Ketika gue ngomong 'pisah' ke Jossy, sepenuhnya akal dan perasaan saling lempar rudal. Timbul perpecahan. Mungkin terkesan kekanakan bagi lo, Bray. Segampang itu bilang pisah, seolah gue memang nggak ada rasa terhadap Jossy. Yang ada, malah sebaliknya. Di saat gue sadar gue punya rasa sama dia dan muncul masalah kepindahan Jossy ke Korea, gue harus ambil langkah. Sejauh ini langkah terbaik dalam pikiran gue adalah memberikan ruang ke Jossy. Kalau dia memang butuh aktualisasi diri ke Korea, gue mendukung idenya. Tapi bukan berarti gue bakal mempertahankan hubungan seumur jagung kami. Maka gue putuskan melepas dia. Mata gue mengikuti gerakan Jossy yang berbicara satu per satu orang yang mengantarnya ke Soetta. Selain gue, ada Kak Diara, Rai, Gege, Kak Ratu, Fatih, Didi, dan Biyan yang ikut

