Lepaskan dia. Itu yang tengah aku usahakan. Melepaskan perasaanku menyukainya tanpa lagi batasan keinginan memilikinya dan melepaskan dia -Arvel- memilihku sebagai pasangannya atau tidak. Aku siap pada situasi dimana aku harus melepaskan kebutuhanku akan dirinya jika bukan aku pilihannya. Kepasrahan adalah pilihanku kini. Tapi berpasrah ke rumah Bu Yulia... Ya Tuhan, aku masih butuh uang dari pekerjaanku. Bertemu dengan Bu Yulia bersama Arvel yang memiliki nama tengah ember bocor sama saja menyodorkan nyawaku. “Saya tidak mau ke rumah kamu,” kataku tegas. Dia menipiskan bibirnya, tidak langsung membalasku. Aku gunakan kesempatan ini untuk mempertegas ucapanku. “Saya masih punya kesibukan lain.” “Mami bisa marah. Lagian kalau kita menikah, potensi kita numpang di rumah mami itu besar.”

