"Hai, Sayang ..." sapa Silvia dengan senyum menggoda "Silvia?" Kalman mengerutkan dahi. Dadanya tiba-tiba saja bergemuruh dengan kencang. Ingin rasanya ia menumpahkan segala kemarahannya kepada gadis cantik di hadapannya itu. Dengan mudahnya ia kembali ke hadapannya tanpa ingat bagaimana hancur dan malu perasaannya saat ditinggalkan tiga puluh menit sebelum pernikahan. "Kamu kok gak nyariin aku, aku kangen banget sama kamu, kamu nggak kangen sama aku?" tanya Silvia dengan manja dan langsung menyentuh tangan Kalman yang memegang besi pagar. Namun, dengan cepat lelaki itu menarik tangannya. Untung saja mereka di pisahkan oleh pagar, jika tidak pasti Silvia akan melakukan lebih daripada sekedar memegang tangan Kalman. "Bukannya kamu yang meninggalkan aku di hari pernikahan, lalu untuk a

