Seperti biasa Darlina sudah bangun sejak pukul lima dan langsung menjalankan ibadah sholat subuh. Baru kemudian ia melangkah keluar kamar menuju dapur. Tentu saja setelah membersihkan sofa yang ia jadikan ranjang tidurnya. Ia tidak mau Kalman mengomel kemudian marah-marah.
Saat ia sampai di dapur sudah ada Mbok Marinem yang tengah menyiapkan menu sarapan pagi. Melihat nyonyanya masuk ke dapur wanita setengah baya itu langsung menghampiri.
"Nyonya, mau dibuatin apa?" tanya si mbok.
Darlina tersenyum manis pada asisten rumah tangga itu. "Mbok mau masak apa?" bukannya menjawab Darlina malah balik bertanya.
"Tuan muda biasanya suka nasi goreng atau omelet atau cream soup untuk sarapan pagi. Rencananya saya mau membuatkan nasi goreng pagi ini, Nyonya."
"Mbok siapkan bahan, biar saya yang memasak."
"Tapi, Nyo-"
"Udah, nggak ada tapi-tapian. Saya kan mau memasak untuk suami saya, Mbok. Pahala loh menyediakan makanan untuk suami itu," jawab Darlina sambil tersenyum manis.
Mbok Marinem pun tersenyum. Dalam hati ia merasa sangat senang karena Tuan mudanya tidak salah memilih istri. Wanita itu bukannya tidak tahu jika cinta Kalman berlabuh pada Silvia, tapi wanita paruh baya itu tahu bahwa Silvia bukan wanita yang baik untuk tuannya.
Mendengar jika wanita itu kabur di hari pernikahan mereka, sebenarnya membuat Mbok Marinem merasa bersyukur. Apa lagi saat ia bertemu dengan Darlina, ia merasa sangat senang karena ternyata gadis itu begitu baik hati dan ramah.
Di pagi ini pun ia kembali membiarkan nyonya mudanya memasak untuk tuan muda yang sudah ia rawat sejak kecil. Mbok Marinem memang sudah lama bekerja untuk keluarga Kalman. Sejak Kalman berusia lima bulan, dialah yang mengurus dan merawat Kalman. Sehingga ketika lelaki itu dewasa, Mama Kusnita meminta wanita itu untuk terus mendampingi putranya.
Pagi ini Darlina membuatkan nasi goreng seafood tapi tanpa cumi karena Kalman tidak bisa makan cumi-cumi. Jadi, ia hanya memasukkan udang, bakso ikan dan sedikit daging kepiting ke dalam nasi gorengnya. Harum masakan pun menguar ke mana- mana. Tak lupa ia juga membuatkan jus mangga karena menurut Mbok Marinem, tuannya itu sangat suka jus mangga. Jadi, Darlina membuatnya khusus untuk Kalman.
"Biar saya yang merapikan meja makan, Nyonya. Nyonya muda bisa mandi dan bersiap saja. Tuan bilang Nyonya masih bekerja, bukan? Nanti kan berangkatnya bisa bersama-sama dengan Tuan."
"Mbok, jangan panggil saya Nyonya. Panggil saja Darlina. Mbok ini usianya hampir sama dengan ibu saya. Saya tidak enak jika Mbok memanggil saya Nyonya," pinta Darlina.
Mbok Marinem langsung menggelengkan kepalanya . "Duh, mana bisa Nyonya. Nanti saya dimarahi Nyonya besar dan tuan muda."
"Saya yang tanggung jawab, Mbok. Nanti saya yang bilang sama Mas Kalman dan mama mertua saya," tegas Darlina.
"Saya takut, Nyonya."
"Ya sudah, panggil saya Mbak Darlina saja, bagaimana?"
"Iya Nyonya Mbak."
"Mbak saja, Mbok. Tidak usah pake Nyonya."
Mbok Marinem hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, di bingung harus memanggil apa pada istri tuan mudanya itu.
Wanita cantik itu pun segera naik kembali ke kamarnya. Saat ia masuk, Kalman baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
"Aduh, mataku ternodai!" pekik Alina sambil memalingkan wajahnya.
"Halah, ini kan bukan yang pertama kamu melihatku seperti ini," ujar Kalman mengingatkan kalau kemarin di hotel Darlina sudah pernah melihat Kalman seperti ini.
"Mas, sekarang ini kamarku juga, jadi selama setahun ke depan jangan sembarangan dong buka bajunya!"
Melihat wajah Darlina yang sudah memerah karena malu, pikiran jahil melintas di kepala Kalman. Dengan sengaja dia mendekati Darlina dan membuatnya wanita itu tersudut ke tembok.
"Kamu jujur saja, kamu suka kan melihat tubuhku yang atletis dan berbentuk ini?" goda Kalman.
Darlina melotot, ia berusaha menutupi wajahnya saat tiba-tiba Kalman dengan sengaja membuka handuk yang melilit di pinggangnya, sontak Darlina menutup matanya sementara Kalman tertawa dengan kerasnya.
Darlina mengintip dari sela jarinya, ternyata Kalman memakai celana pendek. "Sial! Dasar suami tidak berakhlak. Ish, mimpi apa aku punya suami yang menyebalkan kayak kamu!" omel Darlina kesal sambil menatap garang pada lelaki yang tertawa sambil berjalan menuju kamar mandi.
Darlina kembali ke dapur dan dia senang sekali karena melihat Aulia-adiknya yang tengah membantu Mbok Marinem menyiapkan sarapan di atas meja.
"Aulia, kapan kamu sampai?" tanya Darlina sambil memeluk adiknya.
"Semalam, Mbak. Aku sengaja tidak memberitahu buat membalas kejutan Mbak yang nikah tapi gak ngabarin aku sama sekali."
"Gimana mau ngabarin, orang mendadak menikah karena dipaksa."
"Em, kalau dipaksa menikah dengan Om Kalman aku sih mau banget. Udah tampan, tajir, keluarganya baik lagi."
"Dasar kamu! Sekolah yang bener dulu, biar bisa jadi orang."
"Memangnya aku bukan orang," sungut Aulia pura-pura kesal.
"Aulia ..."
"Nyonya sudah berantemnya," lerai Mbok Marinem sambil tersenyum, dia senang sekali akhirnya meja makan kini terasa hangat dengan kehadiran kakak beradik itu. "Sarapan sudah siap sebaiknya Nyonya panggil Tuan biar tidak kesiangan berangkat ke kantor."
"Mbok ... jangan panggil aku nyonya. Kalian berdua ini ya, pagi-pagi bikin saya esmosi saja!" Darlina pura-pura marah lalu berbalik kembali lagi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Emosi bukan es-mosi!" sahut Aulia dan Mbok Marinem, mereka saling tatap kemudian tertawa bersamaan, meski baru kenal tapi mereka sudah akrab seperti ibu dan anak.
Karena tidak mau melihat Kalman tak mengenakan pakaian, kali ini Darlina mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat baru dia masuk ke kamar. Dia melihat Kalman yang tengah memakai dasi.
"Sarapan sudah siap dan Aulia sudah sampai." Darlina memberi tahu kemudian dia mengambil pakaian ganti.
"Kamu mau ganti di kamar mandi lagi? Coba kamu ganti di sini saja, aku mau liat." Kalman menaik turunkan alisnya.
"Dasar m***m!"
"m***m sama istri sendiri, salahnya di mana?"
"Aku istri kontrak ya, bukan istri beneran!" Darlina mengingatkan sambil berjalan menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti karena Kalman menarik pinggangnya.
Darlina melotot sempurna ketika berada dalam dekapan lelaki itu, bahkan jantungnya berdegup kencang ketika bibir bosnya itu mendekat ke wajahnya.
"Akh!" Darlina mendorong Kalman kemudian berlari ke kamar mandi.
Darlina langsung menyalakan shower dan berusaha meredakan debaran di dadanya. "Apa-apaan itu tadi," pikir Darlina geram. Ia kesal sekali dengan lelaki m***m itu.
Darlina pun segera mandi dan dia sangat bersyukur saat keluar dari kamar mandi lelaki m***m itu sudah tidak ada di kamar mereka.
Dengan cepat ia duduk di depan meja riasnya untuk memakai make up. Setelah selesai, Darlina langsung mengenakan sepatu yang sesuai dengan pakaian yang ia kenakan dan langsung melangkah turun ke ruang makan untuk sarapan. Wanita itu sudah terbiasa sarapan pagi dengan porsi banyak, jika tidak ia selalu merasa pusing dan akan kelaparan nantinya.
"Mbok bilang, nasi goreng ini kamu yang bikin?" tanya Kalman saat Darlina duduk bergabung bersama mereka.
"Iya, aku yang memasak. Mbok bilang Mas suka nasi goreng, jadi aku membuatnya."
Darlina melihat Kalman dengan lahap menghabiskan sepiring nasi goreng. Merasa masih kurang ia pun bahkan menambah lagi. Melihat hal itu Darlina hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia merasa bahagia melihat Kalman menyukai masakannya.
"Oh iya, Aulia. Mbak kerja dulu. Kamu istirahat saja, nanti siang Mbak akan ajak kamu jalan-jalan."
"Iya, Mbak."
Melihat Kalman makan dengan lahap, Darlina pun merasa lapar dan ia pun langsung menyendok nasi gorengnya. Setelah selesai sarapan, mereka langsung berangkat ke kantor.
Saat Darlina yang datang bersama Kalman membuat banyak mata menatap sepasang suami istri yang baru saja menikah tiga hari itu, mereka jadi bertanya-tanya kenapa yang menjadi istri bos mereka itu Darlina bukannya Silvia.
"Selamat pagi, Pak Kalman," sapa salah satu security yang berjaga di pintu masuk.
Kalman hanya mengangguk dan tersenyum kemudian meneruskan langkahnya sambil menggandeng tangan Istrinya.
Saat berjalan menuju ke ruang kerjanya beberapa pasang mata pun menatap keduanya dengan tatapan tidak suka pada Darlina, beberapa karyawan pun saling berbisik saat keduanya sudah masuk ke dalam lift yang diperuntukkan khusus untuk para petinggi di kantor itu.