Kala menatap balkon berbunganya dengan mata nyalang. Makam Sam sudah dibereskan, mereka sudah kembali membangunnya. Nyeri hatinya masih terasa. Siapa pun yang melakukan ini, sudah dengan lantang menabuhkan genderang perang. Membuka luka lama, dan membakar jiwanya untuk menuntut dendam. Ponselnya berbunyi, Kirana, nama yang tertera di sana. "Ada apa, Ki?" Kala berdiri dan menutup pintu balkon. Dia menyambar kunci mobil yang ada di meja, mendengarkan semua yang Kirana katakan di seberang saluran telepon. Andika sudah berdiri di samping pintu saat Kala keluar. "Kamu sudah mendapat laporan?" tanya Kala seraya memasukkan ponsel ke kantong celananya. "Berjanjilah untuk tetap tenang," kata Andika berjalan mendahului Kala menuruni tangga. Kala menarik nafasnya berat. Dia tak bisa berja
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


