Darlina menggigit bibirnya saat Kalman menyebut nama lelaki yang sangat dicintainya, tapi ia berusaha tegar tak ingin memperlihatkan ketidakberdayaannya pada Kalman.
"Kalau kita sekamar, aku tidur di mana? Tidak mungkin kan kita akan tidur seranjang?"
Kalman menghela napas panjang, awalnya dia ingin berbicara serius tapi Darlina malah menanyakan hal yang tidak penting. "Sofa yang kamu duduki itu, bisa diubah menjadi tempat tidur jika dibuka. Jadi, malam hari kamu bisa tidur di sana. Pagi hari kamu bereskan kembali. Aku tidak suka jika kamar berantakan."
Kalman pikir sebaiknya mengajak Darlina untuk mengelilingi rumahnya. "Sekarang, ikut aku. Aku akan menunjukkan isi rumah ini supaya kamu tau ruangan-ruangan yang ada di rumah ini," ajak Kalman pada wanita yang akan tinggal bersamanya selama setahun ke depan.
Darlina merasa begitu takjub saat berkeliling di rumah mewah itu. Di lantai atas ternyata ada dua kamar lain meski tidak sebesar kamar Kalman. Kamar itu biasa digunakan jika Mama atau kakak dan adiknya sedang menginap.
Di lantai bawah ada beberapa ruangan. Ada lima kamar tidur. Yang dua untuk tamu dan tiga kamar pembantu. Ada ruang keluarga yang luas dengan televisi yang besar. Ada ruang karaoke yang dilengkapi dengan meja bilyard dan minibar. Kalman seringkali mengundang teman dekatnya untuk karaoke bersama.
Dan yang paling membuat Darlina takjub adalah dapur yang ada di rumah itu. Dapur itu begitu luas dengan peralatan masak yang sangat lengkap. Dia yang memang hobby memasak itu langsung melonjak kegirangan.
"Kenapa kamu?" tanya Kalman saat melihat istrinya itu melonjak kegirangan.
"Hmm... apa saya boleh menggunakan dapur ini untuk memasak?" tanya Darlina.
Kalman langsung mengerutkan dahinya.
"Kamu...? Memasak? Nggak salah?" ledeknya meremehkan wanita di hadapannya.
Darlina langsung mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Mas mau coba masakan saya?" tantangnya.
"Coba saja, saya mau lihat seberapa hebatkah masakan kamu. Di dalam kulkas ada stok makanan, kan. Nah, coba kamu memasak kalau memang bisa,"
Wajah Darlina langsung berbinar bahagia. Ia memang sangat menyukai dapur dan memasak. Baginya dapur itu adalah tempat bermain dan mengkreasikan dirinya. Mbok Marinem yang melihat sang nyonya mengeluarkan bumbu dan juga bahan makanan tentu langsung berlari kecil menghampiri.
"Nyonya muda, biar saya saja yang memasak," ujarnya.
Namun, Kalman langsung mengangkat tangannya. "Biarkan dia memasak, Mbok. Mbok duduk di sini sama saya, kita lihat dia memasak. Jangan dibantu!"
Terbiasa memasak membuat Darlina tidak terlihat canggung sama sekali. Dengan cepat ia menyiapkan bahan-bahan yang akan ia olah. Kebetulan ada ikan gurame dalam kulkas, dia ada ide akan membuat ikan bakar. Dan ia pun melihat bahan untuk membuat capcay lengkap semua. Darlina memutuskan akan membuat ikan bakar, capcay dan sambal saja.
Tanpa meminta bantuan, gadis cantik itu langsung menghaluskan bumbu dan juga memotong-motong sayuran. Kalman dan mbok Marinem hanya menonton dari meja makan. Lelaki itu tampak santai sementara mbok Marinem kelihatan tidak nyaman karena selama ini dapur adalah wilayah kekuasaannya, sementara mbok Jamila bertugas membersihkan rumah dan mencuci.
"Tuan, biar saya bantu Nyonya memasak," kata Marinem, tetapi lelaki itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah, biarkan saja dia memasak. Kalau masakannya enak, ya kita makan, tapi kalo nanti rasanya nggak karuan jangan pernah biarkan dia masuk ke dapur lagi dan kita pesan makanan online saja," kata Kalman tegas.
Darlina yang kebetulan mendengar perkataan Kalman hanya mencibir kesal tapi tangannya tetap bekerja. Tiga puluh menit kemudian aroma bumbu pun menguar membuat perut lapar. Gadis itu pun menyelesaikan semuanya dengan sempurna kemudian menyiapkan masakan ke piring saji lalu menatanya di atas meja.
"Nah, siapa yang mau menjadi juri untuk masakanku siang ini?" tanya Darlina pada mbok Marinem dan Kalman.
Kalman pun langsung mengambil sendok dan mencicipi sedikit capcay buatan Darlina. Dan pemuda itu hanya bisa terpaku karena masakan yang ia cicipi sama persis dengan masakan almarhum Papanya.
Papa Kalman adalah seorang Chef terkenal. Selain Chef dia adalah seorang pebisnis yang tangguh dan tekun. Dia memiliki beberapa restoran selain perusahaan yang sekarang dipegang oleh Kalman. Untungnya kakaknya mewarisi bakat sang ayah, sehingga restoran tetap berjalan dalam pengawasan Theana dan suaminya.
Papa Kalman memang sudah meninggal tetapi sampai hari ini, jenazahnya tidak pernah ditemukan. Konon, papanya pergi bersama seorang wanita dan mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan membuat wanita yang bersama papanya meninggal sementara papanya Kalman menghilang dan dinyatakan meninggal setahun kemudian.
Kejadian ini adalah luka yang mendalam bagi keluarga mereka. Kalman sendiri terkenal sebagai lelaki yang dingin terhadap wanita, hingga dia bertemu dengan Silvia dan terjerat pesona gadis itu. Namun, ia dicampakkan begitu saja tepat di hari pernikahan mereka sehingga membuatnya benar-benar membenci wanita itu.
"Kenapa Mas, kok bengong? Masakanku nggak ada racunnya kok," tanya Darlina saat melihat ekspresi Kalman.
Mendengar suara Darlina, Kalman seolah tersadar dari lamunannya. Ia menatap Darlina dan tersenyum. "Nggak nyangka, ternyata kamu ternyata bisa masak. Aku pikir kamu bisanya cuma makan saja kayak di restoran tadi," jawab Kalman sambil menyendok kembali sayur dan mengambil ikan.
Mbok Marinem yang melihat kelakuan tuannya itu hanya mengulum senyum. "Masakan Nyonya muda enak. Pasti orang tua Nyonya pintar memasak juga," ujar mbok Marinem.
"Ibu saya suka memasak, Mbok. Saya belajar memasak sejak kelas tiga SD."
"Wah, pantas saja kalau begitu. Masakan Nyonya memang enak."
Darlina hanya tersenyum puas. Ia senang jika masakannya membuat orang-orang yang mencicipinya puas dan menjadi kenyang.
"Kelak, jika kamu menikah ... manjakan suamimu dari mata, lalu ke perutnya." Perkataan ibunda Darlina mendadak terngiang kembali dan dia segera menepisnya jauh-jauh. Bagaimana bisa memanjakan Kalman jika pernikahan mereka ini hanya sandiwara saja? Hanya pernikahan di atas kertas.
"Aku suka masakanmu, tapi nggak usah sering-sering turun ke dapur. Kamu bisa bikin aku gendut. Kalo aku gendut kharisma bisa berkurang."
"Gendut itu bisa diatasi dengan olahraga, Mas. Jadi, nggak usah takut sama makan. Kalo udah makan banyak ya bakar dengan olahraga," sahut Darlina santai.
Kalman langsung mendelik kesal pada gadis yang telah menjadi istrinya itu. "Kamu nggak liat ruang olahraga milikku tadi? Alat-alatnya lengkap semua. Itu artinya aku selalu menjaga tubuhku dengan berolahraga," bantah Kalman gusar.
"Kalau begitu jangan larang aku masak. Kalau mau ya makan, kalau nggak mau, ya nggak usah makan."
Kalman hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Darlina, selama ini dia hanya melihat wanita itu pendiam dan patuh tapi kenyataannya Darlina cerewet dan ajaib. Keajaibannya itu malah bisa membuat Kalman tidak memarahinya semenjak kemarin setelah mereka menikah. Padahal, selama ini Kalman selalu melimpahkan kemarahannya pada wanita itu meski dia tak melakukan kesalahan sekalipun.
Kalman merasa tidak salah menikahi Darlina, dia yakin bisa bertahan selama setahun bersama Darlina untuk menyenangkan hati mamanya, bahkan dia bisa mempertahankan wanita itu untuk beberapa tahun lagi untuk memperlihatkan pada Silvia kalau dia bisa bersama wanita lain meski tak bersama Silvia yang telah meninggalkannya begitu saja.
"Ya, aku akan menjadikan Darlina seperti ratu agar Silvia menyesal karena dia telah berani meninggalkanku di hari pernikahan!" tekad Kalman di dalam hati.