana Tanteku yang paling cantik dan paling baik, tengah menyiapkan sarapan pagi. Dia adalah Tante Ratih, dia yang mengurusku dari aku kecil bersama mendiang Omku. Tapi Tuhan lebih dulu memanggil Om Ardi saat aku duduk di bangku Junior High School. Kalian pasti bertanya kenapa aku tidak tinggal bersama kedua  orangtuaku. Dari sejak kecil aku tidak tau siapa orangtua kandungku. Setiap kali aku bertanya pada Tante, Tante selalu bilang kalau orangtuaku sudah meninggal. Dan aku tidak berniat bertanya lagi meskipun penasaran dan tidak yakin dengan jawaban Tante Ratih tapi ya sudahlah mungkin memang benar kalau orangtuaku sudah meninggal. Di sini aku dan Tante hanya tinggal  berdua di rumah yang sangat sederhana ini. Tante membuka usaha toko kue basah dan kering. Dan Alhamdulillah banyak sekali yang menyukai kue bikinannya. Setelah selesai sarapan, aku pergi ke sekolah dengan mengguNakan jasa angkutan umum. Hingga kini aku sudah sampai di depan gerbang Senior High School. Aku berjalan menuju kelasku hingga saat sampai di sana, aku melihat ketiga sahabatku tengah berdiskusi. "Lita... akhirnya lu datang juga. Gue mau lihat tugas matematika lu dong yang kemarin," ujar sahabatku yang berparas cantik keturunan Turki itu dengan senyuman manisnya. Dia adalah Chacha, nama aslinya adalah Clarisa Abshari Pratista. Anak tunggal dari seorang Pejabat, salah satu anggota DPRD di kota ini. Dia anaknya sangat lucu, kocak, baik,tetapi dia masih saja kekanak-kanakan dan terkadang suka sensitive. "Kebiasaan banget sih lu Cha, ngerjain tugas di sini," ucap gadis berambut hitam yang berada di sampingku. Dia adalah Serli, Serli Angela Brunella teman sebangkuku. Dia putri pertama dari 2 bersaudara, keluargtanya hanya keluarga sederhana. Ayahnya seorang wiraswasta di kota ini. Dia orangnya sangat ceplas ceplos, suka sekali dengan tantangan, dia juga sangat baik. "Udah gak apa-apa, nih tugasnya," ucapku menyerahkan buku tugasku ke Chacha. Dan Chacha langsung menerimanya dengan sangat antusias. "Thanks Tha, lu emang sahabat terbaik gue." ucap Chacha tersenyum.   "Terlalu baik lu Tha, lama-lama keenakan juga kan nih si Chacha," ucap gadis berkulit coklat di sebelah Chacha.  Dia adalah Ratu Adela Aloysius, dia sangat tomboy dan berpenampilan apa adanya. Dia orangnya tidak suka yang ribet, dia menyukai hal hal yang simple, dia selalu membuat rusuh di sekolahh dan dia jago bela diri. Dia anak dari seorang Wartawan swasta di perusahaan televisi swasta di kota ini. "Ya nggak apa-apa, asalkan lu paham dari jawaban itu," jawabku dengan santai. "Gue paham kok," jawab Chacha dengan cengiran lebarnya. Inilah ketiga sahabat terbaikku. Kami sudah bersahabat dari sejak kami duduk di bangku Junior High School. Selain Tante Ratih, merekalah keluargaku. Mereka selalu ada di saat aku butuh dan kami selalu saling membantu satu sama lain. Kegilaan, kekonyolan, tawa bahagia, membuat onar di sekolah, itu sudah melekat di diri kami berempat. Bahkan guru BP sudah bosan menghukum kami berempat.           ---           Waktu istirahat, aku pergi ke perpustakaan mencari buku untuk refeRensi untuk tugas makalahku. Dan tidak sengaja aku melihat Serli tengah duduk di sana sambil memainkan handphonenya. "Woy...!!!" Aku mengagetkan Serli. "Eh lu Tha." Serli hanya nyengir saja dan kembali menatap layar handphonenya sambil senyum-senyum sendiri. "Kenapa lu, Ser?" tanyaku terus menatap Serli karena merasa heran dengan sikapnya. "Gue? Gue gak apa-apa kok," ucap Serli membuatku memutar bola mataku. Dia selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku. "Jangan bohong deh, ayo cepet cerita," tanyaku menyimpan buku yang aku pegang di atas meja dan siap mendengarkan cerita dari Serli. "Sebenarnya gini lho Tha, lu tau kan laki-laki yang suka ke toko bokap gue," ucap Serli. "Laki-laki yang lu bilang rumahnya dekat dengan toko lu itu?" Serli menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kenapa memangnya?" tanyaku lagi sangat penasaran. "Iya kita kan udah lama sering chattingan. Dia sangat baik Tha, apalagi dia sangat tampan," ucap Serli berSeri-Seri, emm aku tau Serli pasti udah jatuh cinta dengan pria itu. "Hmmm,,, lalu?" tanyaku sedikit menggoda. Membuat Serli menundukkan kepalanya malu-malu. Lucu sekali... "Dan weekend ini dia ngajakin gue main ke tempat wisata," ucap Serli malu-malu. "Cie...cie...." godaku membuatnya semakin malu. "Kalau mau ngobrol jangan di perpustakaan, sana keluar!" ucap seseorang membuatku dan Serli sama-sama menengok ke sumber suara. Dimana guru piket perpustakaan tengah berdiri di belakang kami dengan tatapan yang tajam, membuat kami ngeri. "Ba-baik Bu." Serli segera menarik tanganku untuk keluar dari perpustakaan. Kami berdua tertawa saat keluar perpustakaan. "Kalian berdua dari mana aja? Gue daritadi nyariin kalian tau," ucap Chacha yang baru saja datang di hadapan kami bersama Ratu. "Kita abis dari perpus, Cha," jawabku. "Kalian kenapa tertawa?" tanya Ratu heran. "Ini si Serli lagi kasmaran," ucapku. "Oya? Cie...cie… Liat tuh muka si Serli langsung merah kayak tomat busuk," goda Ratu. "Ishhh..." cibir Serli. "Lu udah punya pacar?" tanya Chacha sangat antusias. "Kalian heboh banget. Lu juga Tha, ember lu ah," Seru Serli. "Gue belum jadian, tapi ya mudah-mudahan saja beneran jadian lusa nanti," kekehnya. "Cie...cie..." ucap ketiga sahabatnya. "Gue doain moga malam ini dia nembak lu," ucapku. "Kita dukung lu," ucap Ratu memeluk Serli. ***           Author Pov Daniel membawa Serli ke sebuah tempat wisata alam yang ada di Bandung. Serli sangat senang dan bahagia saat menghirup udara segar nan sejuk di sana. “Kau tau, aku sangat menyukai suasana begini. Aku dulu sering hiking ke gunung. Tetapi sekarang sudah tidak karena di SMA, waktuku tersita habis,” Seru Serli. “Aku juga menyukai suasana sejuk alam bebas seperti ini. Brotherhood sering menghabiskan waktu liburan dengan hiking atau liburan ke pantai.” “Wah pasti Seru yah bisa liburan dengan para cogan,” kekeh Serli. “Cogan? Apa itu termasuk dengan aku?” tanya Daniel. “Begitulah,” kekeh Serli. “Aku kan selalu berkata jujur.” “Kalau begitu, aku juga ingin berkata jujur,” Seru Daniel. “Apa?” tanya Serli. “Jadilah pacarku, Ser.” “Apa?” pekik Serli tamPak kaget hingga Daniel meringis karena suartanya yang seperti klakson metromini kalau kata Okta. “Tidak usah berteriak,” kekeh Daniel mengusap kupingnya. “Tunggu! Kamu tadi mengatakan apa?” tanya Serli seakan ingin meyakinkan. “Jadilah pacarku, Serli.” “Apa... maksudmu kita?” gumam Serli. “Aku dan kamu pacaran gitu?” tanya Serli. “Iya,” jawab Daniel dengan sabar dan lembut. “Kayak di novel-novel itu,” kekeh Serli. “Mimpi apa aku punya pacar cowok ganteng seperti di dalam novel,” kekehnya. “Jadi kesimpulannya kamu menerimaku jadi pacarmu?” tanya Daniel. “Sudah pastilah! Oppzzz...” Serli segera menutup mulutnya yang keceplosan. Mereka berdua tertawa bersama akhirnya. ---- Daniel dan Serli berjalan-jalan dengan saling merangkul dan penuh dengan kebahagiaan karena mereka berdua baru saja jadian. Sudah lama Serli menyukai Daniel. Sebaliknya Daniel juga sudah jatuh cinta pada Serli saat pandangan pertama mereka. *** "Litaaaaaaa........Chachaaaa......Ratuuuuuuuu......" teriak Serli saat masuk ke kelas dan langsung histeris menuju ketiga sahabatnya yang tengah duduk di bangkunya. "Lu kenapa?" tanya Lita heran. “Abis makan toak lu?” Seru Chacha. "Lu kesambet kuntilanak dimana? Teriak-teriak gak jelas," keluh Ratu.    "Iishhhh....kalian ini," cibir Serli. "Dengerin gue yah guys, kalian tau gak.." "Nggak tuh," potong Thalita membuat Serli cemberut. "Maktanya kasih tau dong jangan buat kita penasaran," tambah Chacha. "Jadi guys kemarin itu-“ “Kalian jadian?” Seru Lita dengan nada polos. “Ihh Lita jadi gak Seru kan kalau udah di tebak,” Seru Serli. “Wih jadi lu gak jomblo lagi?” tanya Ratu. “Nggak dong,” kekeh Serli terlihat begitu bahagia. "Cie..cie.. selamat yah, Ser." Lita langsung memeluk Serli. "Selamat yah," tambah Ratu ikut memeluk Serli. "Selamat yah Serli saying," timpal Chacha ikut memeluk juga. Keempatnya berpelukan dan berputar-putar di depan kelas, kejadian ini tidak membuat heran teman-teman di kelas yang melihat kekomPakan persahabatan mereka berempat. "Ekhem..ekhem... ada tali kasih apa di pagi hari ini?" ucap seseorang membuat ke empatnya melepaskan pelukan dan tersenyum kikuk pada pria paruh baya yang berdiri di pintu masuk kelas. "Eh ada BaPak," ucap Serli tersenyum kikuk dan kembali duduk bersama teman-temannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN