‘Dhika, tunggu aku’ batin Thalita. Sampai di lobi hotel, Thalita segera memasuki taxi yang kebetulan baru menurunkan seorang penumpang. Lita terus melafalkan doa dalam hatinya, berharap dia tidak terlambat dan bisa menahan Dhika. Hingga taxi yang Lita tumpangi berhenti di tengah jalan karena jalanan tengan macet. Jarak Lita ke bandara hanya berkisar beberapa kilometer lagi saja. Thalita memutuskan utuk turun disana, dan berlari bergegas menyebrang jalan sambil mengangkat dress pengantinnya yang menyapu tanah. Thalita berlari menyusuri jalanan, di bawah terik matahari. Thalita tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya yang mungkin menatapnya aneh dan heran. Pikirannya hanya tertuju pada Dhika. Thalita terus berlari, walau keringat sudah bercucuran membasahi badan, dahinya juga

