"Pagi, Pak Kalman, Bu Darlina," sapa Ningsih salah satu staff HRD kepercayaan Kalman.
"Pagi, Bu Ningsih. Saya mau hari ini ibu kumpulkan seluruh karyawan di ruang pertemuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Dan saya mau semuanya berkumpul," perintah Kalman dengan tegas.
Ningsih mengangguk patuh. "Baik, Pak. Apa ada lagi?"
"Saya mau Darlina juga bekerja di ruangan saya. Jadi, minta bagian logistik untuk memindahkan meja kerjanya ke ruangan saya. Saya tidak mau istri saya bekerja di luar ruangan."
Ningsih terdiam sambil menatap sesaat pada Darlina, kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf, Pak. Jika Ibu berada di ruangan yang sama dengan Bapak bagaimana jika ada tamu yang ingin bertemu? Biasanya kan melewati Ibu Darlina terlebih dahulu baru bisa masuk?"
Kalman menatap Ningsih dengan tajam.
"Kalau begitu panggil Yuna ke ruangan saya sekarang juga. Dia yang akan menggantikan tugas Darlina jika ada tamu saya yang ingin bertemu."
Ningsih mengangguk kemudian Ia pun segera pamit dan berlalu dari hadapan Kalman. Sementara itu Kalman pun langsung menarik tangan Darlina untuk ikut masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ruang kerja Kalman cukup luas bahkan terdapat kamar pribadi di ruangan itu. Ada ranjang ukuran sedang dan lemari pakaian. Dulu, Kalman sering sekali lembur di kantor. Jadi, untuk memudahkan, ia pun membuat kamar di dalam ruangannya sehingga jika ia bekerja sampai larut dan malas pulang ia bisa tidur dengan nyaman dan juga mandi serta berganti pakaian di kantornya.
"Mas, aku kan harus bekerja. Kenapa mejaku harus dipindahkan ke dalam ruangan ini? Mas ini ada-ada saja," protes Darlina.
"Aku harus mengawasimu, khawatirnya kamu akan melarikan diri seperti saudaramu."
Darlina menghela napas panjang, "Mas, mana mungkin aku akan kabur. Lagian aku mau kabur ke mana? trus kalau aku kabur, ibu dan adikku bagaimana?"
"Iya juga, ya." Kalman menggaruk kening menggunakan jari telunjuknya.
"Mas, perlakukan saja aku seperti biasanya. Di rumah dan di luar kantor kita suami istri itu pun di mata orang. Tapi di kantor kita adalah bos dan sekretaris."
"Kamu akan bekerja hanya sampai saat saya mendapat pengganti yang cekatan seperti kamu. Jadi, tugas kamu sekarang adalah memberi pelatihan bagi sekretaris yang baru, kita mulai dari Yuna."
Darlina hanya bisa menghela napas panjang. Apapun yang ia katakan tidak akan bisa mematahkan apa yang Kalman inginkan.
Terdengar ketukan kemudian Ningsih muncul bersama Yuna. Kalman memerintahkan Yuna untuk pindah ke tempat kerja Darlina yang di sambut gembira oleh wanita cantik dan seksi itu.
Saat keduanya pergi, Darlina menggerutu sambil berjalan menuju sofa di sudut ruangan. "Pantas saja memilih Yuna, dia cantik dan juga seksi. Biar melek terus kalau punya sekretaris seperti itu."
Mendengar gerutuan Darlina reflek Kalman memukul kepala wanita itu dengan map yang ada di tangannya.
"Aw!" pekik Darlina kaget, meskipun pukulan itu tidak sakit tetap saja membuat wanita itu meradang. "Kenapa sekarang kamu jadi hobi memukul. Dulu aku diem ya kalau dimaki-maki semaumu, tapi sekarang aku gak mau kalau terus-terusan dipukul. Aku bakalan mengadukan kamu dengan tuntutan melakukan KDRT!"
"Makanya jangan asal ngomong!" Kalman berjalan mendahului Darlina yang menggosok-gosok kepalanya. "Aku mau, kita bersikap mesra. Tunjukan pada semua orang kalau kamu wanita paling beruntung karena telah menikah denganku."
"Enggak mau! Nanti Azril akan menilaiku sebagai perempuan matrealistis. Lagian jika aku bersikap sombong sekarang, maka setahun lagi semua orang akan mencemooh diriku jika sudah tak lagi menjadi istrimu."
"Bersikap mesra atau aku akan memukulmu!" Kalman mengangkat map kembali hendak memukul wanita yang mengerucutkan bibirnya itu. "Satu lagi, aku tidak mau kamu menyebut nama Azril lagi, paham!"
"Kenapa aku dilarang, sedangkan kamu bisa seenaknya menyebut nama Silvia."
"Sekarang aku tanya, semenjak dia kabur, kapan aku menyebut nama perempuan itu!"
Darlina mencoba mengingat-ingat, tapi kenyataannya Kalman memeng tidak menyebut nama Silvia kecuali saat bersama Tante Gayatri waktu itu.
Saat menyebut nama Silvia, Darlina jadi teringat akan pesan yang sepupunya itu kirimkan sehari setelah ia menikah. Darlina mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan pesan yang dikirim Silvia pada Kalman.
"Mas, maaf kemarin aku lupa memberi tahumu."
"Di mana dia sekarang?" tanya Kalman.
Darlina menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tau, Mas. Saya sempat menelponnya tapi nomor itu tidak aktif. Apa Mas akan mencarinya?"
"Untuk apa mencarinya?" Kalman balik bertanya. "Nanti kita ganti nomor ponsel, pastikan Silvia tidak akan mengetahui nomormu!"
Darlina mengangguk paham.
"Cepat ambil barangmu jika tidak ingin Yuna mengambilnya."
Darlina segera mengambil semua barang-barang penting yang ada di meja kerjanya yang sekarang sudah di tempati oleh Yuna. Setelah itu mereka menuju ruangan pertemuan.
Kalman berjalan dengan menggenggam erat tangan Darlina, hal ini membuat wanita itu merasa kurang nyaman. Namun Kalman sengaja bersikap mesra agar teman-teman Silvia melaporkan semuanya pada wanita yang telah kabur itu.
"Selamat pagi semuanya," sapa Kalman yang langsung dijawab oleh semua karyawannya.
"Pagi ini saya hanya akan mengumumkan, jika Ibu Darlina sekarang sudah resmi menjadi istri saya. Untuk itu dia tidak akan bekerja lagi, tapi sebelum saya mendapatkan sekretaris yang sesuai, maka Ibu Darlina akan membimbing beberapa kandidat yang kira-kira akan cocok sebagai sekretaris saya selanjutnya." Kalman berhenti sesaat kemudian mengedarkan pandangannya pada seluruh Karyawan.
"Saya tidak mau menerima sekretaris yang tidak tau apa-apa mengenai perusahaan ini. Saya mau orang yang sudah saya kenal. Jadi, saya dan istri saya akan memilih beberapa kandidat karena besok kami akan pergi berbulan madu."
Darlina melongo karena tidak ada pembicaraan di antara mereka kalau besok akan pergi berbulan madu.
"Saat ini saya akan umumkan siapa Kandidat yang telah kami pilih. Kandidat pertama adalah Yuna dari divisi Humas, lalu kandidat kedua Doni dari divisi pemasaran dan kandidat ke tiga Livia dari divisi produksi."
Terdengar gemuruh karena semua berkomentar secara bersamaan.
"Untuk ketiga orang yang saya sebutkan silahkan temui saya. Itu saja pengumuman dari saya, silakan kembali bekerja, selamat pagi."
Tanpa menunggu lama, Kalman pun langsung meninggalkan ruangan meeting sambil menarik tangan Darlina. Saat sudah berada di ruangan kerjanya, Darlina langsung melayangkan protes.
"Mas, kenapa Doni? Dia lelaki yang tidak benar sukanya main perempuan."
"Pertama, Doni itu lelaki. Kedua dia mudah belajar, ketiga kerjanya bagus dan cukup kompeten. Keempat dia lelaki yang suka mainin perempuan bukan lelaki yang lemah terhadap perempuan. Dia pilihan yang tepat selain Yuna. Jadi, kamu harus membimbingnya dengan benar supaya aku tidak memiliki sekretaris yang cantik dan juga seksi." Kalman mempertegas akhir kalimatnya.
Darlina tersenyum saat mendengar penjelasan Kalman, kini dia bertekad akan menjadikan Doni sekretaris pengganti dirinya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengerjakan pekerjaan seperti biasanya," kata Darlina sambil membuka laptopnya. Namun Kalman mencekal tangannya.
"Tidak, kamu hari ini cukup memberi instruksi kepada ketiga orang itu dan melihat bagaimana mereka bekerja." Kalman tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya. "Aduh mules, aku mau ke toilet. Kamu mau ikut?"
"Ish!" Darlina memelototi Kalman yang sudah menuju toilet.
Tidak lama Darlina merasa ingin buang air kecil. "Mas, sudah belum. Aku kebelet ni." Darlina mengetuk pintu toilet.
"Kamu ke toilet umum saja," sahut Kalman.
Darlina pun melangkah menyusuri lorong menuju ke toilet yang ada di ujung. Tetapi, saat melewati pantry ia mendengar sekilas namanya disebut. Seketika langkahnya pun terhenti.
"Duh, kalo aku rasa, Darlina itu pasti yang membuat Bu Silvia pergi supaya dia bisa menikah dengan Pak Bos, iya kan? Secara mana mungkin sih Bu Silvia pergi di hari pernikahan padahal dia sama pak Kalman kan selalu mesra."
Darlina mengintip dari pintu yang sedikit terbuka, ternyata di pantry ada tiga orang gadis yang bekerja di bagian periklanan. Dia mengenal ketiganya yaitu Tari, Asri dan Nita. Ketiga gadis itu memang biangnya gosip di kantor ini.
"Kalo aku sih yakin Darlina itu hanya sok polos saja supaya bisa mempengaruhi Bu Kusnita. Ingat enggak, dua tahun yang lalu dia kan pernah hampir dipecat, tapi Bu Kusnita membelanya," kata Tari bersemangat sekali menjelekkan Darlina.
"Iya, aku juga yakin kalau dia sudah merencanakan semuanya. Dia pasti iri sama hubungan Pak Kalman dan Bu Silvia." Asri ikut menimpali. "Makanya dia ingin merebut Pak Kalman dari Bu Silvia."
"Wah, parah. Padahal dia kan selama ini menumpang hidup di rumah Bu Silvia." Nita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ish, nggak tau malu, ya. Kamu lihat nggak tadi mukanya yang-"
"Muka saya kenapa, Tari?" Alina tak tahan lagi untuk tidak melabrak ketiga orang yang sedang membicarakannya itu. Ia pun langsung membuka pintu lebar-lebar dan ketiga gadis itu langsung terlihat pucat pasi.