“Ibu ngikutin saya?” Gue bertanya ragu-ragu ke Tora. Dia malah melengos ke Didi. “Pesan satu porsi, Di. Tidak pedas,” kata Tora tidak acuh terhadap pertanyaan gue. Mengikhlaskan nasib sebagai cowok senilai seekor lalat, gue duduk. Biyan yang sedang asyik bermain game driving truck langsung berhenti begitu p****t gue menempel kursi. “Sakit, bang? Mau gue periksa?” Asli ledekan Biyan nggak banget. Dari semua dokter praktik yang sudah mengucap janji profesi, gue paling pantang diperiksa Biyan. Bukan soal gue sangsi kemampuan dia, lebih ke gue malas sama tingkahnya yang mirip kayak Didi. Lemes. Makanya gue sebut dua bocah ini curut got. “Nggak.” “Oh, nggak sakit.” “Hmm.” Gue malas menimpali comelan Biyan. “Tapi mata abang kayaknya sakit.” Lah napa mata? Kaki gue yang tadi jadi korban k

