Tora bikin gue ngeri. Sejak meeting dan menjalankan aksi magic stick kedua, dia nggak pernah mau ngelihat muka gue. Apa jelek banget ya muka gue? “Mikirin apa?” Suara Kak Diara bikin fokus gue balik. Lah iya, gue lupa lagi bertandang ke rumah Rai buat bantu Kak Diara bikin vertical garden sederhana. “Nggak mikir apa-apa,” jawab gue sambil balik menekuni aktivitas menata pot-pot mini berisi tanaman mungil pada media berupa rak kawat memanjang ke atas. “Aku pikir Jossy agak aneh.” Dia memang aneh dari sananya. Gue putar bola mata saja daripada keceplosan ngomong, yang orang-orang tahu gue itu naksir si Tora. Padahal mah, preeet. “Aneh gimana?” Gue sok peduli ocehan Kak Diara yang minim manfaat bagi gue. “Dia kayak banyak nanya aku soal pernikahan. Kamu sudah lamar dia?” Busyeeet, siapa

