Darlina tercekat menahan napas saat menyusuri tubuh Kalman dengan tatapan kagumnya, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada bibir yang perlahan-lahan mendekati wajahnya.
Selama ini bibir itu selalu memerintah semaunya dan mengucapkan kata-kata kasar untuk memarahinya, tapi kini bibir itu merekah membuat jantung Darlina berdegup kencang.
"Mama dan kakakku sudah menunggu di coffee shop. Aku mandi sebentar, " bisik Kalman sambil tersenyum kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Darlina melongo karena dia pikir Kalman akan menciumnya, setelah sadar dia menepuk jidatnya malu atas pikiran nakal yang tadi sempat melintas di otaknya.
Setelah siap, Darlina dan Kalman pun bergegas keluar kamar. Ternyata benar apa kata Kalman, Mama Kusnita sudah duduk di coffee shop hotel menikmati segelas kopi dan pancake sambil berbincang dengan Galih dan Gayatri. Sementara itu Theana, kakak Kalman yang paling tua sedang duduk bersama Dewa suaminya. Saat melihat kedatangan keduanya, Mama Kusnita langsung melambaikan tangan menyuruh mereka untuk segera mendekat.
"Pagi, semua," sapa Darlina sopan.
"Pagi, Lina. Sini duduk dekat Mbak," jawab Theana-saudara perempuan Kalman.
Darlina memang sudah lama mengenal Theana. Ia adalah manager keuangan di perusahaan Kalman, tapi sekarang Theana sudah resign karena saat ini tengah hamil. sementara suaminya- Dewa mengurus restoran milik almarhum papa Kalman.
Sebenarnya masih ada si bungsu-Katharina, tapi dari kemarin dia tidak ada karena masih mencari keberadaan Silvia. Kata Mama Kusnita dia tidak mau pulang sebelum mengetahui di mana keberadaan wanita yang dicarinya.
"Kalian masih akan menginap di sini atau mau langsung pergi bulan madu?" tanya Mama Kusnita pada Kalman.
"Pulang ke rumah dulu, Ma. Darlina juga harus membawa pakaiannya dari rumah Om Galih, bukan?" jawab Kalman santai.
"Lalu, kalian akan pergi bulan madu kapan?" tanya Theana.
Darlina hanya menunduk, ia masih merasa canggung dan merasa tidak percaya bahwa saat ini ia sudah menjadi istri dari bosnya.
"Lusa kami akan ke Bali," jawab
Kalman singkat.
"Nggak ke luar negeri, Nak Kalman? Darlina belum per-"
"Itu rencana saya dengan Silvia. Tapi, saat ini yang menjadi istri saya adalah Darlina, Tante. Jadi, saya tidak mau kami pergi ke tempat yang pernah saya rencanakan bersama Silvia," ucap Kalman dengan tegas memotong kalimat Gayatri.
Melihat ekspresi wajah Kalman yang kurang enak, Galih buru-buru menyenggol tangan sang istri. "Maafkan Tantemu, Nak," pinta Galih cepat.
"Nggak masalah, Om. Saya maklum. Ayo, Sayang kamu harus sarapan, setelah itu kita cek out dan pergi ke rumahmu untuk mengambil pakaian dan barang milikmu yang lain," kata Kalman pada Darlina.
"I-iya, Mas," jawab Darlina agak gugup.
Kalman pun segera menggandeng tangan Darlina untuk memilih sendiri sarapannya. Merasa sungkan, Darlina pun hanya memilih bubur ayam dan secangkir teh hangat. Sambil sarapan mereka kembali berbincang-bincang. Tetapi, kali ini Gayatri memilih untuk diam. Dia tidak mau kembali salah bicara seperti tadi. Walau bagaimana Kalman itu masih tambang emasnya. Silvia tidak jadi menikah, Darlina pun jadilah. Ia harus bisa memanfaatkan keponakan suaminya itu untuk mendapatkan uang dari Kalman seperti yang dulu biasa Silvia berikan kepadanya.
Setelah selesai makan, Kalman pun langsung pamit untuk mengambil barang-barang Darlina di rumah Gayatri dan Galih. Tentu saja om dan Tante Darlina itu ikut serta di mobil Kalman.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Gayatri sibuk dengan ponselnya sementara Galih duduk di samping kursi pengemudi sambil menatap lurus ke depan. Darlina sendiri sibuk membalas chat dari beberapa kawan dekatnya. Kemarin ia memang mematikan ponselnya. Dan saat menyalakan pagi ini banyak sekali pesan yang masuk.
Dan yang paling membuatnya kesal adalah pesan dari Silvia.
Silvia: Maafkan aku, aku hanya belum siap untuk menikah dengan Erlangga. Tolong gantikan dulu posisiku menjadi istrinya. Nanti jika aku sudah siap, aku akan kembali.
Ck, semudah itukah? Memangnya Kalman adalah barang titipan? Darlina tak membalas pesan itu. Beberapa pesan lain datang dari teman- teman di kantornya. Mereka semua kaget karena mendadak saja Darlina menikah dengan bos mereka. Tidak ada yang menyangka sama sekali bahkan Darlina pun tidak pernah menyangka jika dalam waktu dua puluh empat jam hidupnya berubah menjadi nyonya kaya raya.
Sesampainya di rumah kediaman Galih dan Gayatri, Darlina langsung pamit ke kamarnya untuk membereskan pakaian dan barang miliknya yang lain termasuk surat-surat berharga milik kedua orang tuanya. Saat ia sedang membereskan pakaian ke dalam koper, Gayatri ikut masuk dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Sekarang kamu dan Aulia bisa hidup enak, seharusnya anakku lah yang menjadi menantu orang kaya itu," sungut Gayatri kesal.
Darlina menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Tapi, aku tidak menginginkan pernikahan ini, bukannya tante yang memohon padaku agar tante selamat dari kemarahan keluarganya Pak Kalman! Seharusnya tante berterima kasih padaku!" gerutu Darlina kesal.
"Ya kalau kamu tidak mau, palingan juga kamu dipecat. Itu yang kamu mau? Jika itu terjadi pasti kalian akan menyusahkan kami!" kata Gayatri membela diri.
Gayatri memang tidak menyukai keluarga suaminya, akan tetapi Galih yang mengelola rumah makan milik ibunya Darlina bertanggung jawab untuk mengurus Darlina sekeluarga. Sering kali Gayatri ingin menjual atau menggadaikan rumah makan itu, akan tetapi selalu gagal karena surat menyurat tempat itu disembunyikan oleh Darlina.
Gayatri sering menindas mereka sehingga membuat Aulia setahun yang lalu memilih kos dan sekolah di Bandung, adik Darlina itu tidak mau tinggal satu atap dengan om dan tante mereka itu.
"Ingat, jika bukan karena Om kamu, takkan kubiarkan kamu tinggal di rumahku. Jadi, kamu harusnya berterima kasih padaku!"
Darlina hanya menghela napas panjang, memilih tak menyahut agar tak ada keributan.
"Bagus, jadi anak itu memang harus bisa membalas Budi! Kamu juga jangan lupa untuk membalas kebaikan kami!"
Darlina tak menjawab lagi perkataan tantenya itu, dia sadar diri selama enam tahun ini dia sudah banyak menyusahkan om dan tantenya.
"Ingat, Darlina. Kamu banyak berhutang pada Tante dan Om. Jadilah anak baik yang bisa membalas budi."
"Baik, Tante. Aku paham tidak perlu Tante sampai mengulang dua kali," jawabnya kesal. Untunglah semua barang sudah berhasil dikemas ke dalam kopernya.
Darlina pun meraih tangan Gayatri dan mencium punggung tangan wanita itu lalu tersenyum manis. "Aku pergi dulu ya, Tante," pamitnya.
Gayatri tak menjawab, tetapi ia mengikuti langkah keponakannya itu. Di ruang tamu, tampak Kalman sedang bicara dengan Galih dan saat Darlina datang mereka pun menghentikan pembicaraan.
"Saya sudah selesai," kata Darlina singkat.
"Kalau begitu kami pamit dulu, Om, Tante," pamit Kalman.
"Saya titip Darlina, Nak Kalman," jawab Galih dengan mata berkaca-kaca.
Darlina menghampiri adik kandung ayahnya itu lalu memeluknya. "Lina pamit dulu ya, Om."
"Iya, jangan lupa menjenguk ibumu dan jadilah istri yang baik," jawab Galih sambil mengelus rambut keponakannya.
Darlina hanya menganggukkan kepalanya. Galih adalah lelaki yang baik dan selalu melindunginya. Darlina sangat menghormatinya, tapi setelah kejadian ini rasanya akan sulit untuk dia bisa mempercayai omnya lagi.
"Permisi, Om," kata Kalman pada omnya Darlina kemudian lelaki itu langsung menggandeng tangan Darlina dan membawanya berlalu dari rumah itu.
“Saya belum memberi kabar kepada adik saya, Mas.” Darlina memberitahukan ketika mereka sudah berada di mobil.
“Anak buahku dalam perjalanan menjemput Aulia. Kamu tidak usah khawatir kepada adikmu itu. Sore nanti kalian juga bisa bertemu,” kata Kalman tanpa menoleh.
"Sa ... saya-"
Kalman mengangkat tangannya, "Tidak usah kamu teruskan, aku tau apa yang akan kamu katakan. Pasti mau minta maaf dan berterima kasih, kan? Makanya jangan selalu buat salah, biar gak minta maaf melulu."
Darlina lagi-lagi hanya bisa mengutuk suaminya di dalam hati. "Tadinya mau berterima kasih, tapi sekarang saya mau ngomel. Mas ini nggak tau ya, kalau pengantin baru itu tidak boleh marah. Saya tau saya mesti nurut, tapi ya kira-kira juga kalau mau ngomel. Masa anak gadis orang bukannya dikasih makan, dikasih cemilan atau apa gitu, ini malah diomelin. Kenyang banget saya mas, makan pake omelan, berasa makan bakso pake sambal satu mangkuk!"
Kalman melongo, untuk pertama kalinya ia mendengar Darlina bicara dalam kalimat yang cukup panjang. "Kamu marah sama saya?" tanya Kalman heran, dia sendiri bingung kenapa wanita itu bisa semarah itu.
"Ya Bapak pikirin aja sendiri kalau Bapak ada diposisi saya kira-kira gimana? Emang bapak mau diomelin terus-terusan?" jawab Darlina dengan kesal.
Perutnya yang lapar membuat gadis itu tiba-tiba memiliki keberanian untuk mengomeli bosnya. Sementara yang diomeli hanya berdecak kesal. tidak lama kemudian tiba-tiba terdengar bunyi perut Darlina yang tanpa permisi membuat Kalman tertawa, sementara Darlina sendiri langsung memalingkan wajahnya yang memerah karena ketahuan bahwa ia tengah kelaparan.