Aku tahu aku telah membuat langkah yang salah ketika menghampirinya yang diam menatap jendela di ujung koridor. Seandainya kamu menjadi aku, melihat bagaimana matanya menyendu, aku, aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi demikian. Gairah matanya meredup, aku tidak bisa menahan diriku. Pertahananku selama sebelas hari menjauhinya runtuh. “Kenapa di sini?” Kedua tanganku mengepal di sisi paha, menekan kuat hingga aku merasa telapak tanganku perih oleh kuku yang menancap. Mau bagaimana lagi, ini caraku menahan dentuman jantung yang bekerja abnormal. Aku tidak ingin dia menyadari perasaanku. Aku malu. “Lagi mencari inspirasi, Ibu nyari saya?” Dia masih berbicara santai padaku setelah sebelas hari aku menghindarinya. Benar-benar tidak ada aku dalam sejengkal pun kehidupannya. Memangnya

