Gue mempertahankan sikap diam selama berhadapan Jossy. Kalau ada yang perlu gue tanyakan, baru gue buka mulut. Selebihnya gue mingkem. Bahkan saat dia cuap-cuap segala rupa, gue cuma balas dengan angguk atau geleng. Sebisa mungkin gue nggak mau mengucapkan apapun. Siapa saja boleh anggap sikap gue kekanakan, yang mana gue lagi menahan emosi gue. Ego gue sebagai cowok dan pasangan diuji sama Jossy. Entah pakai dasar apa dia mengajukan resign tanpa diskusi, membuat gue seolah bukan siapa-siapa. Suara gue nggak berarti dalam pertimbangannya memutuskan keluar dari perusahaan. "Vel, budget CSR ke theme park sudah diskusi sama budget controller?" Jossy mengalihkan gue dari monitor komputer. Gue balas anggukan sekali. Samar gue dengar dia menghela napas. Begini situasi kita selama seminggu, tep

