BAB 5 Kelakuan Darlina

1412 Kata
Kalman baru tau ternyata wanita yang duduk di sampingnya ini bisa buas juga jika sedang kelaparan. Sebenarnya dia malas karena tadi sudah sarapan, tapi dia tidak tega membiarkan anak gadis orang kelaparan. Maka ia pun membelokkan mobilnya ke sebuah restoran terdekat. "Katanya mau pulang?" tanya Darlina. "Dari pada bunyi perutmu makin keras trus kamu jatuh pingsan, bisa-bisa nanti aku mendapatkan omelan Mama." "Kalau tidak ikhlas, ya sudah." "Bukannya tidak ikhlas, aku cuma heran saja, kita baru saja selesai sarapan tapi kamu sudah kelaparan sampai bunyi perutmu terdengar kuat sekali." "Ini sudah jam sepuluh, memang sudah waktunya perutku mendapatkan makanan tambahan. Aku masih ada uang kok buat beli makanan, kalo Mas nggak mau beliin," kata Darlina sambil berjalan menuju meja kosong. "Uang saya nggak akan habis meski restoran ini saya beli," jawab Kalman sombong, "Cepat sana pesan, ini uangnya, tolong pesankan saya coklat panas dan burger keju dobel," perintahnya sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Darlina. Lelaki itu harus membelalakkan mata saat melihat wanita yang baru dinikahinya itu kembali dengan baki yang penuh makanan. Ada burger, dua potong paha ayam, kentang goreng, sup, spaghetti, macaroni schotel, mocca float dan ice cream. Bahkan untuk membawa semuanya ia sampai dibantu oleh seorang waiters. "Siapa yang akan menghabiskan ini semua?" tanya Kalman kebingungan. "Ya, aku lah. Aku kan memang makannya banyak. Jadi, kalau kontrak kita setahun, Mas harus menyiapkan makanan yang banyak, biar aku gak kelaparan," jawab Darlina sambil mendelik. Kalman kembali dibuat melongo saat melihat wanita di hadapannya makan dengan cepat dan lahap. Padahal, lelaki itu mengingat dengan jelas kalau Darlina makan dengan anggun dan dalam porsi kecil saat mereka sarapan bersama tadi. Akan tetapi, apa yang Kalman lihat saat ini seratus delapan puluh derajat sangat jauh berbeda, pada akhirnya Kalman hanya memperhatikan gadis itu makan tanpa berkedip sampai ia menghabiskan seluruh makanan di hadapannya tanpa sisa sama sekali. "Loh, burger Mas kok masih utuh? Kenapa nggak dimakan?" tanya Darlina. "Kamu masih mau? Saya mendadak kenyang," kata Kalman sambil meletakkan burger yang memang belum ia sentuh itu di atas piring Darlina. Tanpa ia sangka, gadis bertubuh tinggi namun agak kurus itu meraih burger yang ia berikan dan hanya dalam waktu beberapa menit burger itu sudah habis dan Darlina tampak puas sambil menyesap mocca float-nya. "Kamu makan sebanyak itu setiap hari?" tanya Kalman heran. "Kenapa memangnya?" "Di hotel tadi, kalo masih lapar kenapa kamu nggak ambil makanan lain? Pilihannya kan banyak, semalam juga kamu makan hanya sedikit di pesta resepsi," kata kalman mencoba membandingkan jumlah porsi makanan Darlina. "Oh, itu ... Ya saya harus jaga image dong, Mas. Nggak lucu kan kalau mama Anda marah sama saya karena makan kayak kuli di hari pertama jadi menantu. Lagi pula saya malu sama Kakaknya Mas, padahal sebenarnya sejak semalam saya lapar. Terus ya ... mana ada orang bisa makan lahap kalo kaget, Mas. Kemarin itu saya kaget tiba-tiba aja harus nikah. Jadi, saya nggak bisa makan, jadinya sekarang laper," jawab Darlina polos. Mendengar jawabannya, Kalman tanpa ragu menjewer kuping gadis itu. "Jadi selama ini kamu pura-pura baik dan sok manis di hadapan Mama?" "Sakit, tau! Aku kamu nikahin buat menyelamatkan nama baik kalian bukan untuk dijewer seenaknya kayak gini!" protes Darlina kesal. "Sial, kenapa aku malah memiliki istri seperti ini?" "Ya terima aja, Mas. Sekarang kan udah jadi istri juga. Atau Mas mau menceraikan saya sekarang gara-gara saya makan banyak?" tantang Darlina kesal. "Sudah-sudah, ayo kita pulang." Kalman malas berdebat lebih jauh lagi. Saat berdiri, mata Darlina tanpa sengaja saling tatap dengan lelaki yang baru saja masuk. Waktu seakan berhenti dan membeku, ada denyut nyeri di dalam hatinya ketika melihat orang yang dicintainya mengalihkan pandangannya seperti tak sudi melihatnya lagi. "Azril, maafkan aku," bisik Darlina lirih di dalam hati. Ingin rasanya ia berlari mendekati Azril yang berjalan menjauhinya dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, namun kakinya tak sanggup melangkah saat mengingat api kemarahan yang memenuhi mata lelaki yang sangat dicintainya itu. "Hey, kok malah bengong. Ayo, cepat pulang!" Darlina tersadar saat mendengar teriakan Kalman yang sudah hampir sampai di pintu, buru-buru dia mengejarnya dengan sesekali menoleh pada Azril yang duduk membelakanginya. Di mobil Darlina menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah, dia tidak ingin Kalman tau akan rasa bersalah dan sedihnya karena telah mengkhianati Azril. Darlina yang merasa hatinya sangat lelah dan perutnya yang kenyang malah tertidur dalam mobil dan lagi-lagi Kalman harus menahan tawa melihat gaya tidur Alina. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan memotret Darlina saat mereka berhenti karena lampu merah. Selama ini, Kalman adalah orang yang sangat perfeksionis. Dia juga bergaul dengan orang-orang yang elegan dan begitu anggun juga tertata rapi. Selama dengan Silvia pun yang lelaki itu lihat adalah sisi anggun seorang Silvia. Darlina... ya, dia memang sekretarisnya. Selama ini yang dia lihat Darlina adalah gadis yang baik dan cekatan. Meski terkadang ia juga pelupa dan jika panik ia justru akan melakukan hal yang aneh. Tapi, secara keseluruhan di mata Kalman, Darlina adalah gadis yang santun, cantik dan pintar. Akan tetapi, saat ini Kalman menemukan hal lain dalam diri Darlina. Kepolosan. Darlina ternyata gadis yang sangat polos dan ajaib. "Hey, bangun! Kita sudah sampai!" Kalman mencubit tangan Darlina. Darlina yang tengah tertidur pulas tersentak kaget dan ia pun tersadar jika pipi kanannya basah karena tidak sengaja ngiler. Kalman hanya menahan tawa dan langsung turun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu mengeluarkan koper pakaian milik istrinya dan menyuruh satpam yang berjaga di rumahnya untuk membantu. Tampak seorang wanita setengah baya pun tergopoh-gopoh keluar menyambut mereka. "Walah, Tuan muda sudah datang. Biar mbok yang membawakan barang-barang nyonya muda." Darlina yang baru turun dari mobil hanya mengekori Kalman dengan agak sempoyongan karena baru bangun tidur. "Bawa barang-barang nyonya ke kamar tamu saja, jangan ke kamar saya," perintah Kalman. Wanita setengah baya itu menghentikan langkah dan menatap tuannya tak percaya. "Loh, tapi ...." "Nggak usah pake kata tapi, udah nurut aja, Mbok." "Kalau nanti Ibu Nyonya datang bagaimana?" Kalman menepuk dahinya. Bagaimana ia bisa lupa hal itu. Dia dan Darlina memang hanya menikah kontrak. Tapi, pernikahan mereka sah di mata hukum dan Agama. Dia yakin Mamanya akan sangat marah jika mengetahui kalau mereka pisah kamar. "Ya sudah bawakan ke kamar saya saja kalau begitu." Akhirnya Kalman menurut. "Oh, iya. Darlina, ini Mbok Marinem dan itu Pak Jono. Mereka sudah lama bekerja di sini. Pak Jono biasanya masuk pagi, nanti sore ada Pak Agus yang menggantikan untuk jaga malam." "Iya, Mas." "Sekarang, kamu ikut mbok Marinem. Rapikan pakaianmu." Darlina mengikuti langkah Mbok Marinem menuju ke lantai atas rumah mewah itu. Gadis itu langsung membelalakkan mata saat masuk ke dalam kamar Kalman. Kamar itu begitu luas dengan walk in closet yang besar. Satu set sofa yang begitu mewah ada di dalam kamar itu. Dengan televisi berukuran empat puluh dua inch. Minibar di sudut dekat balkon kamar dan kamar mandi yang luas. Lantai kamar itu dilapisi karpet berbulu tebal. "I-ini kamarnya, Mbok?" tanya Darlina dengan polosnya. "Iya, Nyonya. Ayo sini mbok bantu menyusun pakaiannya." Gadis itu melangkah ke dalam walk in closet. Ada sebuah meja rias di sana, dia pun meletakkan tas yang ia bawa di atas meja dan mengagumi keindahan kamar itu. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat kamar semewah ini. Ia mencubit tangannya sekali dan mengaduh. Ternyata bukan mimpi. Ah, betapa senangnya wanita yang bisa menjadi 'istri' Kalman dalam konteks yang sebenarnya. "Astaga, Darlina mikir apa sih kamu! Syukuri sajalah dulu, selama setahun ini kamu akan tinggal di istana megah ini." Darlina senyum-senyum sendiri. Setelah selesai membereskan semua pakaian dan bawaannya yang tidak terlalu banyak, Darlina pun bermaksud untuk turun ke bawah mengikuti Mbok Marinem. Tetapi, Kalman keburu masuk dan menariknya untuk duduk di sofa. "Kita harus bicara," kata Kalman. Darlina menghempaskan tubuhnya di sofa dan menatap Kalman dengan serius. "Kamu akan tetap menjadi sekretarisku sampai aku mendapatkan pengganti yang sama cekatannya denganmu. Seperti yang pernah aku katakan, gajimu akan tetap aku beri selain juga uang nafkah sebagai hakmu." "Kalau aku tidak menjadi sekretaris Mas lagi, trus nanti kalau kontrak nikah kita selesai aku mau kerja apa?" tanya Darlina khawatir jika nanti mereka bercerai dia akan menjadi pengangguran. "Nanti Aku akan memberimu pekerjaan lainnya." Darlina mengangguk paham, kini matanya kembali mengitari kamar. "Mas, apa aku benar-benar akan tidur di kamar ini?" tanya Darlina dengan polos. Dia tidak bisa membayangkan akan sekamar dengan bos galak itu. Galak? Darlina memindai wajah Kalman, seharian ini Darlina tidak mendapatkan bentakan dari lelaki itu. Bahkan dia melihat bosnya itu tertawa dan itu benar-benar luar biasa. "Darlina!" Darlina tersentak kaget karena suara tepukan yang tepat di wajahnya. "I-iya, Mas." "Azril itu, pacar kamu?" "Eh, itu ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN