Lima hari lalu, aku meminta Arvel melaksanakan usaha magic stick terakhirnya. Bukan karena aku benci terhadap ide-ide konyol yang dia miliki. Aku hanya... tersadar akan posisiku. *** Rai dan Diara duduk pada coffeebar rumah mereka. Arvel bergerak ke sana ke mari. Aku hanya bersandar pada dinding sebelah kulkas, diam memperhatikan gerak gesitnya. Hanya melihatnya menimbulkan kehangatan tersendiri bagiku. “Jadi ini smoothies apa?” Diara penasaran melihat bahan-bahan yang dimasukan Arvel. Aku pun merasa demikian. “Smoothies buah, nyonya anak tikus.” Arvel memasukan potongan buah-buahan tropis, beberapa sendok plain yogurt, dan dua bongkah es batu. Dia menekan tombol pada blender lalu alat itu bekerja menghancurkan dan mengaduk isi dalamnya. Mata jernih Arvel tanpa sengaja bertemu mataku.

